
Kinanti baru saja selesai menata ruangan dan hadiah-hadiah valentine untuk Vania di sebuah unit apartemen Herlin, sesuai permintaan si bos. Lalu memotret dan mengirimkannya kepada Herlin sebagai laporan jika tugasnya sudah selesai. Tapi Herlin mendadak ingin memindahkan acaranya di hotel saja.
"Kinan. Aku berubah pikiran. Aku akan melamar Vania malam ini, dia ternyata tipeku. Siapkan dinner spesial dan cincin yang cantik. Ukurannya sama dengan mu," kata Herlin seenaknya.
Kinanti menepuk jidat. Tiba-tiba? Dengan waktu sesempit ini? Tapi Kinanti pantang menolak tanpa berusaha lebih dulu. There is a will, there is a way.
Kinanti menelepon sebuah hotel bintang lima untuk reservasi. Lalu meluncur ke sana bersama barang-barangnya yang merepotkan. Usai check in dan menerima kartu akses dari hotel, Kinanti berlari-lari kecil menuju kamar. Cekatan menata semua hadiah untuk Vania sambil sebentar-sebentar mengecek arlojinya. Dia tak punya banyak waktu lagi.
Usai menata semua hadiah dan segala pernak-perniknya, Kinanti meninggalkan kamar dan segera memesan ojek online. Dia pikir bakal repot jika harus menyetir mobil fasilitas dari Herlin yang dia parkir di hotel tadi. Kinanti diburu waktu, dia harus segera mencapai Mall terdekat untuk mendapatkan cincin.
"Saya butuh cincin pertunangan. Jangan yang model klasik. Ini ukurannya," ujar Kinanti tanpa basa-basi kepada seorang staf toko seraya mengulurkan jarinya untuk diukur. Saat si staf menawarkan beberapa pilihan model, Kinanti tak menoleh karena sibuk dengan ponselnya tetapi dia menjawab.
"Apa saja, yang penting jangan yang model klasik."
Kinanti menelepon sembari menunggu cincin pesanannya disiapkan, dia sibuk memastikan apakah pesanan buket bunga dan menu dinner untuk Herlin dan Vania benar-benar siap. Dan baru bisa bernapas lega setelah mendengar semuanya sudah beres.
Setelah membayar dan menerima cincinnya, Kinanti berlari-lari kecil menuju halte, di mana ojek online pesanannya sudah menunggu.
"Yuk, Pak, tolong cepat," katanya setelah duduk di boncengan. Motor itupun mulai melaju tapi baru juga beberapa meter berjalan, tiba-tiba saja motor itu mogok. Sedangkan di waktu bersamaan, Herlin sudah cerewet menelepon, menanyakan kesiapan cincinnya.
"Siap, Om. On the way." Kinanti menjawab sambil menoleh ke sekitar, mencari alternatif kendaraan lain. Pada saat itulah sebuah motor yang sedang melintas di depannya tiba-tiba berhenti.
Si pemotor membuka helm.
"Kinanti?" tegurnya.
Kinanti terkejut begitu mengenali wajah dibalik kaca helm itu.
"Ikram?" Seketika Kinanti melirik ke boncengan Ikram yang kosong.
"Ikram, kebetulan! Tolong ... anterin aku" lalu Kinanti menyebut nama sebuah hotel.
"Aku buru-buru, please!"
"Tunggu apa lagi? Naik!" ajak Ikram.
"Buruan, Ikram!" Kinanti menepuk punggung Ikram setelah duduk di boncengannya.
"Pegangan, Kinan!" kata Ikram sebelum mengegas motornya.
Kinanti memegangi ujung jaket Ikram erat-erat, sadar lelaki ini sudah beristri. Kinanti menjaga jarak sebisa mungkin. Tetapi posisi boncengannya yang nungging membuat tubuhnya mudah sekali melorot ke depan. Lalu dadanya menubruk punggung Ikram saat motor itu mengerem di lampu merah. Seketika Kinanti dipecut gugup.
__ADS_1
"Ups. Sorry, Ikram! Nggak sengaja."
Tetapi, Ikram tak menyahut.
Kinanti tak tahu jika jantung pria itu juga tengah dipecut kegugupan yang sama. Ingatan Ikram terlempar ke masa SMA, saat dirinya dulu sering membonceng Kinanti seperti ini. Bedanya kali ini, lengan Kinanti tak melingkari perutnya dan tubuh Kinanti tak lagi menempel hangat di punggungnya seperti dulu.
"Kinanti, pegangan yang kencang," kata Ikram sambil menarik kedua tangan Kinanti agar melingkari pinggangnya seperti dulu. Lalu Ikram mengegas motornya saat lampu merah sudah berubah menjadi hijau.
Kinanti membeku dalam kediamannya sepanjang motor itu melaju kencang. Dulu dia cerewet sekali kalau Ikram mengebut seperti ini. Dan Ikram hanya tertawa setiap kali Kinanti mengomelinya. Tetapi kali ini, Kinanti merasa canggung untuk bicara sebanyak dulu.
"Hati-hati, Ikram!" Hanya itu yang sanggup diucapkannya.
Dan Kinanti membisu karena Ikram menjawab dengan menepuk-nepuk lembut tangan Kinanti yang sedang melingkari perutnya.
"Kok nggak sama Daffin, Kinan? Ini kan malam valentine." Ikram membuka obrolan saat motornya terhadang lampu merah lagi di sebuah perempatan jalan.
Kinanti tercekat mendengar nama Daffin disebut-sebut.
"Oh, nggak. Soalnya aku masih kerja."
Ikram menatap Kinanti melalui kaca spion.
Kinanti mengangguk dan tersenyum kepada Ikram lewat kaca spion. Untuk sejenak mereka saling tatap.
"Kerja apa sampai malam gini, Kinan?"
"Aku kerja jadi private personal assisstant sekarang. Jadi kerjaan ku nggak kenal office hour. Kebetulan lagi ada tugas dadakan dari si bos buat nyiapin candle light dinner sama pacarnya. Nah, kamu sendiri kok nggak sama Amber?"
"Amber lagi ke Korea Aleta dan Tita, nonton konser K-Pop."
"Ooh. Kok kamu nggak ikut? Kan asik bisa sekalian valentine di Namsan Tower atau tempat-tempat romantis lainnya di sana."
Ikram terkekeh.
"Sama kayak kamu, Kinan. Aku juga lagi ada kerjaan yang nggak bisa ditinggalin."
"Oh, iya. Kamu kan udah jadi direktur sekarang. Pasti sibuk banget." Lalu Kinanti mengernyitkan kening.
"Eh, btw kok kamu masih pakai motor aja sih, Ikram? Kan udah jadi direktur?"
"Emangnya direktur nggak boleh naik motor? kamu kan tahu sejak dulu aku lebih suka naik motor ke mana-mana. Kebiasaan itu rupanya kebawa sampai sekarang. Aku naik mobil kalau lagi perlu aja di jam-jam kantor, biar sopir ku nggak makan gaji buta."
__ADS_1
Keduanya lalu sama-sama tertawa.
"Sayangnya Amber nggak suka naik motor kayak kamu, Kinan. Dia nggak mau pergi kalau nggak naik mobil."
"Oh. Soalnya Amber pernah kecelakaan motor waktu SMP. Mungkin dia masih trauma, Ikram." Kinanti menyahut tanpa menatap kaca spion lagi. Sebab sejak tadi tatapan Ikram tak berpaling dari dalam kaca spion itu, pria itu menatap Kinanti nyaris tanpa berkedip.
"Pegangan, Kinan," kata Ikram saat lampu merah sudah berganti hijau.
Ikram kembali mengaspal dengan kencang. Meliuk-liuk lincah. Menyalip kendaraan demi kendaraan lain dengan lihai. Membuat Kinanti mengeratkan pegangannya di pinggang pria itu. Melindas jarak antar mereka.
Kinanti lega begitu tiba di depan gerbang utama hotel. Lalu menepuk-nepuk pundak Ikram.
"Turun sini aja, Ikram!" pintanya. Sebab jalur khusus motor berada di area berbeda dan harus memutar lebih jauh lagi. Jika dari sini, Kinanti bisa berlari sehingga akan lebih cepat mencapai lobi hotel.
"Thank's banget ya, Ikram. Untung aja ada kamu. Well. Aku cabut dulu ya," pamit Kinanti seraya melambaikan tangan.
Ikram cepat-cepat membuka helm.
"Tunggu!" cegahnya.
Langkah Kinanti terhenti.
"Ada apa?" tanyanya sambil berbalik badan dan menatap Ikram yang juga tengah menatapnya.
"Please, jangan blokir nomor ku lagi" pinta Ikram dengan sorot memohon.
Kinanti berkedip-kedip bimbang.
"Kita kan teman, Kinan. Kenapa jadi kayak orang musuhan pakai blokir-blokiran nomor segala?"
Kinanti tertawa sambil mengangguk-angguk.
"Oke."
"Janji?" Ikram mengulurkan jari kelingkingnya.
Kinanti tertawa sambil menautkan jari kelingking mereka.
"Janji adalah janji," ucapnya seraya melepaskan kelingkingnya. Kemudian melambaikan tangan dan berlari-lari menuju hotel.
Ikram memandangi kepergian Kinanti hingga wanita itu lenyap dari jangkauan matanya. Lalu mendesah kala gelenyar hangat terasa merambati dada. Ada sebuah rasa yang terasa meledak-ledak dalam hatinya. Rasa khusus yang telah lama pamit dari dalam dirinya, kini secara tiba-tiba menyapanya kembali. Sayang sekali, dia tak berhak lagi untuk rasa ini.
__ADS_1