Fake Couple

Fake Couple
Rambatan nyeri.


__ADS_3

Amber menoleh kepada Ikram yang juga tertegun menatap Kinanti dan Daffin yang sedang berpelukan di tepi danau, suaminya itu bahkan nyaris lupa cara berkedip. Rambatan nyeri terasa menjalar ke dalam dada Amber melihat sorot tidak rela dalam tatapan Ikram.


Amber menunduk dan memandangi jemarinya, di mana cincin kawinnya melingkar cantik. Ikram yang menyematkan cincin indah ini, tetapi Amber sadar jika Ikram hanya menyematkan cincin ini tanpa benar-benar menyematkan seluruh cintanya ke dalam pernikahan mereka. Sebab sebagian hatinya masih tertinggal dalam diri Kinanti yang kini telah menikah dengan Daffin, pria yang pernah begitu mencintai Amber dengan segenap ketulusannya yang nyata.


"Amber, temani aku, yuk? Ada yang mau aku beli buat Kinanti," ajak Ikram kala itu, sewaktu mereka masih berkuliah di Kampus yang sama di Amerika.


Ternyata Ikram menuju toko perhiasan dan membeli cincin. Ikram bilang akan melamar Kinanti saat kembali ke Jakarta bulan depan.


"Ukuran jarinya Kinanti sama kayak kamu kan?" Ikram bertanya sambil memilih-milih.


Amber mengangguk dan menyodorkan jarinya, membiarkan Ikram menjadikannya uji coba cincin yang akan dibelinya untuk Kinanti.


"Bagusan yang ini, Ikram." Amber menunjuk sebuah model.


Dan Ikram menggeleng.


"Kinanti nggak suka yang kayak gitu. Dia lebih suka yang simple tapi manis," jawab Ikram yang sepertinya sudah sangat memahami karakter Kinanti Queensha.


Akan tetapi, selang beberapa hari kemudian, terjadilah peristiwa yang tak pernah disangka oleh mereka, ketika alkohol laknat menarik keduanya dalam pergumulan panas di malam bersalju dan menyisakan penyesalan panjang dalam diri Amber.


Amber menangis sejadi-jadinya. Ini tak akan terjadi jika dia tak terjebak zona nyaman selama berteman dengan Ikram di Amerika, Ikram membuat Amber merasa aman. Berkali-kali Ikram harus berkelahi dengan pria mabuk yang menggerayangi Amber saat sedang melantai bersama teman-temannya di club. Bukan sekali dua kali saja wajah tampan itu harus membiru dipukul orang demi melindungi Amber. Diam-diam menggugah simpati Amber pada pria yang jelas-jelas mencintai Kinanti, sang bestie.


"Aku akan tanggung jawab, Amber." Janji Ikram dengan tatapan yang justru menggempur Amber dengan rasa perih. Amber bisa melihat keterpaksaan dalam sepasang mata Ikram yang pura-pura tegar. Sebab Amber tahu betapa pria ini amat mencintai Kinanti Queensha.


Dan semua terlihat jelas, pada hari reuni SMA mereka di puncak setahun.


Kemudian. Saat Ikram akhirnya bertemu lagi dengan Kinanti Queensha setelah beberapa tahun lamanya tak bersua. Mata mereka tak mampu menyembunyikan rasa rindu yang meluap-luap. Interaksi mereka hari itu sangat manis, bahkan Ikram seperti lupa jika sudah berkomitmen dengan dirinya. Ditambah Ikram yang seperti sengaja mengusirnya pergi karena ingin berdua saja menemani Kinanti mencari antingnya yang hilang. Dan dengan bodohnya Amber menurut, meninggalkan mereka berdua saja di sana. Dalam hati Amber yakin, pasti akan terjadi sesuatu di belakangnya. Bagaimanapun, Ikram lelaki dan Kinanti perempuan, ditambah ada cinta berbalut rindu dalam hati mereka. Diam-diam Amber benci kepada dirinya sendiri, karena telah menjadi orang ketiga dalam kisah cinta teman dekatnya sendiri.

__ADS_1


Amber memejamkan mata, kala teringat bagaimana Daffin masih begitu mempedulikan dirinya yang sudah lebih dari dua tahun berstatus mantan.


"Amber, please. Why him? Kalau lelaki itu bukan Ikram, aku masih bisa terima" kata pria itu dengan sorot khawatir yang memenuhi matanya.


"So what kalau, Ikram?" Amber menyembunyikan kegelisahan di hatinya. Dia sebenarnya tahu apa yang dimaksud Daffin.


"Amber, Kinanti suka sama Ikram sejak SMA. And you know that! Masa kamu tega mengkhianati bestie sendiri?"


Ucapan Daffin menusuk telak ke jantungnya. Amber tertawa, menertawakan dirinya sendiri.


"Mengkhianati? Siapa? Aku? Halo...? Salah aku ya, kalau Ikram sukanya malah sama aku?" Amber berlagak percaya diri, demi melindungi harga dirinya.


"Ikram? Suka sama kamu?" Daffin terbahak-bahak.


"Amber. Aku beritahu kamu, Ikram mencintai Kinanti. Sejak SMA," desis Daffin seraya menatapnya lekat-lekat, berharap Amber sudi mendengarkannya.


"Itu bukan urusan kamu! Aku suka sama siapa itu hak ku. Kinanti suka sama siapa itu juga hak nya Kinan. Juga Ikram sukanya sama siapa, itu hak nya Ikram. Nggak ada hak kamu buat ngatur-ngatur perasaan orang!" ketus Amber sambil menahan sakit yang melilit hatinya.


"Hak aku suka sama kamu juga kan, Amber?" ujar Daffin begitu lembut, selembut tatapannya kepada Amber. Tatapan yang tak pernah berubah sejak pria itu menyatakan cintanya yang pertama kali di kala SMA.


Sungguh! Kata-kata Daffin itu sebenarnya telah meluluhkan perasaan Amber yang selama ini keras menolak Daffin. Tetapi, rasa rendah diri telah menjebloskan Amber ke dalam rasa malu yang teramat sangat kepada Daffin. Dia tak mau Daffin yang selama ini selalu memuji dan memujanya berujung kecewa jika mengetahui dirinya sudah tak utuh lagi di malam pertama mereka nanti jika menikah. Padahal selama berpacaran dengan Daffin, Amber begitu hati-hati menjaga dirinya agar tak larut dalam rayuan Daffin yang memabukkan. Amber hanya mengizinkan Daffin menciumnya, tanpa tindakan lebih, Amber menolak setiap kali Daffin mengajaknya mampir ke apartemennya, demi menjaga diri mereka dari hal yang tidak-tidak. Tetapi, justru dengan mudahnya Amber menyerahkan dirinya kepada Ikram dalam satu malam saja.


Karena itulah. Biarlah. Lebih baik Daffin tetap mengenangnya sebagai mantan terindah saja. Daripada menikah tapi harus merusak perasaan pria itu di malam pertama mereka.


"Hak aku suka sama kamu juga kan, Amber?" Daffin melembutkan suaranya lagi.


Mendengarnya, membuat hati Amber semakin sakit.

__ADS_1


"Iya, dan hak aku juga buat nolak kamu!" Dan Amber memilih menutupi nya dengan sikap ketus itu. Biar Daffin lekas pergi, agar Amber bisa lekas menumpahkan segala tangis yang ditahan-tahannya ini.


"Anjirrr." Daffin tertawa lirih.


"Kurangnya aku apa sih, Amber?" desahnya seraya meraih tangan Amber dan meremasnya dengan tatapan memohon.


'Daffin..., please, jangan kayak gini. Aku takut aku nggak akan kuat, padahal aku harus menikah dengan Ikram. Demi kebaikan ku dan juga demi menjaga perasaan kamu biar kelak nggak akan kecewa sama aku. Kamu cowok baik, kamu berhak dapat cewek yang sama baiknya kayak kamu,' batin Amber diam-diam frustrasi.


Amber tahu, betapa Daffin masih sangat mencintainya. Cinta yang kerap dipandangnya sebelah mata. Namun, jika boleh jujur..., Amber mulai membutuhkan cinta itu, tetapi yang meluncur dari bibirnya hari itu justru.


"Kamu bukan tipe aku, Daffin! Kamu itu cerewet dan childish. Sedangkan Ikram lebih dewasa.


"Amber, aku perduli sama kamu. Aku harus ingatkan kamu. Ikram itu sukanya sama Kinanti."


"Stop it! Aku tahu, Daffin. Aku tahu banyak soal Ikram dan Kinanti, ketimbang kamu. Asal kamu tahu, Ikram itu cuma kasihan sama, Kinanti!"


Ya. Di mata Amber, cinta Ikram kepada Kinanti memang berawal dari kasihan. Gara-gara Ikram mengetahui kondisi keluarga Kinanti yang bangkrut, lalu dia menjadi pahlawan bagi Kinanti.


"Apa kamu serius dengan kata-kata mu, Amber?"


"Kinan nya juga sih..., baperan jadi orang. Semua kebaikan Ikram dibaperin!" Amber jadi judes, entah kenapa tiba-tiba saja kebencian pada Kinanti menyembul dalam hatinya.


"Amber! Dia bestie kamu, kan,?"


Kenapa sih Daffin selalu memihak Kinanti?


"So what?" ketus Amber benar-benar marah hari itu.

__ADS_1


__ADS_2