
Daffin mengendurkan pelukannya dari Kinanti saat ponselnya berdering, menerima teleponnya sebentar, dan mengantonginya lagi di saku jas.
"Kita diminta menemui, Opa," katanya, lalu mengecup kening Kinanti yang sedang mendongak menatapnya.
"Kalau ntar aku ketemu Nadia di sana, kamu nggak takut mandul?"
Daffin terbahak-bahak, suaranya yang keras membuat orang-orang yang mendengar menoleh dan tersenyum kecil, ikut senang melihat kegembiraan sang pengantin di hari bahagianya ini.
"Tenang aja, barusan si Rey bilang, Nadia nggak akan mungkin sampai ke lokasi ini. Sebab Rey terpaksa mengerahkan anak buahnya untuk menculik dan menyekapnya di tempat yang jauh. Kalaupun Nadia berhasil lolos, pesta kita sudah bubar begitu dia sampai sini."
Kinanti mendelik.
"Hah? Jangan gila!"
Daffin mengedikkan bahu.
"Daripada aku kena sumpah mandul? Aku kan cuma berusaha menyelamatkan masa depan kita, bagaimanapun caranya, Nadia nggak boleh mencapai tempat ini," sahutnya acuh tak acuh.
Kemudian mengamit lengan Kinanti dan membawanya menuju meja Opa Kalandra yang sedang menerima tamu-tamu VIP.
Mendadak Daffin berhenti di tengah perjalanan.
"Wait," ujarnya seraya menoleh kepada Kinanti.
"W... what?"
Kinanti bingung karena Daffin tiba-tiba menundukkan wajahnya tepat di depan wajah Kinanti, tersenyum dengan ketampanannya yang paripurna, lalu berbisik.
"I wanna kiss you." Dan sekonyong-konyong Daffin mencium bibir Kinanti dan menciumnya dalam-dalam, sangat intim, seakan tiada orang lain di tempat ini.
__ADS_1
"Stop it," desis Kinanti seraya menjauhkan bibirnya dengan napas tersengal karena ciuman Daffin yang bertubi-tubi, wajahnya terbakar malu karena menjadi tontonan banyak orang, tapi orang sinting yang sudah jadi suaminya ini pura-pura tuli dan malah menyambar bibirnya sekali lagi, kemudian terkekeh seperti tak terjadi apa-apa dan dengan santainya melanjutkan langkah sambil menggandeng Kinanti yang jadi kikuk di sebelahnya.
Daffin mengulum senyum seraya melirik Ikram yang dilewatinya.
'Boomb! Kena mental 'kan... kamu, Ikram? Gimana? Nyesek nggak, ngeliat Kinanti Queensha yang kamu cintai ini aku sosor tepat di depan muka mu? Emang enak!' batin Daffin teramat puas. Inilah misinya di hari pernikahan ini, balas dendam dan menghabisi Ikram dengan kecemburuan yang membakar perasaan.
'Kasihan. Ada yang gosong, tapi bukan pantat panci,' Daffin terkekeh senang dalam hati.
Tanpa Daffin sadari, jika sikapnya yang menciumi Kinanti dengan begitu panasnya di depan umum tadi juga menyilet-nyilet perasaan Amber, bukan hanya Ikram.
'Dia bilang mencintaiku, tapi kenapa dulu..., dia tak pernah mencium ku dengan gairahnya yang sebesar itu?' pikir Amber diam-diam kecewa. Meski ini bukanlah ciuman Kinanti dan Daffin yang pertama kali dilihatnya, tapi tetap saja dadanya dihantam kekagetan setiap kali memandangnya. Terlebih, Daffin tak segan-segan mengumbar kemesraan itu tepat di depan matanya.
#########
Kinanti menyertai langkah Daffin yang memasuki sebuah kamar presidential suite, kategori kamar tertinggi di sebuah hotel bintang lima. Kamar yang menjanjikan privasi ini dilengkapi dengan fasilitas mewah yang hanya bisa didapatkan oleh tamu VVIP. Ada lebih dari tiga ruangan di kamar ini, ruang tidur, ruang tamu, ruang makan, ruang kerja yang luas dan juga kolam renang pribadi. Kamar ini juga menyediakan layanan pribadi berupa kepala pelayan yang akan melayani kebutuhan sang tamu kapan saja. Terpenting, adanya akses khusus yang langsung mengarah ke kamar ini, sehingga privasi tamu sangatlah terjamin.
Kali ini Kinanti tak lagi tercengang norak. Jantungnya harus sudah mulai fleksibel mulai sekarang, jangan lagi terkaget-kaget jika Daffin memberinya kejutan kemewahan sewaktu-waktu.
Daffin menarik dasi dan melepaskan beberapa kancing atas kemejanya. Jas nya telah tertanggal dari tubuhnya. Pria itu jadi terlihat seksi dengan rompi dari setelan tiga potong tersebut.
Kinanti berpaling saat bertemu tatap dengan Daffin yang tersenyum kepadanya. Malu ketahuan diam-diam mengamati tubuh pria itu. Tapi, sungguh, Kinanti baru pertama kalinya melihat langsung ada tubuh pria sesempurna itu. Deskripsi tentang kesempurnaan pria biasanya hanya dia dapati dalam novel-novel saja.
"Biar aku saja," kata Daffin sambil berjalan mendekat, membantu Kinanti yang kesulitan membuka restleting gaun pengantin yang terletak di belakang punggungnya. Dan Daffin menelan ludah begitu mendapati betapa mulusnya punggung Kinanti. Pemandangan ini membangkitkan berbagai emosi rumit dalam dirinya. Dia sangat menginginkan Kinanti sejak kemarin, tetapi dia mengendalikan diri agar jangan buru-buru karena tahu jika ini adalah pertama kalinya bagi Kinanti.
"Mandi bareng, yuk?" goda Daffin membuat Kinanti berbalik dan memasang jarak dengannya. Membuat Daffin terkikik melihat ekspresi Kinanti yang menatapnya dengan sorot penuh ancaman.
"Kita udah sah sekarang, apapun yang kita lakukan udah nggak sama lagi kayak kucing" Daffin mengedipkan sebelah mata, mengusili Kinanti yang telah menolaknya kemarin malam pakai bawa-bawa nama kucing.
Kinanti berdecih, menyembunyikan degup jantungnnya yang bertalu-talu.
__ADS_1
"Aku mandi duluan," ucapnya sambil menuju kamar mandi.
"Jangan lama-lama!" pesan Daffin seraya tersenyum mengamati Kinanti hingga lenyap dari jangkauan matanya.
Selesai mengganti jasnya dengan pakaian santai, Daffin membuka-buka ponsel, senyum-senyum melihat WA group alumni SMA sedang heboh membahas pesta pernikahannya yang mengesankan dan orang-orang seperti berlomba sharing beragam foto saat acara. Dan tawanya benar-benar pecah saat seseorang membagikan video ciumannya dengan Kinanti tadi dan video itu menangkap juga wajah jelek Ikram yang tersenyum masam.
"Makan tuh cemburu sampe mampus" cibir Daffin disela-sela tawanya yang ramai. Lalu Daffin tercekat kala menatap sekilas wajah Amber yang sempat tertangkap video selama beberapa detik saja.
'Apa, kamu juga cemburu, Amber?" pikirnya menerka-nerka, tapi kemudian Daffin mencebik acuh tak acuh. Ah. Amber mana pernah sepeduli itu padanya, sih?
"Masih belum mandi, Daffin?"
Daffin menoleh dan melihat Kinanti keluar dari sebuah ruangan dengan rambutnya yang tergerai setengah basah. Andai saja tubuhnya hanya berbalut lingerie pasti penampakannya akan menjadi sempurna, sayangnya Kinanti justru memilih piyama katun bermotif kelinci. Diam-diam Daffin bersumpah akan membuang piyama kurang ajar itu nanti dan hanya akan mengisi lemari Kinanti dengan baju-baju seksi saja, motif kelinci dilarang masuk.
'Ah, kurang ajar. Kenapa baru kepikiran sekarang sih!' pikirnya dongkol.
"Buruan mandi gih, Daffin. Habis itu makan, yuk? Lapar, nih."
Daffin bersedekap, enggan beranjak dari tempatnya karena masih ingin memandangi keindahan sosok Kinanti yang sedang sibuk wara-wiri di depannya.
Daffin mendesah. Pernikahan dengan Kinanti ini ternyata tak berjalan seperti yang semula dia pikirkan, seperti sejak dia pertama kali mengajukan gagasan tersebut di hari pernikahan Amber. Sarana balas dendamnya ternyata mulai melenceng jauh. Tapi Daffin tak peduli. Yang dia pedulikan sekarang hanyalah Kinanti dan fakta bahwa wanita ini telah menjadi istrinya.
"Halo" Kinanti menoleh kaget saat Daffin tiba-tiba saja merebut telepon dari tangannya dan mematikan sambungannya, padahal Kinanti sedang menghubungi pelayan ingin minta dibawakan makanan.
"Apaan sih, Daffin?" protesnya. Tapi kemudian terkaget-kaget kala Daffin membopong tubuhnya menuju ranjang dan membaringkannya di sana.
Daffin menatap sepasang mata Kinanti yang berkedip-kedip gugup, lalu tatapan itu turun ke dua benda kenyal yang membusung dibalik piyama katun.
"Aku juga lapar, sangat lapar ..., lapar pada mu," bisik Daffin seraya menciumi Kinanti yang terkunci dibawah kungkungannya dan tangannya bergerak cepat melucuti piyama jelek yang mengganggu pemandangannya ini.
__ADS_1