
"O-oke,... Pak Sam," Daffin menggigit bibir kala gelenyar hangat terasa melingkupi area perutnya gara-gara sentuhan kecil Kinanti di setiap inchi kulitnya.
"Ehm..., terima kasih saran dan masukannya," jakunnya naik turun kala bertatapan dengan sepasang mata indah Kinanti yang menatapnya penuh goda. Suara pria itu mulai parau padahal dia masih perlu bicara.
"Bisa nggak kalau draft yang Bapak sebut tadi dikirimkan ke sekretaris saya hari ini? Atau paling telat besok pagi?"
Daffin tersenyum dan balas mengecup bibir Kinanti dengan sangat lembut dan pelan, khawatir suara kecupannya bisa terdengar oleh Sam lewat speaker teleponnya.
"Okehhh...." Daffin menahan desah yang nyaris lolos dari bibirnya ketika Kinanti balas mencium lehernya, sambil membuka kancing kemeja Daffin lalu meraba-raba dada bidangnya.
"...Pak Sam, s... saya tunggu dan terima kasih banyak atas waktunya. Selamat sore," katanya mengakhiri percakapan.
Begitu Daffin selesai meletakkan gagang telepon ke tempatnya, tangannya lekas mengurung tubuh Kinanti yang sejak tadi dipangkunya.
"Kamu bener-bener ya, Maemunah,” desisnya sambil menciumi bibir Kinanti dengan tangan ke menjalar kemana-mana.
"Ngajak gulat bener yah kamu, Kinan...." bisik Daffin sambil menggigit kecil daun telinga Kinanti yang seketika terengah-engah karena cumbuan Daffin yang bertubi-tubi di titik-titik sensitif tubuhnya, Kinanti bahkan tak menyadari sejak kapan roknya tersingkap, memamerkan pahanya yang semulus pipi artis papan atas Korea dan tangan Daffin telah mendarat mulus di sana.
__ADS_1
"Kinan,... kamu masih 'merah', ya?" Daffin berbisik frustrasi, tersiksa sensualitas seorang Kinanti yang memancing gairahnya sejak tadi pagi. Kinanti mengangguk, dan Daffin mencium bibir merah itu habis-habisan karena gemas.
"Nggak bisa dilewatin dong, Kinan?" bisiknya sambil terus membelai-belai tubuh sang istri.
"Nggak bisa, lagi ada portal," sahut Kinanti sambil membantu Daffin membebaskan aset suaminya yang sejak tadi meronta-ronta dalam kurungan celana mahalnya.
"Sabar ya..., seminggu, lagi," bisik Kinanti seraya membelai si aset yang sudah terbebas hingga Daffin tiada hentinya mendesah dan mengerang nikmat.
"Kurang ajar, lama banget sih seminggu..., anjiir...," desah Daffin terlihat begitu tersiksa dengan proses pelepasannya yang tak nyaman. Ini menjadi pertama kalinya mereka bercinta di ruang kerja Daffin, sudah seperti adegan selingkuh antara si bos dengan sekretaris saja.
Kinanti semakin gencar memainkan aset Daffin, membuat lelaki itu kian menegang dan menggila menciuminya. Tetapi tiba-tiba gerakan tangan Kinanti berhenti, membuat Daffin ingin menjerit frustrasi.
"Wani piro?" goda Kinanti seenaknya.
"Anjir, Kinan, kamu bini ku, jangan gini-gini amatlah, Maemunah." Daffin terkekeh meski asetnya berdenyut-denyut menahan siksa.
"Fin, aku boleh kan sewa jasa detektif?" desah Kinanti sambil mengecup basah daun telinga Daffin, menyiksa suaminya dengan gairah.
__ADS_1
"Buat apaan sih, Mae... munah? Ada-ada aja kamu..." Daffin mendesah, menikmati siksaan Kinanti yang sungguh nikmat.
"Ntar aku jelasin, tapi boleh 'kan?" Kinanti menghentikan belaian dan kecupannya.
"Kurang ajar," Daffin terkekeh.
"iya-iya...! Tapi tuntasin aja ini dululah, jangan banyak bacot," umpat Daffin yang menggila dibawah siksaan nikmat Kinanti yang sengaja disendat-sendat.
"Janji?"
"Kinan,... please...!"
Kinanti tersenyum menang, tangannya pun bergerak lincah, membantu Daffin membebaskan diri dari apa yang memang perlu dibebaskan sejak tadi pagi.
"Aaaaghh...!" pekik Daffin dengan napas merdeka sekarang, lepas sudah dirinya dari jajahan nafsunya terhadap Kinanti yang teramat menyiksa dan selalu menuntut untuk dipuaskan.
Tanpa keduanya sadar, di luar pintu ruangan Ilna ketar-ketir menjaga agar tak ada orang mendekati area yang mendadak 'panas' ini. Ilna tahu sekali apa yang sedang terjadi di dalam sana.
__ADS_1
"Duh, Gusti...." ratapnya dengan jantung jumpalitan.
"Kenapa aku sih yang ketiban apes gini?" keluh Ilna si perawan tua. Meski sudah tiga puluh lima tahun, tapi dia belum menikah karena asik berkarir. Tapi siaran live di atas umur yang didengarnya tadi bikin Ilna tobat dan pengen cepat ketemu jodoh!