Fake Couple

Fake Couple
Bahagia tapi juga nelangsa.


__ADS_3

Gala Dinner itu selesai hampir tengah malam, Herlin bersikeras mengantar Kinanti pulang meski gadis itu bilang Dion akan menjemputnya.


"Masa iya Dion tak percaya padaku?" ujar Herlin seraya terkekeh saat menggiring Kinanti memasuki alphard hitam yang telah menunggu mereka.


'Memang tidak,' sahut Kinanti dalam hati.


"Lagi pula Asri tadi menelepon bilang kalau Dion sedang ke luar kota. Tante mu itu menitipkan kau padaku. Bersyukurlah kau punya Tante seperti Asri, biar cerewet tapi diam-diam dia perhatian padamu."


Kinanti tersenyum pahit. Tante Asri memang berubah menjadi sangat perhatian padanya, tapi baru sebulan ini saja sejak dirinya mau bekerja dengan Herlin.


Kinanti menyandarkan tubuh lelahnya di jok kulit mobil Herlin yang terasa nyaman.


"Istirahatlah, Kinan. Kau kelihatan tegang karena seharian memikirkan pekerjaan yang tak pernah habis, bukan? Maaf kalau aku terlalu banyak memberimu pekerjaan. Santailah sekarang," kata Herlin di sebelahnya. Dan Herlin masih saja mengoceh, tetapi Kinanti sudah tak mendengar apa-apa lagi karena terhanyut rasa kantuk yang menaklukkan kesadarannya secara tiba-tiba.


Melihat Kinanti sudah terkulai pulas, Herlin tersenyum miring. Kinanti tak sadar saat Herlin memasukkan bubuk obat tidur ke dalam minumannya tadi. Lalu lelaki itu menyuruh sopirnya untuk mempercepat laju mobil. Dia tak sabar ingin menghabiskan sisa malam ini bersama Kinanti.


Mobil Herlin melaju cepat, tiba-tiba di tengah jalan sebuah mobil memepet dan menghadangnya. Membuat mobil Herlin terhenti. Lalu seseorang keluar dari sana dan mengetuki kaca jendela Herlin.


"Herlin. BUKA!"


"Dion?" Herlin nyaris tak percaya melihat keberadaan Dion di depan matanya. Bukankah Asri bilang suaminya itu sedang ke luar kota?


"Mana Kinanti?!" bentak Dion dengan sorot mata ingin membunuh saat Herlin membuka kaca jendelanya.


"Dia... tertidur sepertinya kelelahan. Niat ku ingin sekalian mengantarkan pulang," dusta Herlin menutupi kejengkelan. Kurang ajar. Padahal rencananya sedikit lagi berhasil.


"Kinanti pulang dengan ku saja," ketus Dion.


Mau tak mau Herlin membiarkan Dion membopong Kinanti memasuki mobilnya. Herlin baru sadar jika sejak tadi ternyata Dion membuntuti dan mengamati gerak-geriknya. Ternyata Dion sangat protektif terhadap keponakannya, berbanding terbalik dengan istrinya yang justru seperti sengaja menyodor-nyodorkan Kinanti kepadanya, seperti mucikari yang haus uang. Bisa dibilang, Asri seperti menjual Kinanti padanya malam ini.


'Kalau begini, aku harus meminta kembali seratus juta ku dari Asri,' pikir Herlin sewot.

__ADS_1


###########


Setelah memasangkan kaitan sabuk pengaman untuk Kinanti yang tertidur pulas dibawah pengaruh obat, Dion lekas mengegas mobilnya dan berhenti di pinggir taman kota yang sepi. Lalu dia memerhatikan Kinanti dengan dada bergemuruh.


'Nyaris saja buaya itu menerkam mu,' pikirnya dengan jantung dipecut cemas. Andai tak berpikir panjang, mungkin saja Dion sudah menghajar Herlin.


"Berani-beraninya dia," desisnya marah.


Dion menoleh dan menatap Kinanti lebih lama dari seharusnya. Tangannya terulur membelai wajah yang teramat persis dengan Ara, wanita yang di kaguminya. Penampilan Kinanti malam ini sungguh membuat Dion tercengang, dia seperti melihat Ara terbangun lagi dari kuburnya. Ara yang diam-diam dicintainya sejak masih remaja. Dan di taman inilah, ciuman pertamanya dengan Ara pernah terjadi semasa SMA.


Dion mencengkeram kemudinya erat-erat saat sesuatu merambati kenangannya. Membangkitkan gairah yang selama ini terpendam begitu dalam. Kini muncul ke permukaan hanya karena melihat Kinanti terkulai secantik ini di sebelahnya.


Dion melepas kaitan sabuk pengamannya agar lebih leluasa bergerak. Dalam keremangan, dibelai-belainya wajah Kinanti dengan tangan gemetar lalu dikecupnya kening gadis itu hingga merambah ke bibir ranumnya yang teramat manis.


"Astaga. Apa yang kulakukan?" desah Dion seraya menarik diri begitu mendengar dering telepon dari dalam tas kecil Kinanti.


Seketika Dion dipecuti rasa bersalah. Kinanti sudah seperti anak baginya, tak seharusnya dia melakukan hal serendah ini kepada orang yang mestinya dia lindungi hanya karena terjebak nostalgia tentang Ara, cinta pertamanya.


#############


Ikram tersihir kecantikan wanita yang memasuki ballroom dengan gaun malam yang begitu anggun. Terkejut bukan main kala menyadari wanita itu ternyata Kinanti, Ikram menelan ludah. Urung menyapa karena Kinanti tampak sibuk mendampingi orang yang sepertinya adalah atasannya.


Ah. Kenapa wanita lain jadi terlihat lebih menarik daripada istri sah nya sendiri? Mungkin karena..., Ikram setengah terpaksa saat harus menikahi Amber. Dan masih menyimpan nama seorang Kinanti dalam hatinya.


Ikram memejamkan mata, ingatannya terlempar kembali ke momen tiga tahun silam. Saat dia masih bekerja sambil melanjutkan study pasca sarjananya di Amerika.


Hari itu Amber yang baru pulang dari Indonesia mendatangi flatnya untuk memberikan oleh-oleh titipan Ibunda Amber. Dan entah bagaimana, mereka malah berakhir di ranjang esok paginya. Mungkin terbawa suasana dingin bersalju dan pengaruh alkohol yang mereka minum semalaman.


"Gimana kalau aku hamil, Ikram?" rengek Amber dibalik sprei tebal yang menutupi tubuh telanjangnya.


Ikram meremasi rambutnya dengan pikiran kalut. Dia tak menyangka bakal berakhir sejauh itu dengan Amber. Padahal semalam, mereka asik-asik saja mengobrol tanpa melibatkan perasaan khusus. Ikram berteman dekat dengan Amber karena orang tua mereka bersahabat, selain itu karena dia ingin mendapat informasi lebih banyak tentang Kinanti yang sudah lama ditinggalkannya di Indonesia, tanpa sempat berpamitan. Apalagi sampai mengungkap perasaannya yang terpendam dibalik topeng pertemanannya selama ini.

__ADS_1


Ikram menghela napas berat.


"Aku akan tanggung jawab," desahnya menguatkan hati.


"Tapi, gimana dengan Kinanti? kamu cinta dia, kan?" Amber terisak.


Ikram tertawa, tapi tawa itu tak mencapai matanya yang menyorot sedih.


"Tapi. Kami tak terikat komitmen."


"Sorry, Ikram...," desah Amber, kemudian menangis sejadi jadinya.


Mau tak mau, Ikram merengkuh dan memeluknya. Membuat tangis Amber kian deras.


"No. Justru aku yang minta maaf karena sudah melakukan ini ke kamu," ucap Ikram seraya menelan rasa sesal yang begitu pahit.


Amber memang tak sampai hamil. Tapi Ikram merasa bersalah sudah terlanjur merenggut kesuciannya. Ikram tak tega mencampakkan Amber begitu saja.


Bagaimanapun, Ikram masih punya hati. Terlebih Amber itu puteri kesayangan sahabat Mamanya. Mendiang Mamanya pasti akan sangat kecewa jika mengetahui perilakunya ini. Setidaknya Ikram ingin menebusnya dengan tanggung jawab, dia tidak akan lari dari Amber.


Sejak hari itu, Ikram belajar membuka hatinya sedikit demi sedikit untuk Amber. Sambil pelan-pelan menyingkirkan nama Kinanti dari hatinya. Untunglah Amber bisa memahami bagaimana perasaannya terhadap Kinanti selama ini. Wanita itu tak memaksa Ikram agar sekonyong-konyong melupakan Kinanti. Justru memberinya ruang yang dibutuhkan. Bahkan, Amber membiarkan saja kala Ikram ingin membantu Kinanti mencari anting-antingnya yang hilang saat reuni di puncak tahun lalu, Ikram tak tahu jika sebenarnya Amber meninggalkan Ikram berdua saja dengan Kinanti hari itu dengan hati yang diremasi cemburu.


Dan pada hari reuni itu, Kinanti terlihat semakin cantik saja di matanya. Wanita itu tampak semakin matang dan dewasa. Tak terlihat lagi sosok Kinanti yang manja dan cengeng, seperti Kinanti yang dikenal Ikram semasa SMA dulu. Kinanti banyak berubah, tapi satu yang tak pernah berubah darinya, yaitu sorot mata yang menyimpan banyak pantulan cinta untuk Ikram.


"I love you, Kinanti. Will you marry me?" Kalimat itulah yang sebenarnya sangat ingin Ikram ucapkan. Tapi yang keluar dari bibirnya justru.


"Apa kamu punya pacar?" Dan hatinya menggelegak dengan kebahagiaan tak terkira saat Kinanti menggeleng pelan. Ya. Sebegitu setianya seorang Kinanti kepadanya.


'Mei, please forgive me!' pekik Ikram dalam hati sepanjang dia menciumi Kinanti dan juga menerima ciuman balasan dari Kinanti dengan sama panasnya.


Detik itu Ikram sungguh bahagia, tapi juga nelangsa. Sebab sudah tak berhak mengucap cinta kepada wanita itu. Cinta yang sudah tersimpan lama namun begitu terlambat untuk diungkap.

__ADS_1


Sebab.


Dia harus menikahi Amber.


__ADS_2