
Meski lelah, tapi Kinanti lega bukan main. Candle light dinner yang dipersiapkannya secara dadakan untuk Herlin tadi berjalan sukses dan tak menimbulkan komplain apapun dari Herlin. Bahkan berlangsung manis. Vania menyukai cincinnya. Juga hadiah-hadiahnya. Tentu saja. Semuanya barang mahal.
Herlin tadi memujinya.
"Terima kasih, Kinanti. Kau memang lincah dan gesit. Tak salah aku menerima mu sebagai asisten pribadiku." Tapi kemudian pria itu mendesah pelan.
"Andai saja tak ada Dion di antara kita, bukan Vania yang ku lamar tapi kamu. Sayangnya Dion terlanjur menganggap ku hidung belang. Padahal aku betul-betul ingin menikahi dan menyenangkan mu, Kinanti. Bukan menjadikan mu selinganku saja. Aku terpaksa cari wanita lain, daripada pistol Dion meledak di kepalaku. Wanita ada banyak, tapi nyawaku cuma satu," aku Herlin blak-blakan.
Kinanti tak kaget tentang pistol yang dibicarakan Herlin. Dia pernah melihat Om Dion menaklukkan kawanan debt collector yang menyerang Papinya. Om Dion melibas siapa saja yang menagih utang pada orang tuanya dengan cara-cara kasar. Itu masa-masa mengerikan dalam hidup Kinanti. Melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Om Dion menodongkan pistolnya ke kepala orang.
Sekarang, Kinanti lega Om Dion tetap ada melindunginya dari gangguan buaya satu ini. Kinanti bisa merasakan perubahan sikap Herlin kepadanya. Herlin kini menganggapnya asisten pribadi, tak lagi memandangnya sebagai wanita yang perlu ditaklukkan seperti Vania atau lainnya. Sehingga Kinanti dapat bekerja dengan tenang.
Kesibukan Kinanti mengurusi Herlin dan Vania membuatnya harus pulang lewat tengah malam.
"Dari mana saja baru pulang?" tegur Asri yang membukakan pintu rumah.
"Maaf, Tan. Tadi Om Herlin kasih kerjaan dadakan."
"Kerjaan apa?"
"Om Herlin melamar pacarnya. Aku sibuk menyiapkan candle light dinner untuk mereka. Syukurlah acaranya lancar. Sekarang Om Herlin sudah resmi bertunangan."
"APA?!"
Bentakan Asri membuat jantung Kinanti serasa terpental ke tembok saking kagetnya.
Si Tante memelototinya.
"K... kau? Malah membantunya menyiapkan lamaran itu? Kau bodoh apa tolol sih Kinan!" maki Asri dengan tangan terkepal.
"Capek-capek aku memutar otak merayu Herlin agar memutuskan Vania biar dia kembali padamu, tapi kau malah membantunya bertunangan? Bodoh!"
"Ahh!" Kinanti memekik saat tangan Asri melayang cepat di pipinya berupa sebuah tamparan keras.
"Asri. Cukup!" Dion menarik lengan istrinya agar menjauhi Kinanti.
"Bisa-bisanya kau menjodohkan Kinanti dengan bandot tua seperti Herlin! Bukankah dulu kau sendiri lari tunggang langgang saat ada duda kaya datang melamar mu dan memohon-mohon padaku agar berpura-pura jadi pacar mu sampai duda itu menyingkir pergi? Sekarang, kau justru ingin melakukan itu pada Kinanti? Kenapa bukan kau saja sekalian yang menikahi Herlin? Bukankah kau yang tergila-gila dan sibuk mengejar-ngejar Herlin?"
"Mas! Tega-teganya kau menuduhku begitu? Siapa yang tergila-gila pada Herlin?"
__ADS_1
"Kau!"
"Jangan ngawur!"
"Lalu kenapa kau lebih sibuk menemui Herlin ketimbang mengurusi anak-anakmu di rumah, hah?"
"Aku melakukannya demi Kinanti! Agar Kinanti punya masa depan cerah setelah menikah dengan Herlin yang banyak uang. Toh, Kinanti juga nantinya yang bakal makmur."
"Lalu kau akan jadi lintah bagi Kinanti, kan? Ujung-ujungnya kau yang akan mengeruk uang Herlin lewat Kinanti. Aku tahu sekali isi otakmu, Asri! Kau tak akan repot-repot memperjuangkan sesuatu jika tak ada untungnya sama sekali bagimu."
"Mas!"
"Berhenti menemui Herlin dan membuat kesepakatan apapun dengan nya di belakangku!" Kemudian tatapan Dion beralih pada Kinanti yang masih memegangi pipinya.
"Kinan, istirahatlah. Kompres dulu pipimu dengan air dingin." Lalu dia kembali menatap istrinya.
"Pakai tangan mu untuk mengurusi suami dan anakmu baik-baik, bukannya untuk menampar Kinanti seenakmu," ketusnya sebelum beranjak pergi.
Asri shock menerima omelan pedas suaminya, Dion tak pernah sefrontal itu memarahinya. Selama ini suaminya lebih banyak diam dan mengalah. Tapi gara-gara Kinanti, Dion tak segan lagi mendebat dan membentaknya.
Perasaan Asri mendidih. Tidak Ara dan juga Kinanti, suka sekali merebut perhatian Dion!
#############
"Siang, Kinan. Tumben telat?" tegur Herlin saat Kinanti tergopoh-gopoh menemuinya di sebuah restoran. Katanya Herlin ingin membahas sesuatu yang sangat penting sekalian makan siang.
"Maaf, Om. Tadi saya sedang meeting dengan personal Financial Planner yang akan mengecek kesehatan keuangan Om Herlin."
"Oh. Bagaimana hasilnya?"
"Ada form yang harus kita lengkapi dulu. Mereka perlu mendata aset Om, baik aset lancar maupun aset tak lancar."
"Kita bahas itu nanti saja. Sekarang aku ingin membicarakan hal lain yang tak kalah penting."
"Silakan, Om."
"Vania ingin segera menikah dengan ku. Tapi, itu malah bikin aku menyesal melamarnya."
Kinanti mengerutkan kening. Bingung dengan sikap Herlin yang labil di usianya yang sudah berkepala lima.
__ADS_1
"Karena. Ternyata. Aku masih sangat menginginkan mu, Kinan. Jika kau bersedia menikah dengan ku, aku janji akan berhenti mengejar wanita lain demi kau. Kau berbeda dari wanita lain, Kinan. Kau baik. Sikapmu manis dan tulus. Hatiku tergugah karena mu. Aku yakin Dion akan merestui jika pernikahan ini muncul karena kesadaran mu sendiri. Bukan karena paksaan siapapun. Dion pasti akan terbuka hatinya jika kau sendiri yang meminta restunya."
Kinanti tercekat. Tak menyangka kata-kata itu yang bakal keluar dari mulut Herlin. Ternyata Herlin masih menaruh harap padanya. Padahal Kinanti sama sekali tak tertarik. Sebaik dan setajir apapun Herlin, tetap saja lelaki itu bukan tipenya. Ditambah kesenjangan usia yang jauh. Dan hobinya yang meniduri wanita, bukanlah hobi yang gampang dihentikan semudah membalik telapak tangan.
"Aku sungguh-sungguh ingin bertobat, menjadi suami yang baik untuk mu. Aku akan cukup dengan satu wanita saja jika itu kau. Bagaimana, Kinan?"
Kinanti menggelengkan kepala.
Meski gelengan pelan, tapi Herlin tahu itulah keputusan final gadis itu. Herlin, cukup mengenal sosok Kinanti Queensha selama interaksi mereka lebih dari enam bulan ini. Gadis itu memang tampak lemah, tapi diam-diam kuat. Herlin kini tak hanya menyukai kecantikannya saja.
"Oke. Kalau itu keputusan mu. Maka, dengan berat hati harus kukatakan." Herlin menatap Kinanti dalam-dalam, ingin mengukur sekali lagi, seberapa tangguh wanita itu mempertahankan prinsipnya.
"Ini adalah hari terakhir mu bekerja dengan ku. Artinya kau kena pinalty karena tak sanggup menyelesaikan masa bekerja minimal satu tahun sebagai private personal asisstant ku."
Kinanti balas menatap Herlin dengan sorot kecewa.
"Itu tidak adil," desisnya.
Herlin terkekeh sambil menyalakan sebatang rokok. Lalu mengembuskan asapnya hingga mengenai wajah Kinanti dan membuat wanita itu berkedip-kedip.
"Aku tak tahan, Kinan. Melihat mu berseliweran di sekitar ku, tapi tak bisa memiliki mu."
Kinanti sudah menduganya, mesum tetaplah mesum!
"Bagaimana bisa saya kena pinalty? Sebab bukan saya yang mengundurkan diri, tapi Om sendiri yang memecat saya"
Herlin tertawa.
"Kau pasti tak teliti membaca surat perjanjian itu. Coba nanti baca lagi. Kau kena pinalty. Atau. Ayolah, menikah saja dengan ku, maka kau tak perlu kehilangan uang sebanyak itu. Aku justru akan menghujani mu dengan uang."
Tangan Kinanti terkepal. Dia ingin marah. Apakah harga dirinya lebih rendah daripada uang? Kinanti memang tak punya uang. Sekeras apapun dia bekerja, uangnya selalu saja habis untuk membayar utang. Dia hanya punya harga diri. Jika memang harga diri yang dia punya, bukankah Kinanti layak mempertahankannya setinggi langit?
Maka, Kinanti pun mengangguk.
"Baiklah. Saya akan mengundurkan diri dan membayar pinalty, Om"
Penuturan Kinanti begitu lirih. Namun cukup memukul Herlin dengan kekagetan. Sekali lagi gadis itu membuktikan kualitas dirinya.
Herlin melihat mendung dalam sepasang mata cantik Kinanti Queensha. Terbesit iba dalam hatinya karena telah melukai perasaan gadis sebaik itu. Tetapi Herlin juga gengsi menarik kembali ucapannya tadi yang sebenarnya cuma gertakan.
__ADS_1
"Kau harus membuatnya terpojok, Herlin. Buat dia agar tak punya pilihan lain selain menerima mu." Begitu saran Asri semalam lewat telepon.
Herlin setuju dan benar-benar melaksanakan saran Asri barusan. Tetapi ternyata, mentah. Tekad Kinanti ternyata begitu besar untuk menolaknya.