
Kinanti mengucek mata dan terkejut melihat Dion di sebelahnya.
"Eh, Om Dion?" desahnya sambil berpikir keras. Sepertinya dia tadi sedang berada di dalam mobil Herlin?
"Om tadi menjemput mu sebelum Herlin sempat membawamu pergi. Sudah Om bilang kan, jangan lengah. Kau harusnya menelepon Om saja kalau tak jadi pulang dengan taksi."
Meski Dion mengatakannya dengan pelan, tapi Kinanti bisa menangkap kemarahan dalam nada suaranya.
"Eh, i.. iya maaf, Om."
"Jangan lupa kalau bos mu itu buaya, Kinanti. Om tahu sekali bagaimana Herlin sejak dulu. Dia bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan yang dia mau dan dia sedang mengincarmu. Tetaplah waspada,"
Kinanti mengangguk-angguk mendengar Om nya mendadak secerewet Tante Asri.
"Tidurlah lagi kalau masih mengantuk. Nanti Om bangunkan kalau sudah sampai rumah."
Tapi, Kinanti tak bisa tidur lagi. Dia memegangi bibirnya dengan jantung berdegub kencang. Dia tadi sempat bermimpi Ikram menciumnya. Dan ciuman itu terasa sangat nyata.
"Kinanti. Kinanti? Tolong bukain pintu pagarnya" tegur Dion.
Kinanti tersentak dari lamunannya. Tak sadar sudah sampai rumah. Kinanti buru-buru melepas kaitan sabuk pengaman dan turun dari mobil. Membuka gerbang lebar-lebar, kemudian menutupnya kembali setelah mobil Dion memasuki garasi.
"Makasih, Om. Aku masuk duluan ya?"
"Ya." Dion menjawab singkat sambil mematikan mesin mobil. Tapi tak lekas keluar dari sana.
Dion mendesah seraya meremasi rambutnya. '
'Maafkan aku, Ara. Aku tadi seperti melihat mu dalam sosok Kinanti yang tertidur. Dia tadi sangat mirip dirimu. Sungguh, aku tak bermaksud melecehkan puterimu' Batinnya disengat rasa bersalah dan juga malu.
__ADS_1
Ingatan Dion pun mencelat ke masa beberapa tahun silam, kala dirinya menggenggam tangan lemah Ara yang sekarat di atas ranjang sebuah rumah sakit.
"Aku titip Kinanti. Tolong rawat dan jagalah dia seperti anakmu sendiri," begitulah wasiat Ara di akhir hayatnya.
"Tentu, Ara. Tenanglah. Tanpa kau minta, aku pasti akan menjaganya baik-baik. Tak perlu kau risau kan soal itu," janji Dion kala itu.
Ara pun tersenyum sebelum menghembuskan napas terakhir, diiringi ledakan jerit tangis Kinanti di sisinya. Dion juga ingin menjerit, menangis sekeras-kerasnya. Tetapi dia menjaga perasaan Asri yang juga ikut menangis dan terdiam seribu bahasa melihat Kakak kandungnya sudah pergi di depan mata. Kakak kandung yang diam-diam dicemburuinya karena pernah menjadi cinta pertama suaminya.
Mungkin, jika Dion tak pergi merantau ke Kalimantan kala itu, Dion lah yang akan menjadi suami Ara.
Padahal Dion merantau menjadi pekerja tambang untuk mengumpulkan uang agar dapat melamar Ara. Namun sekembalinya ke Jakarta, Ara sudah menjadi istri orang. Asri pun hadir menghiburnya, mengisi kekosongan hati Dion usai ditinggal menikah oleh Kakaknya. Cinta pun datang karena terbiasa. Akhirnya Dion menikahi Asri.
Terngiang-ngiang ucapan Ara pada tiga hari menjelang kematiannya, saat mereka berdua saja di kamar rumah sakit.
"Maaf. Aku tak bermaksud mengkhianatimu, Dion. Ku pikir kau tak peduli lagi padaku. Aku tak pernah menerima semua balasan surat yang kau kirim dari Kalimantan. Aku menerima suami ku karena dia mengingatkan ku padamu. Dia juga baik sepertimu."
Dion menangis dan menggenggam tangan Ara erat-erat.
Tanpa mereka ketahui, Asri mendengar semuanya. Diam-diam Asri juga menangis, antara marah sekaligus merasa bersalah. Dialah yang menyabotase semua surat-surat cinta Dion untuk Ara.
###########
"Apa maksud mu Dion membawa Kinanti pulang?" Asri kebingungan menerima protes dari Herlin. Sebab dia yakin sekali suaminya tadi pamit pergi ke luar kota.
"Kembalikan uang ku, Asri. Atau aku akan memberitahu Dion bahwa justru kaulah yang menyuruhku untuk bersenang-senang dengan Kinanti malam ini."
Asri terbelalak kaget sekaligus ingin marah pada situasi dan kondisi yang menjepitnya sekarang ini. Padahal dia telanjur menggelontorkan seratus juta dari Herlin itu untuk menambah modalnya sebagai renternir.
"Tenang, Herlin. Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Lagipula uang mu itu aman tak akan kemana-mana, biarkan uang mu beranak-pinak dulu," ujar Asri seraya memaksakan diri tertawa ringan, padahal otaknya sedang berpikir keras.
__ADS_1
"Ku pikir-pikir, bukan ide bagus kalau menjebak Kinanti bersamamu malam ini. Bisa-bisa dia malah melaporkan mu kepada Dion dan kau tahu sendiri bagaimana Dion kalau sudah gelap mata. Sebab dia sangat sayang kepada Kinanti, seperti anaknya sendiri."
"Sementara kau malah ingin menjual gadis yang sudah seperti anak kesayangan suamimu itu? Wow, Kau sungguh seorang istri yang luar biasa, Asri," sindir Herlin seraya terbahak keras.
"Diam lah, Herlin. Aku akan menelepon mu besok. Biarkan aku berpikir dulu malam ini. Ku jamin, cepat atau lambat Kinanti bakal bertekuk lutut kepadamu," ujar Asri dengan setengah berbisik kala mendengar deru mobil suaminya memasuki garasi rumah.
Setelah menutup telepon, Asri keluar dari kamar dan melihat Kinanti yang berjalan gontai menuju kamar.
"Mana Om kamu?" tegurnya basa-basi.
"Masih di mobil, Tan."
Asri mengangguk-angguk sembari bersedekap dan menatap Kinanti.
"Bagaimana acaranya tadi?"
"Melelahkan, Tan."
"Eh, apa ini Kinan?" Asri menyipitkan mata dan menunjuk leher Kinanti yang kemerah-merahan. Tampak jelas dan mencolok di atas kulit Kinanti yang putih cerah.
Kinanti menegangi lehernya.
"Ada apa, Tan?"
"Eh, nggak apa-apa. Sudahlah masuk sana, kamu pasti lelah. Istirahatlah," sahut Asri tak ingin membahas tentang apa yang baru saja dilihatnya.
Asri mengangguk samar kepada Kinanti yang pamit padanya sebelum memasuki kamar. Lalu tersenyum dalam hati, dia yakin sekali yang dilihatnya itu sebuah kissmark.
'Rupanya Herlin sudah sempat mencicipinya,' pikirnya.
__ADS_1
Tanpa Asri ketahui jika kissmark di leher Kinanti itu ternyata hasil perbuatan suaminya sendiri.