
Kalandra duduk dan menyandarkan punggung seraya menatap foto berbingkai putih di atas meja kerjanya. Di sana, tampak Daffin kecil yang menggemaskan sedang berpose lucu diantara kedua orang tuanya yang kini telah meninggal. Seketika pria sepuh itu menghela napas dalam-dalam kala gelenyar nyeri masih saja merambati hatinya meski sudah sekian lama hari berkabut duka itu telah berlalu.
"Kenapa kalian pergi begitu cepat?" desahnya dengan mata terpejam.
Kilasan masa lalu pun tergambar kembali dalam benaknya, bagai putaran video.
Hari itu, seorang pria berjas putih menatap Kalandra dan Wahyu secara bergantian dari balik meja kerjanya yang dipenuhi banyak berkas, di bagian dada jasnya tertempel papan nama bertuliskan dr Zull Remos, SpBS.
"Cedera kepala berat yang dialami Nyonya Anggraeni akibat kecelakaan itu, menimbulkan kerusakan yang sangat parah di bagian otaknya," jelas Dokter Zull seraya menunjuk pada sebuah hasil Cr Scan milik Anggraeni, Ibunda Daffin.
"Batang otak ini merupakan bagian paling vital. Pada batang otak inilah pengaturan fungsi kesadaran dan tidur manusia, juga fungsi pernapasan dan fungsi jantung. Bisa dikatakan, pada batang otak ini terdapat fungsi hidup manusia." Dokter Zull terdiam sesaat sebelum melanjutkan penjelasannya.
"Bila yang tersisa berfungsi hanya batang otak dan bagian otak lainnya sudah rusak, maka seseorang tersebut akan mengalami kondisi yang disebut dengan status vegetatif," pungkasnya.
"Ja... jadi... bagaimana, Dok?" desah Kalandra dengan sedikit terbata, dia menduga itu hal yang sangat buruk. Sedangkan Wahyu sendiri tak sanggup berkata-kata, putera kesayangannya itu hanya mengepalkan tangan di atas lututnya yang gemetar. Serta merta, Kalandra menangkup tangan sang putera dan menepuk-nepuk lembut untuk menenangkannya.
"Itu keadaan di mana pasien tetap hidup, bernapas dan jantungnya berdenyut, namun tidak ada kontak dengan sekitar. Dalam status vegetatif, pasien tidak menyadari kondisi sekitar. Juga tidak ada fungsi kognitif atau daya ingat. Semua kemampuan dasarnya hilang. Semua aktivitas kebutuhan hidup setiap hari harus dibantu orang lain, misal terkait makan, mandi dan kebersihan tubuh, menggerakkan tubuh, dan lain-lain. Pasien berstatus vegetatif, biasanya akan lebih rentan infeksi dikarenakan seluruh sistem dan fungsi tubuh sudah tidak berjalan dengan seharusnya, termasuk sistem kekebalan tubuh atau imunitas. Oleh karena itu, perawatan pasien dengan status vegetatif, harus dilakukan secara intensif."
Penjelasan Dokter Zull membuat Kalandra membisu, itu berarti menantunya mengalami koma tanpa batas waktu. Mati,... tapi tak mati.
"Tapi, .... istri saya masih hidup dan kelak bisa bangun lagi kan, Dok?" desak Wahyu dengan suara bergetar.
Dokter Zull menatap Wahyu dengan sorot simpati sebelum menjawab.
"Kalaupun keajaiban itu terjadi dan Nyonya Anggraeni tersadar nanti, mohon maaf... kemungkinan besar hidupnya tak akan pernah sama lagi. Sebab pada umumnya pasien dengan kondisi seperti ini akan mengalami cacat permanen."
"Tidak, Dok! Lakukan apapun yang bisa Anda lakukan, Dok. Saya siap menanggung berapa pun biayanya, ... berapa pun itu...," pinta Wahyu begitu mengiba. Namun, bisakah seluruh hartanya yang bernilai ratusan miliar itu ditukar dengan nyawa dan kehidupan manusia? Padahal sudah jelas, uang dan harta bendanya itu bukanlah Tuhan yang sanggup melakukan segalanya.
Kalandra tak berkata-kata. Baginya, penjelasan Dokter Zull sudah sangat gamblang. Tetapi tidak bagi puteranya yang tetap saja bersikeras ingin mendengar second opinion. Wahyu menemui ahli-ahli bedah terbaik di dalam dan luar negeri dan berkonsultasi dengan mereka, namun ternyata pendapat para Dokter itu sama saja dengan Dokter Zull.
Lambat laun, Wahyu tampak mulai bisa menerima kondisi istrinya. Di sela-sela kesibukannya yang padat, puteranya itu selalu menyempatkan diri mengunjungi Anggraeni di rumah sakit. Kalandra membujuk agar Anggraeni dibawa pulang saja dan dirawat intensif di rumah dengan menyewa perawat dan tetap dalam pengawasan Dokter. Tetapi, puteranya itu menolak.
__ADS_1
Tiga tahun berlalu dan semua tampak baik-baik saja di mata Kalandra. Sampai suatu ketika, Reza tiba-tiba membangunkannya di tengah malam.
"Ada apa?" tegur Kalandra begitu berkontak mata dengan asisten kepercayaannya itu.
"Tuan, ada kabar dari rumah sakit, menantu Anda telah berpulang. Saya turut berduka cita," ujar Reza sambil menunduk.
Kalandra tak tahu apakah dirinya sedih atau lega, sebab hidup atau matinya Anggraeni seperti tak ada bedanya. Dia pun menghela napas dan berkata.
"Ya sudah, atur acara pemakamannya. Di mana Wahyu, apa dia sudah menyusul ke rumah sakit?"
Reza menggeleng pelan.
"Tuan Wahyu belum dapat kami temukan."
"Apa maksud mu dengan belum dapat ditemukan? Apa yang terjadi? Jelaskan!!"
Reza mengatur napas sejenak.
Bumi yang dipijak Kalandra serasa runtuh begitu mendengarnya. Jadi Wahyu memutuskan untuk membunuh istrinya?
Kalandra mengangguk-angguk mengerti, mungkin itu di anggap salah bagi sebagian orang tetapi dia bisa memahami apa yang melatarbelakangi keputusan puteranya. Wahyu pasti tak sanggup melihat istrinya menderita lama-lama. Meski penderitaan rasanya tak tepat disebutkan bagi pasien yang mengalami kematian batang otak, sebab si pasien sudah tidak merasakan apa-apa lagi, jadi tidak ada rasa sakit yang diderita Anggraeni selama masa komanya, bukan?
Kalandra berdecih dan lekas melotot kepada Reza yang berdiam diri di depannya.
"Cepat cari Wahyu! Apa yang kau tunggu?"
"Baik, Tuan," Reza pun bergegas menelepon bala bantuan untuk menemukan sang Tuan yang hilang.
"Opa! Apa benar Bunda meninggal?" Daffin tiba-tiba menyusul Kalandra ke kamarnya dengan napas terengah dan tatapan matanya yang melebar.
Jakandr memeluk cucunya dengan perasaan sedih karena harus kehilangan Ibunya sekecil ini.
__ADS_1
Merasakan pelukan sang Kakek agaknya sudah cukup membuat Daffin kecil tahu jika berita duka itu benar, tetapi tiada air mata yang jatuh dari pipinya. Pikiran si Daffin kecil rupanya tengah memutar pesan sang Bunda.
"Kematian itu tidak selalu sakit, Daffin. Ada kalanya jusru menjadi sangat indah bagi sebagian orang. Jika Bunda mati nanti, Daffin berjanjilah agar tidak menangis. Karena air mata Daffin justru akan menyakiti kematian Bunda."
Daffin sebenarnya sedih. Dia sangat kehilangan. Tetapi, Daffin tidak ingin menyakiti Bundanya. Daffin ingin wanita yang menyayangi dan juga disayanginya itu tetap bahagia, di manapun dia kini berada.
Pencarian itu lama sekali menemukan ujungnya. Wahyu bagai hilang ditelan bumi. Jejak kepergiannya sulit ditemukan.
Namun Kalandra pantang menyerah, dia tetap mengerahkan upaya terbaiknya untuk mencari keberadaan sang putera. Sampai tiga tahun kemudian, tiba-tiba Reza tergopoh-gopoh menemuinya di Sabtu sore.
"Tuan...!" panggil Reza dengan nada yang sama sekali tak enak didengar.
"Ada apa?" Kalandra menghela napas panjang, mempersiapkan diri untuk mendengarkan hal terburuk sekali pun.
"Kami sudah menemukan jejak Tuan Wahyu."
Kalandra menghela napas panjang, hatinya diselimuti syukur tak terkira.
"Bagaimana kondisinya?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
Reza terdiam sejenak.
"Maaf, Tuan..." desahnya.
"Kami menemukan jejak Tuan Wahyu, te... tetapi... beliau sudah tiada."
Kalandra meremas dada kirinya yang teramat nyeri. Tidak! Dia sama sekali tak siap mendengar ini.
"Tuan? Tuan...!" Reza dengan sigap memegangi Tuan besarnya yang oleng pingsan.
"Opaaaa!" Daffin yang baru saja pulang menjatuhkan medali emasnya, padahal dia baru saja akan memamerkan keberhasilan tim basket SMP nya yang sukses meraih gelar juara bergengsi kepada sang Kakek.
__ADS_1