
"Apa-apaan sih, Tante? Itu urusan aku, jangan libatkan Daffin." Kinanti menahan getar dalam suaranya. Dia tak ingin terlihat takut, meski memang begitulah kenyataannya.
Daffin tak tahu apa-apa soal utangnya ini. Dan Kinanti memang belum siap untuk membahasnya. Sebab dalam pikirannya, lelaki manapun bakal kabur sejauh-jauhnya jika mendengar utang yang sedang ditanggung calon pasangan hidupnya. Siapa juga yang sudi dihadiahi beban utang sebesar itu oleh pasangannya sendiri? Orang menikah umumnya ingin bahagia, bukan ingin ditambahi beban utang.
"Bah! Kemana nyalimu tadi? Ternyata secepat itu menciut." Asri terkekeh menang karena telah memegang kartu As milik Kinanti, yaitu tentang utangnya yang sangat besar.
Di sofa sana, Herlin ikut terkekeh sembari menyalakan sebatang rokok, lalu mengembuskannya penuh kenikmatan seraya menonton drama di depannya. Rasa penasaran tampak berkilat dalam sorot matanya. Dipandanginya lekat-lekat pemuda yang tengah pasang badan untuk Kinanti itu.
Kinanti menoleh kepada Daffin dengan sorot matanya yang meredup.
"Maaf, Daffin. Kamu nggak perlu terlibat masalah ini. Kamu boleh pergi sekarang," ucap Kinanti seraya meloloskan tangannya dari genggaman Daffin. Akan tetapi, Daffin malah menggenggam tangannya dengan lebih erat.
"Apa masalah nya? Apapun itu, aku dengerin. Jangan main usir aku seenak jidat mu kayak gini dong, Maemunah." Daffin menjitak pelan kening Kinanti.
Kinanti mendongak, mata gadis itu berkedip-kedip memandangi Daffin yang kini mengangguk kepadanya, memintanya berbicara.
"Aku...," Kinanti menelan ludah dan terdiam.
"I listens to you," bisik Daffin menenangkan kegugupan wanita yang sedang dilindunginya.
Kinanti menggigit bibir, tertekan keraguannya sendiri.
"A... aku punya utang ke Tante ku, Daffin. Banyak banget," jelas Kinanti dengan suara bergetar menahan tangis.
"Sebanyak apa sih, Kinan?"
Lidah Kinanti kelu, tak sanggup menyebut jumlah sebanyak itu.
"Come on, ... how much?" desak Daffin.
"Sa... satu... miliar, Daffin." Kinanti menunduk, tak sanggup menahan rasa malunya kepada Daffin. Tetapi Kinanti lekas mengangkat kepalanya dan menatap Daffin dengan heran karena pria itu malah tertawa terbahak-bahak.
"Aku serius, Daffin. Aku nggak lagi bercanda. Yang kamu denger barusan itu bukan prank," ucap Kinanti dengan sorot putus asa.
"Aku tahu, Kinan." Daffin mengusapi pipi Kinanti yang mulai dibasahi air mata.
"Dih, jangan nangis dong, Maemunah. Cuma satu miliar ini...," ujarnya disela-sela tawanya.
__ADS_1
"Cu... cuma?" Kinanti mendesis dongkol, sempat-sempatnya pria sableng ini bercanda dalam situasi seperti ini.
Daffin berdeham setelah menyelesaikan tawanya. Lalu merangkul pundak Kinanti seraya membalas tatapan Asri dengan sorot tak kalah tajam.
"Apa perkara utang ini legal? Rasanya ..., saya mencium bau-bau pemerasan di sini," ketusnya.
Asri meradang.
"Kurang ajar! Jangan ngawur kamu, sembarangan bilang kalau ini pemerasan. Aku ini Tantenya, mana mungkin memeras keponakan ku sendiri."
Daffin tersenyum sinis.
"Menagih utang dengan bunga yang berlipat-lipat melebihi bunga bank, tanpa kesepakatan yang jelas dan secara paksa, apa itu bukan pemerasan namanya?" ketusnya.
Dia sudah mendengar banyak hal dari Amber tentang perlakuan Asri kepada Kinanti selama ini, bahkan pernah mendengarnya sendiri secara tak sengaja saat dia sedang menelepon Kinanti dulu, di awal-awal kedekatan mereka. Dan kali ini Daffin tak akan membiarkan perempuan kasar itu bertindak sewenang-wenang lagi kepada Kinanti.
"Halah. Sudahlah..., kau ini sanggup bayar apa tidak? Kalau nggak mampu, jangan banyak omong. Cepat, tinggalkan Kinanti sekarang juga! Gembel mah jangan banyak gaya," cibir Asri sembari melipat kedua tangannya di depan perut.
"Saya tahu Anda rentenir, tapi lihat-lihat dong, masa bersikap seperti renternir juga sama ponakan sendiri. Pinjaman pokok Kinanti tak sampai satu miliar, kan? Dan Kinanti sudah lama mencicil utangnya itu, masa tetap dihitung satu miliar terus? Jumlahnya pasti sudah banyak berkurang." Lalu Daffin menoleh kepada Kiannti dan berkata.
Kinanti mengangguk yakin, dia punya pembukuan keuangan pribadi yang baik selama ini. Dia mengarsipkan setiap bukti-bukti transfernya.
"Heh! Mana bisa begitu?" protes Asri tak rela kehilangan keutuhan satu miliarnya. Dia buru-buru berlari ke kamarnya dan kembali membawa map berisi dokumen catatan pinjaman Kinanti di masa lalu.
"Ini, lihat..., pinjaman Kinanti lebih dari satu miliar dan sisanya sekarang satu miliar!" bentak Asri seraya menyodorkannya kepada Daffin.
Mata Daffin menyipit, pertama kalinya Kinanti melihat pria itu tampak begitu serius saat membuka dan membaca kertas-kertas di dalam map itu. Angka yang tak masuk akal baginya.
Lalu tiba-tiba saja Daffin terkekeh pelan seraya mengucap.
"Total biaya pengobatan rumah sakit Maminya Kinanti lima ratus juta dan biaya kuliah Kinanti sampai tujuh ratus juta? Maaf, saya tahu berapa kira-kira biaya kuliah di sana, tak bakal sampai segini apalagi ini nilai biaya beberapa tahun yang lalu," cibirnya tanpa bermaksud mengejek kampus swasta tempat Kinanti berkuliah dulu. Tapi memang jumlah itu sangatlah berlebihan untuk kampus swasta dengan akreditas biasa saja.
"Kau pikir selama kuliah Kinanti tak perlu ongkos, makan, dan lain-lain?" ketus Asri tak terima.
"Oh, jadi maksudnya ini sekalian biaya katering dan juga tarif kos Kinanti selama tinggal di sini?" Lalu Daffin terbahak-bahak.
"Ngomong dong...." ledeknya semakin hilang respect terhadap Asri.
__ADS_1
"Oke-oke, sudahlah... daripada bikin saya pusing, saya akan bayar satu miliar seperti yang Anda mau. Tapi, dengan syarat jangan pernah mengusik kehidupan pribadi Kinanti lagi mulai hari ini. Bagaimana?"
Asri tertawa sinis.
"Kau sanggup bayar apa tidak? Jangan banyak omong kosong!" cibirnya.
Daffin mengeluarkan pulpen dan juga cek dari dalam slingbagnya, kemudian menuliskan sesuatu dan menandatanganinya.
"Ini, cek satu miliar. Ikuti syarat tadi ya atau tidak?" tantangnya seraya menunjukkan cek tersebut ke depan wajah Asri. Asri terperangah. Tangannya gemetar kala menerima secarik kertas berupa cek dengan nominal angka satu miliar dari tangan Daffin.
"K... kau...? Bukan penipu, kan? Apa ini cek asli?" ucapnya begitu gugup. Lalu dia mengamati Daffin lekat-lekat. Pria di depannya itu masih begitu muda, bagaimana bisa dia memiliki uang sebanyak ini?
"Awas kalau kau menipu ku, aku akan mengejar mu meski kau sembunyi di lubang semut!"
Daffin tersenyum sinis dan mengulurkan sebuah kartu nama.
"Itu pengacara saya, hubungi dia saja kalau Anda punya masalah dengan saya. Sorry, waktu saya terlalu berharga untuk bertemu dengan sembarang orang," sindirnya dengan sedikit menekankan kata sembarang orang, tentu saja yang Daffin maksud adalah Asri.
Asri memegangi dadanya yang digempur kaget begitu membaca kartu nama seorang pengacara terkenal di tangannya. Sekarang Asri sadar, dia tidak sedang berhadapan dengan pemuda biasa-biasa saja.
"Kinan, ayo ikut aku. Sudah saatnya kamu keluar dari neraka ini." Daffin pun menarik Kinanti keluar dari rumah Tantenya detik itu juga.
Sementara itu di sofa tamu, Herlin terbahak-bahak dan bertepuk tangan melihat plot twist pertunjukan drama di depannya
"Nah, kau sudah punya satu miliar sekarang. Baguslah, rumah mu akhirnya selamat" Herlin berdiri dari sofa berjalan mendekati Asri, kemudian menyambar cek dari tangan perempuan serakah itu.
"Herlin, ku... kumohon! A... aku butuh uang itu untuk mengeluarkan Dion dari penjara," ratap Asri tak rela kehilangan uang satu miliarnya. Ditambah dia juga sudah kehilangan Kinanti, dari mana lagi sekarang dia akan mendapatkan suntikan dana?
Herlin terkekeh.
"Buat apa kau pusingkan Dion? Kalau tak bersalah, dia pasti akan memenangi tuntutan itu."
Sebenarnya bagi Herlin uang satu miliar itu kecil, tetapi dia ingin memberi pelajaran kepada Asri yang sering memeras uangnya dengan iming-iming Kinanti. Padahal sudah jelas sekarang, Kinanti tak akan pernah sanggup dia miliki karena sudah bersama Daffin.
Herlin diam-diam tahu siapa pemuda di depannya tadi, dia adalah cucu dari Kalandra, seorang crazy rich yang identitasnya tak banyak diketahui orang, kebetulan Herlin termasuk segelintir orang yang mengetahuinya. Dan Herlin tak ingin membuat perkara dengan keluarga Kalandra agar bisnisnya selamat.
"Herlin! Jangan bawa uang ku, Herlin. Jangaaan!" pekik Asri histeris.
__ADS_1