Fake Couple

Fake Couple
Aku tak boleh tahu soal apa?


__ADS_3

Kinanti turun dari taksi, memandangi lobi apartemen di depannya kemudian ganti menatap jari manisnya yang kini telah kosong dari cincin pertunangannya dengan Daffin. Ada rasa ringan sekaligus berat yang kini bermain-main dalam hatinya. Bodoh. Bisa-bisanya dia melepas pria tampan, menyenangkan, dan juga mapan. Bukankah setidaknya pria itu tak mempermainkan perasaannya seperti Ikram?


Daffin bahkan sudah terang-terangan menjelaskannya sejak awal.


"Jangan overthinking tentang hubungan kita, Kinan. Just have fun with me. Tak mengapalah awalnya kita pura-pura saling cinta. Mungkin suatu hari nanti kita bisa jatuh cinta betulan."


Kemudian terngiang lagi kata-kata Nadia.


"Apa kamu yakin dia mencintai mu? aku beritahu kamu, dia sangat mencintai Amber. Kamu, Kinan? hanya akan berakhir seperti aku dan cewek-cewek lain, yang cuma dijadiin objek pengalih perhatiannya dari Amber. Siap-siap aja, kamu bakal ditendang keluar kalau dia udah bosan. Lebih baik kamu lari!"


Ah. Kenapa tiba-tiba terselip rasa takut dalam hati Kinanti kala mendengarnya? Apa sebenarnya yang dia takutkan? Bukankah justru bagus menjalin hubungan dengan Daffin tanpa perlu diselipi cinta? Tanpa cinta. Tak akan ada risiko patah hati.


Akhirnya Kinanti memantapkan langkahnya menuju unit apartemen Daffin. Menghela napasnya yang mendadak gugup. Lalu memencet bel. Tak lama kemudian terdengar suara pintu sedang dibuka dari dalam.


"Halo, Kinan? Come in. Masuklah." Justru Nadia yang menyambutnya bukan Daffin.


Kinanti membeku melihat keberadaan Nadia sepagi ini di dalam apartemen Daffin.


"Daffin lagi mandi, tunggu saja di dalam. Sekalian kita sarapan pagi bareng, yuk? Ntar aja ke kantornya, kamu bisa bareng sama aku." Nadia berubah ramah sangat berbeda dengan sosok wanita yang kemarin tampak ingin menerkam dan mencabiknya. Apa wanita itu sedang mengejek Kinanti karena Daffin telah kembali ke pelukannya dengan begitu cepat?


Kinanti memaksakan segaris senyum.


"Terima kasih, tapi saya cuma mau titip ini. Tolong sampaikan ke Daffin." Kinanti mengulurkan paper bag mini berisi cincin pertunangannya. Setelah Nadia menerimanya, Kinanti pamit dan bergegas menuju lift.


Nadia memanggil-manggil Kinanti berusaha menahannya agar jangan pergi dulu, tetapi gadis itu seperti sengaja mengabaikan panggilannya. Nadia menutup pintu dan meletakkan paper bag itu di meja. Lalu mempersiapkan sarapan, ingin menebus kemarahan Daffin padanya dengan berbagai makanan enak yang bakal sulit ditolak. Sebab hanya Nadia yang mewarisi bakat ibunya memasakkan makanan-makanan yang disukai Daffin sejak kecil.


"Ngapain kamu masih di sini?" tegur Daffin yang baru keluar dari kamar mandi.


Nadia tersenyum lebar.


"Nyiapin sarapan buat kamu."


"Aku kan bilang taruh aja di meja."


"Ada yang perlu dipanasin lagi biar enak. Biar kamu tinggal makan," sahut Nadia sambil menata meja.


"Oya," tiba-tiba dia teringat sesuatu.

__ADS_1


"Tadi Kinanti ke sini. Dia titip itu buat kamu," katanya seraya menunjuk paper bag di meja.


"Aku sudah menyuruhnya masuk, tap..."


Daffin berlari gesit menuju pintu sebelum Nadia menyelesaikan ucapannya.


Nadia tertegun lalu dia penasaran dan membuka isi paper bag itu.


"Oh!" Wanita itupun menutup mulutnya yang menganga lebar. Dia kini sadar telah melakukan kesalahan fatal, dia berada di tempat dan waktu yang salah!


Nadia lekas menelepon Kinanti. Tetapi gadis itu tak juga mengangkat teleponnya.


Nadia menelepon lagi dan lagi. Tapi nihil.


Nadia pun menelepon sekretarisnya.


"Bilangin ke orang-orang yang sudah ada di kantor sekarang, kalau ada yang melihat Kinanti di sana, suruh Kinanti menelepon. Penting!" titahnya yang segera diiyakan sang sekretaris.


Brak!


Nadia memekik kaget mendengar suara pintu yang terbanting keras. Dilihatnya Daffin memasuki unit apartemennya dengan napas terengah, seraya menatap lekat-lekat Nadia yang terpaku di tempatnya.


"Udah aku bilang, kan? Jangan usik lagi urusan ku! Well. Mungkin kamu pikir ucapan ku itu cuma gertakan doang. Oke, biar aku tunjukin langsung ke kamu," desisnya dengan tatapan nyalang.


"Halo, Rey?" Daffin menelepon asisten pribadi seraya menusuk Nadia dengan tatapannya membuat wanita itu berkedip-kedip takut.


"Tarik seluruh dana investasi kita dari PT XXX. Dan mulai detik ini, tak ada lagi fasilitas gratis untuk mereka. Terutama sewa gedung, jika mereka tak bayar suruh pindah."


Seketika tubuh Nadia melorot ke lantai.


"Daffin, You tega sama I? Ingat, I ini anaknya pengasuh You sejak bayi, orang yang paling You sayangi selama ini seperti ibu You sendiri."


Daffin justru terbahak mendengar Nadia yang sedang mengiba padanya.


"Halah! Gaya amat kamu, pakai I, You, I, You segala selama ini. Lahir di dukun beranak dari desa pelosok aja kebanyakan gaya hu, sok British! Biasa lauk jengkol sejak piyik, ngakunya di luar sana cuma bisa makan steak. Sombong amat! Nyesel aku pernah macarin cewek norak kayak kamu."


##########

__ADS_1


"Permisi, Om. Bisa aku bicara sebentar?"


Dion mengangkat wajahnya yang sejak tadi menatap laptop. Pria itu tersenyum kebapakan dan mengangguk.


"Ada apa, Kinan? Tumben kamu nggak kerja? Cuti?" tegur Dion setelah Kinanti duduk di depannya.


"Aku sudah resign, Om."


"Resign? Apa ada masalah? Bukankah kamu bilang sudah nyaman dengan lingkungan kerja mu di sana?


Kinanti tersenyum kecut. Semua memang baik-baik saja dan menyenangkan sebelum dirinya terlibat urusan pribadi dengan sang CEO.


"Sekarang sudah tidak lagi, Om."


Dion mendesah pelan.


"Setiap pekerjaan selalu punya tantangannya tersendiri, Kinan. Kamu jangan lari dari konflik, sebisa mungkin selesaikanlah daripada resign."


"Masalah aku nggak ada hubungannya dengan pekerjaan kok, Om. Lagipula resign itulah cara aku menyelesaikan konflik."


"Lalu? Berhubungan dengan apa? Karena pria?"


Melihat Kinanti terdiam, Dion seketika terkekeh.


"Ah, soal asmara ya? Terlibat hubungan cinta dengan teman sekantor kadang bisa menjadi berkah... juga musibah."


Tebakan Dion tak sepenuhnya benar tapi Kinanti tak ingin mengoreksinya.


"Apa yang bisa Om bantu, Kinan?" ujar Dion kemudian.


"Aku kehabisan uang, Om. Padahal aku sedang butuh biaya untuk proses melamar kerja. Aku nggak punya tabungan, sebab..." Kinanti urung menceritakan tentang uangnya yang selalu habis untuk membayar utang ke Tantenya sendiri dengan bunga setinggi langit.


"Sudah jadi kewajiban Om membantumu, Kinan. Jangan sungkan-sungkan bilang sama Om kalau butuh bantuan. Jadi, berapa biaya yang kamu butuhkan? Tak perlu pinjam segala. Om ikhlas kasih buat kamu. Nanti Om transfer. Tapi jangan sampai Tante mu tahu, biar nggak ramai"


Kinanti plong bukan kepalang. Namun tiba-tiba daun pintu ruang kerja Dion terbuka dengan dorongan keras dari luar.


BRAK!

__ADS_1


"Aku tak boleh tahu soal apa?!" pekik Asri seraya memandangi Dion dan Kinanti dengan tatapan siap mencabik-cabik.


__ADS_2