
Asri memejamkan mata ketika kekejamannya kepada Kinanti di masa lalu tiba-tiba saja berputar dalam ingatannya dengan begitu jemawa. Membuat tangis Asri kian menjadi, alangkah teganya dia dulu kepada keponakannya yang baik itu. Ke mana hati nuraninya? Dan kenapa hatinya baru terketuk sekarang?
"Kinanti!" bentak Asri kala itu, ketika Kinanti baru saja pulang dari kampus.
"Dari mana saja kamu? Ditelepon dari tadi nggak diangkat!" sambutnya begitu Kinanti memasuki rumah dengan membawa map berisi tugas-tugas kuliahnya.
"Maaf, Tan. Hape aku kan udah lebih dari seminggu ini rusak," jawab Kinanti seraya menunduk sedih. Ponselnya pecah gara-gara dibanting Asri saat marah.
Entah... setan apa yang merasuki pikirannya hari itu, Asri justru mendorong Kinanti hingga isi mapnya berhamburan di lantai lalu dia memukuli Kinanti seperti anak kecil, bahkan anak kecil saja tak patut menerima pukulan semacam itu. Dan Kinanti hanya menangis tanpa suara sambil memunguti kertas-kertas tugasnya. Dan dengan kejamnya Asri menginjak tangan Kinanti yang sedang memungut lembar kertasnya yang terakhir.
"Mentang-mentang ada pembantu di rumah ini, bukan berarti kamu melupakan tugasmu mencuci dan menyetrika! Tahu nggak, gara-gara kamu belum menyeterika, aku jadi salah kostum saat menghadiri undangan teman ku tadi!" omelnya sambil menjambak rambut Kinanti tanpa belas kasih.
Tiba-tiba bel pagar rumahnya berbunyi.
"Masuk sana ke kamarmu!" usir Asri, tak ingin ada orang yang melihat Kinanti dalam kondisi berantakan usai dipukulinya.
Beberapa menit kemudian, pembantu mereka tergopoh-gopoh menemui Asri dan berkata.
"Bu, ada yang mencari Mbak Kinan. Namanya Ikram, katanya teman SMA Mbak Kinan."
Asri bersedekap dan tersenyum sinis.
"Bilangin, nggak ada orang bernama Kinanti di rumah ini! Terserah gimana caramu biar temannya Kinanti itu pergi, biar nggak usah ke sini-sini lagi," sahut Asri sekenanya, kemarahannya kepada Kinanti membuatnya malas berurusan dengan teman-teman Kinanti.
"B... baik, Bu."
Dan si pembantu pun segera menemui Ikram.
__ADS_1
"Maaf, Mas, Nggak ada yang bernama Kinanti di rumah ini," dustanya demi mematuhi majikannya yang super judes. Si pembantu khawatir dipecat kalau tak menuruti Asri, padahal dia butuh pekerjaan ini.
Ikram mengerutkan kening dan mencocokkan alamat rumah ini dengan alamat yang diberikan Amber.
"Tapi, teman ku bilang ini rumah Tantenya Kinanti yang bernama Asri, dan sekarang Kinanti tinggal di sini, Mbak. Tolong, bisakah Mbak pastikan sekali lagi?" desaknya dengan sorot penuh pengharapan. Padahal dia sudah mencuri-curi waktu dari Papanya agar bisa sampai sini. Papanya masih tidak menyukai Kinanti sampai detik ini, dan sangat menjaga agar dirinya dan Kinanti jangan sampai bertemu lagi. Dan ini adalah kesempatan terakhirnya bertemu Kinanti, sebab besok pagi dia harus kembali lagi ke Amerika.
"Betulan nggak ada, Mas. Ini bukan rumah Bu Asri," jawab pembantu Asri sambil menekan rasa bersalah di hatinya. Sepertinya, teman Mbak Kinanti ini sangat berharap bisa bertemu. Ada gurat kesedihan yang begitu kentara dalam seraut wajah tampan itu. Lalu tatapan si pembantu terpaku pada sebuket bunga mawar putih segar yang dibawa Ikram, indah sekali. Ingin rasanya dia kembali masuk ke dalam dan memanggil Kinanti, agar dapat menemui pria yang sepertinya sangat merindukan keponakan majikannya itu. Tetapi ketakutannya terhadap Asri rupanya lebih mendominasi, hingga dia buru-buru pamit dari hadapan Ikram dan memasuki rumah, pilih melanjutkan pekerjaan dapurnya saja, tak berani ikut campur.
Sedangkan Ikram masuk kembali ke mobilnya dengan perasaan gundah, dia pun menelepon Amber.
"Halo, Amber? Aku udah sampai di alamat yang kamu kasih, tapi katanya nggak ada orang bernama Kinanti di rumah ini. Kamu yakin alamat ini udah benar?"
"Hmm, seingat ku sih benar, Ikram. Eh, kenapa nggak kamu telepon langsung aja si Kinan?"
"Sudah, Amber. Tapi nggak terhubung. Apa mungkin dia sudah ganti nomor?"
Amber mendesah, terdengar ikut menyayangkan niat Ikram yang sangat ingin menemui Kinanti namun tak berjalan lancar.
Ikram menghela napasnya yang terasa begitu berat.
"It's oke, Amber. Thank's info dan bantuannya." Lalu dia memutuskan sambungan telepon.
Ikram memandangi buket bunga mawar putih di tangannya dengan hati tercubit sedih.
"Kenapa begitu sulit bagi kita untuk ketemu lagi, Kinan? Kamu di mana sekarang? I miss you so much..., and I wanna say... that I love you."
#########
__ADS_1
"Amber? Tumben ke sini nggak bilang-bilang?" tegur Mila kala melihat si anak bungsu memasuki rumahnya.
"Apa kabar, Ma?" Amber menjabat tangan sang Mama dan mencium punggung tangannya. Lalu mengecup kedua pipi Mila yang masih kencang di usianya yang hampir memasuki kepala enam karena tak pernah absen dari perawatan kecantikan.
"Baik, Ikram mana, kamu sendirian?"
"Biasalah, kerja terosss, dia ke luar kota udah tiga hari ini, ngecek pabrik baru yang katanya baru selesai dibangun," sahut Amber sambil menghempaskan pantat ke sofa.
Mila tersenyum.
"Dia memang menantu yang bisa dibanggakan. Mama dan Papa lega banget akhirnya kalian menikah. Mama tahu sekali kualitas Ikram, sebab orang tuanya mendidik dengan sangat baik. Terbukti 'kan? Meski dia tak memulai kariernya dari nol karena tinggal melanjutkan perusahaan keluarga, tapi dia totalitas sekali bekerja, nggak berleha-leha malas-malasan," puji Mila tiada habis untuk sang menantu. Sejak remaja, Ikram memang sudah diincarnya untuk dijodohkan dengan Amber, putri kesayangannya.
"Makanya, Mama lega banget kamu putus dari mantan pacarmu yang slengekan itu, siapa namanya? Oh, Daffin... iya, Daffin, kan?" Lalu Mila geleng-geleng kepala.
"Bisa-bisanya kamu dulu memacari cowok urakan kayak dia sih, Amber..., Amber." Mila geleng-geleng kepala. Untung saja putrinya berakhir dengan Ikram, tak sia-sia Mila mengirim putrinya kuliah ke Amerika biar bisa lebih dekat dengan Ikram.
Mila tersenyum sinis kala teringat bagaimana mantan pacar putrinya dulu itu tiada kapoknya diusir, berani-beraninya terang-terangan meminta Amber agar memutuskan Ikram yang sudah resmi menjadi tunangan putrinya. Bahkan cowok sableng itu sampai menciumi tangannya segala, meminta restu Mila.
"Tante, aku janji akan membahagiakan Amber lahir batin. Aku akan menjamin putri Tante tak akan pernah kekurangan jika menjadi istri ku. Aku tak akan membiarkan tangannya berkeringat karena harus ikut mencari nafkah."
Rengekan Daffin meledakkan tawa Mila yang terdengar begitu mengejek. Bah! Buat apa Mila melepaskan ikan yang sudah terjaring di tangan demi burung yang masih bisa terbang? Ikram tentu saja lebih menjanjikan segalanya daripada pria yang tak jelas asal-usulnya. Lagipula Ikram terlihat lebih berwibawa sebagai lelaki ketimbang Daffin yang bertampang baby face.
Seketika itu juga Mila menghardik Daffin.
"Kamu ya, nggak tahu malu gangguin wanita yang sudah jadi tunangan orang! Pergi sana dan jangan ganggu Amber lagi!"
"Tan, aku mohon..., aku serius mencintai putri Tante. Aku bersumpah akan memuliakan hidupnya jika menjadi istri ku." Daffin memegangi tangan Mila erat-erat.
__ADS_1
"Pak Satpam! Usir dia, cepat!" pekik Mila sambil mengibaskan tangannya dari Daffin dan menarik putrinya agar memasuki rumah.
"Jangan jatuhkan air matamu untuk mantan! Dia bukan masa depanmu!" bentak Mila melihat Amber diam-diam menangis iba melihat Daffin diseret kedua satpam rumahnya.