Fake Couple

Fake Couple
Sangat cantik.


__ADS_3

Sejak bekerja dengan Herlin, Kinanti merasa Tantenya mulai memberi perhatian lebih kepadanya. Kinanti tak lagi dibebani pekerjaan rumah tangga seperti biasanya. Tak lagi menyiapkan sendiri sarapannya. Tante Asri melayani Kinanti sama seperti dia melayani anak-anaknya yang lain.


"Makan yang banyak, Kinan. Supaya kau energik bekerja sepagi ini. Herlin bilang sangat puas dengan pekerjaan mu. Kau memenuhi ekspektasi asisten pribadi idealnya," kata Asri sembari menyodorkan setangkup sandwich buatannya untuk Kinanti.


Asri terus-terusan mengoceh tentang Herlin, tanpa menyadari kerutan wajah suaminya yang tampak kesal mendengarnya. Dion sebenarnya cemas. Dia sangat mengenal Herlin yang sudah jadi buaya darat sejak sekolah dulu. Bahkan temannya itu sudah melepas keperjakaannya sejak masih SMA. Herlin tak bisa tahan lama-lama melihat wanita cantik. Keberadaan Kinanti di sekitar Herlin sungguh membuat Dion merasa tak tenang.


"Kalau Herlin berbuat kurang sopan kepada mu, jangan segan-segan melawan, Kinan. Jangan takut. Bilang ke Om kalau dia bersikap tak seharusnya."


Asri mendesah panjang mendengar ucapan suaminya. Dalam hatinya tak menampik jika Herlin mungkin saja berbuat seperti itu, tapi mendengar sendiri Dion mengucapkan itu di depan Kinanti benar-benar membuatnya kesal.


"Kinanti, Herlin bersikap profesional padamu kan selama kau bekerja dengannya?" ucap Asri sambil melirik judes pada Dion.


Kinanti bisa merasakan nada jengkel dalam suara Tantenya. Dia pun mengangguk saja sebagai jawaban. Sejauh ini memang aman dan baik-baik saja.


"Kinanti," panggil Asri saat Dion sudah lebih dulu menyingkir dari meja makan dan pergi ke garasi untuk memanaskan mesin mobil.


"Iya, Tan?" Kinanti menyusun piring-piring kotor bekas sarapan.


"Sudahlah, biar nanti Tante saja yang beresin."

__ADS_1


Gerakan tangan Kinanti seketika terhenti. Lalu menoleh kepada si Tante yang memandanginya dengan serius.


"Kau tahu kan, bisnis Om Dion sedang tidak baik-baik saja. Otomatis jatah bulanan buat Tante juga terdampak. Padahal ada urusan yang harus Tante selesaikan. Dengar-dengar, Herlin memberimu bonus, iya kan? Cepat transfer ke Tante dua puluh juta."


Kinanti menghela napas sabar. Bahkan dia belum sempat menikmati uangnya sendiri tapi dengan cepat uangnya harus berpindah tangan.


"Buat apa, Tan?"


"Bukan urusan mu buat apa. Urusan mu hanya mentransfer uang yang Tante minta. Bukankah sudah Tante bilang, Tante tak akan langsung menagih utang mu kontan satu miliar, tapi saat Tante butuh kau harus menyediakannya."


#########


Kinanti mematut-matut dirinya di depan meja rias. Masih tak percaya jika sebuah gaun saja bisa mengubahnya menjadi semenarik ini. Wanita berkulit putih cerah itu tersenyum puas memandangi bayangan dirinya yang memantul cantik dalam cermin. Kinanti tampak naik kelas dalam balutan kain berbahan sutera dan sifon berwarna biru kelasi yang sangat anggun. Gaun ini sedikit mengekspose pundak dan menonjolkan tulang selangkanya yang seksi. Tak masalah bagi Kinanti selama belahan dadanya masih tertutupi.


Asri terpukau kecantikan Kinanti yang nyaris membuatnya pangling. Diam-diam dalam hatinya bangga punya keponakan secantik itu. Tak salah Asri memilihkan gaun itu untuk Kinanti yang malam ini akan mendampingi Herlin menghadiri Gala Dinner.


"Kinanti, sepertinya ada yang kurang," katanya sambil mendekat. Lalu menarik Kinanti agar masuk ke dalam kamarnya.


"Duduklah." Dan Kinanti menuruti ucapannya, duduk di kursi rias Tante nya. Lalu Asri menggulung rambut Kinanti dengan gaya modern dan menghiasinya dengan aksesoris yang manis.

__ADS_1


"Kau cantik sekali, Sayangku," ucap Asri seraya menatap wajah Kinanti lewat pantulan cermin. Kinanti mewarisi kecantikan Maminya, Kakak kandung Asri.


Kecantikan seperti itulah yang semasa muda sering membuat Asri iri karena kebanyakan lelaki yang dia sukai malah naksir Kakaknya sendiri. Dari sanalah bibit kebenciannya kepada Ibunda Kinanti bermula.


Kinanti balas menatap Tantenya melalui pantulan cermin. Perasaannya terasa menghangat sejak mendengar Tantenya memanggilnya dengan sebutan 'sayangku'. Sudah lama tak ada sosok Ibu yang memanggilnya begitu. Kinanti senang Tante Asri akhirnya memanggilnya seperti itu.


############


Setiap kali Kinanti melangkah, ujung gaunnya berkibar indah. Gaun malam membuat penampilannya kian elegan membalut sempurna tubuh proporsional Kinanti yang menawan. Kecantikannya malam ini bagaikan magnet yang menarik mata para lelaki yang dilewatinya. Tak terkecuali Herlin yang melihatnya pertama kali. Pria yang usianya sudah berkepala lima itu sungguh takjub menatap keindahan seorang Kinanti Queensha.


Kinanti memasuki ballroom hotel di kawasan Sudirman - Jakarta dengan penuh percaya diri. Mengikuti langkah kaki Herlin yang seharusnya berjalan lebih dulu di depan, tetapi lelaki itu pilih menyejajari langkah Kinanti.


Herlin kemudian sibuk berbincang dengan seorang rekan bisnisnya. Lalu menoleh kepada Kinanti saat melihat dua pria berjalan mendekat padanya.


"Yang berkacamata Pak Yohanes Wijaya, Direktur Utama PT Pelita Jaya Abadi. Dan yang berbaju batik di sebelahnya itu Pak Adi Nugraha, Direktur Utama PT Pesona Agraria Nusantara." Kinanti berbisik sebelum Herlin bertanya.


Herlin mengangguk. Lalu menoleh kepada kedua orang yang sudah berada di depannya.


"Halo, Pak Yohanes dan Pak Adi, apa kabar? Selamat malam," sapanya hangat sambil menyalami kedua orang itu satu per satu.

__ADS_1


Sepanjang Herlin berinteraksi dengan rekan-rekan bisnisnya, Kinanti tak beranjak jauh darinya. Berjaga-jaga jika Herlin memerlukan bantuannya. Terutama untuk mengingat nama orang-orang di sekitarnya. Herlin kurang cakap dalam hal mengingat nama orang-orang baru, dia terbiasa mengandalkan sekretaris atau asisten pribadi untuk bantu mengingatkannya.


Sementara itu, di tengah pesta yang sama, seorang lelaki meletakkan gelas sampanye yang sudah habis diteguknya dengan gerakan nyaris membantingnya. Dia teramat lelah sejak tadi mengawasi Kinanti. Dengan penampilannya yang sungguh menawan. Sangat cantik. Dan membuatnya gila!


__ADS_2