Fake Couple

Fake Couple
Cuma karyawan rendahan,,


__ADS_3

Kinanti berharap apa yang dikatakan Daffin pagi itu benar, bahwa Nadia orang yang profesional. Kinanti tak bakal berurusan dengannya selama Kinanti tak melakukan kesalahan selama bekerja. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, Nadia tampak sengaja mencari-cari kesalahannya.


Biasanya Nadia jarang sekali keluar dari ruangannya. Tapi hari ini, orang nomor satu di kantornya itu mendadak mendatangi ruang demi ruang para karyawan. Membuat Bu Nina, seorang manager gugup menyambutnya.


"Se... selamat pagi, Bu Nadia?"


"Pagi," sahut Nadia seraya bersedekap, tatapannya mengitari ruangan dan berhenti di meja Kinanti.


"Saya mau lihat laporan kerugian kita waktu itu, sedetail-detailnya," katanya dengan menatap lekat-lekat sosok Kinanti yang sedang diincarnya.


Kinanti seketika menunduk saat tatapannya beradu dengan Nadia.


'Buat apa singa betina itu mengorek lagi kesalahanku waktu itu?' pikirnya cemas. Tapi Kinanti pura-pura tenang, melanjutkan kegiatannya mengetik laporan pekerjaan.


"Oh, nanti saya antar ke kantor Ibu. Lagipula Ibu kan bisa tinggal telepon, pasti saya antar. Biar nggak perlu repot-repot ke sini segala," tutur Bu Nina seraya tertawa ramah.


"Kenapa? Nggak boleh kalau saya ke sini dan langsung minta sama kamu?" Nadia justru menjawab ketus.


Bu Nina menelan ludah karena salah bicara.


"Bo... boleh, Bu. Baik akan saya siapkan laporan yang Ibu minta," angguknya seraya kembali ke laptop mencari file yang diminta si bos.


'Bukannya masalah itu sudah clear ya? Kenapa dikorek lagi?' pikirnya heran.


Alih-alih menunggu laporan yang sedang dipersiapkan Bu Nina, Nadia berjalan mengitari meja demi meja karyawan. Membuat ruangan mendadak hening dan sedingin kutub utara semenjak Nadia menginjakkan kakinya di ruangan itu. Dan langkah Nadia berhenti tepat di belakang Kinanti.


Keberadaan Nadia membuat punggung Kinanti serasa diselimuti hawa dingin yang mencekam. Bertepatan dengan itu, ponselnya justru berbunyi. Keheningan membuat dering ponsel itu menjadi terdengar ramai. Padahal Kinanti menyetelnya dengan volume lirih. Kinanti melirik layar ponselnya dan menggigit bibir dengan dongkol ketika membaca nama Daffin terpampang di sana. Kurang ajar nya Daffin tak juga mematikan telepon dan terus memanggilnya berulang-ulang.


Nadia bisa melihat jelas nama lelaki yang masih disukainya itu terpampang di layar ponsel Kinanti. Membuat darah dalam tubuhnya serasa mendidih.


"Kenapa tak buruan jawab telepon kamu? Suaranya ganggu banget," ketus Nadia sambil diam-diam menahan rasa panas dalam dadanya. Semasa menjadi pacar Daffin dulu, lelaki itu tak pernah meneleponnya lebih dulu dengan alasan sibuk. Selalu Nadia yang aktif menghubunginya. Tapi lihat sekarang, Daffin justru usil menelepon Kinanti di jam kerjanya.


"Tapi saya nggak suka ya, kalian semua pakai jam kerja buat urusan pribadi. Apalagi buat teleponan sama pacar! Wasting time." Sindiran Nadia untuk Kinanti menggema ke setiap penjuru ruangan.

__ADS_1


Kinanti lekas mengangkat ponselnya yang terus-terusan berdering.


"Halo?" sahutnya sepelan mungkin, tapi tetap saja terdengar dalam ruangan yang sedang hening.


"Telepon nanti, aku lagi kerja." Lalu Kinanti mematikan ponselnya. Tapi Daffin meneleponnya lagi. Kinanti buru-buru menerimanya dan berkata.


"Kamu dengar nggak sih? aku lagi kerja," bisiknya.


"Apa? aku nggak dengar," sahut Daffin di seberang sana.


Kinanti menghela napas sabar.


"Telepon lagi nanti," bisiknya lagi.


"Apaan? aku nggak dengar, Maemunah, yang keras dong kalau ngomong," oceh Daffin.


"Aku lagi kerja!" seru Kinanti lalu menutup ponsel dan meletakkan di meja dengan dongkol. Dan dia pun membeku kala menyadari semua mata kini tengah menatapnya. Ups!


#########


"Come in!" Suara Nadia terdengar begitu lantang menembus daun pintu.


Kinanti memasuki ruangan sang CEO dan duduk di depan Nadia.


"Kamu tahu kan kenapa dipanggil ke sini?"


"Iya, Bu. Tetapi, maaf. Bukankah bulan lalu masalah ini sudah dianggap clear?"


"Oh. Jadi kamu maunya bebas dari kesalahan gitu aja? Meskipun kamu udah dapat Surat Peringatan, bukan berarti kamu bebas dari konsekuensi atas perbuatan kamu yang merugikan perusahaan senilai lebih dari sepuluh juta ini." Nadia membanting tumpukan berkas di tangannya.


"Kalau kamu nggak mau, ya sudah. Masih banyak kandidat yang siap menggantikan posisi mu."


Kinanti tertegun menatap Nadia. Lalu teringat kata-kata Daffin tentang profesionalisme wanita ini. Cih. Profesional apanya? Hanya karena cemburu, Nadia sengaja mengorek kesalahan Kinanti dan berniat mendepaknya bukan?

__ADS_1


"Baik, Bu. Saya akan menggantinya."


"Baru bilang begitu setelah diancam," gumam Nadia sambil tersenyum miring yang terasa mencela.


"Dan kenapa Ibu tiba-tiba begini kepada saya setelah tahu kalau saya pacar Daffin?" Entah kenapa kata-kata itu meluncur begitu saja diluar kendali Kinanti. Dan terlambat bagi Kinanti untuk menarik kembali ucapannya.


"What?" Nadia mendelik padanya.


"Berani-beraninya kamu menilai saya sembarangan. Apa hebatnya kamu jadi pacar Daffin? kamu pikir itu prestasi yang 'wow' gitu? Setara medali olimpiade yang patut bikin saya iri sama kamu? Begitukah kamu pikir? Apa buktinya kalau saya kasih hukuman ke kamu ini cuma gara-gara cemburu? Jangan sembarangan kalau bicara. Kamu karyawan paling nggak sopan yang pernah saya temui! Get out!" bentak wanita itu dengan tatapan menyala-nyala.


Bentakan sang CEO terdengar sangat keras sampai ke luar ruangan. Bahkan sang sekretaris sampai tersedak kue timus yang baru dibelinya dari OB.


"Ada apaan sih?" Gumam si OB sambil memanjangkan kupingnya ke dekat pintu.


"Heh, ini duitnya. Besok bawain lagi lima ya. Buruan pergi gih, sampai Bu Nadia lihat kamu nguping di situ, bisa kelar riwayat mu kerja di sini," omel si sekretaris sambil menyuruh pergi si OB seperti sedang mengusir ayam yang hampir pup di pekarangannya.


Si OB lekas kabur dari sana sambil mengapit baki kayunya. Lalu menyebarkan apa yang didengarnya tadi begitu tiba di pantry. Dalam hitungan menit, rumor pertengkaran si bos dengan Kinanti gara-gara cowok itu pun menyebar luas.


Sedangkan di dalam ruangan Nadia, Kinanti tak juga beranjak dari tempatnya.


"Maafkan ucapan saya tadi. Saya bicara begitu karena tertekan dan bingung. Keuangan saya sedang sulit dan hukuman ini terasa semakin menyulitkan. Tapi saya sadar, itu konsekuensi yang harus saya tanggung akibat kesalahan saya sendiri, seperti yang Ibu bilang tadi," ucap Kinanti apa adanya. Dia sendiri tak tahu darimana punya keberanian sebesar itu, padahal menceritakan kesulitannya pada orang lain bukanlah gayanya.


"Cih. Manis banget kamu kalau berkata-kata, pantas saja Daffin sampai tertipu."


"Tertipu?" celetuk Kinanti begitu saja. Apa maksud wanita itu? Memangnya Daffin anak kecil yang bisa dengan mudah ditipu?


"Kamu pasti cuma mengincar uangnya sama seperti wanita-wanita lain," cibir Nadia seraya tersenyum miring.


"Nah. Kamu tinggal minta sepuluh juta maka Daffin bakal transfer ke kamu dua puluh juta. Lalu bayarkan sepuluh jutanya ke kantor dan sepuluh jutanya bisa kamu pakai foya-foya. So, apa yang harus kamu pusingkan? kamu kan punya ATM no limits yang bernama Daffin."


Kinanti menggenggam tangannya yang gemetar. Jadi seperti itulah yang selama ini terjadi? Kebaikan Daffin justru dimanfaatkan para wanita pemburu uang.


"Kelemahan Daffin hanyalah karena dia terlalu baik. Dan dia akan menjadi sangat baik kepada semua wanita yang dianggapnya teman. Lalu hubungan pertemanan itu akan meningkat menjadi pacar dan berakhir saat Daffin sudah bosan. Seperti yang sudah terjadi sama saya dan sebentar lagi bakal terjadi sama kamu. Jadi saran saya, mintalah ke Daffin agar membereskan semua masalah finansial kamu, sebelum dia bosan dan memutuskan kamu."

__ADS_1


"Oh. Begitukah? Makanya Ibu bisa mendapat Mazda seri terbaru dari Daffin?" suara Kinanti memang terdengar kalem dan santun, tapi sarat sindiran.


Tangan Nadia terkepal. Kesal karena ternyata Kinanti tak selemah yang dia duga. Wanita yang tampaknya pendiam ini menjadi orang pertama yang terang-terangan berani melawan dirinya. Padahal dia cuma karyawan rendahan sedangkan Nadia seorang CEO!


__ADS_2