Finding Love

Finding Love
Banyolan Semata


__ADS_3

Sepeninggal keluarga Zaki, nyai Robi'ah beserta kyai Abdullah juga ikut pergi untuk mengunjungi putri nya di kota tempat sang putri menimba ilmu di salah satu perguruan tinggi negeri dengan diantarkan oleh kang Baharuddin.


Sementara Zaki segera kembali ke kamar nya, setelah terlebih dahulu pamit pada gus Umar dan Aida.


Kedatangan Zaki di sambut cecaran pertanyaan oleh kang Musthofa dan kang Bukhori, yang seperti nya sudah menyimpan rasa penasaran semenjak tadi.


"Zak, jelaskan kepada kami,, siapa sebenarnya kamu ini? Pasti benar dugaan ku kan, kalau kamu itu dari keluarga crazy rich?" Selidik kang Bukhori, yang membuat Zaki terkekeh kecil.


"Ada-ada aja kang Bukhori ini, pakai istilah crazy rich segala?" Zaki geleng-geleng kepala, "bukan crazy rich kang, keluarga Zaki kebetulan memang memiliki usaha yang Alhamdulillah diberikan segala kemudahan dan rizqi lebih sama Allah," lanjut pemuda tampan itu dengan tersenyum.


"Pantesan,,," gumam kang Bukhori.


Zaki mengernyitkan kening nya, "pantesan apa kang?" Tanya Zaki.


"Hehe,, enggak apa-apa Zak," balas kang Bukhori yang tak mau menjelaskan, "adik kamu cantik sekali ya Zak," lanjut santri senior itu, malah mengalihkan pembicaraan.


"Ingat sama Maimunah Felguso!" Seru kang Musthofa, hingga mengundang tawa mereka bertiga.


"Halah, tadi kamu juga bisik-bisik mengagumi dik Fira kan?" Protes kang Bukhori pada sahabat nya, setelah tawa mereka reda. "Ingat juga sama gebetan, si Mira yang tak kunjung bisa kamu dapatkan." Ledek kang Bukhori, hingga membuat kang Musthofa langsung terdiam.


"Eh, malah bengong,,," kang Bukhori mengibaskan tangan nya, di depan wajah kang Musthafa.


"Opo tho Ri!" Protes kang Musthofa. __Apa sih Ri!__


"Lha awakmu malah juk-ujuk ngalamun! Iki wayah surup Mus, nek kesambet malah dadi gawe!" Gerutu kang Bukhori, yang mengingatkan sahabat nya itu.


__Kamu malah tiba-tiba melamun? Ini menjelang maghrib Mus, kalau kesambet kan repot!__


Kesambet ; sakit dan mendadak pingsan karena gangguan roh jahat (makhluk halus atau hantu) __ KBBI.


"Enggak kok, aku cuma lagi mikir," kilah kang Musthofa, "seperti nya aku memang harus mundur dari mengejar Mira," lanjut nya dengan tak bersemangat.


"Loh, kenapa? Bukan nya, dia tipe gadis idaman kamu ya Mus?" Kang Bukhori mengernyit dalam, seraya menatap kang Musthofa dengan tatapan tak mengerti.


"Kamu sudah lama memperjuangkan nya Mus, dan sekarang kamu nyerah gitu aja?" Protes kang Bukhori, "ini bukan kamu banget Mus, Musthofa yang aku kenal orang nya ulet dan pantang menyerah," lanjut tunangan Maimunah itu, dengan berapi-api.


Kang Musthofa menghela nafas panjang, "dik Mira seperti nya malah naksir sama Zaki Ri," lirih kang Musthofa, namun mampu membuat Zaki terlonjak kaget.


"Zaki kang?" Tanya Zaki, dengan menunjuk diri nya sendiri dan kang Musthofa mengangguk membenarkan.

__ADS_1


Zaki menggeleng, "tapi kami tak pernah saling ngobrol kang, hanya sekali saat pertama Zaki masih baru di sini. Itupun hanya sekilas kang, hanya say hello lah istilah nya. Setelah itu, kami tak pernah lagi bertemu, paling hanya melihat dari kejauhan." Terang Zaki.


Kang Bukhori mengangguk-angguk, "paling Mira hanya mengagumi Zaki Mus, sama seperti gadis yang lain. Kita aja yang laki-laki, juga kagum kan sama Zaki?" Kang Bukhori mencoba membesarkan hati kang Musthofa.


Lurah pondok itu menggeleng, "Tidak Zak, Ri. Aku bisa melihat, mana tatapan kekaguman dan mana tatapan cinta," balas kang Musthofa dengan datar.


"Cih, kayak pakar pembaca gerak mata di televisi aja kamu Mus, yang kata nya bisa membedakan arti tatapan mata seseorang?" Cibir kang Bukhori seraya terkekeh.


"Ya Ri, itu benar. Aku sering melihat Mira diam-diam memperhatikan Zaki, dan tatapan nya itu terlihat beda kala sedang menatap Zaki dari kejauhan," kekeuh kang Musthofa yang meyakini, apa yang dilihat dan disimpulkan nya.


"Iya, iya, aku percaya itu," balas kang Bukhori, yang akhirnya menyerah dan membenarkan saja dugaan sahabat nya itu.


"Tapi Zaki enggak tebar pesona lho kang, jadi tolong,, jangan salahkan Zaki?" Pinta Zaki yang merasa tak enak hati pada senior nya itu.


"Kamu itu enggak perlu tebar pesona Zak, karena paras kamu sudah mempesona dari sana nya," balas kang Bukhori dengan terkekeh kecil.


Sementara kang Musthofa menggeleng, "aku enggak menyalahkan kamu Zak, aku memang ingin mundur." Balas santri senior, yang sekaligus salah seorang pengajar di yayasan pendidikan milik kyai Abdullah tersebut.


"Aku sudah lelah juga Zak, sudah bertahun-tahun aku mengejar Mira tapi dia sama sekali tak pernah menganggap aku ada," keluh kang Musthofa, dengan suara nya yang terdengar menyedihkan.


"Mirasantika kan memang harus di jauhi Mus, dari dulu kan kami memperingatkan kamu? Kamu nya aja yang ndablek!" Olok kang Bukhori, hingga membuat tawa kang Musthofa pecah.


"Hahaha,, ya benar Ri, Mirasantika harus dijauhi," balas kang Musthofa.


Dan mereka berdua pun kemudian menyanyikan lagu yang hits pada era nya itu, lagu yang dinyanyikan oleh H. Rhoma Irama, Mirasantika.


'Dulu aku suka padamu dulu aku memang suka.'


'Dulu aku gila padamu dulu aku memang gila.'


'Sebelum aku tahu kau dapat merusakkan jiwaku.'


'Sebelum aku tahu kau dapat menghancurkan hidupku.'


'Sekarang ku tak mau tak mau tak-tak-tak


Ku tak mau tak mau tak (ku tak mau tak).'


'Sekarang tak-tak-tak

__ADS_1


Ku tak sudi tak sudi tak-tak-tak.'


'Ku tak sudi tak sudi tak (ku tak sudi tak).'


Sedangkan Zaki hanya terdiam dengan mengernyitkan kening nya dalam, tak mengerti apa yang mereka dendang kan.


*****


Malam hari nya, seusai mengikuti pengajian diniyah di aula, Zaki tak langsung kembali ke kamar karena kang Baharuddin yang baru pulang dari Semarang mengantar kyai Abdullah dan nyai Robi'ah sore tadi memanggil nya.


Kang Baharuddin, kang Musthofa dan kang Bukhori ternyata sedang ngumpul di kantor pengurus. Mereka sedang menikmati martabak, oleh-oleh dari nyai Robi'ah untuk kang Baharuddin dan teman-teman nya.


"Wah, lagi pesta ya kang?" Tanya Zaki, yang langsung mencium aroma lezat dari martabak begitu memasuki ruangan kantor tersebut.


"Hem,, sini Zak, mumpung masih hangat," balas kang Baharuddin, dengan mulut nya yang penuh makanan. "Tadi bu nyai sengaja membelikan dua dus besar ini, karena ada kamu," lanjut kang Baharuddin.


Zaki langsung duduk bersama mereka dan ikut menikmati martabak yang masih hangat itu, tanpa mempedulikan apa yang dikatakan kang Baharuddin.


Tetapi tidak dengan kang Bukhori yang super kepo, senior yang satu itu langsung bertanya pada sahabat nya. "Bu nyai, ngendiko ngono Din? Gek-gek, bener firasat ku?" __Bu nyai bicara seperti itu Din? Jangan-jangan, benar firasat ku?__


"Halah, firasat opo?" Cibir kang Musthofa.


Zaki hanya melirik sekilas kearah kang Bukhori dan kemudian kembali mencomot sepotong martabak, pemuda itu sama sekali tak tertarik dengan obrolan kang Bukhori yang kadang-kadang keluar dari topik pembahasan.


"Menurut ku, Zaki iku bakal di jodokke karo ning Laila sing uayune puol," pungkas kang Bukhori, yang disambut gelak tawa kedua sahabat nya. __Menurut ku, Zaki itu akan dijodohkan dengan ning Laila yang sangat cantik__


Zaki yang sedang menikmati martabak, mau tak mau ikut tertawa,, menertawakan perkataan kang Bukhori, yang menurut Zaki hanya lah banyolan semata. Karena di hati Zaki, masih tersimpan nama Delia seorang.


🌸🌸🌸🌸🌸 bersambung 🌸🌸🌸🌸🌸


Makasih bestie, karena masih setia dengan bang Zaki 😍😍


Sambil nunggu bang Zaki up kembali, mampir juga yah ke novel teman ku yang kece badai,,, πŸ₯°πŸ₯°


Karya. Julia Fajar


Judul. Mutiara Terabaikan Untuk Adam


__ADS_1


__ADS_2