
Seperti biasanya di setiap akhir pekan, pagi ini gus Umar beserta sang istri ikut sarapan bersama di kediaman orang tuanya. Tetapi seperti ada yang beda, sikap mereka terhadap Laila yang terkesan cuek hingga membuat gadis itu bertanya-tanya dalam hati.
Suasana sarapan pagi itu benar-benar terasa sangat berbeda, tak terdengar obrolan seperti biasanya. Sang abah juga tak kunjung mengeluarkan suara, begitu pun dengan sang kakak yang sedari tadi tak mau menatap Laila. "Ada apa ya? Apa aku membuat kesalahan?" Bisik Laila dalam hati, bertanya pada dirinya sendiri.
Kesibukan para santri putri yang biasa membantu di ndalem, yang mulai sibuk memasak di dapur juga mengundang tanya di hati gadis cantik itu. Ditambah kang Baharuddin yang juga terlihat wara-wiri dengan membawa banyak barang belanjaan di tangan, membuat kening Laila mengernyit dalam.
Usai sarapan, Laila sudah menata hati dan hendak berbicara pada keluarganya, tetapi tiba-tiba semua orang beranjak dari meja makan dan terlihat buru-buru hendak pergi.
"Abah, Umi. Umar dan Dik Aida mau keluar sebentar," pamit gus Umar, pada kedua orang tuanya tanpa menoleh kearah sang adik, dan sepasang suami-istri itu segera bergegas meninggalkan ruang makan tersebut.
"Ning, Abah sama Umi juga mau keluar sebentar." Tutur kyai Abdullah seraya menatap putrinya, dan kemudian menggandeng tangan sang istri hendak berlalu.
"Abah, Umi, sebenarnya ada yang mau Laila sampaikan," ucap Laila memohon.
"Nanti saja ya Ning, Umi sama Abah buru-buru." Kedua orang tua Laila pun segera berlalu, meninggalkan gadis cantik yang saat ini tengah kebingungan itu seorang diri.
Laila mengerucutkan bibir dan ingin rasanya dia marah pada semua orang, karena merasa diabaikan. "Kenapa sih semua seakan menghindari ku?" Sungut Laila
Putri bungsu kyai Abdullah itu kemudian bangkit hendak mencari tahu informasi ke dapur, barangkali mbak-mbak santri tahu ada apakah gerangan hingga semua orang tiba-tiba sibuk dan seperti menghindari dirinya.
"Mbak, mau ada acara apa tho? Kok masak-masak banyak banget?" Tanya Laila pada bu guru Mira, yang kebetulan ikut membantu di dapur.
"Lho, mosok Ning Laila ndak tahu tho? Lah yang mau datang nanti siang kan keluarga calonnya Ning Laila?" Balas Mira seraya mengernyit.
"Calonku?" Laila menunjuk dirinya sendiri.
Mira mengangguk, "iya Ning, Umi yang ngendikan seperti itu," balas Mira dengan yakin.
__ADS_1
"Ya udah mbak Mira, makasih informasinya," Laila segera berlalu meninggalkan dapur untuk menuju ke kamarnya.
Setibanya di dalam kamar, Laila mengambil ponsel yang dia simpan di atas nakas. Gadis itu bermaksud menghubungi Aida dan ingin menanyakan kebenaran informasi yang baru saja dia terima.
Adik gus Umar itu mendial nomor sang kakak ipar, tapi hingga beberapa kali menelepon, panggilan darinya tidak di angkat juga oleh Aida. "Kemana sih mbak Aida, di telepon enggak di angkat-angkat!" Gerutu Laila.
Laila kemudian mendial nomor sang kakak, dan hasilnya tetap sama saja. Bahkan suara merdu operator lah yang menjawab panggilan tersebut, "maaf, nomor yang Anda tuju berada di luar jangkauan."
Mereka berdua pergi kemana sih? Kok bisa di luar jangkauan!" Laila ngomel-ngomel sendiri, gadis itu merasa kesal karena sedari tadi tak ada seorang pun yang dapat dia hubungi.
"Sebenarnya keluarga siapa sih yang mau kesini? Kenapa abah dan umi enggak bilang apa-apa ya tadi? Terus tadi mbak Mira bilang, kalau yang akan datang itu keluarga calonku?" Laila bertanya-tanya dalam hati.
"Ah... abah, kenapa abah menanggapi serius ucapan Laila saat itu Bah?" Sesal Laila yang kini mulai menitikkan air mata, gadis itu pun terduduk lemas di tepi tempat tidurnya.
"Tidak bisakah aku hidup bersama dengan orang yang aku cintai? Aku sudah rela, ketika kak Zain pergi karena itu artinya dia bukan jodohku. Tapi sekarang? Akankah aku juga harus rela menerima lamaran laki-laki yang sama sekali belum aku kenal?" Putri bungsu kyai Abdullah itu bermonolog dalam diam, dengan air mata yang mulai mengalir deras membasahi kedua pipi putihnya.
"Tidak, tidak,,, rasanya tidak pantas jika aku menanyakan tentang ustadz Zaki," Laila bergumam sendiri.
Laila masih termenung seorang diri, gadis itu bingung apa yang harus dia lakukan. Ingin keluar dari kamar, tetapi dia merasa malas. Toh tak ada keluarganya yang bisa dia tanyai.
Putri bungsu kyai Abdullah itu akhirnya merebahkan diri, lelah menangis dan memikirkan akan ada acara apa siang hari ini, membuat gadis berkulit putih seperti susu itu tertidur dengan sendirinya.
Sementara kesibukan di kediaman kyai Abdullah semakin terasa, kyai pengasuh pondok pesantren bersama istrinya itu telah kembali dari kediaman kakek Zarkasyi. Ternyata beliau berdua pergi keluar untuk menjemput kedua orang tuanya.
"Lha putu ragil ku nok ndi Ab?" Tanya kakek Zarkasyi yang sudah kangen dengan sang cucu, sambil mendudukkan dirinya bersama sang istri di sofa ruang keluarga. __Cucu bungsu ku dimana Ab?__
"Paling di kamar Pak, sebentar biar saya panggilkan," balas nyai Robi'ah mewakili sang suami, dan wanita paruh baya yang sangat anggun itu segera menuju kamar sang putri.
__ADS_1
Tak berapa lama nyai Robi'ah telah kembali, "piyambake malah bobok malih kok Pak, kulo gugah mboten purun je. Kadose kok bar nangis," terang nyai Robi'ah seraya tersenyum. __Dia malah tidur lagi Pak, saya bangunkan tidak mau. Sepertinya dia habis nangis__
"Ning Laila bingung paling Mi," timpal kyai Abdullah seraya terkekeh.
"Awak mu ki lho Ab, lha wong anak sendiri kok dikerjain." Protes kyai sepuh yang kasihan pada cucunya.
"Ayo Bu, kita bangunkan Ning ragil," kakek Zarkasyi mengajak nyai Siti untuk membangunkan cucu yang sangat manja kepada mereka berdua.
"Biar Umar dan Aida saja Kek," pinta gus Umar yang tiba-tiba muncul ke ruang keluarga bersama sang istri, yang membawa paper bag bertuliskan nama sebuah toko busana ternama di kota kecil itu.
"Ya sudah, sana Gus. Sudah jam sebelas ini, adik mu harus bersiap," titah nyai Robi'ah pada putranya.
"Nggih Mi," balas gus Umar dan kemudian bergegas ke kamar sang adik.
Gus Umar dan sang istri masuk kedalam kamar Laila, "anak perawan tidur dari pagi sampai siang," gus Umar menggoyang-goyangkan tangan sang adik.
Laila menggeliat, membuka sedikit matanya dan kemudian kembali terpejam. "Apa sih kalian, ganggu aja!" Ketus Laila yang masih marah pada kakak dan iparnya itu.
"La, bangun. Kamu harus siap-siap sekarang, tamunya udah mau datang lho," lirih Aida di telinga sahabatnya itu.
Laila langsung membuka matanya lebar dan beringsut, gadis itu kemudian duduk dengan menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. "Tamu siapa sih Mbak, Kak? Kenapa semua orang kayak menyembunyikan sesuatu?" Cecar Laila dengan wajah cemberut.
"Waktu itu kan kamu sendiri yang mengatakan, kalau kamu ngikut aja jika abah mau menjodohkan dengan pemuda mana pun? Siang ini, pemuda itu dan keluarganya akan datang Dik." Balas gus Umar seraya tersenyum.
"Makanya buruan cuci muka dan siap-siap," titah gus Umar pada sang adik.
Laila mengerucutkan bibirnya, "waktu itu kan aku enggak serius Kak," sesal Laila, "bisa enggak kalau acaranya dibatalin, Laila belum siap Kak," pintanya memelas, dengan netra yang berkaca-kaca.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸🌸 bersambung 🌸🌸🌸🌸🌸