
Keesokan hari nya, Zaki telah bersiap hendak berangkat menuju kediaman orang tua gadis sang pujaan hati. Santri istimewa kyai Abdullah itu mengenakan baju koko terbaik, dipadukan dengan celana bahan berwarna gelap dan peci hitam yang bertengger di kepala nya.
Zaki nampak lebih menawan pagi ini, apalagi suasana hati Zaki yang sedang berbunga-bunga terpancar jelas melalui aura wajah nya yang bersinar dan netra nya yang berbinar terang. Menambah pesona pemuda gagah itu, naik berkali-kali lipat.
Dengan langkah pasti, Zaki berjalan menuju ke kediaman gus Umar yang diikuti oleh kang Baharuddin yang hendak memanaskan mobil milik kyai Abdullah seperti biasa nya.
"Kamu itu mau main ke rumah teman, kok kayak mau pergi melamar tho Zak?" Kang Baharuddin yang sedari tadi mengamati Zaki, mengernyit dalam. "Dandanan mu necis, wangi, tambah ganteng lho awak mu," puji kang Baharuddin dengan tulus.
"Kang Din ada-ada aja, biasa wae kok kang," balas Zaki seraya tersenyum simpul.
Mereka berdua berpisah di teras kediaman kyai Abdullah, kang Baharuddin langsung menuju garasi dan Zaki meneruskan langkah nya menuju kediaman gus Umar yang berada tepat di samping kediaman kyai pengasuh pondok pesantren Nurul Ulum tersebut.
"Sudah siap dik Zaki?" Sambut gus Umar, yang juga baru saja keluar dari kediaman nya bersama sang istri.
"Sudah kak," balas Zaki seraya mengangguk dan tersenyum, pada dua orang yang selama ini sudah sangat baik kepada diri nya.
"Ayo, kita berangkat sekarang," ajak gus Umar, yang langsung menggandeng mesra tangan sang istri menuju mobil yang sudah disiapkan di halaman.
Zaki mengikuti langkah gus Umar yang nampak sangat menjaga dan menyayangi sang istri itu, sembari tersenyum tipis.
"Gus, nak Zaki biar diantar sama kang Din saja pakai mobil abah." Cegah kyai Abdullah yang baru muncul dari ndalem, ketika mereka sudah hendak naik ke dalam mobil sedan milik gus Umar.
"Tidak usah abah, Zaki bareng sama kak Umar saja," balas Zaki yang tidak ingin merepotkan.
"Jangan nak Zaki, nanti nak Zaki pulang nya akan repot. Biar di antar sama kang Din saja," kekeuh kyai Abdullah, yang tak ingin di bantah.
"Kang Din, sampean tolong antar nak Zaki ke pondok nya yi Hasan yo?" Pinta kyai Abdullah, pada kang Baharuddin yang sedang mengelap mobil SUV milik kyai Abdullah di halaman. Berjajar dengan mobil milik gus Umar, yang hendak dipakai untuk pergi ke kampus.
"Nggih yai," balas kang Din patuh, dan langsung menyimpan kanebo yang tadi dipakai nya untuk mengelap kaca mobil.
"Enteni delok yo Zak, aku tak salin sek." Pinta kang Baharuddin, seraya menatap Zaki. __"Tunggu sebentar ya Zak, aku mau ganti baju dulu."__
"Tunggu di teras sini lho nak Zaki," titah kyai Abdullah, seraya mendudukkan diri di kursi teras.
"Nggih abah," balas Zaki seraya mengangguk.
"Oke dik Zaki, ikuti saja apa ngendikane abah," ucap gus Umar seraya tersenyum dan Zaki menanggapi nya dengan tersenyum pasrah.
"Ya udah dik, kami berangkat dulu. Assalamu'alaikum,,," pamit gus Umar.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam,,," balas Zaki, yang juga langsung melangkah menuju teras kediaman kyai Abdullah.
*****
Sepanjang perjalanan menuju kediaman kyai Hasanuddin atau orang tua Delia Zahwa, tak henti kang Baharuddin mencecar Zaki dengan banyak pertanyaan.
"Awakmu kok iso kenal karo putri ne yi Hasan tho Zak? Kenal nok ndi?" Tanya kang Baharuddin, seraya melirik sekilas ke arah Zaki yang duduk di samping nya.
"Di kampus kang, kami satu kampus," balas Zaki, yang tadi akhirnya menceritakan kepada kang Baharuddin bahwa diri nya berkunjung ke kediaman kyai Hasanuddin karena hendak meminta kembali restu dari abi nya Delia Zahwa tersebut.
Zaki bercerita, karena kang Baharuddin terus saja mendesak Zaki tadi. Lagipula kang Baharuddin juga yang mengantarkan diri nya, jadi cepat atau lambat teman satu kamar nya itu juga bakalan tahu alasan Zaki berkunjung ke pondok milik kyai Hasanuddin.
"Oh iyo yo, ning Zahwa kan kuliah di luar negeri," kang Baharuddin mengangguk-angguk.
Sejenak, suasana di dalam kabin mobil itu menjadi hening. Masing-masing sibuk dengan pikiran nya sendiri-sendiri.
"Bukhori ndek kae sempat naksir ning Zahwa lho Zak, pas nembe anyaran gus Umar nikah karo ning Zahra," ucap kang Baharuddin, memecah keheningan. __"Dulu Bukhori sempat naksir ning Zahwa lho Zak, waktu awal-awal gus Umar menikah dengan ning Zahra,"__
"Oh ya?" Zaki menatap kang Baharuddin, yang sedang fokus dengan kemudi nya dan kang Baharuddin mengangguk.
"Tapi yo ngono iku lah Zak, Bukhori gak bakal berani melangkah lebih jauh. Sadar diri kami ini Zak, siapa kami?" Lanjut kang Baharuddin seraya terkekeh kecil, terdengar jelas dari nada suara nya yang terdengar getir.
"Sama seperti aku dan juga Musthofa," ucap kang Baharuddin kembali.
"Dulu,,, si Mus suka sama ning Aida, sewaktu ning Aida masih sekolah. Tapi karena kedekatan ning Aida dengan keluarga pak kyai, Musthofa tidak berani mengutarakan isi hati nya." Kang Baharuddin menghela nafas berat.
"Apa kang Baharuddin masih mencintai adik nya gus Umar?" Tanya Zaki hati-hati.
Kang Baharuddin menggeleng pelan, "tidak Zak, aku cukup tahu diri. Sekedar mengagumi, mungkin masih boleh kan?" Suara kang Baharuddin terdengar pasrah.
Zaki menggeleng, "kenapa kalian enggak mau berjuang? Kenapa kalian harus mengaku kalah, sebelum maju ke medan perang? Apakah itu yang diajarkan pak kyai selama ini? Berputus asa sebelum mencoba?" Cecar Zaki, yang membuat kening kang Baharuddin mengernyit dalam.
"Di dunia ini, semua nya serba mungkin kang. Asal kita mau berusaha, InsyaAllah akan ada jalan. Berusaha dan berdoa, bukan kah itu yang selalu di ajarkan di pondok? Baru setelah itu bertawakkal, dan menyerahkan semua hasil nya kepada Allah Ta'ala." Lanjut Zaki dengan berapi-api.
Ya, sebagai putra pengusaha, semenjak kecil Zaki telah diajarkan untuk selalu bersikap optimis. Berusaha dan bekerja keras untuk mencapai apa yang diinginkan, namun tetap dengan berpegang pada kemampuan yang ada.
Kang Baharuddin hanya bisa termenung, mencerna setiap perkataan pemuda yang hampir satu tahun ini memberikan banyak ilmu dan pengalaman baru pada mereka bertiga.
Zaki juga mengajak ketiga santri senior itu, untuk membuka toko buku dan kitab yang saat ini sudah berjalan dan dikelola oleh para santri,,, yang hasil nya bisa dimanfaatkan, untuk membantu para santri yang membutuhkan.
__ADS_1
Putra sulung ayah Yusuf itu, juga merubah koperasi pondok pesantren menjadi lebih modern dan menambah modal nya sehingga koperasi tersebut kini menjadi lebih lengkap menjual semua keperluan sehari-hari santri.
"Tapi sekarang kan sudah terlambat Zak, ning Laila juga sudah memiliki calon suami kan?" Balas kang Baharuddin datar.
"Lagi pula saat ini, aku sudah mulai membuka hati untuk dik Luluk," lanjut kang Baharuddin malu-malu.
Zaki menatap kang Baharuddin, "Luluk? Teman dekat nya si May?" Tanya Zaki menelisik, yang diangguki oleh kang Baharuddin.
"Good luck kang, pepet terus sampai KUA," ucap Zaki seraya tersenyum lebar, dan kang Baharuddin hanya tersenyum simpul seraya mengaminkan dalam hati.
Tanpa terasa mobil yang dikendarai kang Baharuddin telah berbelok menuju komplek pondok pesantren milik kyai Hasanuddin, dan melihat pintu kediaman abi nya Delia Zahwa itu membuat jantung Zaki berdebar kencang.
"Ayo, turun," ajak kang Baharuddin, tapi Zaki masih terdiam di tempat duduk nya.
"Zak, ayo,,," ajak kang Baharuddin kembali, karena Zaki tak kunjung beranjak.
"Bentar kang," balas Zaki yang nampak gugup.
"Kenapa? Grogi? Apa, lutut mu bergetar?" Ledek kang Baharuddin dan kemudian menyanyikan sebuah lagu yang hits pada masa nya, lagu Apel Pertama, yang dinyanyikan oleh Harry Mukti.
'Lutut bergetar bukan karena lapar'
'Merinding kudukku bukan karena hantu'
'Kelu lidahku kering tenggorokanku'
'Aku takut takut takut...'
Kang Baharuddin terus menyanyikan lagu tersebut sambil tertawa, hingga membuat Zaki ikut tertawa dan mencairkan kegugupan nya.
'Apel pertama datang ke rumah dia'
'Yang membuka pintu bapaknya'
'Sesak di dada serba salah tingkahku'
'Aku kikuk…'
🌸🌸🌸🌸🌸 bersambung 🌸🌸🌸🌸🌸
__ADS_1
Yang lahir di tahun itu, pasti tahu lagu ini...
Hah, ternyata othor sudah tua 😄😄