Finding Love

Finding Love
Ustadzah Hana


__ADS_3

Keesokan hari nya, Zaki mengajak saudara-saudara nya untuk berwisata sebelum putra sulung ayah Yusuf itu kembali ke pesantren dan saudara nya kembali ke Jakarta. Atas usul daddy Rehan, mereka semua kemudian pergi ke Kampung Rawa,, sebuah tempat wisata yang di bangun di sekitaran danau alami Rawa Pening, tempat daddy Rehan pertama kali menyatakan cinta nya pada mommy Billa kala itu.


Danau yang di kelilingi banyak gunung, diantaranya gunung Merbabu, Gunung Ungaran, Gunung Gajah Mungkur, dan bukit-bukit kecil yang juga mengelilingi kawasan tersebut. Danau yang merupakan tandon air yang cukup besar bagi air yang mengalir dari pegunungan dan perbukitan yang mengelilinginya.


Kampung Rawa adalah sebuah kawasan Agrowisata. Di Kampung Rawa ini banyak sekali yang ditawarkan, diantaranya adalah wisata kuliner dengan resto apung sebagai ikon nya, wisata permainan anak, wisata air, dan lain sebagainya. Dan semuanya ini, terpusat hanya dalam satu area.


Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, sampailah rombongan keluarga besar itu ke tempat tujuan.


Anak-anak langsung berhambur menuju tempat permainan anak, dengan Iqbal sebagai komandan nya. Sedangkan para remaja, menuju wisata air yang di komandoi oleh Mirza.


Sementara para orang tua, langsung menuju resto apung sekedar untuk ngopi sambil menunggu anak dan cucu mereka bermain. Kakek Burhan beserta sang istri juga terlihat berada di sana, mereka berdua ikut dengan menumpangi mobil pribadi yang di kendarai sang cucu.


Karena rencana nya, setelah dari kampung Rawa, seluruh anggota keluarga besar Zaki akan langsung bertolak ke Jakarta dan Zaki langsung kembali ke pesantren.


Zaki, cucu nya kakek Burhan, Kevin dan ketiga temannya, beserta Malik dan saudara sepupu yang seusia dengan putra kembar daddy Rehan itu, memilih untuk memancing dengan menyewa perahu motor.


Sedangkan Salma dan Malika, harus mengawasi Iqbal dan kedua adik kembar nya bermain. Si kecil Vinsa di gendong oleh Devi, yang ikut mendekat ke wahana permainan anak tersebut.


Ya, Devi lebih senang menggendong baby princess nya Kevin dan Salma yang menggemaskan itu daripada harus mengawasi Iqbal yang hiperaktif, atau mengawasi Maira yang bikin capek karena harus menjawab setiap pertanyaan anak kecil yang ceriwis itu.


Hanya Salma, yang sanggup berlama-lama bermain dan bercanda dengan Maira, bocah yang belum lama ini bisa berbicara dengan benar terutama dalam mengucapkan huruf R.


"Dek, kalau capek udahan yuk," ajak Salma dengan lembut, yang langsung disambut dengan anggukan kepala oleh Maida. Tetapi, Maira dan Iqbal langsung menggeleng keras.


"Nanti dulu kak Salma, Mela lagi ayik nih," tolak Maira, yang meskipun sudah bisa menyebut nama nya dengan benar tapi tetap saja, bocah itu lebih suka di panggil dengan sebutan Mela.


"Kamu nanti kecapekan sayang, kita masih akan melakukan perjalanan jauh loh?" Salma kekeuh mengingatkan.


Akhirnya, setelah dibujuk oleh Salma,, Maira dan Iqbal pun menuruti istri abang nya itu, dan Salma kemudian mengantar mereka bertiga untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.


Sedangkan Malika mendekati Devi, dan mengambil baby Vinsa dari tangan tunangan nya Bayu itu. "Gantian Icha kak, kak Devi pasti capek gendong beby gembul ini dari tadi."


"Iya nih Cha, tambah montok aja dia. Kata Salma, nyusu nya kuat banget," keluh Devi.


Setelah Salma yang menuntun ketiga bocah kecil itu selesai berganti pakaian, mereka kemudian berjalan bersama menuju resto apung dan bergabung bersama para orang tua.


Tak lama setelah itu, bergabung kelompok nya Zaki yang baru selesai turun dari kapal motor untuk memancing.


Hanya rombongan Mirza yang belum terlihat, dan Kevin kemudian memanggil adik-adik nya itu untuk di ajak makan siang bersama sebelum meninggalkan area wisata tersebut.

__ADS_1


Om Ilham teng pundi kek, kok mboten ketingal?" Tanya Zaki, yang tak melihat adik bungsu mommy Billa itu. __Om Ilham kemana Kek, kok tidak kelihatan?__


"Momong Jelita, rewel wae ket mau," balas nenek Lin, mewakili sang suami.


Kembali daddy Rehan menatap sang istri, dan mommy Billa langsung berbisik menerjemahkan.


"Dad, sepertinya kita harus mulai belajar bahasa Jawa deh," ucap Kevin, yang di setujui oleh daddy Rehan dengan menganggukkan kepala.


"Kalau Mas Kevin mau busa bahasa Jawa, nanti aku ajarin. Aku bisa kok meski dikit," ucap Salma, yang membuat Kevin mengernyit.


"Masak sih?"


"Heem,, ibu kan dari Solo Mas. Ya meski ibu juga jarang ngomong Jawa sih, karena ayah enggak bisa," balas Salma.


"Nek ngono, awake dewe ngobrole nganggo boso Jowo wae Dik Salma," timpal Zaki. __Kalau begitu, kita ngobrol nya pakai bahasa Jawa saja ya Dik Salma.__


"Ojo saiki! Aku tak sinau sek!" Balas daddy Rehan cepat, setelah dibisiki oleh mommy Billa, hingga membuat semua yang bisa berbahasa Jawa terkekeh. __Jangan sekarang! Aku akan belajar dulu!__


"Hmm, setuju sama Rey, ojo saiki. Aku ikut sinau sek," timpal ayah Yusuf dengan bahasa campur-campur, hasil dari pengamatan nya menyimak obrolan daddy Rehan dan sang putra. Membuat semua yang mendengar tertawa.


Ilham datang dengan menggendong Jelita yang tengah tertidur, dan dengan perlahan ayah dua anak itu menidurkan putri kecil nya di atas kasur bayi yang sengaja di bawa oleh sang istri.


Aneka masakan ikan, sayur, serta gorengan juga di pesan oleh mommy Billa. Beraneka ragam minuman dingin dan panas, juga di pesan oleh bunda Fatima karena rombongan mereka berjumlah puluhan.


Setelah semua nya terhidang, mereka kemudian makan siang dengan tertib. Seperti biasa, tak ada yang berebut.. malah saling berbagi kesukaan masing-masing.


Kakek Burhan, sang istri dan juga cucu laki-laki nya selalu menyunggingkan senyum melihat keakraban dan kehangatan keluarga besar sahabat nya tersebut.


"Yas, awak mu cok salah sebut jenenge putu pora?" Tanya kakek Burhan, di sela sela makan siang mereka. __Yas, kamu kadang salah sebut nama cucu apa tidak?__


Kakek Ilyas bukan nya langsung menjawab, tapi malah terkekeh.


"Wah, sering paman. Kadang nyelukke larene kulo sing cilik niki, malah kliru nyeluki mbak Nisa," adu dan protes Ilham, pada sahabat ayah nya itu. __Kadang, manggil anakku yang kecil ini, malah salah dengan nyebut nama nya mbak Nisa__


"Hahaha,,, adoh men om, ora nyambung blas," sahut Zaki, yang terkekeh sendirian karena diantara sepupu nya hanya dia yang paham apa yang dikatakan om Ilham. __Jauh banget om, enggak nyambung sama sekali__


Kakek Ilyas semakin terkekeh, begitu juga dengan nenek Lin dan oma Sekar. Kakek Burhan yang bertanya juga ikut tertawa, begitu pun dengan sang istri dan cucu nya.


"Wajar Yas, putuku sing mung limo wae, aku yo sering kliru nyeluk jenenge. Lha opo meneh awak mu?" Ucap kakek Burhan, dan para orang tua itu mengangguk setuju. __Wajar Yas, cucuku yang cuma lima orang saja, aku juga sering salah manggil nama. Lha apalagi kamu?__

__ADS_1


Usai makan siang, semuanya berpamitan pada kakek Burhan dan istri nya. Zaki juga berpamitan pada seluruh anggota keluarga nya, seperti kala pertama berangkat ke pesantren dulu,, memeluk mereka satu persatu dengan erat.


"Udah, jangan lama-lama pamitan nya. Abang kalian bentar lagi kumpul bareng kita lagi kok, ya kan Bang?" Bunda Fatima menatap sang putra.


Zaki tersenyum dan kemudian menggeleng pelan, "enggak Bun, setelah menghadiri pernikahan Delia dan merampungkan ngaji Hadist, Zaki berniat mencari pengalaman mengajar di yayasan kakek." Balas Zaki seraya melirik kakek Burhan, dan sahabat kakek Ilyas itu mengangguk.


"Terus, kapan dong Abang pulang?" Rajuk Fira.


"Ya sabar Dik, Abang enggak lama kok. Paling hanya beberapa bulan saja," balas Zaki.


"Hem,, biar saja lah Bun, Kak Fira. Biar Bang Zaki menata hati nya dulu di sini, tempat nya sejuk dan damai.. InsyaAllah Abang bisa cepat move on," timpal ayah Yusuf yang menyetujui keinginan sang putra.


"Jangan khawatir om,,, nanti bang Zaki, Adnan kenalin sama ustadzah di pondok." Cucu laki-laki kakek Burhan yang bernama Adnan ikut angkat bicara.


Zaki hanya tersenyum tipis, sedangkan ayah Yusuf dan bunda Fatima mengangguk.


"Ustadzah yang mana nang?" Tanya kakek Burhan pada cucu laki-laki nya, yang usianya satu tahun di bawah Zaki.


"Ustadzah Hana Kek," balas Adnan seraya mengerling pada sang kakek.


"Oh,,," kakek Burhan mengangguk-angguk.


Setelah saling berpamitan, kendaraan kantor cabang yang membawa rombongan keluarga besar Zaki segera menuju bandara. Zaki sendiri segera menaiki taksi online yang sudah dia pesan, dan kakek Burhan beserta sang istri dan cucu kembali ke yayasan.


Sepanjang perjalanan kembali ke pesantren, bibir Zaki terus saja mengulas senyum. Kebersamaan dengan keluarga besar nya, meski tidak lengkap tanpa om-om somplak yang selalu bisa bikin ramai suasana, dan meski hanya sebentar tetapi mampu mengobati luka hati Zaki.


Tak ada obrolan dengan sopir taksi online seperti kala berangkat kemarin, karena Zaki disibukkan dengan kenangan nya semalam bersama keluarga tercinta. Hingga pemuda tampan itu tertidur dan baru bangun ketika mobil yang ditumpangi telah memasuki kawasan gerbang pesantren.


Tepat di saat taksi online yang ditumpangi Zaki memasuki pintu gerbang, di saat yang sama,, mobil pribadi milik kyai Abdullah melesat keluar melewati pintu gerbang, dan hendak menuju ke Semarang untuk mengantarkan putri bungsu kyai Abdullah tersebut.


🌸🌸🌸🌸🌸 bersambung 🌸🌸🌸🌸🌸


Yah, mereka belum berjodoh,,, πŸ€¦β€β™€οΈ


Yuk, sambil menebak-nebak siapa sebenarnya jodoh bang Zaki.. mampir ke novel temenku bestie:


IZINKAAN AKU PERGI


Karya; Kak. Pipihpermatasari

__ADS_1



__ADS_2