
Kedua belah pihak keluarga telah sepakat untuk melaksanakan akad nikahnya Zaki dan Laila di sore hari dan barulah keesokan harinya, resepsi akan digelar secara besar-besaran di aula dan halaman pondok pesantren yang luas tersebut.
Resepsi pernikahan yang ternyata telah dipersiapkan oleh gus Umar dengan dibantu oleh putra-putri kakek Ilyas dan juga Adnan, tanpa sepengetahuan Laila.
Ketiga santri senior yang sekaligus pengurus pondok pesantren Nurul Ulum, kang Musthofa, kang Bukhori dan kang Baharuddin juga sangat bersemangat membantu mempersiapkan pernikahan teman satu kamar mereka, yaitu Zaki.
Undangan untuk seluruh kerabat, sahabat dan para tetangga juga sudah di sebar oleh gus Umar tiga hari yang lalu, termasuk untuk keluarga mantan mertua putra sulung kyai Abdullah tersebut.
Sembari menunggu waktu sore tiba, meluarga besar Zaki untuk sementara beristirahat di kediaman kakek Zarkasyi yang sangat luas, yang berada di perkampungan yang cukup jauh dari pondok pesantren kyai Abdullah.
Rumah adat Jawa Joglo yang terbuat dari kayu jati kuno dengan pelitur yang mengkilap serta ukiran yang indah, menambah keeksotisan rumah tua tersebut.
Kediaman kakek Zarkasyi yang beliau tempati setelah pensiun tersebut memiliki pendopo yang luas, yang biasa digunakan oleh kakek dari Laila itu untuk mengajar santri thoriqoh.
Rumah tersebut juga memiliki ruang keluarga yang luas, yang dapat menampung seluruh keluarga besar besan dari Jakarta tersebut.
Di kediaman kakek Zarkasyi juga terdapat banyak kamar, karena kakek dari gus Umar itu senang mengundang kerabat atau para sahabat untuk menginap di rumahnya.
Di samping kanan dan kiri rumah tersebut, terdapat kebun yang ditumbuhi aneka buah-buahan kampung seperti pisang, jambu air, mangga, pepaya, nangka, belimbing dan masih banyak yang lainnya.
Sahabat kakek Ilyas itu memang senang sekali berkebun dan berternak, terutama semenjak memutuskan untuk pensiun dan menyerahkan pengelolaan pesantren dan yayasan kepada kyai Abdullah.
Di halaman paling belakang, terdapat kandang kambing dan juga sapi. Kakek Zarkasyi juga memelihara ikan lele, sama seperti kyai Abdullah. Hanya saja, kolam milik kyai sepuh tersebut tidak terlalu lebar dan cuma satu karena untuk dikonsumsi sendiri.
Anak cucu keluarga Alamsyah dan keluarga Antonio nampak sangat menikmati pemandangan yang masih asri di perkampungan tersebut, mereka yang masih kecil-kecil berlarian di halaman depan yang ditumbuhi rumput hijau yang tertata dengan rapi.
Remaja laki-laki yang di komandoi oleh Mirza, berebut memanjat pohon jambu air di halaman samping yang kebetulan sedang berbuah.
Remaja perempuan yang dipimpin oleh Laili atau Lili, salah satu putri kembar om Devan yang centil, mereka tengah sibuk menyiapkan bumbu untuk membuat rujak di gazebo yang terletak di sisi kanan halaman depan. Karena selain jambu air, mereka juga menemukan buah nanas yang sudah masak dan siap untuk di petik serta buah kedondong dan belimbing yang ranum.
"Dari tadi bikin bumbu rujak kok enggak jadi-jadi sih?" omel Mirza, yang mendapati bumbu rujak tersebut belum selesai di gerus.
"Susah tahu Bang nguleg kayak gini," balas Nezia yang tak pernah turun ke dapur dengan cemberut, sedangkan sekarang putri bungsu om Alex itu mendapat jatah untuk membuat bumbu rujak.
"Nezia ngulegnya enggak pakai tenaga Bang, makanya tuh cabe masih utuh," cibir Lila,saudara kembar Lili sambil memotong buah nanas.
"Yey, ini udah pakai tenaga dan kekuatan La. Kekuatan bulan dan bintang malah," balas Nezia asal.
__ADS_1
"Kamu salah mantra itu Dik, harusnya kekuatan tenaga surya karena ini masih sore," timpal Attar, putra kedua opa Alvian seraya tertawa. Saudara-saudaranya yang lain ikut tertawa mendengar perkataan konyol dari Attar.
Remaja berkulit putih bersih yang mirip dengan mamanya itu kemudian membantu sang keponakan menghaluskan bumbu rujak, karena semua buah-buahan telah selesai di potong oleh duo kembar Lila dan Lili.
Kembar Malik dan Malika, Akbar, Damian dan Abraham, langsung menyerbu rujak tersebut begitu bumbunya telah siap, hingga membuat adik-adik mereka cemberut.
"Mas Bram, ih... tadi aja Nezia nguleg bumbu kesusahan gak dibantuin, sekarang main serobot aja!" protes putri bungsu om Alex dan tante Nisa, pada abangnya.
"Itu kan tugas perempuan Dik, masak mas cowok di suruh nguleg bumbu?" balas Abraham dengan mulutnya yang penuh.
"Bang Malik, manjat sendiri sana sama om Akbar! Bang Damian dan Dik Bram juga!" seru Mirza, karena tahu-tahu rujaknya sudah hampir habis tetapi keempat pemuda tampan itu dengan kompak menggelengkan kepala.
Mereka semua masih berebut dan saling protes, yang diakhiri dengan tertawa bersama. Tawa riang Iqbal, Annas, serta kembar bungsu Maida dan Maira yang masih main kejar-kejaran, juga mewarnai kemeriahan halaman kediaman kakek Zarkasyi.
Para orang tua bersama Zaki, Kevin dan teman-temannya, menikmati obrolan hangat bersama kyai sepuh dan nyai Siti di pendopo. Di hadapan mereka telah disuguhkan teh dan kopi panas, serta umbi-umbian rebus hasil panen di kebun belakang rumah sebagai teman ngobrol.
Sementara di kediaman kyai Abdullah,,,
Usai menjalankan sholat ashar, sambil membersihkan wajahnya, Laila Hana tak henti mengomeli sahabat yang sekaligus kakak iparnya itu. "Harusnya kamu tuh ngomong mbak sama aku, mbak Aida tahu enggak sih kalau beberapa hari ini aku tuh kayak orang bodoh?" protes Laila seraya cemberut dan menatap sang kakak ipar yang malah senyum-senyum tanpa dosa.
"Lagian, kalian pede banget sih udah mempersiapkan semuanya tanpa bertanya dulu sama aku? Emangnya kalian yakin, kalau aku bakal setuju?" Laila masih saja melancarkan protesnya, karena merasa tak di anggap.
"Bodo amat, mau keliatan tua, mau keliatan muda. Kalau ustadz Zaki suka, pasti ya suka aja," balas Laila yang kemudian tersenyum samar.
"Cie, cie,, senyum-senyum enggak jelas kayak orang lagi jatuh cinta? Tuh, bener kan kamu juga suka sama mas Zaki? Jadi, ngapain juga kami mesti tanya sama kamu?" olok Aida, yang membuat wajah Laila bersemu merah karena malu.
"Lagi pula ya La, kami kan niatnya mau bikin surprise buat kamu. Adnan juga bilang, bahwa mas Zaki tak ingin kamu mengetahui niat baiknya terlebih dahulu." lanjut Aida seraya menatap sang adik ipar.
"Ustadz Zaki ngomong seperti itu sama Adnan?"
Aida mengangguk, "Adnan kemudian menyampaikan kepada kami, dan Adnan juga yang bilang bahwa kalian berdua sebenernya sudah lama saling suka," balas Aida.
Laila tersenyum lebar, membayangkan pertemuan demi pertemuannya dengan ustadz Zaki yang seperti sengaja di setting oleh Adnan tersebut.
Adnan yang sering tiba-tiba kabur ketika mereka bertiga sedang ngobrol, maupun Adnan yang pura-pura sibuk bercanda bersama sang istri ketika mereka berempat sedang bersama, hingga mau tak mau akhirnya Laila ngobrol berdua dengan Zaki.
"Dasar sohib tengil," gumam Laila yang memaki Adnan dalam hati tapi diiringi dengan ucapan terimakasih pada sahabat baiknya itu.
__ADS_1
"Jadi gimana adikku sayang, sukses enggak kejutan dari kami?" Aida bertanya pada Laila, yang nampak terkejut karena baru saja melamun.
"Malah melamun? Orangnya sekarang udah dekat di sini, enggak perlu di lamun kan? Bentar lagi juga udah sah, udah boleh peluk," ledek Aida sambil terkekeh kecil.
Laila tersenyum malu, gadis itu masih belum bisa membayangkan bagaimana nanti jika mereka berdua berada di dalam kamar dan hanya berduaan.
"Udah, enggak usah di bayangin. Dinikmati aja," goda Aida yang seolah tahu apa yang dipikirkan oleh sahabat sejatinya itu, seraya tersenyum jahil.
"Apaan sih, enggak jelas banget deh!" gerutu Laila, tetapi dalam hati gadis itu membenarkan ucapan sang kakak ipar. "Benar juga sih, ngapain dibayangkan kalau bisa langsung dilakukan."
"Ning, periasnya udah datang nih," nampak nyai Robi'ah membuka kamar putri nya dan kemudian masuk, yang diikuti oleh seorang wanita cantik yang merupakan perias pengantin terkenal di daerah tersebut.
"Aku tinggal dulu ya La, kasihan kak Umar dari tadi aku tinggal. Kakakmu yang tampan itu pasti mencari ku, kak Umar kan enggak bisa lama-lama jauh dari aku," pamit Aida dengan berbisik, seraya tersenyum jahil memamerkan kemesraannya dengan sang suami.
"Enggak usah pamer, bentar lagi aku juga punya suami yang tak kalah tampan dari kak Umar," balas Laila yang juga berbisik.
"Hemm,, tadi aja dibujukin enggak mau, malah minta agar dibatalkan? Sekarang, malah ngebet pengin cepat-cepat dikawinin?" olok Aida masih dengan berbisik.
"Dinikahin Da,,, kawinnya entar kalau udah sah!" protes Laila.
"Ning, jangan bercanda terus. Ayo di make up dulu, sudah sore ini dan setengah jam lagi acaranya di mulai."
"Eh, nggih Mi. Mbak Aida nih, gangguin Laila terus dari tadi?" adu Laila, yang dibalas Aida dengan menjulurkan lidahnya.
Nyai Robi'ah geleng-geleng kepala seraya tersenyum bahagia, melihat tingkah menantu dan putrinya yang kadang-kadang masih seperti anak kecil tersebut.
Aida dan nyai Robi'ah kemudian keluar dari kamar, meninggalkan Laila bersama perias pengantin.
Gadis cantik itu duduk di depan meja rias dan menatap wajahnya sendiri dari pantulan cermin, Laila mengingat kembali masa-masa dirinya dekat dengan gus Zain.
Selama itu, Laila tak pernah merasakan getaran hati seperti yang saat ini dia rasakan terhadap ustad Zaki, meski hanya mendengar nama ustadz tampan itu disebut apalagi jika mereka berdua sedang berdekatan.
"Mungkin kah dulu itu, aku hanya kagum saja ya sama gus Zain?" tanya Laila pada dirinya sendiri.
"Entahlah, apapun itu yang jelas rencana Allah lebih indah untuk hamba Nya." Laila tersenyum dikulum, merasakan debar jantungnya yang seakan berkejaran dengan waktu, yang semakin mendekati waktu akad nikahnya dengan ustadz Zaki.
"Bismillah, semoga aku bisa menjadi istri yang baik untuk ustadz Zaki."
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸🌸 bersambung 🌸🌸🌸🌸🌸