Finding Love

Finding Love
Butuh Healing


__ADS_3

Waktu terus berlalu, siang dan malam datang dan pergi silih berganti. Tanpa terasa, seminggu telah berlalu dari waktu ketika Zaki menjalani ujian di rumah sakit, tempat eyang Hasyim di rawat.


Selama itu pula, Zaki menyibukkan diri dengan menambah ilmu pengetahuan agama dan juga sibuk memberikan bekal kepada tiga santri senior, kepada pengelola kantin di sekolah dan kepada beberapa pekerja ladang kyai Abdullah dalam hal pengelolaan sebuah usaha.


Pelan namun pasti, koperasi pondok pesantren berjalan dengan sangat baik, begitu juga dengan kantin sekolah. Sedangkan untuk toserba yang di gagas Zaki, baru akan dimulai pembangunan nya bulan depan dengan biaya full dari ayah Yusuf.


Awal nya, Kyai Abdullah menolak karena merasa sungkan. Tetapi Zaki berhasil meyakinkan, bahwa sang ayah murni ingin membantu untuk kemajuan pesantren,, hingga akhirnya, kyai pengasuh pondok pesantren dimana Zaki menimba ilmu itu, mau menerima bantuan dari ayah nya Zaki tersebut.


Lambat laun, Zaki pun sudah mulai ikhlas menerima kenyataan bahwa Delia Zahwa bukan lah jodoh nya. Zaki juga ikhlas, ketika sebelum dhuhur tadi,,, santri utusan dari kyai Hasanuddin, menyampaikan undangan pernikahan putri bungsu nya untuk keluarga kyai Abdullah dan juga untuk Zaki.


Karena kyai Abdullah dan keluarga sedang menghadiri wisuda Laila, santri utusan kyai Hasan itupun menitipkan nya di kantor pengurus. Kang Bukhori lah yang menerima undangan tersebut, dan kemudian memberikan kepada Zaki.


Undangan pernikahan Delia Zahwa dengan putra Kyai Azhari, yang akan dilaksanakan sepuluh hari lagi. Yaitu beberapa hari, setelah gadis yang pernah diinginkan Zaki itu di wisuda.


Usai mengikuti jamaah sholat dhuhur di Masjid, Zaki yang baru saja masuk kedalam kamar, menerima undangan dari tangan kang Bukhori dengan tersenyum tipis, "makasih kang," ucap Zaki datar, sedangkan kang Bukhori menepuk pelan pundak Zaki.


"Sing sabar yo Zak," santri senior itu menghela nafas dalam, seakan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Zaki. Padahal pemuda yang menerima undangan dari mantan gadis yang diincar nya itu, sudah bisa mengikhlaskan semua. __Yang sabar ya Zak__


"Madang sek Zak, aku mau masak sayur bayem, nyambel terasi, karo goreng lele," ajak kang Bukhori, seraya keluar dari kamar yang diikuti oleh Zaki. __Makan dulu Zak, aku tadi masak sayur bayam, sambal terasi, sama goreng lele__


Ya, kang Bukhori dan dua orang teman nya lebih suka memasak sendiri. Meski terkadang, mereka juga ikut makan bersama santri yang lain jika tidak sempat untuk masak.


Mereka berdua menuju kantor pengurus untuk makan siang bersama, kebetulan ketika mereka hendak memasuki ruang kantor berbarengan dengan kang Musthofa yang baru pulang dari sekolahan.


"Madang sisan pora Mus?" tawar kang Bukhori, pada teman nya yang sesama pengurus pesantren itu. __Makan sekalian apa enggak Mus?__


Tanpa menjawab, kang Musthofa langsung mengikuti langkah kang Bukhori dan Zaki menuju ruangan di belakang kantor pengurus tersebut untuk makan siang bersama.


Masing-masing mengambil piring dan makanan sendiri, dan kemudian mulai makan dengan sangat lahap. Masakan kang Bukhori memang terkenal yang paling enak, dibandingkan masakan kang Musthofa ataupun kang Baharuddin. Entah memang benar-benar enak, atau perut mereka yang sudah lapar hingga semua yang dimakan terasa nikmat.


Ya, mereka terbiasa makan sesudah benar-benar merasa lapar dan akan berhenti sebelum perut mereka kenyang untuk menjaga kesehatan tubuh.

__ADS_1


Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan ;


“Karena kekenyangan membuat badan menjadi berat, hati menjadi keras, menghilangkan kecerdasan, membuat sering tidur dan lemah untuk beribadah”. __sumber, muslim. or. id__


"Zak, apa kamu ndak di ajak pak yai tho ke wisuda nya ning Laila?" Tanya kang Musthofa, di sela-sela menikmati makan siang nya.


"Semalam abah ngajak sih kang, bahkan kemarin sore sebelum kak Umar dan mbak Aida berangkat ke Semarang Zaki juga di ajak sama mereka berdua. Tapi kemarin Zaki kan lagi kurang enak badan kang, bahkan sampai tadi malam.. maka nya Zaki menolak ajakan abah," balas Zaki dengan gamblang.


"Sayang yo Zak," timpal kang Bukhori,yang membuat Zaki mengernyit kan dahi nya.


"Coba kamu ikut dan melihat ning Laila, pasti kamu bakalan kepincut Zak," lanjut tunangan Maimunah itu seraya tersenyum lebar.


"Hem,, bener iku." Tambah kang Musthofa, "ora macak ae wes uayu, lha opo meneh nek dipacaki?" Lanjut nya memuji putri bungsu sang kyai. __tidak berdandan saja sudah sangat cantik, apalagi kalau berdandan?__


Zaki hanya tersenyum menanggapi obrolan kedua senior tersebut, dan tak hendak mengatakan apa pun karena memang pengetahuan Zaki tentang Laila sangat lah minim.


Yang Zaki tahu hanyalah, bahwa adik gus Umar itu adalah anak yang sangat dekat dengan keluarga nya. Hal itu Zaki ketahui, dari obrolan mereka melalui telepon yang pernah beberapa kali Zaki dengar.


Usai makan, Zaki jadi teringat pada keluarga nya. "MasyaAllah, aku sampai lupa belum kasih kabar sama ayah dan bunda kalau Zaki tidak jadi sama Delia," gumam Zaki dalam hati.


Zaki mengambil ponsel nya, segera menghidupkan benda pipih itu dan kemudian mendial nomor ibunda tercinta.


Tut,, tut,, tut,,


Panggilan telepon Zaki di angkat pada sering ke tiga dan suara salam dari seorang wanita yang merupakan cinta pertama Zaki di seberang sana, membuat Zaki tersenyum lebar.


"Assalamu'alaikum Abang,,,"


"Wa'alaikumsalam Bunda nya Zaki yang cantik," balas Zaki dengan manis seperti biasa.


"Bunda lagi dimana dan sama siapa?" Tanya Zaki menyelidik.

__ADS_1


"Bang, kok pertanyaan Abang kayak detektif?" Protes bunda Fatima.


"Bunda lagi sama ayah di kamar, dan asal Abang tahu.. telepon Abang sudah mengganggu kesenangan Ayah," sahut ayah Yusuf, yang membuat bunda Fatima protes pada suami nya.


"Ayah,,, apaan sih?"


"Enggak Bang, itu enggak benar. Jangan dengarkan kata-kata Ayah tadi," lanjut bunda Fatima.


Sedangkan Zaki hanya tersenyum, putra sulung ayah Yusuf dan bunda Fatima itu tahu pasti bahwa sang ayah hanyalah bercanda. Terbukti dengan suara tawa dari sang ayah, yang bisa di dengar oleh Zaki.


"Bun, Ayah,, ada yang ingin Zaki sampaikan," ucap Zaki dengan serius, yang membuat ayah Yusuf langsung menghentikan tawa nya.


"Ada apa Bang?" Tanya bunda Fatima, yang terdengar khawatir.


"Bukan masalah serius kok Bun, Bunda jangan khawatir gitu dong?" Pinta Zaki.


"Sebelumnya, Zaki minta maaf karena baru sempat mengabarkan ini pada Bunda dan Ayah." Ucap Zaki dengan hati-hati.


Ya, sebelum nya,, putra sulung Ayah Yusuf itu memang pernah menelepon sang ayah sepulang nya dari ladang bersama kyai Abdullah. Tetapi saat itu, Zaki tidak membicarakan masalah nya dengan Delia. Zaki justru membicarakan mengenai rencana nya, yang ingin membangun toserba untuk kepentingan pondok pesantren.


"Kenapa Bang? Ada masalah apa?" Cecar bunda Fatima dengan tidak sabar.


"Bun, seminggu yang lalu Zaki sudah bertemu dengan orang tua nya Delia," ucap Zaki.


"Lantas? Apa Abang tidak lulus ujian kitab nya? Atau, ada masalah lain?" Kembali bunda Fatima menduga-duga, wanita yang masih terlihat sangat cantik di usia nya yang menginjak setengah abad itu bisa menangkap bahwa pasti apa yang diinginkan sang putra tidak tergapai.


"Bukan seperti itu Bun, Alhamdulillah Zaki lulus kok," balas Zaki dengan tenang, karena tak ingin membuat kedua orang tua nya merasa khawatir. Zaki kemudian menceritakan semua kepada ayah bunda nya,


"Kenapa Abang tak langsung kasih kabar sama Bunda dan Ayah?" Protes sang ibunda.


"Bang, kebetulan kami lagi ada di Jakarta. Ayah dan Bunda akan berangkat ke pesantren sore ini juga," ayah Yusuf memutuskan secara sepihak.

__ADS_1


"Ayah, sebaiknya jangan ke pesantren. Bagaimana kalau kita ketemu di tempat kakek Ilyas saja?" Tawar Zaki, "Zaki juga butuh liburan sebentar nih, hati Zaki butuh healing dari rasa kecewa" lanjut nya terkekeh.


🌸🌸🌸🌸🌸 bersambung 🌸🌸🌸🌸🌸


__ADS_2