
Angin berhembus kencang, hujan deras mengguyur kota tak henti-hentinya. El hanya bisa beraktifitas didalam rumah dan bermain bersama adiknya. Sementara ibu nya sedang memasak untuk makan malam mereka.
"Kak, tadi pagi aku dan ibu membuka kotak, isinya uang yang sangat banyak. Terus ibu membaca surat, tapi ibu menangis"
Angel membuka pembicaraan karena teringat momen pagi itu.
"Kotak apa dek?" tanya El pada Angel
"Kotak besar, dari atas TV"
sambil menunjukkan arah tempat ibunya mengambil kotak itu.
El kemudian ingat soal pria yang mengantar paket malam hari itu.
El bergegas menemui ibunya dengan semangat, berharap sesuatu hal baik didalam kotak itu.
"Mak..emakk, emakk "
El berlari memanggil manggil ibunya.
"Iya nak, ada apa?"
ibu El menyahut dari dapur.
"Dimana paket yang dikirim paman tadi malam, emak sudah membukanya, apa isi nya mak??"
semangat dan penasaran El membara dan terus menanyai ibunya.
Ibu El tertegun sejenak dan kebingungan tak tahu harus menjawab apa.
"Disimpan dimana mak?, aku mau lihat juga"
El terus memaksa ibunya agar menunjukkan paket itu.
"Ouh, itu.. cuma sebuah surat nak, gk usah terlalu dipikirkan"
Ibu El berusaha menyembunyikan kebenarannya karena khawatir El akan bersedih.
"Ouh, begitu.. ya sudah, aku pikir itu hadiah"
jawab El sedikit kecewa dan kembali bermain bersama adiknya.
***********
Pagi ini El tidak bersekolah, karena hujan lebat semalaman sekolah El banjir dan sekolah meliburkan murid-muridnya hari itu.
"Mak, hari ini El libur, sekolah sedang banjir, tadi Ibu nya Mamat kebetulan lewat dan memberitahu" El memberitahu Ibunya.
__ADS_1
"Ya nak, ibu juga sudah tahu, Ya sudah kamu dirumah saja jaga adik biar ibu yang jualan hari ini"
ibu nya kemudian pergi setelah berpamitan kepada anak nya.
Ibu El berjalan menyusuri kampung menjajakan dagangannya, meski letih dia tetap berjalan demi menjual habis dagangannya.
Keringat bercucuran membasahi wajahnya hingga akhirnya dia tidak kuat lagi dan berhenti disebuah warung dipinggiran jalan kota.
Ibu El mengeluarkan air putih bekal dia siang itu. Meminumnya beberapa tegukan untuk sekedar melepas dahaga.
Didepannya seorang Nenek terlihat berdiri dipinggir jalan itu. Nenek itu ingin menyeberang jalan namun ragu-ragu karena kendaraan lumayan ramai lalu lalang.
Ibu El yang kasihan melihat nenek itu pun meletakkan sisa dagangannya dan kantongan plastik hitam tempat dia menyimpan uang hasil dagangannya.
"Buk, ibu mau menyebrang yah.. mari saya bantu", ucap ibu El pada nenek itu.
"Terimakasih nak", ucap nenek itu kemudian mereka menyeberang bersama.
Setelah sampai diseberang, nenek itu mengucapkan terimakasih kemudian pergi.
Diseberang jalan tempat ibu El duduk dan meninggalkan dagangannya, seorang pria yang terlihat sangat lusuh mendekati dagangan ibu El. Ibu El yang melihat itu sedikit khawatir dan bergegas kembali menyeberang. Namun lalu lintas yang cukup ramai membuat dia kesulitan menyeberang.
Dia pun meneriaki Pria tersebut agar tidak menyentuh barang-barangnya. Pria itu kaget dan ketakutan, dia panik melihat Ibu El yang memperingatinya. Pria itu kabur membawa keranjang kue yang hampir kosong itu.
Ibu El juga panik, dan berusaha mengejar pria itu, namun saat menyeberang sebuah Mobil yang melaju kencang menabrak ibu El. Dia terpental dan kepala nya menghantam aspal.
Pria yang membawa keranjang kue itu pun berlari dan meninggalkan ibu El yang terkapar bersimbah darah.
Pengemudi itu turun dan segera menghubungi layanan darurat Rumah Sakit, namun karena panik dia pun pergi meninggalkan jasad ibu El.
Orang-orang yang melihat itu langsung berkerumun melihat tubuh Ibu El terkapar dijalan. Beberapa orang yang baik hati mengejar pengemudi yang kabur itu.
Seorang pria yang kebetulan mengenal ibu El langsung menghubungi ambulans dan membawanya kerumah sakit.
Pria itu menjadi Wali sementara ibu El, menunggu pihak keluarga datang menjemput jasad nya.
Satu jam kemudian, Pak RT tempat El tinggal datang kerumah sakit. Dia menangis melihat jasab ibu El di dalam ruang jenazah. Dokter berusaha menenangkan Pak Slamet (RT) dan bertanya apakah Dia keluarganya.
Pak RT semakin menangis dan kemudian menjelaskan kepada Dokter itu keadaan yang sebenarnya.
Setelah panjang lebar menjelaskan, Pak Slamet memohon agar proses pengambilan jenazah ibu El di permudah.
Dokter itu pun mengabulkan keinginannya dan membebaskan semua biaya dan bahkan memberikan bantuan Ambulan gratis untuk membawa Jenazah kerumah duka.
Pak RT sangat berterimakasih pada dokter itu kemudian pergi membawa jenazah ibu El pulang. Pak RT sudah menghubungi beberapa warga untuk mempersiapkan rumah duka dan menjaga agar El dan adiknya tidak panik.
Saat ambulans tiba, Suasana duka menyelimuti seisi kampung. Dirumah pak RT sudah berkumpul warga yang bersedih karena kehilangan tetangga mereka yang baik dan ramah. Semua warga menyambut jasad ibu El dengan tangis.
__ADS_1
Sementara itu El dan Angel masih bingung kenapa Warga berkerumun dan menangis, mereka tidak diperbolehkan melihat.
Warga kasihan dan takut mental Bocah kecil itu terpuruk setelah mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Namun Pak RT yang tidak kuat menahan kepedihan itu, harus memberitahu yang sebenarnya. Dia tidak ingin membohongi anak-anak ibu El, dan memberanikan diri memberitahu El yang sebenarnya terjadi.
Sebelum pak Slamet memberi tahu El, dia meminta El berjanji untuk tetap kuat dan jangan menangis didepan adiknya.
Setelah meyakinkan El, pak Slamet membawa El kedalam rumahnya tempat jasad Ibu El dibaringkan.
Seperti petir yang menyambar, jantung El serasa akan meledak, perasaan yang tidak pernah dia alami selama hidupnya. Tatapan nya kosong, pikirannya melayang-layang. Hatinya teramat sakit seperti tertusuk pisau yang sangat tajam. Kebingungan dan tidak bisa berkata apa-apa.
Hanya air mata yang mengalir di pipi El, air mata yang menjelaskan betapa hancurnya hati El. Ibu yang disayanginya melahirkan dan merawat Dia dan adiknya hingga sekarang kini sudah tiada. Di usia yang masih Belia mereka harus kehilangan orang yang paling mengasihi mereka.
El hanya menahan kepedihan dan kenangan itu dengan tatapan kosong dan melepaskan amarah dan kesedihanya dengan Air mata.
Ayahnya juga tidak bisa dihubungi, pihak perusahaan juga demikian. Mereka selalu beralasan akan memberitahu pak Budi segera, namun kabar balasan tak kunjung datang.
Setelah itu dia pergi dan kembali kerumah menemui adiknya. Dia membisikkan sebuah pesan dan pergi meninggalkan adiknya.
Adiknya cuma mengangguk dan mengiyakan pesan kakak nya itu.
El pergi menemui Pak RT dan memohon untuk merawat adiknya karena dia merasa tidak mampu merawat adiknya karena mereka masih kecil. El memberitahu Pak RT bahwa ibunya meninggalkan sesuatu yang berharga didalam kotak dirumah mereka. El meminta Pak RT menggunakan itu untuk merawat adiknya kemudian berlari pergi.
Pak RT yang juga kebingungan dan tak tahu harus berbuat apa hanya bisa membiarkan El pergi. Mungkin El hanya pergi sebentar untuk melampiaskan kesedihannya.
**********
"Mbak,... cepat bawa barang barang Boby kemobil jangan sampai ada yang ketinggalan"
Suara ibu Boby terdengar hingga keruang tengah.
Keluarga Boby sedang bersiap-siap berangkat menuju Bandara. Mereka akan pindah karena Ibu Boby sudah mengambil Alih hak Suaminya dan menjadi wali sementara pewaris Kekayaan Reinhard ayah Elsa.
Setelah selesai berkemas mereka kemudian masuk kedalam mobil, kemudian berangkat pergi meninggalkan rumah itu.
Berapa menit kemudian dari kejauhan, El yang sedang melamun menahan kesedihan berjalan lunglai menuju rumah Boby. El bermaksud mencurahkan isi hatinya dan menceritakan kejadian pahit yang dialaminya kepada sahabatnya itu.
El berdiri didepan gerbang rumah Boby yang tertutup rapat. Dia memanggil Boby namun tidak ada jawaban. El kemudian memencet Bel berharap seseorang membuka kan pintu.
Namun tak seorang pun keluar dari dalam rumah itu. El yang bersedih telah kehilangan ibunya menjadi semakin sedih karena sahabatnya pun tidak ada untuknya.
El hanya terduduk lesu, dan menangis. Dia melepaskan kan kesedihannya itu dan berteriak seperti kerasukan setan.
Kemudian berdiri dan pergi meninggalkan semuanya. Meninggalkan segala yang dia punya. Adik, sahabat dan orang-orang yang masih peduli padanya. Dia meninggalkan semua itu bersama kepedihan yang dialaminya dan pergi menghilang.
"Kita akan baik baik saja" dek
__ADS_1
*** bersambung ***