
Suara sirene meraung-raung memecah kesunyian malam itu. Jalanan yang sepi menjadi saksi kecepatan Ambulance itu bergegas menuju rumah sakit.
Dokter telah menunggu di depan UGD menunggu pasien yang dibawa ambulance itu.
Didepan pintu rumah sakit setelah Ambulance tiba, para perawat menurunkan pasien korban tabrak lari itu dan membawa keruang UGD untuk dioperasi.
Para Dokter berupaya memberikan pertolongan,dan mengupayakan keselamatan pasien itu. Namun apa daya, segala upaya yang dilakukan dokter itu sia-sia. Nyawa Budi tak tertolong lagi, dia kehabisan darah.
Dokter itu pun menyerah kemudian menjumpai petugas ambulance untuk mencari tahu informasi korban kecelakaan itu.
Dari informasi yang dia temukan, dokter itu segera menghubungi tempat Budi bekerja dan meminta agar perwakilan atau wali datang kerumah sakit menjemput jasad korban.
Satu jam kemudian, beberapa orang dengan setelan rapi pegawai kantoran datang kerumah sakit tempat Budi dibawa setelah kecelakaan. Salah seorang Staf datang untuk mengurusi Administrasi pengambilan jenazah kemudian menjumpai Dokter yang menangani jasad Budi.
"Tok tok tok ",
pintu ruangan Dokter Jems terdengar diketok dari luar.
"Silahkan masuk ",
ucap dokter Jems.
Wanita berusia 30an dengan potongan rambut pendek sebahu masuk.
"Selamat malam Dok" ,
Loli menyapa dokter itu.
"Ouh ya... silahkan duduk", Tawar dokter Jems pada wanita itu.
Loli duduk kemudian memulai percakapan dengan dokter Jems.
"Saya perwakilan dari jenazah korban tabrak lari itu dok, kenalkan saya Loli Sekretaris Wakil direktur perusahaan tempat korban bekerja, apa yang terjadi dengan karyawan kami dok?" tanya Loli kepada Dr.Jems.
"Jadi begini Bu, sepertinya korban mengalami kecelakaan tabrak lari, luka nya sangat serius.
bagian kepala Retak dan beberapa tulangnya patah. " menjelaskan dengan rinci diagnosa Budi.
"Saya rasa Korban tertabrak dengan cukup hebat dari belakang" ucap dokter Jems pada Loli.
"Ouh, terima kasih penjelasan nya dok, saya akan membawa jenazah nya kepada keluarga nya. Terimakasih telah menghubungi kami dok"
Loli pun beranjak dari situ setelah berjabat tangan.
*************
Angel adik El berusia 3 tahun sedang demam sudah 2 hari, dia rewel dan menangis sepanjang malam. Ibu El tetap terjaga berusaha menenangkan dan merawat Putri nya.
El juga tidak bisa tidur nyenyak karena gelisah dan khawatir melihat ibunya yang kelelahan merawat adiknya.
Dia beranjak dari kasurnya kemudian mengambil air minum didapur untuk diberikan pada ibunya dan adiknya.
El kasihan melihat adiknya yang menahan sakit sudah 2 hari. Obat yang dibelikan ayahnya kemarin tidak cukup kuat menurunkan deman adiknya.
El pun mendekati adik nya dan menatap wajah mungil itu, kemudian mengecup kening Angel penuh kasih.
"Jangan nagis dek, abang disini dek, abang akan ambil sakit mu itu, sini berikan sama abang. Abang lebih kuat dari mu dek."
__ADS_1
Budi meneteskan Air mata kesedihannya.
Ibunya terharu melihat putranya sangat peduli pada adiknya. Ibunya pun meneteskan airmata kemudian memeluk El dan menyuruhnya untuk kembali tidur.
"El, tidurlah.. besok pagi kamu telat bangun dan kesekolah, biar ibu yang menjaga adikmu ya" dia berusaha menenangkan El.
El yang penurut pun mengiyakan perintah ibunya kemudian tidur diruang tengah diatas sofa tua milik mereka. Dia berusa tetap dekat dengan ibu dan adiknya kalau-kalau ada hal penting yang dibutuhkan ibunya.
Tidak berapa lama, sebuah mobil datang dan berhenti tidak jauh dari halaman rumah El. Seorang pria turun dan mendekati rumah El, kemudian mengetuk pintu.
"Permisi, selamat malam, permisi...", pria itu menyapa pemilik rumah.
"Permisi bu, apa ada orang " sambil terus memanggil,
"Iya sebentar",
sahut ibu El segera membaringkan putrinya di tempat tidur kemudian bergegas membuka pintu.
El juga bangun dan terduduk mengamati ibunya membuka pintu.
"Selamat malam, ada apa yah bertamu malam malam begini?", tanya ibu El pada tamu itu.
"Maaf nyonya, saya hanya ingin mengantar Ini"
pria itu menyodorkan sebuah paket kemudian pergi.
Ibu El kebingungan dan segera mengucapkan terimakasih sesaat setelah pria membalikkan badan nya.
Ibu El menutup pintu kemudian kembali ke kamar untuk menjaga Angel. Paket itu dia letakkan diatas rak TV diruang tengah.
El juga menatap paket itu dengan penasaran, namun kantuk yang ditahannya mengalahkan dia kemudian tidur terlelap.
El sudah berkemas dan siap berangkat, dia kemudian menjumpai Adiknya yang masih terlelap dan mencium kening adiknya dan pamit untuk kesekolah.
El juga pergi ke dapur dan berpamitan pada ibunya yang sedang menyiapkan bekal El kemudian mencium tangan ibunya.
"Aku pergi dulu ya mak,"
El pun bergegas berangkat.
Sekolah El cukup jauh dari rumahnya, namun masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki kurang lebih 20 menit. Untuk ukuran anak usia 11 tahun hal itu terlalu berani untuk dilakukan.
Namun El adalah anak yang berani dan baik hati, banyak orang orang dijalanan yang cukup mengenal baik keluarga mereka. Karena ibu El yang selalu berkeling menjajakan dagangannya, El sering dibawa berkeliling.
El menyapa orang-orang dijalan yang dia kenal, para pemilik warung kecil sepanjang jalan juga membalas sopan santun El dengan senyum disepanjang jalan.
Setibanya disekolah, Dia langsung menuju kantin dan menitipkan jajanan dagangan ibunya kepada bibi kantin.
kemudian El bergegas masuk kelas dan mempersiapkan buku pelajaran.
Di kelas, El melihat sekitar seperti mencari seseorang yang belum dilihat nya dari tadi.
Hingga bel masuk berbunyi, orang yang dia cari belum muncul juga.
Setelah jam pelajaran selesai dan jam istrihat dimulai, El bergegas menuju ruang Guru dan mencari Wali kelasnya. El bertanya pada guru yang lain dimana Wali kelasnya.
Guru itu pun menjelaskan pada El kalau Pak Bambang sedang menjenguk salah satu murid yang tidak bisa hadir hari itu.
__ADS_1
"Permisi bu guru, Pak Bambang tidak masuk hari ini, ada apa bu?"
tanya El pada bu guru itu.
"Pak Bambang sedang dirumah teman kalian yang tidak bisa hadir hari ini"
jawab bu guru.
"Kalau boleh tahu, siapa teman kami itu Bu?" Tanya El lagi penasaran.
" Dia dari kelas 4C, kalau tidak salah namanya Bobi" bu guru menjelaskan pada El.
"Ouh begitu, terima kasih infonya saya permisi kembali ke Kelas bu".
Kemudian El keluar dari ruangan Guru dan bergegas menuju kantin membantu bibi kantin mengurus Dagangan ibunya.
************
Sementara itu, dirumah Bobi sedang berkumpul banyak orang dengan setelan rapi Mengenakan Jas Hitam. Para Staf dan petinggi Perusahaan datang melayat kerumah itu.
Suasana duka dirumah itu cukup terasa karena ada banyak karangan bunga di halaman rumah hingga pelataran parkir.
Direktur utama, Ayah Elsa dikabarkan meninggal Dunia tadi malam. Jasadnya sudah didalam peti. Mereka melakukan penghormatan terakhir kepada beliau. Mereka menunduk memberi Hormat didepan foto beliau.
Orang orang berdatangan bergantian memberi hormat dan rasa duka yang mendalam kepada Keluarga yang ditinggalkan.
Ibu tiri Elsa menyalami Para tamu, Bobi dan Elsa berdiri disampingnya dengan tangis.
Bobi dan Elsa tidak tahu apa yang terjadi pada ayah mereka.
Setelah bangun pagi mereka langsung di persiapkan dengan pakaian hitam sebelum menuju ruang tengah rumah itu, tempat peti Ayah nya di letakkan.
Mereka masih kebingungan, yang mereka tahu pasti dari situasi itu adalah Ayah mereka sudah meninggal dunia.
Isak tangis Elsa tak henti, Bobi pun demikian.
Mereka seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa, namun harus menerima kenyataan pahit itu.
Jadwal pemakaman pun tiba, Peti mati pak Reinhard pun dibawa dari Rumah itu.
Elsa dan Bobi hanya terdiam menahan kesedihan melihat Jenasah ayah nya akan segera dibawa dan dimakamkan.
"Kalian pergilah, bawa beliau kepemakaman. Kami disini saja",
ucap ibu Bobi kepada para pengurus pemakaman jenazah.
Orang-orang bingung mendengar itu, tapi tidak bisa berbuat banyak. Mereka hanya memaklumi keadaan Istri almarhum yang mungkin masih Syok dan terlalu sedih mengalami kejadian pahit itu.
Itulah akhir dari Bobi dan Elsa yang hanya bisa melihat Foto wajah ayah nya. Ayahnya pun dibawa pergi.
Mereka kembali kedalam rumah, dengan perasaan yang bercampur aduk.
Elsa juga langsung diperintahkan untuk segera masuk kedalam kamar oleh ibunya.
Anak berusia 8 Tahun itu sangat sedih, diusianya yang masih sangat muda, dia kehilangan ibu kandungnya. Sekarang giliran Ayahnya, Elsa tidak tahu harus bagaimana dan cuma bisa menangis menerima kenyataan pahit yang dialami nya.
Ketika sabar mencapai akhir, iblis pun tertawa menggerogoti Jiwa yang terluka.
__ADS_1
*** bersambung ***