Finding Love

Finding Love
Bagian 4 -= Isi dalam Surat =-


__ADS_3

Seperti biasa ibu El membereskan pekerjaan rumah, sembari menjaga putrinya yang mulai membaik. Menyelesaikan masakan untuk dagangan nya, mencuci pakaian dan pekerjaan rumah lainnya. Keringat membasahi kening ibu El, terlihat letih yang tak tertahankan diwajah ibu El. Namun dia tetap semangat menjadi ibu yang baik untuk anak-anak nya.


Sesekali dia melirik kekamar memantau keadaan Putrinya itu. Meski Angel mulai membaik, rasa khawatir tak luput dari perasaannya.


Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, ibu El yang letih itu kemudian duduk di sofa tua mereka. Dia terlihat merenung, tatapan nya kosong. Dia mengingat Suaminya yang semangat berjuang menghidupi keluarga kecil nya. Pesan-pesan baik yang diajarkan suaminya setiap hari sebelum berangkat kerja selalu di ajarkan nya kepada anak nya.


Dia teringat pesan Suaminya untuk selalu perduli dengan orang-orang yang mengalami kesusahan. Berbagilah meski sedikit, jika tak punya sesuatu untuk diberi, berdoalah untuk mereka agar keadaan menjadi lebih baik.


"Cepatlah pulang suami ku, kami butuh kamu disini" ucapnya dalam hati.


Terdengar suara Angel yang masih lemah memanggil ibunya dari dalam kamar.


"bu... ibu, ibu aku haus.. ibu.. " Angel memanggil ibunya.


Ibu El tersentak dari lamunan nya, mengusap wajahnya dan langsung beranjak mendapati putrinya yang terbaring lemah di atas tempat tidur.


Segera dia memberikan Putrinya Air minum yang dia siapkan disamping tempat tidur mereka.


Ditatapnya wajah putriny Itu penuh Kasih,


sambil memberikan Angel segelas air.


"Minum yang banyak sayang, biar kamu cepat sembuh, trus kamu bisa main lagi sama bg Daniel" membelai putri cantiknya itu.


Selesai merawat putrinya, Ibu El teringat paket yang diantar pria misterius malam itu.


Dia penasaran kemudian mengambil kotak itu.


Angel yang masih haus beranjak dari tidurnya dan meraih gelas disampingnya. Iya menuangkan air kedalam gelas, namun karena fisiknya yang masih lemah, tangan nya tidak kuat mengangkat teko air minum itu.


"Prangg"


terdengar suara gelas jatuh pecah dilantai. Ibu El kaget dan segera berlari menuju kamar dan menatap Angel panik.


"Sayang... kamu tidak apa-apa sayang ku.." dengan lembut dia memeluk dan mengusap kepala Angel.


"Maafin angel buk, aku gk sengaja buk"


Angel terisak isak karena takut ibunya marah dan khawatir padanya.


"Iya sayang gk apa apa kok, lain kali kalau butuh sesuatu panggil ibu saja ya nak."


ibu El memberi penjelasan pada putrinya dan segera membersihkan pecahan gelas dilantai.


Kemudian Ibu El berusaha menenangkan Angel, dan menghiburnya agar tidak sedih lagi.


"Nah,.. ayo kita buka sama sama, ini paket yang dikirim tadi malam, kita buka yah!"


Mereka sama sama penasaran apa isi kotak itu.


Setelah dibuka isinya sebuah surat dan sejumlah Uang. Ibu El pun membaca Isi surat itu agar Putrinya bisa mendengar juga isi surat itu.


"Untuk Istri dan Anak-anak ku tersayang.

__ADS_1


Bapak harap kalian jangan kecewa atau marah,  maafkan Bapak.


Bapak tidak akan kembali ke rumah untuk waktu yang cukup lama, karena bapak harus pergi jauh mengurus pekerjaan Bapak.


Semoga kalian baik baik selalu"


Demikian isi surat itu.


Ibu El terkulai lemah setelah membaca surat itu, dia tidak bisa berkata-kata. Tatapan nya hampa, pikirannya kosong. Matanya meneteskan air mata kesedihan yang teramat dalam.


"Ibu...,ibu.. kenapa Bapak harus pergi.. kapan Bapak pulang"


Angel menggoyang-goyang tangan ibunya agar tersadar dari lamunannya.


Ibu El tersentak kemudian mengusap airmatanya dan menyahut Putrinya.


"Bapak kerja keluar kota sayang, mungkin besok baru pulang",


Ibu El terpaksa berbohong pada Putrinya agar Angel tidak terlalu bersedih dan merindukan Ayahnya.


Susana menyedihkan itu tehenti sejenak, El sudah pulang sekolah dan langsung masuk kedalam rumah. El langsung menuju kamar dan menjumpai Ibu dan Adiknya.


"Yeyel.... kamu sudah sembuh",


teriak El terkejut melihat adiknya duduk disamping ibunya.


Angel membalas Kakaknya itu dengan senyum ceria. Mereka bahagia, tertawa bersama, menari nari diatas kasur dan meloncat loncat kegirangan.


Dia kemudian berdiri menuju lemari dan menaruh surat dan kotak berisi uang itu kedalam lemari.


Dia belum bisa memberitahukan keadaan yang sebenarnya pada El.


Sore pun tiba, Ibu El hanya terduduk lesu di depan rumah. El dan Angel sibuk bermain bersama di dalam rumah.


"Dek, abang mau main diluar sebentar.... Bolehkan??"


tanya El dengan cemas pada adiknya.


"Gk boleh, abang dsini saja main sama aku" Angel memegang erat tangan kakaknya agar tidak pergi.


"Sebentar saja kok deg, nanti abang bawakan jajanan buat mu" El berjanji pada adiknya agar diijinkan pergi.


"Oke, tapi aku mau dibawakan telur gulung dan tahu goreng" pinta Angel penuh yakin.


"Siap bos, laksanakan" jawab El berakting Militer, kemudian pergi.


Iya pamit kepada Ibu nya dan mencium tangan Ibunya lalu pergi.


"Jangan pulang larut ya nak, sekalian ambil uang hasil titipan kue kita diwarung engkong" teriak ibu nya kepada El yang sudah berlari pergi.


"Iya bu, Aku pamit" sahut El kemudian hilang dari pandangan ibunya.


                             ***********

__ADS_1


Malam pun tiba, El masih asik menjajakan koran di lampu merah pinggiran kota.


Sesekali dia duduk ditepi jalan melepaskan lelahnya. El anak yang sangat berbakti kepada orang tuanya. Begitulah keseharian El yang menempa dia menjadi anak yang kuat dan mandiri.


"Hey bocah, kemari... !"


Seorang pria dari dalam mobil mewah hendak membeli koran nya.


El bergegas mendekat dan memberi koran di tangannya itu.


Pria itu pun menyodorkan uang Rp 100.000 kepada El,


"Maaf pak saya tidak punya kembalian, koranya cuma Rp 3000 perak pak"


El menjelaskan kepada pria itu.


"Sisanya buat kamu saja, beli baju yang bagus"


pria itu menawarkan pada El.


"Maaf pak, saya tidak bisa menerima uang itu, yang bukan hak saya."


Mendengar perkataan El, pria itu takjub dan terkagum kagum memandangi wajah El.


"Dijaman sekarang masih ada orang seperti ini, orang tuanya benar benar hebat bisa mendidik anak seperti ini" gumamnya dalam hati.


Pria itu terus menatap wajah El karena kagum, sambil menyuruh supirnya untuk membayarkan koran itu.


El menerima uang Pecahan Rp 5.000, kemudian mengembalikan sisanya kepada Pria itu kemudian membungkuk, memberi hormat dan mengucapkan terimakasih kemudian kembali duduk di pinggir trotoar.


Mobil itu pun segera bergerak, karena lampu lalu lintas sudah menyala hijau. Pria didalam mobil itu adalah Arfat. Wakil direktur tempat Ayahnya bekerja.


Hari semakin larut, El kemudian beranjak dari jalanan itu menuju sebuah toko dan memperhatikan jam.  jarum pendek sudah menunjuk ke angka delapan berarti El harus pulang kerumah. Dia bergegas kembali menuju rumahnya, dia tidak lupa membelikan jajanan untuk adik nya. Telur gulung dan Tahu goreng kesukaan adiknya.


Setibanya dirumah, El diam-diam masuk dan mengagetkan ibu dan adiknya yang sedang asik duduk diruang tengah.


"Ta-da, pesanan tuan putri tiba"


sambil menunjukkan bungkusan di tangan nya.


"Yeee, abang pulang.. "


Angel meloncat kegirangan dan berlari meraih jajanan pesanan nya itu.


El hanya tersenyum bahagia melihat Adiknya kembali ceria. Ibunya cuma tersenyum sedikit kemudian melanjutkan kegiatannya yang sedang menjahit pakaian lama yang masih bisa dipakai.


"El, kamu mandi dulu nak trus makan, sebelum tidur bereskan buku pelajaran mu untuk besok" perintah ibu nya.


"Iya bu ", jawab El kemudian pergi menuju dapur.


Sesaat bahagia itu terasa, meski luka masih tersisa didalam hati.


*** bersambung ***

__ADS_1


__ADS_2