
Siang itu lalu lintas di jalanan kota cukup ramai, banyak masyarakat dijalanan sedang menyambut Presiden yang kebetulan berkunjung kewilayah itu.
Staff khusus Presiden terlihat mengawal Mobil Presiden yang akan melintas dari area itu.
Seorang Reporter Cantik terlihat sedang sibuk mencari celah diantara keramaian agar mendapatkan posisi terbaik mengambil gambar untuk Liputan berita di stasiun TV tempat dia bekerja.
Dia berhimpitan dengan wartawan lain yang sudah berjibun di pinggir jalan tempat tujuan Presiden.
Sikut sikutan tak terhindarkan karena padatnya orang orang disekitar area droping presiden.
Salah satu wartawan tak sengaja menyikut kepala reporter cantik itu hingga Dia pusing, kemudian terjatuh pingsan.
Orang orang disekitar nya pun menyingkir dan memberi ruang untuk Gadis itu namun mengabaikannya begitu saja.
Kameramen rekan gadis itu pun panik dan segera menolong gadis cantik itu kemudian menggendongnya dan membawanya ke area yg lebih terbuka.
Dia meletakkan rekannya itu di kursi trotoar kemudian menampar nampar wajahnya agar cepat siuman.
Akhirnya dengan sedikit usaha yang cukup ekstra gadis itu pun tersadar.
Sambil menahan sakit dikepalanya, dengan separuh sadar perlahan dia membuka mata dan melihat sekitar nya.
"Dimana ini, siapa kamu??"
Dia linglung dan lupa seketika apa yang sedang terjadi dan dialaminya.
Dengan sabar dan kesal, Marto rekan gadis itu pun menjelaskan padanya.
"Kamu pingsan, saat meliput berita..."
ucap marto padanya.
Tiba tiba ingatan Gadis itu kembali
"Astagahh .... dimana presiden, ayo kesana, kita butuh liputan utama"
gadis itu buru buru bergerak namun langkahnya dihentikan Marto.
"Aahhh sudahlah, kita pulang saja... Presiden sudah pergi, kita hanya dapat berita kecelakaan mu saja. Direktur sangat marah padamu, mungkin aku juga akan dipecat"
dengan nada jengkel bercampur khawatir, Marto menjelaskan situasinya pada rekannya itu.
"Maafkan aku To, ini salah ku... aku minta maff ya. Aku traktir kau makan bakso.. kau bisa makan sepuasnya.. oke.. hehehe"
dia mencoba membujuk Marto agar memafkan nya dengan sogokan satu porsi bakso.
"Oke, tapi kali ini sebelum makan pastikan kau bayar dulu baru pesan"
Marto meragukan Rekannya itu, karena sudah sering janji mereka sebatas ucapan bibir.
__ADS_1
Setiap mereka makan diluar selalu berahir dengan uang Marto meskipun diawal yang janji bayar itu gadis cantik itu.
***********
Di Warung Bakso
Saat Marto dan Rekannya masuk warung, mereka mendengar dua orang pria sedang bertengkar kecil karena pilihan makanan.
Mereka merasa lucu, karena dua pria yang sedang ribut itu terlihat seperti orang pacaran.
Naluri jurnalis yang penuh keingintahuan Gadis itu membara. Mereka duduk di belakang dua Pria itu dan mendengar pembicaraannya.
"Sudah kubilang, aku tidak suka bakso.. aku maunya Lontong" Jack merajuk manja dan tidak mau makan.
"Jangan buat aku malu dengan tingkah mu itu brengsek"
El berbisik pelan karena malu dengan orang orang diwarung itu yang sedari tadi melihat dan mendengar pertengkaran mereka.
"Bakso ini gk enak, aku gk mau makan"
jack bertingkah seperti bocah kecil, dan membuat El semakin kikuk.
Elsa yang sedari tadi curi curi pandang karena penasaran tak sengaja tertangkap basah oleh El.
El menatap wajah Elsa dengan serius dan kesal. Kesal bercampur takjub karena kecantikan Elsa membuat El sedikit malu.
Jack masih merajuk sementara itu El sudah sangat malu dan tidak tahan lagi.
El pun meminta maaf pada semua pengunjung dan kemudian pergi meninggalkan jack sendiri.
Jack yang diabaikan pun segera pergi mengikuti El sambil merengek.
Setelah mereka menghilang keluar Warung bakso, Elsa dan Marto tertawa terbahak bahak.
"Dasar pasangan aneh, cinta membuat mereka buta. hahahahah" ucap Elsa dan lanjut tertawa.
El tiba tiba masuk kembali dan mengejutkan semua orang. seketika suasana hening dan mencekam, tak ada yang berani menatap El yang hanya berdiri diam dan menatap Elsa sebentar kemudian keluar lagi lalu pergi.
Elsa ketakutan melihat El, karena tertangkap basah lagi mengejek dan menertawakan situasi Mereka tadi.
"Mampus aku, gawat aku mungkin akan di marahi pria itu" ucap Elsa dalam hati
Pesanan mereka datang dan kemudian mereka makan.
Elsa masih terbayang pada momen ketika El masuk tiba tiba dan hanya menatap dirinya kemudian pergi.
Namun dia mencoba mengabaikannya dan melanjutkan menyantap makanannya.
***************
__ADS_1
Diperjalan pulang El terlihat sedang memikirkan sesuatu. Dia tidak fokus dan hampir menabrak tiang listrik dipinggir jalan.
Jack langsung menahan bahu El dan mengarahkannya kembali ke jalur yang benar.
"Untung kau kutahan, kalo nggak.. kepala mu udah Benjol" Ejek Jack pada sahabatnya itu.
"kenapa bro, ada masalah apa?" lanjut jack.
"gk papa, yok "
El melanjutkan langkahnya menuju rumah.
Sesampainya dirumah, bibi Mei sudah menunggu mereka untuk makan siang.
"Anak anak ku sudah pulang, langsung cuci tangan ya trus kita makan" Ucap bibi Mei pada mereka.
Jack segera masuk kedalam rumah dan mencuci tangan. Sementara itu El masih didepan rumah duduk sambil memikirkan sesuatu.
"Kenapa nak, sepertinya kau memikirkan sesuatu?"
tanya bibi Mei.
El dikagetkan pertanyaan ibu nya kemudian menjawab nya.
"ouh, gk papa bu, aku hanya bingung kita makan apa besok hehehe"
jawab El sambil tersenyum menyembunyikan apa yang sebenarnya dia pikirkan.
Bibi Mei pun heran dengan kebingungan El,
"Tak usah terlalu dipikirkan, ibu rasa penjualan hari ini pasti cukup untuk kebutuhan kita 2 hari kedepan"
"Masalahnya ...."
El mencoba menjelaskan namun belum selesai El berkata, jack langsung datang dan berusaha membungkam El agar tidak menjelaskan situasi mereka dikantor polisi. Jack tidak mau bibi Mei merasa khawatir pada nya.
"Bukan apa apa bi, bibi tenang saja... Kami akan bekerja keras buat bibi hehe, ngomong ngomong masakan bibi paling enak sedunia. Terima kasih bibi ku sayang"
Jack mendekati bibi Mei lalu memeluknya dengan penuh kasih.
"Yasudah kalian makanlah sepuasnya, bibi mau lanjut bekerja, jangan lupa mecuci piring nya dan sisakan makanannya sedikit buat ku"
bibi mei pun meninggalkan mereka berdua.
"Siap Jendral!" ucap Jack memberi hormat kepada bibi Mei sambil tersenyum.
Keluarga tidak selalu soal pertalian darah, ikatan hati dan rasa cinta juga bisa menjadikan sebuah Keluarga.
*** bersambung ***
__ADS_1