Finding Love

Finding Love
Istriku Minta Jatah


__ADS_3

Setelah kejadian malam itu, hubungan Zaki dan Hana menjadi lebih akrab. Keduanya sering terlibat diskusi mengenai berbagai macam hal, bukan hanya tentang metode pengajaran di pesantren namun kadang juga membahas hal lain di luar pesantren.


Hana yang cerdas, gaya bicara gadis itu yang blak-blakan namun tetap menjaga kesantunan, di tambah karakter Hana yang lembut tapi ternyata suka bercanda, membuat Zaki betah berlama-lama ngobrol dengan ustadzah sahabat dari Adnan tersebut.


Begitu pun dengan Hana, pemuda lawan bicaranya yang memiliki pengetahuan sangat luas, pandai mengaji dan memiliki pesona yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata, membuat Hana seringkali dibuat kikuk saat dirinya kepergok tengah menatap wajah tampan Zaki dengan intens.


Pertemuan mereka kadang dilakukan di serambi Masjid seusai sholat berjama'ah, terkadang di kediaman kakek Burhan jika kakek dan neneknya Adnan itu memanggil mereka semua untuk makan bersama, dan terkadang di pondokan milik Adnan.


Adnan dan Sarah terkadang juga ikut menemani mereka berdiskusi, namun seringkali pasangan suami istri itu sengaja menghindar untuk memberikan ruang kepada Zaki dan Hana agar lebih dekat serta semakin mengenal satu sama lain.


Tak jarang, Adnan kemudian beralasan untuk keluar sebentar karena ada keperluan mendadak. Namun akhirnya cucu kakek Burhan itu tak kembali bergabung bersama Zaki dan Hana seperti malam dimana Adnan dan sang istri masuk kedalam rumah sang kakek untuk mengambil jaket, tapi nyatanya sepasang suami-istri itu tak kunjung keluar hingga pukul sembilan malam.


Kalaupun cucu pengelola yayasan pendidikan tersebut bisa ikut bergabung untuk berdiskusi bersama Zaki dan Hana hingga selesai, Adnan malah seringkali bikin rusuh dengan menggoda Hana hingga sahabatnya itu akan merajuk dengan mengerucutkan bibir.


Seperti sore ini, selepas jama'ah sholat asyar di Masjid, mereka bertiga tengah asyik berdiskusi di serambi Masjid seraya menunggu waktu maghrib tiba. Sarah tak ikut serta, karena istri Adnan bilang akan membantu nenek Sulis masak untuk makan malam mereka nanti.


Ya, semenjak kehadiran Zaki di sana, kakek Burhan jadi sering mengajak cucunya, Zaki dan Hana untuk makan malam bersama. Sebagai pengobat rindu pada sahabat-sahabatnya, begitu tutur kakek Burhan setiap kali ditanya oleh Adnan.


Kali ini, Adnan dengan keisengannya, memetik setangkai bunga bougenville berwarna putih yang tumbuh subur di pekarangan Masjid tersebut.


Adnan kemudian memberikan setangkai bunga itu kepada Hana seraya berkata, "Hana, maukah kamu menjadi bidadari nya Bang Zaki?" Suami dari Sarah itu berkata sambil menyodorkan setangkai kembang bougenville tersebut, kepada sahabatnya.


Zaki mengernyitkan kening, sedangkan Hana mengerucutkan bibirnya. "Apaan sih Nan, enggak lucu tahu?" Protes Hana.


"Eh, ini beneran Hana." Balas Adnan dengan mimik serius.


"Bang Zaki saja yang belum berani mengatakan isi hatinya, benar kan Bang?" Tuntut Adnan seraya menatap Zaki, agar pemuda itu membenarkan apa yang dia sampaikan, "maka dari itu, aku yang mewakili," lanjut Adnan yang kembali menatap Hana, seraya tersenyum.

__ADS_1


Zaki membalasnya hanya dengan senyuman, sedangkan Hana langsung menunduk dan tersenyum tersipu.


Sejujurnya, kedekatan mereka berdua selama beberapa minggu ini telah menumbuhkan perasaan nyaman di hati masing-masing. Zaki pun mengakuinya dalam hati, begitu pula dengan ustadzah muda itu yang juga merasakan hal yang sama.


Adnan dan Sarah yang notabene sering berkumpul bersama mereka berdua dan sering memergoki keduanya yang saling memandang dari kejauhan, pun menyimpulkan hal yang sama, bahwa baik Zaki maupun Hana sesungguhnya telah sama-sama saling menaruh hati.


itu sebabnya, Adnan sering sengaja memberikan jalan bagi Zaki agar segera berterus terang menyatakan perasaannya kepada Hana. Tetapi entah mengapa, Zaki seolah tak menanggapi dengan baik apa yang telah dilakukan oleh Adnan tersebut.


Untuk sesaat suasana di serambi Masjid itu menjadi hening, masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.


Adnan yang masih sibuk memikirkan bagaimana cara untuk menyatukan sahabatnya dengan pemuda yang merupakan cucu dari sahabat sang kakek, yang pernah patah hati dengan putri seorang kyai.


Zaki yang sibuk meyakinkan kembali hati, tentang apa yang saat ini tengah dia rasakan terhadap ustadzah muda yang baru beberapa minggu dikenalnya itu. "Jika aku telah yakin dengan hatiku, aku akan bertanya pada Adnan dimana alamat rumah Hana dan aku akan meminta restu kepada kedua orang tuanya secara langsung," bisik Zaki dalam hati, seraya melirik ustadzah berwajah ayu tersebut.


Sedangkan Hana, gadis itu sibuk menerka-nerka, seperti apakah keluarga Zaki. Apakah Zaki berasal dari keluarga yang suka memaksakan kehendak kepada anak-anak, ataukah pemuda tampan yang saat ini sering menguasai pikirannya itu berasal dari keluarga yang demokratis hingga Hana tak perlu khawatir akan menelan kekecewaan.


Usai jama'ah sholat maghrib, Hana dan Sarah pamit pada Adnan dan Zaki karena mereka ada jadwal rutin untuk mengajar mengaji Al-Qur'an kepada para santri putri yang bertempat di aula pondok putri.


Sedangkan Zaki dan Adnan menuju pondokan putra, karena Adnan juga ada jadwal mengajar ngaji bakda maghrib.


"Kenapa tadi enggak langsung di respon sih Bang?" Protes Adnan sambil berjalan menuju pondokan putra.


"Respon? Apanya yang di respon Nan?" Tanya Zaki yang pura-pura tidak mengetahui maksud perkataan Adnan.


"Tadi itu Bang, setangkai kembang bougenville putih yang aku berikan untuk Hana." Terang Adnan, seraya menatap laki-laki yang berjalan santai di sampingnya.


Zaki tersenyum sembari menggelengkan kepalanya perlahan, "aku rasa, ini belum saatnya Nan," balas Zaki datar.

__ADS_1


"Maaf Bang, aku enggak bermaksud promosi. Tetapi Hana itu...."


"Baik, cerdas dan cantik. Itukan yang akan kamu katakan," potong Zaki cepat, sebelum Adnan melanjutkan ucapannya.


Adnan menggeleng sambil tersenyum lebar, "berarti Bang Zaki memang mengakui, kalau Hana itu cantik kan?" Goda Adnan, "tapi sayangnya, bukan itu yang akan aku katakan Bang," lanjut Adnan, hingga membuat Zaki mengernyitkan dahi serta menghentikan langkah panjangnya.


"Apa?" Zaki menoleh kearah cucu kakek Burhan yang masih tersenyum itu.


"Cie,,, Bang Zaki udah enggak sabar ya, pengin tahu banyak hal tentang Hana? Pengin tahu aja, apa pengin tahu banget Bang?" Adnan semakin menggoda pemuda yang sudah dianggap sebagai abangnya itu.


Zaki meninju pelan lengan Adnan, "yaelah, malah ngeledekin," gerutu Zaki tapi pemuda tampan itu ikut tersenyum juga.


Dalam hati putra sulung ayah Yusuf itu mengakui, bahwa dirinya memang ingin tahu banyak hal tentang Hana. Tetapi Zaki masih ragu untuk bertanya mengenai Hana, pada pemuda di sampingnya yang merupakan sahabat baik ustadzah muda tersebut.


"Tadz, ponsel Ustadz berdering terus dari tadi," panggil Salim yang memberitahukan pada Zaki.


Zaki menoleh kearah sumber suara, dan mengangguk, "ya Kang, aku akan segera kembali ke kamar."


"Inget Nan, kamu berhutang penjelasan padaku." Zaki menatap pemuda yang masih saja tersenyum itu, "nanti malam aku akan menagihnya!" Tegas Zaki, dan hendak berlalu meninggalkan Adnan.


"Kalau malam ini, aku enggak bisa Bang." Jawaban Adnan membuat Zaki berbalik dan kembali menatap cucu kakek Burhan tersebut, Zaki mengernyit.


"Karena malam ini, istriku minta jatah." Lanjut Adnan seraya terkekeh, yang membuat Zaki tersenyum kecut.


"Assem kowe Nan,,," gerutu Zaki.


🌸🌸🌸🌸🌸 bersambung 🌸🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2