
"Bang, apa itu artinya,,,?" Delia menggantung ucapan nya, karena Zaki memotong nya dengan cepat seraya menggelengkan kepala dan menatap tajam netra gadis berhijab itu.
Delia langsung menunduk dengan air mata yang kembali mengalir, gadis cantik itu mengerti maksud dari gelengan kepala pemuda yang selama ini bersungguh-sungguh mendekati diri nya.
Sedangkan Zaki kemudian segera mengalihkan pandangan nya, dan menatap jauh ke depan. Menatap tembok rumah sakit yang bercat putih di ujung koridor, dimana satu dua orang terlihat berlalu lalang di sana.
Pemuda itu menghembus kasar nafas nya, menegakkan badan dan kemudian kembali menatap Delia yang juga tengah menatap diri nya dengan sisa air mata yang masih menggenang. "Mungkin aku akan memutuskan untuk tinggal dan menetap di pesantren, jika aku belum memiliki perusahaan Dik. Tapi kamu tahu sendiri kan, kehidupan ku seperti apa?" Tatapan Zaki begitu dalam, seolah ingin menembus ke kedalaman hati Delia.
"Bukan berarti aku menyerah dan kalah, bukan berarti pula aku seorang pecundang yang tidak bisa memperjuangkan cinta. Aku sudah melangkah sejauh ini, tapi aku harus tetap berfikir realistis bukan? Mungkin memang benar aku bisa dengan cepat menguasai ilmu membaca kitab kuning, tapi aku tidak yakin dengan kemampuan yang aku miliki jika harus menjadi pengasuh sebuah pondok pesantren." Sejenak Zaki menghentikan ucapan nya yang panjang, yang membuat air mata Delia kembali mengalir.
"Aku juga tak bisa memilih, tetap memperjuangkan diri mu dengan menetap dan mengelola pesantren atau memilih keluarga ku dengan melanjutkan bisnis yang sudah aku rintis sekaligus membantu orang tua. Karena kalian bukan pilihan,,, kalian adalah tujuan hidup ku Dik." Zaki menjeda sejenak ucapan nya, dan tatapan pemuda itu masih intens tertuju kearah putri bungsu kyai Hasanuddin tersebut.
"Tapi,,, tentu Dik Lia bisa mengerti kan, ketika aku sebagai seorang anak dihadapkan pada dua pilihan yang sangat sulit yaitu antara orang tua atau gadis nya, siapa yang harus aku pilih?" Zaki bertanya kepada Delia, agar memberikan jawaban atas keputusan yang harus dia ambil karena pemuda itu tak ingin membuat Delia kecewa dengan keputusan nya.
Mendengar pertanyaan Zaki barusan, gadis cantik berkulit putih itu menangis sesenggukan. Jelas sudah semua nya kini, bahwa Zaki takkan bisa memenuhi permintaan eyang Hasyim. Karena Delia tahu pasti, sebagai anak yang berbakti Zaki harus memilih orang tua nya dan lagi pula pemuda yang diharapkan Delia itu juga memiliki tanggung jawab pada perusahaan dan pada orang tua.
Untuk sesaat keduanya saling terdiam,,, Delia masih terisak, sedangkan Zaki berulang kali menghembuskan nafas dengan kasar. Pemuda itu seolah ingin membuang jauh beban berat yang menghimpit dada nya, dan membuat pernafasan Zaki terasa sangat sesak.
"Baiklah Dik, aku pamit." Zaki segera beranjak, "terimakasih, karena telah memberi aku kesempatan untuk bisa mengenal mu," ucap Zaki seraya mengulurkan tangan hendak bersalaman, meski Zaki tahu bahwa selama ini Delia tak pernah mau berjabat tangan dengan lelaki yang bukan mahrom nya.
Delia menyambut uluran tangan Zaki dan menjabat nya dengan erat, "maaf,,," hanya kata singkat itu yang mampu terucap dari mulut Delia, dan air mata yang masih saja mengalir dengan deras yang dapat mewakili perasaan nya saat ini.
"Assalamu'alaikum,,," ucap salam Zaki, seraya melepaskan jabat tangan nya. Santri kesayangan kyai Abdullah itu segera berlalu dari hadapan Delia, dan kembali ke ruang perawatan kyai Hasyim untuk berpamitan.
*****
Kini Zaki sudah berada di dalam mobil milik kyai Abdullah, yang dikendarai oleh kang Baharuddin. Sepanjang perjalanan pulang, Zaki hanya diam saja dengan mata yang terpejam. Hingga kang Baharuddin tidak berani menanyakan, bagaimana akhir dari perjuangan Zaki demi mendapatkan restu dari kyai Hasanuddin.
Hampir satu jam berlalu, dan kebisuan masih saja menyelimuti kabin mobil berjenis SUV tersebut. Barulah ketika Zaki membuka mata nya, dan kang Baharuddin melihat hal itu,, santri senior sekaligus salah satu pengurus pondok pesantren Nurul Ulum itu berani bertanya kepada Zaki.
"Zak, sorry. Kalau boleh tahu, tadi hasil nya gimana?" Kang Baharuddin sekilas menatap Zaki, dan kemudian segera kembali fokus ke jalan raya.
__ADS_1
Zaki menghela nafas berat, "Zaki enggak bisa melanjutkan niat Zaki Kang," balas Zaki dengan lesu.
Kang Baharuddin mengernyit, "kok bisa Zak? Kenopo? Ora mergo awakmu ora lulus tho? Lha wong, moco kitab mu yo wes sak jose?" Cecar kang Baharuddin. __Kenapa? Bukan karena kamu tidak lulus kan? Karena bacaan kitab mu sudah sangat bagus?__
Zaki menggeleng, "bukan karena itu Kang, Alhamdulillah menurut abi nya Delia Zahwa bacaan kitab ku bisa mereka terima. Tapi,,," Zaki menjeda ucapan nya, mengingat apa yang dia dengar dari kakek Hasyim hati Zaki rasanya masih nyeri.
Kang Baharuddin kembali menoleh kearah Zaki, "ha njuk mergo opo?" __Lantas karena apa?__
"Karena syarat lain yang tak bisa Zaki penuhi Kang,,, eyang dan abi nya Delia, menginginkan Zaki agar kelak dapat menggantikan kyai Hasan dan Zaki memilih mundur." Balas Zaki, yang kini menjadi sedikit lebih tenang setelah mengatakan nya pada kang Baharuddin.
Ya, Zaki butuh teman untuk mencurahkan isi hati nya yang sedang kecewa dan menurut Zaki tak ada salah nya bercerita kepada kang Baharuddin karena setidaknya, teman satu kamar nya ini lebih dapat di percaya dalam menyimpan rahasia daripada kang Bukhori.
Kang Baharuddin mengangguk-angguk, dapat mengerti alasan Zaki. "Sabar yo Zak, InsyaAllah kamu akan mendapatkan jodoh yang lebih baik dari ning Delia," hibur dan doa kang Baharuddin dengan tulus untuk Zaki.
Zaki menanggapi nya hanya dengan tersenyum tipis, belum terpikirkan sama sekali dalam benak Zaki untuk mencari gadis lain yang akan menggantikan Delia Zahwa di hati nya.
Beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai kang Baharuddin berbelok menuju gerbang komplek pesantren dan berhenti tepat di halaman kediaman kyai Abdullah.
"Wa'alaikumsalam,,," jawab kyai Abdullah, yang tergopoh-gopoh keluar begitu mendengar suara salam dari santri kinasih nya.
"Sudah pulang Nak Zaki?" Tanya kyai Abdullah dan Zaki mengangguk sopan.
"Ayo, silahkan duduk dulu," titah kyai Abdullah, seraya mendudukkan diri nya di sofa.
Zaki menoleh ke arah kang Baharuddin, dan kang Baharuddin berbisik. "Aku langsung balik ke kamar aja Zak."
"Nyuwun sewu Yai, kontak nya saya taruh di tempat biasa nggih," ucap kang Baharuddin, dan kemudian berjalan masuk untuk menyimpan kontak mobil di atas buffet jati di ruang keluarga.
Sedetik kemudian kang Baharuddin kembali muncul, "dalem teng pondok rumiyen Yai, assalamu'alaikum," pamit kang Baharuddin dengan mengangguk ta'dzim. __Saya ke pondok dulu Yai__
"Wa'alaikumsalam salam,,," balas kyai Abdullah dan Zaki bersamaan.
__ADS_1
Zaki kemudian ikut duduk di sofa, tepat di hadapan kyai Abdullah. "Bagaimana Nak Zaki? Semuanya lancar bukan? Karena banyak yang mendoakan Nak Zaki,,, kakek nenek, opa oma, ayah dan bunda nya nak Zaki. Juga om-om dan saudara-saudara sepupu nak Zaki yang baik-baik itu, mereka mendoakan Nak Zaki dengan tulus." Kyai Abdullah menatap pemuda yang merupakan santri istimewa nya tersebut.
Zaki mencoba untuk tersenyum, "Alhamdulillah Abah, untuk ujian kitab nya Zaki dinyatakan lulus," balas Zaki.
"Alhamdulillah,,," ucap syukur kyai Abdullah, yang ikut merasa lega mendengar keberhasilan cucu dari sahabat kakek Zarkasyi tersebut.
"Tapi Bah,,," Zaki menjeda ucapan nya, hingga membuat kyai kharismatik itu mengernyit dalam.
"Ada apa Nak? Ceritakan lah sama Abah, barangkali Abah bisa membantu?"
Zaki kemudian menceritakan apa yang diminta oleh kyai Hasyim, hingga keputusan yang telah dia ambil.
"Apa Nak Zaki tidak ingin memikirkannya terlebih dahulu dan membicarakan pada orang tua Nak Zaki sebelum mengambil keputusan? Atau, Nak Zaki sholat istikharah dahulu untuk meminta petunjuk sama Allah?" Kyai Abdullah menatap pemuda tampan di hadapan nya dengan intens.
Zaki menggeleng pasti, "tidak Abah, Zaki telah yakin dengan keputusan yang Zaki ambil."
Kyai Abdullah mengangguk paham, "baiklah Nak Zaki, Abah hanya bisa mendukung apa pun keputusan Nak Zaki," tutur ayah dari gus Umar tersebut dengan bijak.
"Lantas, apa langkah Nak Zaki selanjutnya? Apakah Nak Zaki akan langsung kembali ke negara Nak Zaki?"
Zaki menggeleng, "belum Abah, ada beberapa hadist yang belum selesai Zaki pelajari dengan kak Umar dan Zaki akan menyelesaikan nya. Bukankah dari awal, Abah sudah mengingatkan agar Zaki meluruskan niat untuk belajar di pesantren hanya karena Allah Ta'ala semata? InsyaAllah, kegagalan Zaki dalam menggapai cinta tidak akan mempengaruhi niat Zaki untuk terus belajar agama demi cita-cita mulia." Balas Zaki dengan penuh keyakinan, dan senyum penuh semangat mulai terbit di sudut bibir nya.
πΈπΈπΈπΈπΈ bersambung πΈπΈπΈπΈπΈ
I'm so sorry bestie,,, telat up dan cuma satu bab ππ
Bocil lagi kurang sehat, kayak nya gara-gara mikirin bang Zaki deh,,, gak rela, karena ang Zaki nya di PHP ππ€
Tenang bang, nanti pasti dapet mbak "Ning" kok.
Entah "Ning" yang mana?? Karena "Ning" kan buanyak yak ππ
__ADS_1