Finding Love

Finding Love
Ladies First


__ADS_3

Malam hari, tepatnya bakda jama'ah sholat isya', Adnan mengajak Zaki untuk ke rumah sang kakek seperti yang diminta oleh kakek Burhan tadi siang karena kebetulan malam ini Zaki belum mulai mengajar ngaji di kelas Diniyah.


Mereka berdua berjalan mengiringi langkah sahabat kakek Ilyas, yang saat ini mengelola yayasan pendidikan dan pesantren tersebut.


Sedangkan Sarah yang tadi tidak ikut jama'ah sholat isya' karena tiba-tiba mendapatkan tamu bulanan, kini tengah menunggu Hana di dalam kamarnya. Malam ini, sahabat baik Adnan itu juga diminta untuk datang ke kediaman kakek Burhan.


Setibanya di rumah yang cukup luas itu, nenek Sulis nampak tengah menyiapkan makan malam dengan dibantu oleh asisten rumah tangganya.


"Langsung masuk saja Kek, cucu-cucunya diajak sekalian." Pinta neneknya Adnan itu, begitu melihat sang suami memasuki rumah yang diikuti oleh Adnan dan Zaki.


"Iya, assalamu'alaikum." Balas kakek Burhan dengan singkat dan kemudian mengucap salam.


"Wa'alaikumsalam," balas nenek Sulis seraya tersenyum, karena baru menyadari kesalahannya yang sudah buru-buru menyuruh sang suami untuk mengajak masuk Adnan dan Zaki, padahal mereka baru saja menginjakkan kaki di depan pintu.


"Ayo, kita langsung ke ruang tengah," ajak laki-laki berusia senja tersebut, yang diikuti oleh Adnan dan Zaki dengan patuh.


Kedua pemuda itu berjalan mengekor kakek Burhan masuk kedalam menuju ruang tengah, "duduk Nak Zaki," pinta sahabat kakek Ilyas, seraya menepuk sofa di sebelahnya.


Sedangkan nenek Sulis kembali ke dapur, untuk mengambil minuman yang telah disiapkan oleh mbok Jum.


Zaki kemudian duduk tepat di samping kakek Burhan, yang diikuti oleh Adnan yang duduk di sebelah Zaki. "Wah, menu makan malamnya lengkap sekali nek?" Seru Adnan sengaja mengeraskan suaranya, agar sang nenek yang berada di dapur bisa mendengar.


"Iya, nenek sengaja masak banyak karena kan Nak Zaki dan nak Hana kita undang untuk makan malam bersama," balas nenek Sulis, yang juga mengeraskan suaranya.


Zaki yang bisa ikut mendengar perkataan istrinya kakek Burhan itu mengernyitkan kening, "jadi Ustadzah Hana juga di undang?" Bisik Zaki yang bertanya pada Adnan.


Adnan mengangguk seraya tersenyum penuh arti.


"Kok istrimu belum datang Nang?" Tanya nenek Sulis yang sudah keluar lagi sambil membawa baki, pada cucunya itu.


"Paling bentar lagi Nek," balas Adnan, seraya mengambil baki dari tangan sang nenek dan meletakkan baki berisi teh hangat tersebut di atas meja yang telah penuh dengan menu makan malam.


"Assalamu'alaikum," suara Sarah dan Hana yang mengucap salam terdengar memasuki rumah, beberapa detik kemudian mereka berdua sudah berada di ruang tengah.


"Duduk di sini Nduk," pinta nenek Sulis pada Sarah seraya menepuk bangku kosong di sebelahnya, dan istri Adnan itu mengangguk patuh.


"Ayo Nak Hana, silahkan duduk," neneknya Adnan itu juga meminta Hana untuk segera duduk, dan Hana kemudian duduk di samping Sarah.


Sejenak suasana terasa canggung, baik bagi Zaki maupun untuk Hana. Keduanya sama-sama terdiam, dan merasa sungkan untuk saling menatap.


"Kita makan malam dulu saja yuk," ajak nenek Sulis, seraya mengambil piring.


Sarah dengan sigap langsung mengisi piring kosong nenek dari sang suami itu dengan nasi putih, "Nenek mau lauk apa?" Tanya Sarah.


"Ini untuk Kakek dulu, biar nenek yang ambilkan Nduk. Kamu layani suamimu dulu," titah nenek Sulis, dan Sarah mengangguk.


Sarah kemudian mengambilkan makanan untuk sang suami, "Bang Zaki, mau Sarah ambilkan sekalian?" Tanya Sarah seraya menatap Zaki.


"Jangan Dik, Bang Zaki biar diambilkan sama Hana saja," ucap Adnan, yang membuat Zaki dan Hana saling pandang.


Sesaat netra keduanya saling bertaut, tapi sedetik kemudian Hana segera membuang pandangan kearah lain. Sedangkan Zaki, pemuda tampan itu masih mencuri-curi pandang pada sahabat Adnan tersebut.

__ADS_1


Kakek Burhan dan sang istri terkekeh, "ya belum boleh tho Nang, wong mereka kan belum menjadi suami istri," tutur kakek Burhan.


"Uhuk,,," mendengar penuturan kakek Burhan, Hana tersedak air liurnya sendiri.


Sarah buru-buru meletakkan piring yang baru dia isi nasi putih dan kemudian mengambilkan air minum untuk Hana, gadis cantik itu pun segera meminum air pemberian Sarah hingga tandas.


"Hah, habis? Bisa enggak jadi makan kamu, karena tuh perut udah penuh terisi air." Ucap Sarah seraya terkekeh kecil, Hana tersenyum malu.


"Ayo, ayo, silahkan Nak Zaki ambil makanan sendiri," titah kakek Burhan.


Putra sulung ayah Yusuf tersebut mengangguk patuh, dan kemudian segera mengambil nasi dan lauk secukupnya.


"Ambil sendiri ya Han," ucap Sarah kemudian, seraya kembali mengambil lauk yang tadi sempat tertunda kerena adanya insiden Hana tersedak.


Hana mengangguk dan dengan perasaan sungkan, ustadzah muda yang sangat cantik itu segera mengambil nasi dan lauk. Hana kemudian memakan makanan nya dengan sedikit kesulitan, entah mengapa dirinya merasa grogi saat ini.


Padahal selama ini, tak ada kamus grogi dalam hidup Hana yang penuh percaya diri karena memang gadis itu pandai membawa diri dalam setiap kesempatan.


"Kenapa Han?" Tanya Sarah tanpa memelankan suaranya, yang melihat sahabatnya itu mengunyah makanan dengan sangat lama.


Zaki yang sedari tadi makan sambil memperhatikan Hana melalui ekor matanya, tersenyum di kulum. "Ustadzah Hana itu wajahnya ayu," bisik Zaki yang mengakui kecantikan Hana dalam hati.


"Demam panggung ya Han?" Ledek Adnan, yang membuat Hana semakin salah tingkah.


Sedangkan kakek Burhan terkekeh pelan, "anak perawan kalau sedang salah tingkah seperti itu, biasanya menyimpan perasaan dengan seseorang Nang," timpal kakeknya Adnan tersebut, yang membuat Hana kembali tersedak.


Zaki langsung memandang Hana, yang kini wajahnya telah memerah. Sensasi panas di tenggorokan dan nyeri di dada, yang membuat wajah putih gadis itu merona.


"Silahkan dilanjutkan makannya Nak Hana," titah nenek Sulis.


"kalian ini lho, kok seneng banget ngeledekin Nak Hana." Protes istri kakek Burhan itu, seraya menatap sang suami dan sang cucu bergantian.


"Maaf Han, aku kan hanya bercanda." Ucap Adnan, seraya tersenyum.


"Iya Nak Hana, kakek juga bercanda." Tutur kakek Burhan, "tapi kalau misal beneran berjodoh, ya Alhamdulillah," lanjutnya seraya tersenyum lebar.


Hana hanya membalas dengan senyuman, begitu pun dengan Zaki yang merasa dijodohkan dengan Hana oleh kakek dan cucu tersebut.


Pemuda berkulit putih bersih itu tertawa dalam hati, "pengalaman mengajarkanku untuk mendekati dahulu orang tua, jika menginginkan anaknya. Sedangkan saat ini, aku sama sekali belum mengenal gadis itu. Darimana asalnya dan siapa orang tuanya?"


"Aku enggak mau terjebak dalam kesalahan yang sama, memupuk perasaan pada gadis yang salah. Bukan hanya rasa sakit, tapi juga menyia-nyiakan waktu dan membuang energi." Zaki bermonolog dalam diam, seraya memperhatikan Hana melalui ekor matanya.


Sedangkan gadis yang diperhatikan oleh Zaki itu, menikmati makan malamnya dengan khusyuk.


Acara makan malam yang diwarnai dengan drama Hana tersedak itu pun usai, dan Adnan kemudian mengajak Zaki serta Hana untuk menuju halaman depan kediaman sang kakek.


Di Sana terdapat bale bambu yang sangat lebar, dan berada tepat di bawah pohon mangga yang saat ini sedang berbuah dengan lebat.


Mereka berempat duduk dibawah atap langit langsung yang malam ini terlihat sangat indah, langit gelap yang bertabur bintang dengan bulan sabit yang menggantung di atas cakrawala menambah keindahan malam.


Adnan mengajak Zaki dan sahabatnya itu untuk sharing bareng, dan membicarakan metode pengajaran apa yang tepat untuk para santri.

__ADS_1


Masing-masing menyampaikan ide sesuai dengan wawasan serta pengalaman yang mereka dapatkan, Hana dengan pengetahuan akademik yang diperoleh dari bangku kuliah, sedangkan Zaki berdasarkan pengalamannya selama satu tahun mondok dan belajar privat pada gus Umar.


Ide-ide brilliant dari Hana, membuat Zaki mengangguk-anggukkan kepala seraya tersenyum. Begitu pun dengan gagasan cemerlang Zaki, membuat ustadzah muda itu memberanikan diri berlama-lama menatap Zaki.


"Ehm,,, hapus tuh, air liur kamu," ucap Sarah seraya menyenggol Hana, saking fokusnya gadis itu memperhatikan Zaki yang sedang memaparkan gagasannya.


Sontak Hana langsung menunduk malu, sedangkan Zaki tersenyum simpul.


"Iseng banget sih Dik," protes Adnan seraya terkekeh yang diikuti oleh Sarah yang juga ikut tertawa, menertawakan sahabatnya yang tersipu malu.


"Awas ya kalian berdua, akan aku balas nanti!" Ancam Hana tanpa suara dan hanya mulutnya saja yang bergerak-gerak dengan lucu, hingga membuat Zaki yang kebetulan tengah melihat kearah Hana ikut tertawa tapi tanpa suara.


Setelah tawa Adnan dan Sarah reda, mereka kemudian melanjutkan kembali diskusi yang sempat tertunda tersebut.


Angin malam di sekitar kaki gunung Merbabu yang dingin, membuat Zaki yang hanya mengenakan baju koko berbahan katun bersidekap untuk menghangatkan tubuhnya.


"Bentar ya Bang, aku ambilkan jaket di dalam," ucap Adnan seraya beranjak.


"Sama jaketku sekalian Mas, buat Hana," pinta Sarah.


"Jakete kamu taruh dimana Dik?" Tanya Adnan, yang sudah berjalan untuk masuk kedalam rumah sang kakek.


"Duh, tadi tak taruh dimana yo mas. Aku lali je," balas Sarah.


"Cari sendiri wae Dik, wong kamu lupa gitu kok," pinta Adnan.


"Bentar yo Han, tak ambilke jaket sek," pamit Sarah, dan segera berlalu untuk menyusul sang suami. Menyisakan Zaki dan Hana, yang sama-sama terdiam dengan kedua tangan bersidekap di dada.


"Dzah...."


"Tadz...."


Mereka berdua saling menyapa secara bersamaan, sejenak saling tatap dan kemudian tertawa bersama.


"Ustadz Zaki dulu," pinta Hana.


Zaki menggeleng, "Ustadzah Hana dulu."


"Enggak, Ustadz dulu," kekeuh Hana.


"No, ladies first," Zaki tersenyum seraya menatap ustadzah berwajah ayu yang duduk tepat di hadapannya itu dengan intens, hingga membuat Hana terhipnotis.


🌸🌸🌸🌸🌸 bersambung 🌸🌸🌸🌸🌸


Bab ini, aku up dari kemarin.. dan karena gak lolos review juga hingga pagi ini, akhirnya aku kasih iklan novel lagi aja ya bestie πŸ™


So, jika kalian gambut nunggu Bang Zaki gak up.. kalian bisa mampir dimari :


Judul : KAGET NIKAH


Author : Alya Lii

__ADS_1



__ADS_2