Finding Love

Finding Love
Secepat Itukah?


__ADS_3

Pagi ini, Zaki telah bersiap untuk menghadiri resepsi pernikahan putri dari mantan besan kyai pengasuh pondok pesantren Nurul Ulum, kyai Abdullah yaitu kyai Hasanuddin.


Zaki beserta kang Baharuddin, yang akan menyetir kendaraan keluarga kyai Abdullah telah berada di teras kediaman sang kyai. Mereka berdua menunggu kyai Abdullah dan gus Umar beserta para istri, sambil duduk santai di kursi teras.


Kedua santri pondok pesantren itu terlihat sangat rapi, Zaki mengenakan hem batik lengan panjang yang kemarin dipilihnya dan kembaran dengan baju batik yang akan dikenakan kyai Abdullah serta gus Umar.


Sedangkan seniornya, yaitu kang Baharuddin, pemuda itu mengenakan hem batik baru yang kemarin dibelikan oleh Zaki.


Sengaja kemarin Zaki membeli tiga hem batik dengan motif yang berbeda untuk diberikan kepada ketiga senior teman sekamar Zaki, yang selama ini telah banyak membantu putra sulung ayah Yusuf tersebut.


Lima menit menunggu, nampak kyai Abdullah yang pagi ini mengenakan hem batik yang sama persis dengan milik Zaki itu baru saja keluar dari ndalem, yang diikuti oleh sang istri. Nyai Robi'ah mengenakan abaya yang dipadukan dengan salah satu hijab cantik, yang kemarin dibelikan oleh santri kinasih kyai Abdullah itu.


Ya, Zaki tidak hanya membelikan umi satu hijab tetapi ada beberapa potong hijab yang kemarin Zaki pilihkan untuk nyai Robi'ah, begitu pun untuk Laila dan juga Aida.


Kyai Abdullah tersenyum kearah Zaki, "terimakasih lho Nak Zaki. Batiknya bagus, abah suka," tutur kyai kharismatik itu dengan tulus.


Zaki membalasnya dengan anggukan kepala, "Alhamdulillah kalau Abah suka."


"Wah, Abah keren lho pakai batik yang dibelikan Dik Zaki itu Bah," ucap gus Umar, yang baru saja bergabung bersama sang istri. Aida memakai abaya yang warnanya senada dengan abaya yang dikenakan nyai Robi'ah, dan Aida juga mengenakan salah satu hijab cantik yang kemarin dibelikan oleh Zaki.


"Iya Gus, Abah juga merasa nampak lebih muda." Balas kyai Abdullah seraya terkekeh, yang diikuti oleh gus Umar dan sang umi.


"Iyo lho Gus, Abah ket mau ngoco terus," timpal nyai Robi'ah, yang membuat kyai Abdullah semakin tergelak. __Benar Gus, Abah dari tadi bercermin terus__


Zaki pun tersenyum lega menyaksikan ayah dan anak itu senang, dengan hadiah baju yang diberikannya.


"Gus, awak mu jemput kakek Zar sek tho?" Tanya kyai Abdullah seraya menatap putra sulungnya, yang pagi ini wajah suami Aida itu terlihat sangat segar.


"Mboten Bah, kakek Zar sama nenek langsung ke sana di atar sama lek Mul," balas gus Umar sambil menggelengkan kepala.


"Oh," kyai kharismatik itu mengangguk-angguk, "yo wis, ayo ndang mangkat," titahnya, seraya menggandeng tangan sang istri menuju mobil yang telah disiapkan oleh kang Baharuddin. __ya sudah, ayo berangkat sekarang__


Gus Umar pun menggandeng tangan sang istri dan mendahului langkah sang abah dan umi, karena gus Umar dan istrinya akan naik kedalam mobil terlebih dahulu dan duduk di jok paling belakang.

__ADS_1


Setelah putra sulung dan sang menantu naik, barulah kyai Abdullah dan sang istri naik kedalam mobil dan duduk di jok kedua.


Sedangkan Zaki, duduk di depan di samping kemudi menemani santri senior yang selalu setia mengantarkan kemanapun keluarga sang kyai bepergian.


Setelah semuanya duduk dengan nyaman, kang Baharuddin mulai melajukan kendaraannya melandas di jalanan beraspal menuju daerah pantura dimana resepsi pernikahan Delia Zahwa dilaksanakan tepat pukul sepuluh nanti.


Sepanjang perjalanan, mereka bercengkrama dengan santai layaknya dengan sahabat sendiri. Membicarakan banyak hal mengenai koperasi pondok, kantin sekolah dan pembangunan toserba yang sudah mulai berjalan.


Kyai Abdullah yang lebih banyak mendominasi obrolan, karena ayah gus Umar itu ingin menggali lebih banyak pengetahuan serta rencana yang sudah dibuat oleh Zaki untuk kemajuan pondok pesantren serta yayasan pendidikan miliknya, sebelum santri kinasih itu meninggalkan pesantren beberapa hari lagi.


Hingga tanpa terasa, setelah sekitar satu jam menempuh perjalanan dan membelah lalu lintas yang cukup padat di hari libur seperti ini, mobil yang dikendarai kang Baharuddin memasuki komplek pesantren keluarga kyai Hasanuddin.


Seorang juru parkir nampak mengarahkan kepada kang Baharuddin untuk memarkirkan mobilnya di tempat yang telah tersedia untuk tamu undangan, yaitu di sebelah kiri bangunan masjid. Sedangkan di sebelah kanan tadi, terlihat tulisan yang cukup besar yang menandakan bahwa area parkir tersebut khusus untuk keluarga besan.


Setelah mobil terparkir dengan sempurna, kyai Abdullah segera turun yang diikuti oleh sang istri. Yang kemudian di susul oleh gus Umar dan istrinya.


Sementara Zaki, pemuda itu sejenak memejamkan matanya sembari menata hati sebelum kemudian turun dari mobil dengan membaca Basmallah dalam hati. "Bismillahirrahmanirrahim."


Pemuda itu tersenyum kepada gus Umar, yang menepuk-nepuk pundaknya.


Zaki mengangguk pasti, "harus siap!" Balas pemuda itu dengan penuh keyakinan.


Mereka semua kemudian berjalan mengikuti langkah kyai Abdullah menuju tempat resepsi, Zaki berjalan paling belakang bersama kang Baharuddin sambil membawa kado yang kemarin dia beli bersama pasangan suami istri yang saat ini berjalan tepat di depannya.


Kyai Abdullah nampak langsung menuju pelaminan, dimana kedua mempelai bersama kedua orang tua mereka sedang menyalami para tamu undangan yang sudah mulai berdatangan.


Mereka harus berdiri dan mengantri sebentar, sebelum akhirnya tiba giliran mereka untuk maju.


Nampak kyai Abdullah memeluk mantan besan laki-lakinya, begitu pun dengan nyai Robi'ah yang berpelukan dengan uminya almarhumah ning Zahra.


Setelah kyai Abdullah dan sang istri bergeser menyalami kedua mempelai, gus Umar kemudian maju dan menyalami mantan ayah mertua.


Kyai Hasanuddin kemudian memeluk gus Umar sekilas, "terimakasih Nak Umar atas kedatangannya," tutur kyai Hasan dengan tulus, yang dibalas oleh gus Umar dengan anggukan kepala seraya tersenyum.

__ADS_1


Sedangkan Aida yang menyalami mantan ibu mertua gus Umar, istri cantik gus Umar itu mendapatkan pelukan hangat dari istri kyai Hasanuddin seraya membisikkan sesuatu. "Semoga rumah tangga kalian bahagia selalu ya Nak," do'a wanita anggun nan lembut itu, dengan penuh kasih.


Aida mengangguk, "aamiin,, terimakasih Umi," balas Aida mengaminkan doa dari mantan ibu mertua sang suami.


Kini tiba giliran Zaki, yang menyalami kedua orang tua Delia Zahwa. Pemuda itu mencium punggung tangan keduanya secara bergantian dengan takdzim, tanpa kata-kata.


Kyai Hasanuddin pun menjabat tangan Zaki dengan erat, dan menepuk bahu kokoh pemuda yang pernah menginginkan sang putri dengan lembut. Kyai paruh baya itu pun kehilangan kata-kata, hanya tatapan matanya yang menyiratkan penyesalan dan permohonan maaf kepada Zaki.


Sedangkan uminya Delia Zahwa, menepuk punggung tangan Zaki dengan netra berkaca-kaca. Zaki hanya membalasnya dengan tersenyum hangat, tak ada dendam dan tak pula terlihat ada kesedihan dari sorot mata pemuda tampan itu. Zaki sudah mengikhlaskan semua, dan tak ingin lagi mengingat hal tersebut.


Zaki kemudian segera menyusul gus Umar dan Aida, yang menyalami kedua mempelai. Setelah Aida memeluk mempelai wanita, istri gus Umar itu menyampaikan amanat dari Laila.


"Maaf Ning Zahwa, Ning Laila tidak bisa hadir karena sedang repot. Dia menitipkan kado ini untuk Ning Zahwa," ucap istri gus Umar itu tanpa memelankan suaranya, hingga mempelai laki-laki yang sedang bersalaman dengan gus Umar bisa mendengar dan langsung menoleh kearah Aida seraya mengernyitkan dahi.


Aida pura-pura tidak tahu, dan kemudian istri cantik gus Umar itu memberikan ucapan selamat kepada mempelai laki-laki yang sudah dikenalnya itu seraya tersenyum. "Selamat nggih, Gus Wafa."


Sang mempelai laki-laki mengangguk, tapi masih dengan menyimpan tanya dalam hati. Entah apa yang dipikirkan oleh suami dari Delia Zahwa yang bernama gus Wafa tersebut.


Sementara Zaki yang kini telah berada tepat dihadapan gadis yang dulu sangat diincarnya, mengulas senyum hangat. Zaki menangkup kedua tangan di depan dada, "selamat menempuh hidup baru Ning, semoga bahagia selalu," ucap putra sulung ayah Yusuf itu dengan tulus, dan kemudian memberikan kadonya kepada Delia Zahwa.


Sang mempelai wanita menerima kado dari Zaki dengan tangan gemetar, dan netra Delia Zahwa nampak berkaca-kaca. Pengantin baru itu nampak ingin mengatakan sesuatu, namun tak ada suara yang mampu terucap dari bibir merahnya yang juga terlihat bergetar.


Zaki memutuskan untuk segera berlalu, sebelum antrian semakin panjang dan mengular karena banyaknya tamu undangan. Namun sebelum pergi, pemuda gagah itu sempat mengatakan sesuatu dengan lirih. "Jangan gara-gara ini, persahabatan kamu sama dik Fira jadi putus. Anggap saja, diantara kita tak pernah terjadi apa-apa karena aku sudah ikhlas dan melupakan semuanya."


Putra sulung ayah Yusuf itu segera melanjutkan menyalami mempelai laki-laki, sedangkan Delia Zahwa yang mendengar perkataan Zaki barusan langsung menitikkan air mata. "Secepat itukah?" Gumam Delia dalam hati.


🌸🌸🌸🌸🌸 bersambung 🌸🌸🌸🌸🌸


Harus cepat dung Ning, karena Ning yang lain sudah menunggu πŸ˜„πŸ˜„


Yuk bestie,,, sambil nunggu bang Zaki up kembali, mampir di novel keren ini yah :


MERTUAKU KANG ATUR

__ADS_1


Karya. Yuthika Sarah



__ADS_2