
Zaki kini telah berada di ruang tamu kediaman kyai Hasanuddin, pemuda tampan itu duduk seorang diri setelah dipersilahkan masuk oleh Delia tadi. Sedangkan putri bungsu kyai Hasan, langsung kembali masuk kedalam untuk memanggil abi dan umi nya.
Setelah beberapa saat menunggu, kyai Hasanuddin muncul dari ruang tengah beserta sang istri dan juga Delia Zahwa yang membawa minuman untuk Zaki.
Zaki langsung berdiri dan mengangguk hormat seraya tersenyum kepada abi dan umi nya Delia. "Assalamu'alaikum Abi, Umi," sapa Zaki dengan penuh kesopanan dan kemudian mengulurkan tangan nya hendak menyalami kyai Hasan.
"Wa'alaikumsalam,,," balas kyai Hasan dan sang istri, seraya menyambut uluran tangan Zaki dan putra sulung ayah Yusuf itu mencium punggung tangan ayah gadis cantik pujaan hati nya dengan takdzim.
Zaki kemudian menyalami wanita paruh baya yang masih terlihat cantik, dengan tatapan mata nya yang meneduhkan itu. "Nak Zaki apa kabar?" Tanya umi nya Delia dengan lembut.
"Alhamdulillah, baik Umi," balas Zaki seraya tersenyum.
"Silahkan duduk Nak Zaki," titah wanita anggun itu, dan Zaki kemudian mendudukkan diri di tempat nya semula.
Delia atau ning Zahwa kemudian menyimpan dua gelas teh hangat ke atas meja, tepat di hadapan sang abi dan juga Zaki. "Silahkan diminum Bang, hanya ada teh hangat," ucap Delia seraya melirik Zaki, hingga membuat dada Zaki berdebar kencang.
"Duduk sini Ning," titah sang umi seraya menepuk bangku kosong di sebelah nya, dan bungsu keluarga kyai Hasanuddin itu menuruti titah sang umi.
Sejenak, keheningan menyapa ruang tamu kediaman orang tua Delia tersebut. Kyai Hasanuddin nampak memperhatikan Zaki dengan seksama, hingga membuat putra sulung ayah Yusuf itu merasa berdebar. Ketegangan itu masih terus berlanjut hingga beberapa saat lama nya, karena diantara mereka berempat belum juga ada yang membuka suara.
Hingga Zaki kemudian memberanikan diri untuk menanyakan, kenapa diri nya di panggil padahal batas waktu yang diberikan oleh kyai Hasanuddin masih tersisa dua minggu lagi. "Maaf Abi,,, jika diperkenankan Zaki bertanya, ada apa kira nya Abi menyuruh Zaki untuk menemui Abi?"
Kyai Hasanuddin mengangguk-angguk, "iya Nak Zaki, Abi tahu bahwa Nak Zaki masih memiliki sisa waktu dua minggu lagi. Tapi ada hal yang mendesak, hingga Abi memanggil Nak Zaki sekarang." Kyai Hasan menarik nafas dengan dalam, dan kemudian menghembus nya perlahan.
"Ning Zahwa pasti sudah mengatakan pada Nak Zaki bahwa saat ini eyang Hasyim sedang di rawat di rumah sakit, dan beliau meminta agar pernikahan Ning Zahwa di percepat." Kyai Hasan menatap Zaki dengan intens, sedangkan Zaki mengernyitkan kening nya. Santri kinasih kyai Abdullah itu belum dapat menangkap, kemana arah pembicaraan ayah nya Delia tersebut.
"Abi masih tetap berharap, Putri bungsu Abi berjodoh dengan laki-laki yang di sukai nya dan untuk itulah Abi memanggil Nak Zaki kemari. Karena Abi ingin menepati apa yang telah Abi ucapkan setahun yang lalu, yaitu akan merestui kalian jika Nak Zaki dapat memenuhi persyaratan yang Abi ajukan waktu itu." Terang kyai Hasanuddin, yang menjawab keingintahuan Zaki.
Sekilas Zaki melirik gadis yang duduk dengan tidak tenang seraya menundukkan kepala di samping sang umi, Zaki menghela nafas dengan dalam dan kemudian membuka suara. "InsyaAllah, Zaki sudah siap jika Abi ingin mengetes Zaki," ucap Zaki dengan penuh keyakinan.
Kyai Hasanuddin kembali mengangguk-angguk, "baik Nak Zaki, tapi tidak di sini. Kita ke rumah sakit sekarang, karena eyang yang akan menguji Nak Zaki," pungkas kyai Hasanuddin seraya beranjak, yang diikuti oleh sang istri.
__ADS_1
Sedangkan Zaki masih terdiam di tempat nya seraya menatap Delia yang juga masih duduk di sofa. "Apa Bang Zaki sudah benar-benar siap?" Tanya Delia dengan tatapan penuh kekhawatiran.
Zaki mengangguk pasti, "InsyaAllah Dik, Bang Zaki siap lahir dan batin." Tegas Zaki dengan yakin.
"Ning, ayo,," ajak sang umi, dan mereka berdua segera beranjak menyusul kyai Hasan dan sang istri yang sudah terlebih dahulu keluar.
Mereka pergi ke rumah sakit dengan mengendarai kendaraan yang berbeda. Zaki tetap diantarkan oleh kang Baharuddin, sedangkan keluarga kyai Hasan menggunakan kendaraan mereka sendiri.
"Gimana Zak, berhasil?" Tanya kang Baharuddin, sesaat setelah kendaraan yang di bawa nya melandas di jalanan beraspal dengan lalu lintas yang cukup ramai tersebut.
Zaki menggeleng pelan, "belum kang, nanti di rumah sakit eyang yang akan menguji Zaki langsung," balas pemuda berkulit putih bersih itu.
Kang Baharuddin mengangguk-angguk, "semoga saja dimudahkan jalan mu yo Zak, soale setahuku eyang nya almarhumah ning Zahra itu priyayine kolot. Kamu nanti jangan sampai salah lho Zak," doa kang Baharuddin, seraya mengingatkan Zaki.
Zaki tersenyum tipis, "InsyaAllah kang, mohon doa nya ya?"
Tak ada lagi obrolan diantara mereka berdua, masing-masing sibuk dengan pikiran nya sendiri. Kang Baharuddin yang fokus dengan kemudi nya, sedangkan Zaki sibuk menata hati dan pikiran.
Zaki mengikuti langkah keluarga kyai Hasanuddin menuju ruang perawatan kyai Hasyim, yang berada di ruangan VVIP di lantai tiga.
Kedatangan mereka di sambut oleh eyang putri, beserta seorang putri nya, yaitu adik dari kyai Hasan yang ikut menemani kedua orang tua nya menginap di rumah sakit.
Setelah saling menyalami, Delia dan sang umi duduk di sofa bersama eyang putri dan juga bibi nya. Zaki duduk di sebuah kursi, yang berada tepat di samping ranjang pasien di sisi sebelah kiri. Sedangkan kyai Hasanuddin, duduk di sisi ranjang di sebelah kanan.
Eyang Hasyim berada di atas ranjang dengan posisi setengah duduk, dan kondisi kyai sepuh itu sudah mulai membaik. Wajah keriput nya nampak lebih segar di banding beberapa hari yang lalu, ketika baru di bawa ke rumah sakit.
"Eyang apa kabar?" Tanya Zaki, seraya mengelus lengan kakek tua itu.
"Alhamdulillah Nak Zaki, sudah lumayan enakan," balas kyai Hasyim seraya tersenyum hangat.
"Nak Zaki apa sudah siap?" Tanya kyai sepuh yang langsung pada intinya, dengan tatapan menyelidik pada pemuda yang ingin menikahi cucu nya tersebut.
__ADS_1
Zaki mengangguk pasti, "InsyaAllah Zaki siap Eyang," balas Zaki dengan mantab.
Kyai Hasanuddin kemudian menyodorkan sebuah kitab yang baru di ambil nya dari atas nakas, kitab yang setiap hari di kaji oleh eyang kakung nya Delia selama berada di rumah sakit.
Zaki menerima nya dengan senyuman yang tersungging di bibir, pemuda berpostur gagah itu sangat yakin bahwa usaha nya selama ini tidak akan sia-sia karena Zaki tahu persis kitab yang saat ini sudah berada dalam genggaman tangan nya.
Kitab Tafsir Jalalain, yaitu kitab yang dikarang oleh dua orang yang sama-sama memiliki nama Jalaluddin, yaitu Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaludin As-Suyuthi yang ditulis pada rentang tahun 1459 hingga 1505.
Ya, Tafsir Al-Qur’an menjadi salah satu pokok bahasan yang mesti dipahami oleh para santri. Karena tak cukup bagi seorang santri menguasai cara baca yang benar dengan ilmu tajwid atau terjemahannya saja, seorang santri sebaiknya juga mempelajari Asbabun Nuzul atau sebab-sebab turun nya Al-Qur'an dan makna kata dalam sebuah ayat.
Zaki mulai membaca dengan khusyuk, kata-perkata pemuda itu ucapkan dengan fasih lengkap dengan makna nya.
Dua kyai, ayah dan anak itu memperhatikan dengan seksama. Sedangkan di sofa, Delia Zahwa mendengarkan dengan hati berdebar.
"Cukup Nak Zaki," kyai Hasyim menghentikan bacaan Zaki, ketika putra sulung ayah Yusuf itu telah menyelesaikan satu lembar bacaan kitab tafsir tersebut.
Zaki memberanikan diri menatap kyai sepuh itu dan berharap cemas, "maaf Eyang, apakah bacaan Zaki tadi ada yang keliru?" Tanya Zaki dengan suara tercekat.
Kyai Hasyim menggeleng, "semua nya benar Nak Zaki, dan bacaan Nak Zaki sangat bagus, lancar dan juga cermat dalam memaknai," balas kyai Hasyim, yang membuat Zaki tersenyum lega.
"Apakah itu artinya, Zaki lulus ujian?" Zaki menatap eyang Hasyim dan kyai Hasanuddin bergantian.
Kedua orang tua itu saling pandang,,,
🌸🌸🌸🌸🌸 bersambung 🌸🌸🌸🌸🌸
Sambil nunggu bagaimana jawaban abi nya Delia Zahwa,,,
Yuk mampir di novel yang kece punya temen ku,, PELABUHAN TERAKHIRKU. Karya, kak Melisa 😍
__ADS_1