
Kyai Hasanuddin mengangguk sedangkan kyai Hasyim menggeleng, hingga membuat Zaki mengernyitkan kening nya dengan dalam merasa kebingungan.
"Bagaimana Abi? Bagaimana Eyang?" Kembali Zaki bertanya, kepada kedua orang tua yang berbeda generasi itu.
"Kamu lulus ujian dari Eyang Nak, karena bacaan kamu sangat bagus. Abi tahu, hanya santri cerdas yang dapat menguasai ilmu nahwu dan shorof dalam waktu yang cukup singkat dan langsung dapat membaca serta memaknai nya dengan sangat baik." Tutur kyai Hasanuddin, seraya menatap Zaki dengan tersenyum hangat.
Zaki tersenyum lega.
"Tapi, ada satu hal yang ingin kami minta. Apakah Nak Zaki bisa memenuhi nya?" Kyai Hasyim menatap Zaki dengan intens, hingga membuat pemuda itu kembali cemas.
"Apa itu Eyang?" Zaki terlihat sangat khawatir.
Sedangkan Delia Zahwa, yang tadi mendengar bahwa abi nya memuji bacaan kitab Zaki dibuat tersenyum lebar. Tapi kini, wajah cantik itu diliputi mendung hitam yang bergelayut dan siap menumpahkan air hujan yang deras.
Sementara sang umi menepuk punggung putri nya dengan lembut, mencoba untuk menenangkan hati sang putri. "Kamu sudah berdoa selama ini Ning, meminta kepada Nya yang terbaik untuk masa depan mu dan masa depan pesantren kita. Jadi apapun keputusan eyang dan abi nanti, umi harap kamu bisa menerima nya dengan ikhlas," bisik sang umi dengan kata-kata nya yang lembut dan menenangkan.
Delia mengangguk perlahan, "nggih Mi."
"Apakah nanti nya, jika Nak Zaki sudah menikah dengan cucu eyang,, Nak Zaki bersedia tinggal di sini dan mengurus pesantren yang telah kami dirikan itu?" Pertanyaan eyang Hasyim yang sangat pelan dan lembut itu, di telinga Zaki terdengar bagai petir yang menggelegar dan siap menghanguskan apa saja yang disambar nya.
"Maaf Eyang, Zaki masih belum mengerti apa maksud Eyang tad." Zaki masih merasa tak yakin dengan apa yang di dengar nya barusan, dan berharap bahwa semua yang dia dengar itu salah.
"Ya, Nak Zaki. Suami Ning Zahwa, harus menggantikan Gus Din mengasuh para santri di pondok," balas kyai Hasyim menegaskan kembali ucapan nya tadi, seraya melirik putra nya.
"Apa Nak Zaki siap meninggalkan negara Nak Zaki, dan menetap di kota kecil ini?" Kembali kyai sepuh itu bertanya, seraya menatap Zaki dengan intens.
Zaki menghela nafas panjang, pemuda itu mengeraskan rahang nya. Timbul sedikit emosi dalam diri Zaki, mendengar permintaan dari eyang nya Delia yang selama ini tidak pernah di bahas itu.
Tapi sebisa mungkin, Zaki menahan diri nya. Zaki teringat akan pesan sang ayah, niatkan untuk menuntut ilmu agar jika apa yang diinginkan tak dapat terwujud.. tidak kecewa dan larut dalam penyesalan, dan kini Zaki mengerti maksud dari perkataan sang ayah juga kyai Abdullah yang mengingatkan diri nya agar meluruskan niat untuk mencari ilmu hanya karena Allah Ta'ala semata.
__ADS_1
Zaki sejenak menunduk, dan kemudian melirik sekilas ke arah gadis cantik yang selama ini telah menjadi penyemangat bagi diri nya dalam menuntut ilmu di pesantren. Gadis yang pelupuk mata nya kini telah di penuhi oleh air mata, dan siap mengucur sewaktu-waktu.
"Maaf Eyang, bukankah saat itu,, Eyang dan juga Abi tidak menyinggung hal tersebut? Eyang dan Abi, hanya mensyaratkan bahwa Zaki harus bisa membaca kitab kuning?" Protes Zaki, seraya menatap kyai Hasyim dan kyai Hasan bergantian.
Kyai Hasan memejamkan matanya, terlihat jelas ada perasaan bersalah di wajah teduh itu.
"Kami memang tidak menjelaskan nya secara gamblang Nak Zaki, tapi permintaan kami itu tersirat dalam persyaratan yang kami ajukan waktu itu pada Nak Zaki. Untuk apa kami meminta syarat demikian, jika bukan untuk mengelola pesantren?" Terang kyai Hasyim yang membuat dada Zaki terasa sesak, dan ingin rasanya memprotes kembali perkataan eyang nya Delia tersebut.
Tapi lagi-lagi Zaki menekan emosi nya, pemuda itu mencoba untuk berfikir jernih bahwa pasti ada hikmah di setiap kejadian. Ada pun hikmah yang dapat Zaki ambil, diri nya jadi lebih mengerti tentang ilmu agama dan bisa menguasai bahasa Arab dengan baik. Zaki yakin, kemampuan bahasa Arab nya suatu saat akan bermanfaat untuk melancarkan bisnis yang kini tengah di bangun oleh sang ayah, yang menjalin kerjasama dengan pangeran dari Arab Saudi.
"Nak Zaki bisa memikirkan nya terlebih dahulu, tidak perlu tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Atau, Nak Zaki juga dapat membicarakan terlebih dahulu dengan kedua orang tua Nak Zaki," tutur kyai Hasan, mengurai lamunan Zaki.
Zaki menggeleng, "tidak perlu Abi, orang tua Zaki sudah percaya sepenuh nya dengan keputusan apa pun yang akan Zaki ambil." Balas Zaki dengan tegas.
"Hanya saja, sebelum Zaki mengambil keputusan,, mohon ijinkan Zaki untuk berbicara sebentar dengan dik Delia Zahwa," pinta Zaki, seraya menatap kyai Hasanuddin dengan penuh harap.
Putri bungsu kyai Hasan itu mengangguk.
"Baiklah nak Zaki, silahkan kalian berbicara tapi jangan di tempat yang sepi," pesan kyai Hasan yang memberikan ijin kepada Zaki untuk berbicara dengan putri nya.
"Terimakasih Abi," balas Zaki seraya mengangguk sopan kepada abi nya Delia dan juga kepada sang kakek, pemuda berhidung mancung itu kemudian segera beranjak meninggalkan ruang rawat kyai Hasyim yang diikuti oleh Delia Zahwa.
Zaki berjalan menuju bangku ruang tunggu, yang ada di dekat meja perawat. "Duduk dik," ajak Zaki seraya mendudukkan diri nya di bangku panjang ruang tunggu tersebut.
Delia hanya bisa menurut dan ikut duduk dengan mengambil jarak dari Zaki, tanpa sepatah kata pun.
"Dik, tolong jawab dengan jujur pertanyaan ku," pinta Zaki seraya menatap gadis berhijab yang terus menundukkan kepala nya itu.
Delia mengangkat wajah nya, dan membalas tatapan Zaki. Gadis yang memiliki senyuman manis itu mengangguk, "InsyaAllah, aku akan menjawab dengan sejujurnya," balas Delia lirih.
__ADS_1
"Apakah orang pak kyai, sudah menjodohkan dik Lia dengan pemuda lain?" Tanya Zaki dengan tatapan menyelidik, karena feeling nya mengatakan demikian. Seperti cerita yang pernah di dengar Zaki dari kyai Abdullah, dimana dulu kakak nya Delia juga dijodohkan dengan gus Umar.
Putri kyai Hasan itu terdiam, "aku juga belum yakin Bang, hanya saja.. kakek memang pernah mengatakan, bahwa kalau Bang Zaki tidak bersedia tinggal di pesantren maka aku harus mau menerima lamaran dari putra teman nya Abi," balas Delia dengan sejujurnya sesuai yang dia dengar dari abi dan kakek nya.
Zaki menghela nafas berat, dan kemudian mengangguk-angguk. "Harus nya dari awal, aku bisa membaca makna tersirat dari tantangan abi." Zaki tersenyum kecut, membuat hati Delia teriris melihat senyum itu.
Rasa bersalah kini menyelimuti relung hati Delia, karena laki-laki di depan nya telah mengorbankan waktu, tenaga dan juga pikiran.. tapi mungkin akhirnya akan sia-sia belaka, jika Zaki tidak setuju untuk menetap di pesantren dan meneruskan perjuangan sang abi.
"Maaf Bang, apa pun keputusan Bang Zaki.. aku ikhlas," lirih Delia, dengan air mata yang telah mengucur deras membasahi pipi nya yang putih bersih.
"Atas nama abi dan juga eyang, aku minta maaf,, jika telah membuat Bang Zaki kecewa dan marah." Lanjut Delia, seraya menyusut air mata nya.
Untuk beberapa saat suasana menjadi hening, sesekali hanya terdengar isak kecil Delia. Sedangkan Zaki masih terdiam, dan pandangan mata nya terus tertuju ke arah gadis cantik yang selama ini memenuhi pikiran nya. Gadis yang terus saja menundukkan kepala, karena perasaan bersalah Delia yang begitu besar terhadap Zaki.
"Kenapa kamu bicara seperti itu Dik? Apa kamu berpikir, bahwa aku menolak untuk tinggal dan menetap di pesantren?" Pertanyaan Zaki tersebut, membuat Delia mengangkat wajah nya kembali dan menatap Zaki seraya tersenyum lebar.
πΈπΈπΈπΈπΈ bersambung πΈπΈπΈπΈπΈ
Maaf yah,, telat up ππ
Bukan maksud hati untuk menggantung cita-cita setinggi langit... eh, cerita maksud nya π€
Tapi mata ku, tak bisa diajak kompromi.
So, i need coffee biar gak oleng ππ
Aku perkenalkan karya teman baru ku lagi bestie,, mampir yah, di novel : ASA DI UJUNG LEMBAYUNG
__ADS_1