Finding Love

Finding Love
Sok Suci Kalian Berdua!


__ADS_3

Hari berganti, minggu pun berlalu. Bulan demi bulan telah Zaki lewati dengan penuh semangat belajar, selain untuk menuntut ilmu agama tentu untuk segera menyelesaikan misi nya agar dapat segera meminang sang pujaan hati.


Genap setengah tahun, Zaki belajar di pesantren Nurul Ulum milik kyai Abdullah tersebut. Selama itu pula, Zaki belum pernah sekalipun pulang ke tanah kelahiran nya ataupun pulang ke Jakarta, tempat saudara-saudara nya tinggal. Karena jika rindu melanda, mereka lah yang akan menyambangi Zaki ke pesantren.


Kali ini, ada lagi anggota keluarga yang berkunjung ke pesantren tetapi bukan semata-mata untuk mengunjungi Zaki. Om Ilham, bersama Kevin dan teman-temannya datang ke pesantren karena ada kaitan nya dengan pembangunan yayasan pendidikan milik kyai Abdullah tersebut yang akan segera di renovasi karena libur sekolah telah di mulai.


Saat ini, mereka tengah berada di yayasan dan gus Umar beserta kang Musthofa selaku salah seorang pendidik sekaligus orang kepercayaan kyai Abdullah, yang di daulat kyai Abdullah untuk mendampingi om Ilham dan keponakan-keponakan nya.


"Maaf gus, ruang apa saja kira-kira yang di butuhkan selain ruang kelas dan ruang guru?" Tanya om Ilham, seraya mengeluarkan kertas gambar dan ballpoint dari dalam tas kecil yang terselempang di bahu nya.


"Perpustakaan, UKS, laboratorium," gus Umar nampak mengernyit, "apalagi kang Mus?" Gus Umar bertanya pada kang Musthofa.


"Aula, sama butuh semacam gelanggang olah raga ndak gus?" Kang Musthofa balik bertanya pada putra dari kyai nya itu.


"Boleh, boleh. Jadi kalau pas musim hujan, anak-anak bisa tetap olahraga dengan nyaman. Lagipula, bisa digunakan juga untuk kegiatan yang lain," balas gus Umar, sedangkan om Ilham mendengarkan sambil tangan nya terampil menggoreskan pena di atas kertas.


"Butuh ruang khusus untuk kantin enggak kak?" Tanya Zaki.


"Iya, butuh dik, agar para pedagang bisa berjualan dengan nyaman," balas gus Umar.


"Kantin nya bisa tolong di buatkan di ruangan terbuka gitu ya, om Ilham?" Pinta gus Umar kepada om Ilham, yang masih sibuk dengan gambar nya.


"Bisa, bisa gus. Ngko tak gawekke sing apik, koyok kafe-kafe taman sing modern ben cah-cah dho seneng," balas om Ilham, dengan bahasa Jawa nya yang fasih.


__Nanti aku buatkan yang bagus, kayak kafe taman yang lebih modern biar anak-anak suka__


"Ck, om Ilham bicara apa sih?" Protes Kevin yang tak mengerti bahasa om nya.

__ADS_1


"Halah, gayamu kuwi lho bang. Lha wong emakmu yo asline wong kampung, mosok gak iso ngomong Jowo? Bengeten awakmu kuwi bang?" Olok om Ilham, yang ditanggapi Kevin dengan mengedikkan bahu nya, karena sama sekali tak mengerti apa yang om nya itu katakan.


__Gayamu itu lho bang. Mommy kamu aja asli nya dari kampung, masak kamu enggak bisa bicara bahasa Jawa? Keterlaluan kamu itu bang?__


"Bukan dik Kevin yang keterlaluan om, tapi emang mommy Billa enggak pernah ngajarin mereka ngomong Jawa kan?" Bela Zaki pada adik sepupu nya, karena Zaki sedikit banyak telah paham dengan bahasa Jawa, meski belum bisa bicara bahasa Jawa dengan baik dan benar.


"Tuh, om,,, benar apa kata bang Zaki," timpal Kevin yang tersenyum senang, karena ada yang membela nya.


Gus Umar dan kang Musthofa tersenyum mendengar perdebatan kecil tersebut, sementara teman-teman Kevin asyik sendiri dengan ponsel di tangan masing-masing.


Tak berapa lama, om Ilham telah menyelesaikan desain gambar bangunan sekolahan yang baru dan kemudian menunjukkan nya pada gus Umar.


"Bagaimana gus? Perlu ada tambahan atau ada yang mau di rubah?" Tanya adik bungsu mommy Billa itu, seraya menatap gus Umar.


Gus Umar mengangguk-angguk dan tersenyum puas, begitupun dengan kang Musthofa yang ikut menyimak gambar tersebut. "Wah, sekolahan kita bakalan keren,,, kados sekolahan sing teng kutho-kutho niku lho gus? Sing muride tumpakane mobil uapik?" Puji kang Musthofa, seraya tersenyum penuh kekaguman menatap hasil karya om Ilham. __Seperti sekolahan yang di kota-kita itu lho gus? Yang murid nya memakai kendaraan bagus?__


Gus Umar, kang Musthofa dan om Ilham kembali terlibat perbincangan mengenai desain sekolahan tersebut, sedangkan Zaki nampak asyik ngobrol bersama Kevin, Dion, Rahman dan Bayu.


"Keponakanku sudah bisa apa dik?" Tanya Zaki yang penasaran dengan keponakan yang belum pernah dilihat nya itu.


"Pandai menyusu dia, ngalah-ngalahin ayah nya," celetuk Bayu, tanpa rasa bersalah.


"Kalau itu sih, enggak usah di tanya Babay?" Protes Rahman seraya menjitak kening Bayu, yang di sambut teman Kevin yang super jahil itu dengan tersenyum tengil.


"Udah mulai ngoceh-ngoceh gitu deh bang si Vinsa, lucu pokoknya. Aku suka kangen kalau lama ninggalin dia," balas Kevin dengan tersenyum, membayangkan buah cinta nya dengan sang istri.


"Hmm, kangen sama emak nya apa sama anak nya? Jangan keseringan jadikan si Vinsa kambing hitam bro?" Olok Bayu, yang tahu persis bahwa Kevin tak bisa jauh-jauh dari Salma. Seperti hal nya sang daddy, yang tak bisa jauh dari mommy Billa.

__ADS_1


"Tadi aja si Vinsa mau ikut lho bang? Vinsa besar, hahaha,,," timpal Dion seraya tergelak, yang diikuti oleh teman-teman nya yang lain.


"Ck,, kalian ini, syirik aja kalau lihat kemesraan orang," cibir Kevin.


"Yah habis nya, lu mesra-mesraan enggak inget tempat? Udah tahu kita bertiga masih single, tetep aja pamer?" Protes Dion.


"Bikin pening pala atas bawah kita ya bro?" Timpal Bayu.


"Lu aja kali? Kita berdua sih enggak, ya kan bro?" Cibir Rahman pada Bayu, seraya menatap Dion dan Dion mengangguk setuju.


"Halah, sok suci kalian berdua! Padahal kalau mandi, suka ngabisin sabun mandi!" Olok Bayu yang semakin absurd, hingga membuat mereka berlima serempak tertawa.


Setelah desain bangunan dari om Ilham di setujui, gus Umar kemudian mengajak om Ilham dan yang lain untuk menuju kediaman gus Umar karena waktu telah menjelang siang.


"Bang Zaki, bang Kevin,, oey,," panggil om Ilham, tapi yang di panggil masih asyik tertawa bersama teman-teman nya.


"Asyik bener bang? Lagi ngobrolin apa sih? Sampai enggak dengar di panggil-panggil dari tadi?" Om Ilham bersama gus Umar dan kang Musthofa mendekat kearah mereka, dan putra bungsu kakek Ilyas itu bertanya dengan menyelidik.


"Enggak apa-apa om, biasa lah.. si Babay kalau ngomong suka enggak ada filter nya," balas Zaki, "eh, sudah kelar ya om?" Tanya Zaki kemudian.


"Udah, ayo.. kita di ajak ke tempat gus Umar," ajak om Ilham dan gus Umar mengangguk membenarkan.


"Mari semua," gus Umar menuntun Zaki dan saudara-saudaranya, menuju ke kediaman putra sulung kyai Abdullah tersebut.


Sedangkan kang Musthofa langsung pamit untuk menuju kantor pengurus, karena akan ada rapat dengan pengurus pondok putri terkait libur panjang sekolah.


🌸🌸🌸🌸🌸 bersambung 🌸🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


Part ini, khusus buat yang rindu sama bang Mpin and the geng πŸ€—


__ADS_2