Finding Love

Finding Love
Rondo Royal


__ADS_3

Setelah berpamitan pada kang Musthofa dan kang Bukhori serta berniat akan pamit dengan kyai Abdullah nanti malam melalui telepon, Zaki segera memesan taksi online untuk berangkat ke kampung halaman kakek Ilyas.


Zaki menempuh perjalanan selama kurang lebih satu setengah jam untuk menuju ke daerah, yang berada di kaki gunung Merbabu itu.


Sepanjang perjalanan, pemuda tampan yang saat ini mengenakan celana bahan berwarna gelap yang dipadukan dengan t-shir berwarna navy itu menghabiskan waktu nya dengan obrolan ringan bersama sopir taksi online.


Obrolan lebih banyak di dominasi oleh sopir taksi yang berusia sekitar empat puluh tahun itu, karena satu pertanyaan dari Zaki mengenai sesuatu yang dilihat nya di pinggir jalan dan membuat Zaki penasaran,,, akan di jelaskan dengan panjang kali lebar oleh bapak pengemudi taksi online tersebut.


Hingga tanpa terasa, taksi online yang membawa Zaki telah sampai ke tempat tujuan sesuai dengan alamat yang tertera di aplikasi.


Meski samar, Zaki masih dapat mengingat tempat tersebut. Sebuah wilayah pedesaan yang asri dengan banyak pepohonan rindang di sepanjang kanan kiri jalan, serta lapangan rumput yang hijau terlihat sejuk di pandang.


Terakhir kali, Zaki ikut main ke kampung halaman mommy Billa, ketika pemuda itu masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Dan saat itu, Kevin baru saja lulus Sekolah Dasar dan merengek kepada daddy dan mommy nya, ingin berlibur ke gunung. Hingga akhir nya, mereka semua pergi ke tempat kakek Ilyas, yang berada di kaki gunung Merbabu.


Setelah membayar ongkos taksi dengan melebihkan nya, Zaki segera turun dan kemudian bergegas memasuki pintu gerbang yayasan pendidikan yang didirikan oleh ayah mertua nya daddy Rehan tersebut.


Zaki lebih dulu sampai dan kedatangan nya disambut oleh kakek Burhan, sahabat dari kakek Ilyas sekaligus orang yang di percaya ayah mommy Billa itu untuk mengelola yayasan pendidikan yang mengkhususkan pendidikan bagi anak-anak yatim dan anak dari keluarga yang kurang mampu.


Kakek Burhan mengajak Zaki untuk menuju kediaman kakek Ilyas yang berada di tengah-tengah bangunan yayasan pendidikan tersebut, rumah kecil peninggalan nenek nya mommy Billa yang dulu dipakai untuk beristirahat Opa Sultan dan keluarga nya di hari pernikahan daddy Rehan dan mommy Billa itu kini telah di sulap menjadi sebuah hunian yang nyaman dengan banyak kamar untuk kakek Ilyas dan keluarga jika ingin berlibur dan mencari suasana yang sejuk dan asri.


Setelah ngopi dan ngobrol sebentar dengan kakek Burhan, sambil menunggu kedatangan keluarga nya Zaki memilih berjalan-jalan mengelilingi bangunan yayasan pendidikan sekaligus pondok pesantren itu. dengan ditemani oleh kakek Burhan.


Banyak hal yang ditanyakan oleh Zaki, hingga pemuda itu tertarik jika suatu saat nanti ingin bisa mencari pengalaman dengan mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar di yayasan pendidikan dan pondok pesantren tersebut.


"Kek, boleh tidak jika Zaki ikut mengajar di sini?" Pertanyaan Zaki membuat kakek Burhan terkekeh.


"Nak Zaki ini lho, kok ya ada-ada saja. Mana mungkin Nak Zaki jadi tenaga pengajar di sini? Nak Yusuf dan nak Fatima pasti tidak akan mengijinkan. Lha wong nak Zaki kan harus mengurus perusahaan tho?" Balas kakek Burhan, yang menganggap permintaan Zaki hanyalah candaan semata.


"Tapi kalau ayah dan bunda mengijinkan, berarti boleh ya Kek?" Kekeuh Zaki, yang disetujui oleh kakek Burhan dengan menganggukkan kepala.


Suara deru mesin mobil yang memasuki kawasan yayasan pendidikan tersebut, mengalihkan perhatian mereka berdua. "Seperti nya, keluarga Nak Zaki sudah datang. Ayo kita ke sana," ajak kakek Burhan, dan mereka berdua kemudian melangkah menuju halaman depan.


Kakek Ilyas dan Nenek Lin, beserta seluruh cucu keluarga Antonio ikut serta. Tapi tidak dengan orang tua mereka, yang masing-masing tengah sibuk dan tidak bisa ikut.


Sedangkan dari keluarga Alamsyah, semua nya ikut termasuk oma Carla dan keluarga papi Vincent. Karena kebetulan weekend ini adalah pertemuan rutin keluarga mereka, yang seharusnya bertempat di kediaman daddy Rehan.


Awal nya, hanya bunda Fatima dan ayah Yusuf saja yang akan menemui Zaki. Tetapi begitu mendengar bahwa cucu sulung keluarga Alamsyah itu tengah berduka lantaran cinta nya tak dapat di raih, maka semua adik sepupu nya ingin ikut untuk menghibur dan memberikan dukungan kepada Zaki.

__ADS_1


Satu persatu mereka semua turun dari mobil perusahaan cabang Semarang, dan Zaki langsung menyambut mereka dengan pelukan hangat.


Fira dan Malika, langsung nempel pada putra sulung ayah Yusuf tersebut. Mereka berdua yang paling kepo dan ingin tahu cerita yang sebenarnya,,, mengapa bisa, seorang Zaki Yusuf bisa gagal mendapatkan seorang gadis.


"Kok bisa di tolak sih Bang? Abang dulu pedekate nya kurang kali? Maka nya kak Delia pasrah aja? Aturan dulu waktu masih kuliah, di pepet terus Bang,,, buat kak Delia cinta mati sama abang. Jadi kan, kak Delia juga bakalan ikut berjuang?" Cerocos Malika, hingga membuat Zaki menjitak pelan kening sepupu nya yang centil itu.


"Cinta mati? Emang nya kamu, yang enggak bisa jauh dikit aja dari Bang Rahman?" Cibir Malik pada saudari kembar nya.


"Biarin, wekk,,," Malika menjulurkan lidah nya, membalas cibiran Malik.


"Sudah-sudah,, ayo masuk dulu, lanjut di dalam ngobrol nya," ajak nenek Lin pada cucu-cucu nya.


Seluruh anggota keluar besar itu pun masuk kedalam kediaman kakek Ilyas, "yang mau istirahat, silahkan bisa langsung pilih kamar sendiri. Yang tidak kebagian kamar, bisa tidur di lapangan rumput di seberang sana," canda daddy Rehan, yang membuat semua nya tertawa.


"Kalau di Jakarta sih enggak apa-apa Rey tidur di tempat terbuka, lah di sini? Bisa membeku tubuh, udara nya dingin gini?" Balas ayah Yusuf.


"Iya benar nak Yusuf, di sini memang dingin," timpal kakek Ilyas.


Meski sudah di persilahkan untuk beristirahat, tapi tak satupun dari mereka yang ingin masuk kedalam kamar. Hanya Salma yang langsung masuk kedalam kamar bersama putri nya yang masih kecil, yang ditemani oleh Devi yang mabuk udara karena masuk angin.


Sementara sepupu Zaki yang lain serta teman-teman dekat Kevin yang juga ikut, duduk berkerumun mengelilingi Zaki dan menagih sulung ayah Yusuf tersebut untuk bercerita.


"Kenapa enggak dari awal ya Bang, mereka mengatakan itu?" Protes Rahman, yang ditanggapi Zaki dengan mengedikkan bahu nya.


"Kan tadi eyang nya kak Delia bilang kalau permintaan nya itu tersirat bro, jadi ya,,, Bang Zaki aja yang mungkin kurang memahami makna dari tantangan abi nya kak Delia?" Balas Kevin, dan Zaki mengangguk membenarkan.


"Iya, kamu benar Dik. Abang kayak nya yang terburu-buru menyimpulkan," ucap Zaki.


"Tapi dengan adanya tantangan itu, Bang Zaki kan jadi mau belajar agama dengan serius? Jadi ya, kita ambil saja sisi positif nya," timpal daddy Rehan dengan bijak.


"Tumben si Abang tampan bicara nya bijak sini," cibir om Ilham.


"Mana ada bijak sini? Ada-ada aja kamu Ham?" Protes bunda Fatima seraya terkekeh.


"Eh ada mbak, lha kan bicara nya di sini? jadi nya ya bijak sini, kalau bicara nya di sana baru nama nya bijak sana," balas om Ilham yang ikutan terkekeh.


"Kenapa Bang? Lihatin Ilham gitu amat? Mau di potong ya, uang jajan nya Ilham?" Sindir om Ilham, yang mendapati daddy Rehan menatap nya dengan tajam.

__ADS_1


"Enggak Ham, santai saja. Uang jajan bulanan kamu masih utuh, tapi jabatan kamu yang aku copot," balas daddy Rehan dengan santai, yang membuat om Ilham langsung manyun.


"Mbak Billa,,, Bang Rehan tuh, suka nya ngancam?" Adu om Ilham, tapi mommy Billa hanya mengedikkan bahu nya.


"Yang mau teh, jahe atau kopi atau sekoteng,, silahkan ambil sendiri," suara nenek Lin yang baru muncul dari arah belakang sambil membawa baki berisi macam-macam minuman mengalihkan perhatian mereka semua.


Di belakang nenek Lin, berjalan seorang wanita seusia kakek Ilyas. Beliau adalah istri dari kakek Burhan, yang membawa baki bundar besar berisi aneka gorengan.


Mereka semua kemudian mengambil minuman yang masih mengepulkan asap itu untuk menghangatkan tubuh.


Om Ilham mencomot sepotong gorengan yang masih hangat, dan kemudian memasukinya kedalam mulut. "Wah, rondo royale enak bi," ucap om Ilham dengan mulut yang masih penuh, dan bibi Sulis, istri kakek Burhan mengangguk.


"Rondo Royal? Kok nama nya aneh?" Tanya tante Jihan, menatap suami nya.


"Hemmm, istilah di sini demikian bun, tapi ada juga yang menamai makanan ini monyos. Ini tuh terbuat dari tape singkong," balas om Zaki.


"Nek awakmu seneng, ngko bengi tak gorengke neh Nang," balas bibi Sulis, seraya tersenyum tulus.


Daddy Rehan menatap sang istri sambil mengerutkan kening nya, "Bibi Sulis bicara apa mom?" Tanya daddy Rehan tanpa memelankan suara, hingga semua orang bisa mendengar.


"Zaki tahu dad,,, kalau Om Ilham suka, nanti malam mau di buatkan lagi," Zaki menerjemahkan perkataan bibi Sulis dengan sangat baik, hingga membuat bunda Fatima dan ayah Yusuf melongo.


"Wah, awakmu yo wes pinter omong Jowo tho nak Zaki?" Kakek Ilyas nampak kagum kepada Zaki. __Wah, kamu juga sudah pandai bicara bahasa Jawa Nak Zaki?__


"Ayah bicara apalagi mom?" Kembali daddy Rehan bertanya.


"Kamu itu parah Rey, istri kamu kan orang Jawa? Masak kamu sama sekali enggak ngerti bahasa Jawa?" Cibir ayah Yusuf.


"Lah, abang ngatain papa juga berarti? Istri papa kan, juga Jawa tulen? Kalau istri ku, hanya dari pihak ayah Ilyas saja yang Jawa?" Bela daddy Rehan, yang membuat opa Sultan dan oma Sekar terkekeh.


"Iya, iya,, itu salah kami. Harus nya, kami mengajari kalian bahasa nenek moyang agar kalian tahu asal usul kalian itu darimana?"


🌸🌸🌸🌸🌸 bersambung 🌸🌸🌸🌸🌸


Maaf yah, geng tampan nya sibuk jadi gak bisa ikut ngumpul πŸ˜ŠπŸ™


yuk mampir lagi di novel temen ku : SALAH RAHIM

__ADS_1


By. ALYA AZIZ, novel yang keren dan sayang untuk dilewatkan.



__ADS_2