Finding Love

Finding Love
Hidup Harus Terus Berjalan


__ADS_3

Zaki telah tiba di yayasan yang dulu didirikan oleh kakek Ilyas, dan kedatangan pemuda itu disambut hangat oleh kakek Burhan, Adnan, serta istri masing-masing.


Kakek Burhan langsung mengajak Zaki menuju kediamannya, yang berada di belakang kediaman kakek Ilyas dan menghadap jalan kecil yang menjadi pintu gerbang masuk anak-anak sekolah saat pertama kali yayasan itu didirikan oleh ayahnya mommy Billa itu.


Namun setelah daddy Rehan dan sahabat-sahabatnya merenovasi bangunan yayasan tersebut, kini pintu gerbangnya menghadap ke jalan besar dan bersebelahan dengan gerbang yang menuju kediaman kakek Ilyas.


Kakek Burhan meminta Zaki untuk ngeteh terlebih dahulu, sebelum putra sulung ayah Yusuf itu diantarkan oleh sang cucu menuju pondokan khusus putra. Hal tersebut sesuai dengan keinginan Zaki, yang tak mau menempati kediaman kakek Ilyas karena pemuda tampan itu tidak ingin teman-temannya di pondokan menjadi sungkan pada dirinya.


Setelah bercengkrama sebentar sambil ngeteh dan makan camilan ringan oleh-oleh dari nyai Robi'ah, yang tadi dibawa oleh Zaki untuk keluarga kakek Burhan, pemuda berbadan tinggi itu kemudian diantarkan oleh Adnan menuju pondokan khusus putra.


Jalan yang menuju pondokan putra jika dari kediaman kakek Burhan harus melewati pondokan putri terlebih dahulu, dan ketika melintas di samping pondokan putri tersebut, tak sengaja cucu kakek Burhan itu melihat sahabatnya yang sedang membersihkan halaman dan menata tanaman bunga.


Adnan berhenti sebentar, yang kemudian diikuti oleh Zaki. "Hana, lagi sibuk kah?" Tanya Adnan, sambil menatap punggung sahabatnya yang sedang menunduk.


Gadis yang dipanggil itu pun menoleh, dan tersenyum kearah Adnan seraya menyeka keringat di keningnya dengan punggung tangan. "Lumayan, mumpung libur Nan," balasnya, dan kemudian menatap kearah Zaki sambil mengangguk ramah.


Zaki membalas anggukan Hana dan tersenyum, pemuda itu kemudian menyipitkan mata menatap gadis yang saat ini ada dihadapannya. Kening pemuda itu berkerut, menandakan bahwa sang empunya sedang memikirkan sesuatu.


"Oh ya Hana, kenalin. Ini Bang Zaki, Ustadz baru di sini." Adnan memperkenalkan Zaki pada Hana sebagai ustadz, seraya menepuk pelan pundak pemuda di sampingnya itu.


Sejenak Zaki tergagap dan tersadar dari lamunan, putra sulung ayah Yusuf itu kemudian menangkup kedua tangan di depan dada. "Zaki," pemuda tampan itu menyebutkan namanya.


Hana juga melakukan hal yang sama sembari tersenyum manis, "Hana," suara Hana yang menyebutkan nama, membuat Zaki kembali mengernyitkan keningnya.


"Bang Zaki, Ustadzah Hana ini sahabatku di kampus. Kami satu fakultas," ucap Adnan, "Dia juga teman dekat istriku, karena mereka berdua satu kosan," lanjutnya menjelaskan.


Zaki mengangguk-angguk, "fresh graduate berarti ya?" Tanya Zaki.


"Iya Ustadz, dan selepas wisuda langsung diajak Adnan dan Sarah untuk bergabung di sini." Balas Hana, "Alhamdulillah tanpa tes," lanjut Hana seraya tertawa renyah, sambil menutup mulutnya dengan punggung tangan.


Zaki ikut tertawa menyaksikan sikap Hana, yang menurut pemuda itu lucu dan apa adanya.


"Ya ngapain juga harus di tes? Orang kamu nya dapat predikat cumlaude?" Adnan pun ikut tertawa.


"Wah, hebat dong... selamat ya," puji Zaki seraya mengucapkan selamat atas prestasi Hana yang mengagumkan.


"Makasih Ustadz," balas Hana, tersenyum malu.


"Bang Zaki ini juga enggak kalah hebat lho Han, dalam waktu satu tahun belajar mengaji dari yang awalnya nol dan belum tahu apa-apa, sekarang Bang Zaki sudah sangat lanyah membaca kitab gundul." Puji Adnan sambil menepuk punggung kokoh Zaki, dan pemuda yang berdiri di sampingnya itu hanya tersenyum.


"Alhamdulillah, Hana salut sama Ustadz Zaki," puji Hana dengan tulus.


Zaki mengangguk, "makasih Ustadzah, tapi jangan dengerin apa kata Adnan. Dia melebih-lebihkan," balas Zaki yang merendah, dan Hana tersenyum mendengar perkataan Zaki yang rendah hati itu.


"Oke Hana, kami ke pondokan dulu ya? Lain waktu kita sharing bareng," pungkas Adnan, yang disetujui oleh Hana dengan menganggukkan kepala.

__ADS_1


Hana kembali menyibukkan diri dengan tanaman bunganya, sedangkan Adnan segera mengajak Zaki untuk menuju pondokan yang berada di sisi lain bangunan sekolah.


Zaki sempat melirik sekilas kearah gadis yang baru saja ditemuinya itu, dan kemudian segera berlalu mengikuti langkah Adnan yang panjang-panjang menyusuri jalanan paving yang menghubungkan antara pondokan putri, sekolahan dan pondokan putra dengan menyimpan tanya di benaknya.


Adnan menuntun Zaki menuju kantor pengurus putra, "assalamu'alaikum Kang Salim," sapa Adnan pada orang yang ditemuinya di kantor pengurus, kantor sederhana yang berukuran tiga kali tiga meter.


Kantor yang hanya terdapat satu meja dengan dua kursi yang saling berhadapan, satu set sofa dan satu almari kaca berisi dokumen data pribadi para santri.


"Wa'alaikumsalam Mas Adnan," balas laki-laki yang bernama Salim tersebut, dan kemudian Salim mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Zaki.


"Apa Ustadz ini yang mau mengajar ngaji di sini, Mas?" Tanya Salim, menatap Zaki dan Adnan bergantian.


Adnan mengangguk, "benar Kang."


Zaki menerima uluran tangan Salim dan menjabatnya dengan erat, "saya Zaki," pemuda berkulit putih bersih itu memperkenalkan diri.


"Saya Salim Tadz, panggil saja kang Salim," kang Salim pun memperkenalkan dirinya.


"Kang Salim ini pengurus santri putra Bang, kalau ada apa-apa Bang Zaki juga bisa minta tolong pada Kang Salim," terang Adnan, Zaki dan Salim sama-sama mengangguk.


"Oh ya Tadz, Ustadz Zaki mau kamar yang sendiri atau yang ada temannya?" Tanya Salim menatap Zaki.


"Yang ada temannya saja Kang, lebih enak dan ramai," balas Zaki.


Zaki mengangguk, "boleh Kang," balas Zaki yang setuju dengan tawaran Salim.


Ya, di yayasan tersebut juga menyediakan pondokan sederhana untuk ustadz ngaji ataupun guru sekolah yang sudah menikah. Pondokan sederhana yang merupakan ide dari daddy Rehan, namun dilengkapi dengan fasilitas yang cukup memadai untuk pasangan suami-istri.


Salah satu guru sekaligus ustadz yang tinggal di sana adalah Adnan dan Sarah, istrinya. Adnan juga menolak untuk tinggal di kediaman sang kakek, dengan alasan pengin belajar hidup mandiri terlebih dahulu.


Adnan dan Sarah memang baru mulai mengajar dan menempati pondokan di yayasan tersebut, setelah mereka berdua menyelesaikan ujian skripsi.


Tetapi sesungguhnya mereka sudah menikah sejak setengah tahun yang lalu, saat mereka sedang sibuk mengerjakan tugas akhir dan sering menghabiskan waktu berduaan.


Adnan yang khawatir tak bisa menjaga pandangan serta keinginan untuk menyentuh sang kekasih, akhirnya memutuskan untuk segera menikahi Sarah. "Lebih baik kita segera menikah Dik, daripada terus-terusan menimbun dosa," pinta Adnan kala itu memberikan alasan, dan Sarah mengangguk setuju.


Kumandang adzan dhuhur dari masjid komplek pesantren terdengar jelas di telinga mereka, Adnan kemudian mengajak Zaki dan juga Salim untuk sholat berjamaah terlebih dahulu.


"Ustadz, biar kopernya Salim taruh di kamar dulu," ijin Salim, sambil menunjuk kearah koper milik Zaki.


Zaki mengangguk, "iya Kang, terimakasih," ucap Zaki.


"Kami duluan ke masjid ya Kang," pamit Adnan, dan kemudian segera menuntun Zaki untuk menuju masjid.


Sedangkan Salim berjalan menuju ke kamarnya sambil menenteng koper Zaki, yang tak seberapa berat.

__ADS_1


Setibanya di masjid, sudah banyak anak-anak pondok yang mengisi shof di dalam masjid. Baik shof putra maupun putri, sama-sama rapat barisannya.


Ya, di yayasan pendidikan dan pesantren tersebut, jamaah sholat antara santri putra dan santri putri semuanya dilakukan di masjid. Sehingga masjid yang cukup luas itu, di setiap waktunya selalu ramai oleh jamaah.


Adnan juga melihat istrinya dan juga Hana, baru saja tiba di masjid. Cucu kakek Burhan itu pun segera mendekat yang diikuti oleh Zaki, Adnan tersenyum penuh rencana melihat kearah Hana dan Zaki secara bergantian.


"Mas, ada apa? Kok senyum-senyum ndak jelas gitu?" Tanya Sarah seraya mengernyitkan dahinya, melihat sang suami senyum-senyum sendiri.


"Eh, enggak kok Dik. Yuk, kita masuk kedalam," ajak Adnan, mengalihkan pembicaraan.


Mereka berempat pun segera memasuki masjid, untuk melaksanakan ibadah sholat dhuhur berjamaah.


Sepuluh menit berlalu dan setelah mengaminkan doa sang imam, para santri pun kemudian berebut untuk keluar dari masjid. Para santri itu nampak sudah tidak sabar untuk makan siang, karena mungkin saja perut mereka sudah keroncongan dan menuntut haknya untuk segera diisi.


Zaki yang keluar bersama Adnan dan juga Salim, bertemu dengan Sarah dan Hana di serambi masjid.


"Dik, kita balik bareng," pinta Adnan yang menghentikan langkah Sarah.


"Urusan sama Bang Zaki, udah selesai Mas? Bang Zaki, udah dapat kamar?" Tanya Sarah, sambil menatap sang suami dan juga Zaki bergantian.


Zaki mengangguk, "sudah, sekamar sama Salim," balas Zaki mewakili Adnan.


Sarah mengangguk dan tersenyum manis, "moga kerasan ya Bang Zaki, siapa tahu kan bisa dapat,,," Sarah melirik sahabatnya, sedangkan Hana menyibukkan diri memakai sandal jepit dan pura-pura tak mendengar.


"Aamiin,,," lanjut Adnan, dengan mengaminkan kalimat sang istri yang terpotong.


Sedangkan Zaki tersenyum seraya geleng-geleng kepala, "ada-ada saja kalian berdua ini. Baru juga menapakkan kaki di sini, udah main jodoh-jodohin segala?" Bisik Zaki di telinga Adnan.


"Ya siapa tahu kan Bang, karena hidup harus terus berjalan," Adnan memainkan kedua alisnya, seraya tersenyum menggoda kearah Zaki.


"Ya udah Bang Zaki, Adnan tinggal dulu ya. Nanti malam kita ketemu di kediaman kakek." Pamit Adnan seraya melambaikan tangan, dan cucu dari pengelola yayasan tersebut kemudian segera berlalu meninggalkan serambi masjid.


Adnan berjalan mengiringi langkah sang istri dan sahabatnya, sedangkan Zaki menatap ketiga orang itu dengan senyuman dan tatapan yang sulit diartikan.


🌸🌸🌸🌸🌸 bersambung 🌸🌸🌸🌸🌸


Dududu,,, mungkinkah?


Yuk bestie, sambil nunggu Bang Zaki kembali up mampir yah di novel yang kece badai ini :


Judul : RAHASIA ISTRI CULUNKU


Author. Nurma Azalia


__ADS_1


__ADS_2