
Elsa yang ketakutan sedang berjalan mengendap endap melewati ruangan Direkturnya menuju meja kerjanya. Elsa menutup wajahnya dengan tas tangannya dan berjalan pelan pelan.
"Syukurlah, Direktur tidak melihat aku, huftt" Elsa kemudian duduk dan menghela nafas lega.
"Asatagah nagah"
Elsa dikagetkan sosok pria dengan setelan jas rapi sedang berdiri dibelakangnya.
"Eh pak Direktur, ada perlu apa Pak?"
Perasaan Elsa yang tidak karuan mencoba sok polos dan tidak tahu apa apa merayu manja Direkturnya.
"Ikut keruangan ku sekarang juga"
Pria itu kemudian pergi menuju ruangannya di ikuti Elsa yang menjadi lemas karena tertangkap basah oleh Direkturnya.
Didalam ruangan Elsa habis habisan di marah si bos, Dia hanya bisa tertunduk lesu dan menerima semua omelan dari Bosnya itu.
"Ini sudah yang ke 1798 kali kamu saya maafkan, saya bingung harus melakukan apa lagi padamu agar kamu bisa bekerja dengan benar."
Elsa hanya tersenyum ketika bosnya memafkan dia.
"Ini ada satu misi untuk mu, kamu saya tempatkan dilapangan untuj meliput sebuah berita tentang lingkungan kota, jika kali ini kamu gagal kamu akan saya Pecat, Mengerti??"
ucap bos itu dengan Tegas.
"Ayolah bos, aku reporter terbaik negeri ini masa aku harus mengerjakan tugas seperti itu"
Elsa mencoba merayu Bosnya.
"Kamu sedang tidak diposisi nego dengan saya, ini adalah hukuman buat mu"
kemudian direktur itu pergi meninggalkan Elsa.
Elsa hanya bisa pasrah dengan Hukuman yang dia terima dan harus mengerjakannya jika tidak ingin dipecat.
***************
Malam hari setelah Elsa pulang bekerja dari kantornya
Elsa teringat dengan dua pria yang dia lihat di warung bakso. Hal itu sedikit menghiburnya karena stress dimarahi Bosnya dikantor.
Dia berjalan sambil tersenyum merasa lucu dengan momen di warung bakso itu.
"Gedubrakkk",
Elsa menghantam gerobak bibi Mei yang kebetulan sedang berada di sekitar wilayah rumah Elsa memungut barang bekas.
Elsa yang terjerembab ditanah mengerang kesakitan mengelus elus kakinya menahan sakit.
"Haduhh, sakit... siapa yang menaruh benda sialan ini ditrotoar"
Gumamnya sambil menahan sakit.
bibi Mei yang kebetulan berada sedikit jauh dari gerobaknya kemudian datang menghampiri.
Dia melihat Elsa terduduk kesakitan disamping gerobak itu, lalu bertanya
"Nona, apa yang sedang kau lakukan disitu?"
Elsa menatap Wajah bibi Mei dan mengadu,
__ADS_1
"Seseorang menaruh gerobak ini disini dan menghalangi jalan ku. Aku terluka karena Gerobak sialan ini"
Bibi Mei yang sedikit khawatir dan takut disalahkan pura pura lugu dan meminta maaf.
"Maaf kan saya non, itu gerobak saya. Maafkan saya sekali lagi"
Elsa merasa iba pada bibi Mei kemudian meminta pertanggung jawaban.
"ouh, ini punya bibi.. saya juga salah karena tidak memperhatikan."
"Meski begitu saya ttap harus bertanggung jawab, karena saya nona jadi terluka. Mari saya bantu berdiri"
bibi Mei membantu mengangkat Elsa berdiri,
"Apa nona bisa berjalan, mari saya antar pulang"
bibi Mei menawarkan bantuan.
Elsa memeriksa kakinya dan mencoba berjalan, namun sakitnya masih terasa. Elsa tidak mampu berjalan dan terpaksa harus menerima bantuan bibi Mei meski dia merasa segan.
Bibi mei pun menaikkan Elsa ke atas Gerobak kemudian menariknya membawa Elsa pulang keRumah Elsa.
Sesampainya dirumah Elsa, bibi Mei meminta maaf lagi sebelum berpamitan pulang.
Elsa merasa canggung karena dia juga bersalah, kemudian menawarkan Bibi mei beristirahat sebentar didalam rumahnya.
Bibi Mei tidak bisa menyembunyikan rasa letihnya setelah menarik Gerobak dan Elsa. Bibi Mei menerima tawaran Elsa kemudian ikut masuk kedalam rumah untuk beristrahat.
**************
El terlihat mondar mandir didepan rumah, Dia gelisah karena Ibunya belum juga kembali.
Sesekali dia melihat jam kedalam rumah, sudah hampir larut bibi Mei belum juga kembali.
Jack kemudian datang ntah dari mana, dan merasa heran dengan tingkah El.
"kau menunggu siapa broth??"
Jack bertanya pada El, karena penasaran dengan tingkah El.
"Ini sudah Larut tapo ibu belum juga kembali"
sambil melihat jam lagi dengan Khawatir.
"Sudah tak usah terlalu dipikirkan, Nenek tua itu lebih kuat dari kita dia pasti baik baik saja. Aku masuk duluan brotth"
Dengan santainya Jack masuk rumah dan membiarkan sahabatnya itu khawatir seorang diri.
Firasat El tidak baik dengan situasi malam itu, dan terus menunggu. Sesekali dia berkeliling mencari dan kembali lagi kerumah untuk memamastikan ibunya sudah tiba dirumah.
Sementara itu dirumah Elsa, bibi Mei asik bercerita dan menikmati jamuan Elsa. Mereka langsung akrab setelah berkenalan satu sama lain. Mereka menceritakan hal hal seru dalam hidup mereka dan kejadian yang mereka alami hari itu.
Tawa riang pun terpancar dari wajah mereka berdua.
"Waduh, ini sudah larut.. aku harus pulang, anak ku mungkin khawatir padaku"
ucap bibi El memohon Pamit.
"Ini sudah larut bi, menginap saja disini besok saya antar pulang" Elsa menawarkan bantuan.
"Ah tidak usah repot repot non, saya bisa menjaga diri" Bibi Mei menolak tawaran Elsa karena merasa sungkan.
__ADS_1
"Tidak apa apa bi, saya sangat senang kalau bibi mau menginap" Elsa mencoba meyakinkan Bibi Mei.
Mereka berdebat saling tolak tawaran karena merasa segan, namun karena Elsa merengek, bibi Mei mengalah.
Elsa sudah lama tinggal sendiri semenjak Dia masih kuliah. Rumah itu adalah milik keluarganya dan menjadi tempat tinggalnya dikota itu.
Untuk seorang Gadis yang masih cukup belia dan tinggal sendiri, Rumah itu sangat besar dan mewah.
Sebelum tidur, bibi Mei berbaring disamping Elsa yang sedang bekerja lembur memikirkan tugas yang diberikan Bosnya. Bibi Mei sangat kagum dengan Elsa yang pekerja keras.
Bibi Mei memandangi meja kerja Elsa dan Melihat sebuah Foto di samping Laptopnya.
Bibi Mei penasaran dan ingin tahu siapa difoto itu.
"Wah, anak anak ini tampan dan Cantik, siapaini Non??"
bibi Mei bertanya karena penasaran.
Elsa menatap foto itu dengan senyum dan rasa rindu, dia mengusap wajah bocah bocah difoto itu.
"Yang kiri ini abang tiri ku yang paling baik sedunia. yang ditengah ini aku, dan yang paling kanan ini Malaikat ku"
Elsa menjelaskan pada bibi Mei satu persatu. Namun ketika menjelaskan Bocah terahir itu, wajah Elsa memerah merona.
Bibi mei langsung mengerti kalau Bocah itu adalah orang yang sangat berarti dimasalalunya.
"Kakak ku sekarang masih diAmerika dan dalam waktu dekat akan kembali kesini"
Elsa melanjutkan penjelasan mengenai kakaknya itu.
"Lalu bagaimana dengan bocah manis yg satu lagi??"
bibi Mei bertanya semakin penasaran.
"Aku tidak tahu kemana dia, dan dimana dia sekarang, foto ini satu satunya kenangan kami.
Momen pertemuan kami yang pertama dan terahir.
Dia satu satunya orang yang sudah mengubah hidup ku, Aku bisa seperti sekarang ini karena dia"
Elsa bercerita tentang masa lalunya yang pahit pada bibi Mei. Karena kisah yang sedih itu, bibi sempat ikut menitikkan air mata.
"Semoga kalian bisa dipertemukan lagi ya non, Aku punya firasat kalau suatu hari kalian akan dipertemukan kembali."
Bibi Mei memberi penghiburan pada Elsa yang menahan kerinduannya.
"Makasih sudah mengerti perasaan ku bi"
ucap Elsa kemudian mengusap air matanya.
"Baiklah, karena sudah larut waktunya kita tidur"
Bibi mei pun mengakhiri obrolan mereka, dan Elsa pun segera membereskan meja kerjanya kemudian ikut Nimbrung keatas kasur disamping bibi Mei dan mereka pun tidur.
Sebelum mematikan lampu, Sambil berbaring diatas kasur Elsa berdoa dalam hati semoga firasat bibi Mei menjadi kenyataan, dan harapan Elsa selama ini terkabulkan.
Kerinduannya pada Bocah dimasa lalunya itu akan segera berakhir dan membuat hari hari Elsa semakin bermakna.
"ceklek,"
lampu tidur pun dimatikan.
__ADS_1
Firasat baik dan buruk bisa menjadi kenyataan, kita harus siap menerima segala kemungkinan yang akan terjadi.
*** bersambung ***