
Waktu tepat menunjukkan pukul sepuluh, Laila dan Zaki telah bersiap untuk menuju pelaminan. Putra sulung ayah Yusuf itu mengenakan stelan jas berwarna silver, senada dengan gaun pengantin menjuntai panjang yang dikenakan oleh sang istri.
Zaki terlihat sangat tampan dan gagah, aura kebahagiaan terpancar dari wajahnya yang selalu mengulas senyum. Tangan kekar suami Laila itu melingkar dengan posesif di pinggang ramping sang istri, seolah tak ingin melepaskan bidadari cantik yang akhirnya bisa dia gapai dengan rencana-Nya yang indah.
Rasa bahagia cucu sulung keluarga Alamsyah itu tak dapat dilukiskan dengan kata-kata, usaha Zaki yang bersungguh-sungguh berjuang dalam menuntut ilmu semata karena Allah Ta'ala seperti pesan sang ayah dan sang kyai, terbukti membuahkan hasil yang sangat menggembirakan hati pemuda tampan tersebut.
Sosok wanita cerdas, cantik, manja nan menggemaskan, kini telah berada disisi Zaki. Wanita yang selalu tersenyum dan bisa membuat orang-orang disekitarnya ikut tersenyum.
Laila yang mengenakan mahkota di kepalanya yang berhijab, terlihat semakin cantik bak dewi dalam cerita dongeng pengantar tidur anak-anak. Senyum putri bungsu kyai Abdullah tersebut pun terus tersungging di bibirnya yang merah merekah.
Kedua pengantin itu kemudian berjalan perlahan menuju pelaminan, dengan diiringi oleh ayah Yusuf dan kyai Abdullah beserta istri yang kali ini mengenakan busana yang sama dari butik bunda Fatima.
Dua wanita paruh baya tersebut sama-sama cantik dengan pesonanya masing-masing, begitu pun dengan ayah Yusuf yang terlihat elegan dan berwibawa serta kyai Abdullah yang penuh kharisma.
Setelah semuanya menempatkan diri di pelaminan, para tamu yang mulai berdatangan langsung menuju pelaminan untuk menyalami sepasang pengantin tersebut.
Tamu yang hadir kesemuanya adalah tamu dari kyai Abdullah, karena ayah Yusuf sama sekali tidak menyebar undangan mengingat relasi bisnis ayah Zaki tersebut kebanyakan berasal dari negaranya yaitu Singapura dan sebagian kecil dari Jakarta.
Rencananya, ayah Yusuf akan menggelar sendiri pesta untuk sang putra bersama keluarga besar dari Brunei dan juga relasi bisnisnya di Singapura.
Satu persatu tamu undangan yang sebagian besar dari kalangan pesantren tersebut menyalami kyai Abdullah beserta sang istri, memberikan ucapan selamat dan do'a terbaik untuk mempelai, kemudian juga menyalami ayah Yusuf serta bunda Fatima dengan menyimpan tanya dalam hati.
Wajah ayah Yusuf yang familiar di layar kaca sebagai pengusaha hebat di Asia, membuat mereka bertanya-tanya,,, bagaimana bisa kyai Abdullah yang notabene adalah kyai pengasuh pondok pesantren di daerah kecil, bisa berbesanan dengan pengusaha kaya bahkan pengusaha yang telah go internasional?
Tetapi pertanyaan mereka hanya berputar di kepala, mereka hanya bisa berbisik dan saling bertanya hingga berakhir dengan gelengan kepala dan kemudian tertawa bersama karena sama-sama tidak tahu apa-apa.
Diantara mereka ada yang berkata, "itulah jika Allah telah berkehendak, segalanya akan menjadi mungkin dan dengan mudah terwujud."
Yang lain pun mengangguk setuju, karena mereka meyakini bahwa tak ada yang tak mungkin bagi Allah Ta'ala Sang Pencipta alam semesta ini.
"Benar apa kata Yi Maksum, meski laki-laki di barat dan perempuan di timur, jika mereka sudah berjodoh maka Allah akan mempertemukan keduanya di pelaminan," timpal salah seorang kyai sepuh, yang membenarkan ucapan sahabatnya tadi.
__ADS_1
Waktu semakin beranjak siang dan tamu undangan yang hendak menyalami tuan rumah yang punya gawe serta mempelai berdua, semakin mengular. Sepasang pengantin baru itu terus saja mengulas senyuman manis, meski sebenarnya mereka berdua kecapekan.
Laila yang sedari tadi mengantuk, kini sudah mulai bisa bersahabat dengan rasa kantuknya. Namun, rasa pegal tiba-tiba menyerang pinggangnya akibat ulah sang suami tadi malam.
"Kenapa Ummi sayang?" Zaki bertanya lirih dengan penuh perhatian, begitu melihat ekspresi sang istri yang meringis sambil memegangi pinggangnya dengan tangan kiri.
"Pinggang Ummi pegel banget, Bi," keluh Laila berbisik, dengan tangan kiri masih memegangi pinggang rampingnya.
"Tahan sebentar ya, nanti kalau enggak ada tamu yang naik kesini, Abi pijat pinggang Ummi," bisik Zaki sambil menyalami tamu undangan.
Beberapa saat kemudian, pelaminan nampak sedikit lengang karena sebagian besar tamu sudah memberikan ucapan selamat kepada pengantin dan juga kepada kyai Abdullah.
Zaki memenuhi janjinya, pemuda tampan itu mendudukkan sang istri di kursi pelaminan mereka yang mewah. Putra sulung ayah Yusuf itu kemudian mulai memijat pinggang sang istri dengan lembut.
Sementara ayah Yusuf yang melihat kearah sang putra dan menantunya, tersenyum dikulum. "Putramu itu loh Bun, sudah tahu kalau hari ini bakal ada resepsi, istrinya malah semalaman di kerjain," bisik ayah Yusuf seraya terkekeh pelan.
"Darimana Ayah tahu?" Bunda Fatima menatap sang suami dengan penuh selidik.
Bunda Fatima pun tersenyum, "mirip banget sama Ayah tuh si abang, enggak boleh jeda barang semenit," olok bunda Fatima.
"Tapi Bunda suka kan?" goda ayah Yusuf pada sang istri yang semakin cantik di usianya yang lebih dari setengah abad.
"Ssstt,, udah ah, ada tamu lagi tuh," kilah bunda Fatima, seraya menunjuk tamu yang baru saja hadir dan menyalami kyai Abdullah beserta sang istri.
Tamu yang baru saja hadir ternyata adalah keluarga kyai Hasyim, beserta putra dan cucunya. Kyai Hasyim memeluk kyai Abdullah sekilas dan memberikan ucapan selamat, tak banyak kata yang beliau ucapkan. "Selamat Gus Ab, semoga pernikahan putrimu diberkahi Allah Subhanahu Wata'ala."
"Terimakasih Paman, sudah bersedia hadir dan mendo'akan putra-putri kami," balas kyai Abdullah.
Kyai Hasanuddin pun melakukan hal yang sama, yang diikuti oleh sang istri yang memeluk nyai Robi'ah. Kedua orang tua Delia Zahwa itu pun hanya mengucapkan selamat dan kemudian segera berlalu menyusul kyai Hasyim yang menyalami kedua mempelai.
Sementara Delia atau ning Zahwa bersama sang suami, gus Zainul Wafa juga menyalami kyai Abdullah dan nyai Robi'ah sebagaimana orang tuanya tadi. Hanya saja, gus Zain nampak selalu menundukkan pandangannya dan tak berani menatap kedua orang tua Laila tersebut.
__ADS_1
Kyai Hasanuddin memeluk Zaki cukup lama, "selamat menempuh hidup baru Nak Zaki, semoga keluarga Nak Zaki sakinah mawaddah warohmah," do'anya dengan tulus.
Sementara uminya Delia Zahwa, setelah memeluk Laila kemudian menyalami Zaki serta menepuk lembut punggung tangan pemuda santun yang membuatnya bersimpati itu. "Selamat menempuh hidup baru Nak, kalian berdua sungguh beruntung."
"Terimakasih Umi," balas Zaki seraya tersenyum.
Kini tiba giliran Delia Zahwa dan sang suami, ning Zahwa kemudian memeluk Laila dan memberikan ucapan selamat dengan tulus. Putri kyai Hasanuddin itu sama sekali belum tahu, bahwa suaminya pernah menjalin kedekatan dengan Laila.
Setelah memberikan ucapan selamat pada Laila, Delia Zahwa juga memberikan ucapan selamat kepada Zaki dengan menangkup kedua tangannya di depan dada. "Selamat Bang Zaki, samara till jannah," do'anya dengan tulus, dengan netra yang berkaca-kaca.
Sejujurnya, Delia masih merasa malu terhadap Zaki karena penolakan secara tidak langsung dari sang eyang terhadap pemuda tampan yang rela berjuang meninggalkan segala kemewahan untuk mendapatkan restu dari orang tuanya.
"Aamiin,,, terimakasih Ning," balas Zaki seraya tersenyum, tangan kiri Zaki semakin mempererat pelukannya di pinggang sang istri untuk menunjukkan bahwa kini dirinya telah menemukan cinta yang sesungguhnya.
Netra Delia Zahwa menangkap pemandangan tersebut dan mantan gadis incaran Zaki itu pun tersenyum kecut. Delia Zahwa kemudian segera bergeser, memberikan kesempatan kepada sang suami untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai.
Gus Zain menangkup kedua tangannya di depan dada seraya berkata, "selamat berbahagia Ning." Suami Delia Zahwa itu tak mampu berkata lebih, hatinya masih diselimuti perasaan bersalah karena memutuskan Laila secara sepihak dan begitu mendadak.
"Terimakasih Gus," balas Laila dengan datar, istri Zaki itupun sengaja menyandarkan tubuh di dada bidang sang suami yang masih memeluk erat pinggangnya. Laila ingin menyampaikan pesan melalui bahasa tubuh, bahwa kini dirinya telah menemukan sandaran hidup yang sangat nyaman.
Gus Zain tersenyum kecut melihat kemesraan sepasang pengantin baru itu, hatinya merasa sedikit cemburu melihat Laila di peluk oleh laki-laki lain.
Menantu kyai Hasanuddin tersebut kemudian menyalami Zaki sekilas dan segera berlalu mensejajarkan langkahnya dengan sang istri, untuk menyalami kedua orang tua Zaki.
Sepeninggal Delia Zahwa dan Zainul Wafa, kedua mempelai itu saling pandang dan kemudian sama-sama tertawa tanpa mengeluarkan suara.
"Tak ada tempat tersisa untuk mantan, karena dia hanyalah serpihan masa lalu yang sama sekali tak penting dan harus di buang. Kini di hatiku hanya ada kamu, istri ku," ucap Zaki seraya menatap sang istri dengan tatapan penuh arti.
"Tak ada tempat tersisa untuk mantan, karena hatiku telah terisi penuh dengan masa depan. Jenengan lah masa depan ku, suamiku," balas Laila seraya menatap sang suami dengan penuh cinta.
🌸🌸🌸🌸🌸 bersambung 🌸🌸🌸🌸🌸
__ADS_1