
Setelah kepergian Zaki, putra-putri kyai Abdullah itu segera masuk kedalam ruangan sang Abah. Sementara kang Baharuddin, disuruh pulang oleh gus Umar untuk mengabarkan kepada santri senior yang lain bahwa kondisi kyai Abdullah sudah membaik.
Laila langsung memeluk sang Abah dan menangis di dada laki-laki paruh baya yang sangat disayanginya itu. Cukup lama gadis itu menangis dalam pelukan sang Abah, untuk menumpahkan segala rasa yang selama ini dipendamnya sendiri.
Laila memang sempat mencurahkan isi hatinya kepada Aida, kala itu di dalam kamar di kediaman sang kakak. Tentang kandasnya hubungan yang dia jalin selama ini dengan gus Zain, namun rasanya tetap saja ada yang masih mengganjal dalam hatinya jika belum menceritakan pada kedua orang tua.
Kyai kharismatik itu membiarkan saja sang putri menangis, dan setelah cukup lama barulah kyai Abdullah angkat bicara. "Kenapa kamu simpan masalah ini sendiri Ning?" Lirih sang Abah seraya menatap sang putri, yang kini telah duduk di sisi tempat tidur.
"Maafkan Laila Abah, tentang beasiswa itu,,, Laila enggak bermaksud bohong sama Abah dan Umi." Ucap Laila dengan suaranya yang sedikit terbata, karena sisa tangisannya tadi.
Kyai Abdullah tersenyum hangat dan mengusap lembut lengan putrinya, "Abah bisa mengerti alasan kamu Ning, tetapi lain kali kalau ada apa-apa tolong cerita sama Abah dan Umi," tutur sang Abah dengan lembut.
Laila mengangguk, "maaf ya Bah, harusnya sejak awal Laila jujur sama Abah dan Umi," sesal Laila seraya menggenggam tangan hangat Abah nya.
Nyai Robi'ah yang kemudian duduk di sebuah kursi di samping ranjang pasien, mengusap-usap punggung putrinya.
"Bah, Laila tadi sudah pamit sama Adnan. Laila ingin membantu mengajar di sekolahan kita saja Bah, dan Laila juga mau kalau Abah...." sejenak putri bungsu kyai Abdullah itu menghentikan ucapannya, nampak ada keraguan dari sorot matanya namun Laila mencoba untuk meneguhkan hati.
"Tak ada lagi yang aku tunggu, biarlah masa depanku Abah yang akan tentukan," bisik Laila dalam hati.
Semua masih terdiam, dan menunggu kelanjutan ucapan Laila seraya fokus menatap si bungsu yang manja itu.
"Kalau Abah mau menjodohkan Laila, dengan salah satu putra sahabat Abah yang sudah datang melamar Laila," lanjutnya dan segera menundukkan kepala. Laila saat ini tidak berani berharap banyak pada ustadz Zaki, yang ternyata adalah pemuda yang mengejar cinta Delia Zahwa hingga rela bersusah payah belajar ilmu agama.
Apalagi ketika berpamitan hendak pulang ke Jakarta tadi, ustadz Zaki juga hanya menyapa Laila dengan sekedarnya saja dan tanpa ekspresi. Hingga Laila mengambil kesimpulan bahwa dirinyalah yang selama ini terlalu percaya diri, bahwa ustadz Zaki juga menyimpan perasaan padanya.
"Apakah kamu yakin Ning?" Tanya sang Abah, seraya menatap manik hitam sang putri.
Laila mengangguk pasrah, "nggih Abah," balasnya lirih.
__ADS_1
"Alhamdulillah,,," ucap syukur kyai Abdullah dan kembali merengkuh sang putri kedalam pelukannya, "Abah senang mendengarnya Ning, InsyaAllah yang akan datang adalah yang terbaik untukmu," lanjut kyai Abdullah.
Gus Umar mengernyitkan dahi, "nyuwun sewu Bah,,, apakah Abah sudah memiliki gambaran, siapa yang akan Abah terima pinangannya?" Tanya gus Umar hati-hati.
Kyai Abdullah melepaskan pelukannya pada sang putri, dan kemudian ayah gus Umar itu mengangguk. "InsyaAllah Gus, dia yang terbaik yang akan membimbing Ning Laila menuju syurga Nya," do'a kyai Abdullah dengan penuh harap.
"Aamiin,,,"
Laila menundukkan kepalanya dalam-dalam, hati gadis itu kembali terluka. Dia yang sempat berharap pada pemuda yang belum lama dikenalnya di yayasan itu, kini harus mengubur impian yang sempat Laila rajut beberapa waktu terakhir.
"Kamu bodoh La, kenapa secepat ini kamu menyimpulkan bahwa ustadz Zaki juga menaruh hati padamu? Sekarang, kamu rasakan sendiri kan akibatnya? Apa coba yang kamu dapatkan, kekecewaan? Penyesalan?" Laila Hana memaki dirinya sendiri dalam diam.
"Assalamu'alaikum,,," ucap salam beberapa orang yang membuka pintu kamar perawatan kyai Abdullah dan segera masuk kedalam ruangan yang cukup luas tersebut, menyadarkan Laila dan gadis itu kemudian segera beranjak untuk menyambut kedua sahabatnya beserta sang kakek dan sang nenek.
"Wa'alaikumsalam,,," balas mereka semua dengan kompak.
Setelah saling menyalami, kakek Burhan dipersilahkan duduk di kursi di samping ranjang pasien yang tadi ditempati nyai Robi'ah.
"Loro opo sampean, gus Ab? Wong, ketok nek sehat ngono kok,,, ngaget-ngageti wae?" Tanya dan protes kakek Burhan, begitu melihat kyai Abdullah dalam keadaan baik. __"Sakit apa kamu, gus Ab? Keliatan sehat gitu kok, bikin kaget saja?"__
Kyai Abdullah terkekeh, begitu pun dengan sang istri. "Gerah kangen selak pengin mantu paman," balas nyai Robi'ah.
"Yo angger dimantokke. Wong sing nakokke yo wis wong pirang-pirang, gari milih tho?" Balas kakek Burhan yang ikut terkekeh. __"Ya dinikahkan saja. Yang ngelamar kan juga banyak, tinggal pilih kan?"__
"Iya paman, InsyaAllah dalam waktu dekat Ning Laila akan segera menikah," balas kyai Abdullah penuh harap, seraya melihat kearah sang putri yang nampak terkejut.
Laila tadi memang mengatakan bahwa dirinya siap jika dijodohkan dengan siapa pun, tapi gadis cantik itu tak menyangka jika sang Abah akan menanggapi ucapannya dengan serius dan secepat ini. Karena setahu Laila, sang Abah adalah orang tua yang tak pernah memaksakan kehendak pada putra putrinya.
"Kamu mau nikah Ning?" Tanya Adnan, yang mendengar pembicaraan para orang tua tersebut.
__ADS_1
"Ya mau lah, masak enggak?" Balas Laila sedikit ketus, suasana hati gadis itu terasa sangat buruk saat ini dan dia merasa malas untuk membahas masalah pernikahan.
Adnan mengernyit, dan kemudian bertanya kepada gus Umar dengan berbisik. "Ada apa tho kak? Kok Laila kayak beda gitu? Apa tadi Bang Zaki ada ngomong sesuatu?"
Gus Umar menggeleng, "aku juga enggak tahu Dik, tadi sih dik Zaki pamit katanya mau balik ke Jakarta gitu," balas gus Umar sesuai dengan yang dia ketahui.
Adnan mengangguk-angguk seraya tersenyum dalam hati, ide untuk mengerjai Laila muncul di kepalanya.
"Ning, tadi bang Zaki pamit balik ke Jakarta," ucap Adnan.
"Udah tahu," balas Laila masih dengan ketus dan memasang wajah masam. Gadis itu kemudian menyibukkan diri memainkan ponselnya, Laila merasa malas untuk berbicara dengan siapa pun.
Jika saja ada kamar yang tersembunyi, ingin rasanya Laila masuk kedalam sana dan mengunci pintu kamar rapat-rapat agar tak ada yang bisa mengganggu dirinya.
"Tahu enggak Ning, apa yang dikatakan bang Zaki tadi," pancing Adnan, seraya menatap sahabatnya.
Laila menatap Adnan sekilas dan kemudian kembali fokus dengan ponsel ditangan nya pura-pura acuh,,, sejujurnya Laila sangat penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh Adnan, tetapi gadis itu merasa gengsi.
"Tadi Bang Zaki mengatakan, dia buru-buru balik ke Jakarta karena dia mau nikah dalam waktu dekat ini," ungkap Adnan, yang membuat tubuh Laila langsung lemas seperti jelly.
"Tuh bener kan, ustadz Zaki memang enggak memiliki perasaan apa-apa sama aku. Buktinya, dia aja udah mau nikah sekarang." Lirih Laila dalam hati seraya menyandarkan tubuhnya ke dinding rumah sakit yang dingin, sedingin hatinya saat ini yang kembali membeku.
🌸🌸🌸🌸🌸 bersambung 🌸🌸🌸🌸🌸
Sambil menunggu hatinya Ning Laila mencair kembali, yuk mampir di novel keren ini beatie...
karya : emak ENIS SUDRAJAT
Judul : Cinta Diatas Perjanjian
__ADS_1