
Waktu terus bergulir, matahari mulai menampakkan sinarnya di ufuk timur. Semakin lama sang penguasa siang itu merangkak naik semakin tinggi, dan sinarnya yang sangat terik terasa panas membakar kulit.
Siang ini, Zaki terlihat tak bersemangat.Tidak seperti hari-hari biasanya, dimana pemuda itu akan sangat antusias mengikuti jama'ah sholat dhuhur di Masjid bersama siswa-siswi sekolah yayasan pendidikan yang didirikan oleh kakek Ilyas puluhan tahun silam itu.
Bukan siswa atau siswi di sekolah tersebut yang sering membicarakan tentang dirinya itu yang membuat Zaki bersemangat, namun salah satu gurunya lah yang membuat putra sulung ayah Yusuf itu tak pernah melewatkan jama'ah sholat dhuhur.
Ya, siapa lagi kalau bukan ibu guru Hana yang cantik, atau ustadzah Hana. Selain mengajar ngaji di pesantren, Hana, Adnan dan Sarah juga mengajar di yayasan pendidikan yang dikelola oleh kakek Burhan itu sesuai dengan bidang keilmuan yang mereka peroleh dari bangku kuliah.
Hana, yang mengambil jurusan Ilmu Pendidikan Agama Islam bersama Adnan, dan Sarah mengambil jurusan Ilmu Pendidikan Bahasa Arab.
Usai mengikuti sholat dhuhur berjama'ah, Zaki bergegas kembali kedalam pondokan untuk beristirahat. Pemuda berkulit putih dan berhidung mancung itu, saat ini merasa enggan untuk melakukan aktifitas apapun, Zaki hanya ingin tidur dan berharap bisa bertemu dengan gadis cantik yang baru setengah hari tak dilihatnya.
Tak butuh waktu lama, baru saja merebahkan dirinya di kasur busa tipis, putra ayah Yusuf itu sudah terlelap dan berlayar di alam mimpi yang indah.
Kumandang adzan ashar yang terdengar dari Masjid, membangunkan Zaki dari tidurnya yang lelap. Cukup lama pemuda itu tidur, bahkan Zaki juga melewatkan makan siangnya.
Bergegas pemuda berbadan atletis itu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, beruntung saat ini Zaki di kamar sendirian karena kang Salim lebih memilih menghabiskan waktunya di dalam kantor. Sehingga Zaki tak perlu mengantri, dan bisa segera ke Masjid untuk ikut sholat ashar berjama'ah.
Usai sholat ashar, Zaki mengikuti langkah Adnan dan kakek Burhan yang mengajaknya ke kediaman pengelola yayasan pendidikan tersebut. Di sana, Zaki, Adnan dan kakek Burhan bercengkrama mengenai banyak hal. Mereka duduk di bale bambu di bawah pohon mangga yang buahnya sudah habis di panen beberapa waktu yang lalu.
Nenek Sulis membuatkan kopi dan gorengan pisang untuk teman ngobrol di sore itu, hingga membuat obrolan ketiga lelaki berbeda generasi itu semakin gayeng.
Tanpa terasa, matahari semakin tergelincir ke ufuk barat. Perlahan sang penguasa siang itu tenggelam dan menyisakan semburat merah di batas cakrawala yang terlihat sangat indah di pandang.
Langit semakin gelap, yang menandakan bahwa dewi malam akan segera hadir dan kegelapan akan menyelimuti bumi. Sebagai isyarat, bahwa saat nya bagi makhluk semesta untuk beristirahat.
Jika di saat senja orang-orang mulai malas untuk melakukan apapun karena saatnya tubuh beristirahat, tapi itu justru tak berlaku untuk Zaki. Semangat Zaki justru berangsur pulih, karena senja akan membawa gadis yang dirindukannya kembali ke pondokan.
Benar saja, tepat di saat kumandang adzan maghrib terdengar dari Masjid di komplek yayasan tersebut, sebuah mobil berhenti tepat di pintu gerbang kediaman kakek Burhan.
Laki-laki berusia senja dan kedua pemuda yang hendak beranjak untuk pergi ke Masjid itu pun menoleh, dan Zaki tersenyum lebar kala melihat Hana turun dari mobil dengan membawa rantang di tangan kanan dan sebuah paper bag di tangan kiri.
Senyum Zaki berubah dan pemuda itu kini mengernyitkan keningnya dengan dalam, "aku seperti mengenali hijab yang Hana pakai," bisik Zaki dalam hati.
"Assalamu'alaikum," ucap salam Hana yang menyapa ketiga laki-laki tersebut.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam," balas kakek Burhan dan Adnan, sedangkan Zaki masih mematung.
Hana menyalami kakek Burhan dan mencium punggung tangan laki-laki sepuh itu dengan takdzim. "Kakek dapat salam dari abah," lirih Hana menyampaikan sesuatu kepada kakek Burhan, yang hanya bisa di dengar oleh Adnan dan sang kakek karena Zaki masih terbuai dengan lamunan nya.
Kakek Burhan mengangguk, "umi mu selalu saja repot membawakan oleh-oleh," tutur kakek Burhan, yang melihat barang bawaan Hana.
"Hanya sedikit lauk dan kue Kek, tadi istrinya kakak yang masak," balas Hana, "Hana kedalam dulu ya Kek, mau menyimpan makanan ini di dalam sekalian ketemu nenek," lanjut gadis cantik itu.
"Tapi, hijab seperti itu kan banyak," tepis Zaki pada pikirannya sendiri, dan pemuda itu segera tersadar kala Adnan menyenggol lengannya.
"Ayo Bang, ke Masjid sekarang," ajak Adnan.
Zaki melihat Hana tersenyum kepada dirinya, dan kemudian berlalu masuk kedalam rumah kakek Burhan yang diikuti orang tua tersebut.
Pemuda tampan itu sempat mengangguk membalas senyuman Hana, dan Zaki segera mengikuti langkah Adnan menuju ke Masjid untuk mengikuti jama'ah sholat isya'.
Bakda sholat isya', kakek Burhan kembali mengundang Zaki dan Hana untuk makan malam bersama. Karena tadi sore, ustadzah muda itu membawakan lauk pauk yang sangat banyak dari uminya untuk keluarga kakeknya Adnan tersebut.
Kini mereka semua telah berkumpul di ruang keluarga kediaman kakek Burhan, dan masing-masing telah mengambil makanan serta lauk yang mereka inginkan.
Ya, Hana memang baru pertama kali ini membawakan lauk semenjak mengajar di yayasan tersebut, karena biasanya sang umi hanya membuatkan kue untuk keluarga kakek Burhan dan untuk teman-teman Hana.
"Oh iya, aku coba ya." Zaki kemudian menambahkan satu potong rendang daging ke piringnya.
Setelah membaca do'a, mereka mulai menikmati makan malam yang spesial itu. Makan malam dengan banyak menu karena Hana tidak hanya membawa rendang, tetapi juga ikan bumbu kuning, semur dan balado.
Kembali Zaki mengernyitkan kening tatkala lidahnya mengecap rasa rendang yang tak asing di lidahnya, "ini persis masakan istrinya kak Umar," gumamnya dalam hati, sambil melirik Hana yang masih mengenakan hijab sama seperti tadi sore saat dia datang.
"Aku jadi kangen sama kak Umar dan abah, aku akan segera menghubungi ayah dan bunda agar mereka segera kemari untuk bersilaturahmi ke tempat abah," lanjut Zaki masih dalam hati.
"Enak kan bang?" Tanya Sarah untuk memastikan.
Zaki mengangguk pasti, "hemm, enak banget," balas Zaki dengan mulut yang masih penuh.
Makan malam pun usai, Hana dan Sarah segera merapikan bekas makan mereka. Sedangkan Zaki dan Adnan, mengikuti langkah kakek Burhan menuju teras.
__ADS_1
Usai mencuci piring dan menyimpan lauk di meja makan, Hana pamit untuk beristirahat dan tidak bisa ikut ngobrol seperti biasanya.
Mereka semua pun memahaminya, termasuk Zaki. Karena gadis itu memang baru saja mengadakan perjalanan yang cukup jauh, dan ditempuh hanya dalam waktu sehari, pulang pergi.
*****
Keesokan harinya, di jam istirahat pertama. Beberapa minggu ini eperti biasa, Hana akan berdiri di teras perpustakaan yang berada di lantai dua, sambil melihat ke bawah kearah Masjid.
Dari tempatnya berdiri, gadis cantik itu dapat melihat sosok pemuda yang selalu menyita perhatiannya itu dengan sangat jelas. Hana bisa melihat Zaki yang masuk kedalam Masjid untuk melaksanakan sholat dhuha, dan itu adalah momen yang selalu di tunggu oleh Hana.
"Sampai kapan kamu akan bersembunyi di balik nama kamu Ning? Bang Zaki juga mencintaimu, kenapa kalian tak saling berterus terang?" Tanya Adnan yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Hana, hingga membuat Hana terkejut dan menjadi salah tingkah.
Hana mengernyit, "tak saling berterus terang? Memangnya, apa yang di sembunyikan ustadz Zaki?" Tanya Hana balik, "eit, tunggu. Aku tidak bersembunyi ya, karena Hana juga namaku." Lanjut Hana membela diri.
"Ya, ya, ya. Kamu benar Ning, Hana memang nama mu," balas Adnan, "dan tentang bang Zaki, dia itu...."
Getaran ponsel Hana di kantong baju guru cantik itu, membuat Hana menghentikan perkataan Adnan. "Bentar Nan," Hana segera mengambil ponsel nya, dan nama kak Umar muncul di layar ponsel Hana.
"Kak Umar telepon, aku angkat sebentar." Hana segera mengangkat panggilan dari sang kakak, dan mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan oleh kakaknya melalui sambungan telepon tersebut.
Sejurus kemudian, gadis itu menitikkan air mata dan tangan nya terasa lemas hingga ponsel dalam genggaman tangan Hana terjatuh.
"Ada apa Ning?" Tanya Adnan dengan panik, sambil berjongkok untuk mengambilkan ponsel milik Hana.
"Abah Nan, abah masuk rumah sakit. Aku harus segera ke sana," ucap Hana dengan terbata.
"Emm,,," sejenak Adnan berpikir, "Ning, biar kamu diantarkan oleh bang Zaki ya?" Saran Adnan.
Hana menggeleng seraya hendak berlalu, "enggak usah Nan, aku pesan taksi online saja," tolak Hana.
"Tidak Laila Hana Rahmaniya, biar bang Zaki yang antar kamu. Karena aku masih ada kelas dan enggak bisa mengantar." Tegas Adnan, yang menyebutkan nama lengkap Hana atau ning Laila itu.
"Baiklah Nan, terserah kamu saja. Aku mau siap-siap dulu."
🌸🌸🌸🌸🌸 bersambung 🌸🌸🌸🌸🌸
__ADS_1