Finding Love

Finding Love
Mengerjakan Pe-eR


__ADS_3

Pagi harinya, usai sarapan bersama abah dan umi serta gus Umar dan istrinya, Laila kembali ke kamar karena harus segera di make up untuk acara resepsi pagi ini. Sementara Zaki memilih untuk mengobrol bersama sang abah dan gus Umar, sambil menunggu kehadiran keluarga besarnya.


Nyai Robi'ah dan Aida menyibukkan diri di dapur bersama para santri putri yang membantu menyiapkan segala sesuatu untuk keluarga besan, sedangkan untuk hidangan resepsi semua sudah di handle oleh pihak catering yang di pesan khusus oleh putra-putri kakek Ilyas.


Ratusan hampers untuk tamu undangan pun sudah diantarkan oleh produsennya langsung, hampers yang berisi peralatan ibadah, yaitu mukena, sarung dan sajadah lengkap dengan Al-Qur'an terjemah yang juga di pesan keluarga Alamsyah untuk pernikahan cucu pertama di keluarga tersebut.


"Nak Zaki, apa rencana Nak Zaki setelah ini?" tanya kyai Abdullah, menatap putra menantunya.


"Kemarin Zaki sama Kak Umar telah merencanakan untuk umroh bersama Bah, InsyaAllah mau sekalian bulan madu keliling Timur Tengah," balas Zaki, yang disetujui oleh gus Umar dengan mengangguk.


"Maaf Bah, Umar belum sempat cerita sama Abah dan umi karena waktunya yang sangat mendesak dan kita semua disibukkan dengan persiapan pernikahan Dik Zaki dan dik Laila." timpal gus Umar, "Umar bahkan sudah mengurus keberangkatan kami dan InsyaAllah lusa kami akan berangkat," lanjutnya.


Kyai Abdullah mengangguk-angguk, "tidak mengapa Gus, Abah bisa mengerti." balas kyai Abdullah penuh pengertian, "lakukanlah yang menurut kalian baik dan buat istri kalian bahagia, karena kunci kebahagiaan keluarga ada pada kebahagiaan seorang istri," lanjut kyai kharismatik itu menasehati putra dan menantunya.


Gus Umar dan Zaki mengangguk, "nggih Abah, InsyaAllah," balas keduanya serempak.


"Assalamu'alaikum...." Kang Bukhori masuk kedalam ruang keluarga kediaman kyai Abdullah tersebut dengan tergopoh-gopoh, "nyuwun sewu Yai, rombongan keluarga Dik Zaki sudah datang," ucap kang Bukhori.


"Oh yo kang, suwun." Kyai Abdullah beserta dua pemuda tampan itu pun segera beranjak, mengikuti langkah kang Bukhori yang telah keluar terlebih dahulu untuk melanjutkan tugasnya, yaitu mengatur para santri putra yang akan menyambut para tamu undangan kyai Abdullah nanti tepat pada pukul sepuluh.


Begitu mendengar bahwa keluarga besannya sudah datang, nyai Robi'ah pun mengajak Aida untuk segera keluar dan ikut menyambut keluarga besar Zaki tersebut.


Mereka semua kemudian duduk di aula yang telah disediakan khusus untuk keluarga besan, sambil menunggu acara resepsi yang baru akan di mulai satu jam lagi.


Ya, mereka datang lebih awal untuk ikut membantu persiapan keluarga kyai Abdullah menyambut para tamu dan memberikan hidangan terbaik untuk tamu-tamunya nanti, meski sebelumnya semua telah dipersiapkan dengan matang oleh gus Umar, Adnan beserta om Ilham dan kedua kakaknya.


Mommy Billa, tante Nisa dan tante Jihan langsung mengecek hampers yang sudah datang kemarin dan belum sempat mereka lihat isinya seperti apa. Sementara om Ilham dan Adnan, memastikan kembali kesiapan group Qasidah terbaik yang mereka undang dan saat ini sedang bersiap di atas panggung.


Tante Susan bersama bunda Fatima, langsung menuju ke kamar Laila untuk melihat istri Zaki yang saat ini tengah dirias.


Sementara semua orang sibuk, Aida melihat anak kecil sedang di gendong oleh Kevin dan istri gus Umar itu pun mendekat. "Dik, mbak boleh gendong?" pinta Aida penuh harap.


Kevin tersenyum dan mengangguk, "tentu saja boleh Mbak, silahkan."


Aida kemudian mengambil anak kecil berusia sekitar satu tahun itu dari tangan Kevin, dan kemudian menggendongnya. Hati Aida menghangat memeluk baby Vinsa dan istri gus Umar itu menciumi anak cantik itu dengan gemas.


Gus Umar yang melihat hal tersebut tersenyum, "Dik Kevin, kami ajak putrinya kedalam dulu ya?" pinta gus Umar.


Kevin menatap sang istri dan Salma mengangguk, "iya kak, boleh."

__ADS_1


Aida tersenyum lebar, kemudian bergegas menuju kediaman kyai Abdullah bersama sang suami yang diikuti oleh Zaki, yang hendak melihat sang istri di kamar.


"Maaf Kak, memangnya berapa lama Mbak Aida harus rehat dulu dan belum boleh hamil lagi?" tanya Zaki hati-hati.


"Minimal dua tahun Dik dan ini sepertinya saat yang tepat untuk menyemai benih, bukankah begitu sayang?" gus Umar melirik sang istri, yang sedang menimang baby Vinsa.


Aida mengangguk dan tersenyum malu.


"Wah gaspol kalau begitu, kita balapan yuk Kak," ajak Zaki, yang membuat gus Umar terkekeh. Zaki pun ikut tertawa, mendengar kekonyolannya sendiri.


"Kita ikhtiar sama-sama Dik Zaki, siapa pun yang dikasih duluan kita semua harus tetap bersyukur. Jika dikasih cepat, Alhamdulillah,,, dan jika belum, harus terus berusaha serta tawakkal," ucap gus Umar dengan bijak.


Zaki mengangguk membenarkan, "benar Kak, harus terus berusaha dan nikmati prosesnya," timpal Zaki yang kembali tergelak.


Gus Umar pun kembali tertawa, "hahaha,,, maunya seperti itu terus ya Dik Zaki, berproses terus."


Aida mengernyit mendengar obrolan suami dan iparnya itu.


Tawa kedua pemuda tampan yang duduk di ruang keluarga itu mengundang tanya bunda Fatima dan oma Susan yang baru saja keluar dari kamar Aida, "senang banget kalian berdua?" tanya bunda Fatima seraya mengernyit.


"Bang Zaki udah sukses cetak gool kali Kak Fa, makanya happy gitu?" celetuk oma Susan seraya terkekeh kecil.


"Ah, Oma Susan tahu aja," balas Zaki tanpa malu-malu.


"Kalau dalam hal kebaikan, bukan kah harus buru-buru Bunda?" Zaki tersenyum menatap sang ibunda, yang membuat bunda Fatima semakin menggelengkan kepalanya.


"Tahu ah Bang, Abang sama ayah sama aja," balas bunda Fatima, "sana gih, temani istri Abang dan ajak ngobrol. Ning Laila sepertinya ngantuk berat," titah bunda Fatima.


"Semalam diajakin lembur ya Bang, sampai ngantuk gitu Kak Laila nya?" cecar oma Susan.


Zaki tersenyum kecut, apalagi ketika gus Umar menatapnya dengan penuh tanya.


"Enggak lembur kok Oma, cuma begadang," balas Zaki seraya tertawa lepas tanpa rasa berdosa dan kemudian segera beranjak, "Zaki ke kamar dulu," pamitnya pada semua yang berada di sana.


"Eh, baby Vinsa sama aunty Aida ya?" Bunda Fatima, mencubit gemas pipi cucu adiknya itu, "Mbak Aida kalau capek, boleh sini biar Bunda yang gantiin gendong. Gemoy dia, jadi tangan cepet pegel kalau lama-lama gendong Vinsa," pinta bunda Fatima.


"Iya Bunda, kebetulan Aida mau nyusul ke kamar Laila," Aida kemudian memberikan baby Vinsa kepada bunda Fatima dan bundanya Zaki segera berlalu bersama oma Susan untuk kembali bergabung bersama keluarga yang lain.


Sementara Aida dan gus Umar langsung menuju kamar Laila, untuk melihat adiknya yang sedang dirias.

__ADS_1


Tanpa mengetuk pintu, sepasang suami-istri itu masuk kedalam kamar sang adik yang cukup luas karena pintunya tak tertutup dengan rapat.


"La, kamu tidur?" tegur Aida ketika melihat Laila yang sedang di make up itu memejamkan mata.


Zaki menempelkan ibu jarinya ke depan bibir, memberi isyarat agar kakak iparnya itu tidak berisik.


Sang perias pengantin tersenyum, "dari tadi Ning Laila bawaannya pengin tidur terus, Ning," terang perias tersebut, yang membuat Zaki tersenyum lebar.


Laila yang samar mendengar suara-suara berisik pun membuka mata, putri bungsu kyai Abdullah itu tersenyum malu begitu melihat sang suami juga kakak dan iparnya sudah berada di dalam kamar.


"Nyenyak banget tidurnya Dik, semalam sama sekali enggak tidur ya?" tanya gus Umar menyelidik, menatap sang adik dan Zaki bergantian.


"Tidur kok, tapi cuma bentar sih," gerutu Laila dengan mengerucutkan bibir.


"Ning, saya keluar sebentar nggih. Ada yang ketinggalan di mobil," ijin perias tersebut, Laila mengangguk mengiyakan.


"Abi tuh, Kak! Yang bentar-bentar bangun, bikin Laila enggak bisa tidur aja! Sebel deh!" adu Laila tapi dengan tersenyum tersipu malu, sesaat setelah perias meninggalkan kamarnya.


"Ehmm,,, sebel apa demen?" ledek Aida seraya memainkan kedua alisnya.


"Apaan sih Da, ya sebel lah? Aku jadi ngantuk banget ini?" protes Laila.


"Sebel itu artinya senang betul," balas Aida yang terus saja menggoda sahabatnya itu.


"Tahu ah," Laila cemberut sambil melirik sang suami yang senyum-senyum seraya menatap dirinya sejak tadi, hingga membuat putri bungsu kyai Abdullah itu ikut tersenyum.


Rupanya, Zaki tengah mengingat percintaannya semalam dengan sang istri. Dia yang selalu bangun dan meminta hak-nya untuk dipuaskan, hingga membuat putra sulung ayah Yusuf itu terus saja menggoda dan mencumbui sang istri agar menuruti keinginannya.


Sementara Laila juga teringat kembali, bagaimana semalam dirinya selalu dibuat tak berdaya dengan sentuhan-sentuhan lembut sang suami, hingga dengan senang hati istri Zaki itu rela melayani suaminya sampai shubuh menjelang.


"Ehmm,,," suara dehaman gus Umar membuyarkan lamunan sepasang pengantin baru itu.


"Sayang, yuk balik ke rumah dulu. Ada PR yang harus dikerjakan," ajak gus Umar pada sang istri seraya mengerling.


Laila dan Zaki mengernyitkan dahi, sedangkan Aida tersenyum tersipu dan segera mengikuti langkah sang suami pulang ke kediamannya sendiri untuk----- mengerjakan PR.


🌸🌸🌸🌸🌸 bersambung 🌸🌸🌸🌸🌸


Hai bestie,,, di novel sebelah ada quiz loh, dan akan berakhir malam ini.

__ADS_1


Aku tunggu yah, di novel Seruni (Bertahan atau Lepaskan)


Pengumuman nya InsyaAllah besok pagi, di sini... πŸ˜ŠπŸ™πŸ™


__ADS_2