Finding Love

Finding Love
Sholat Istikharoh


__ADS_3

Keesokan harinya tepat bakda sholat shubuh, Hana memesan taksi online hendak pulang ke rumahnya untuk melepaskan rindu pada keluarga.


Setelah mematut diri sebentar di depan cermin, gadis berwajah ayu itu kemudian menyambar tas punggung kecil yang selalu setia menemani Hana jika ustadzah muda itu pergi keluar.


Hana tak pernah membawa baju ganti jika pulang ke rumah, selain karena dirinya hanya pulang sebentar, di rumahnya ustadzah cantik itu juga masih menyimpan baju yang sangat banyak.


Gadis yang jika tersenyum selalu menampakkan deretan giginya yang putih bersih itu berjalan keluar dari pondokan dengan sedikit tergesa, karena Hana ingin bisa cepat sampai ke rumah dan bertemu dengan kedua orang tua dan juga saudara yang sangat menyayangi dirinya.


Ustadzah muda itu memang setiap satu bulan sekali pulang ke rumah, dan selalu menginap jika pulang. Biasanya di hari sabtu sore Hana pulang, dan baru akan kembali ke yayasan tersebut pada minggu sore.


Tetapi hari ini Hana cuma memiliki waktu satu hari saja, sehingga gadis itu malam ini tidak dapat menginap di rumahnya. Itu karena semalam sahabat Adnan tersebut harus membantu keluarga kakek Burhan, yang mengadakan acara peringatan seribu hari meninggalnya ayah Adnan.


Sebab itulah, gadis cantik dengan tubuh langsing dan kaki jenjang itu buru-buru ingin segera sampai ke rumah agar dia memiliki waktu yang lumayan panjang untuk berkumpul bersama keluarga yang selalu dirindukan Hana.


Langkah Hana yang tergesa-gesa harus terhenti, kala ustadzah cantik itu mendengar suara yang tak asing memanggil namanya.


"Ustadzah Hana,,," Zaki yang baru saja keluar dari Masjid dan hendak kembali ke pondokan, melihat Hana yang melintas di jalan yang juga akan dia lalui.


Hana pun menoleh kearah sumber suara, dan mendapati Zaki yang sedang menatapnya seraya mengernyitkan dahi. Pemuda yang akhir-akhir ini sering mengganggu pikiran Hana tersebut, berjalan semakin mendekat kearahnya dan hal itu membuat Hana menjadi gugup.


"Iya Tadz, ada apa?" Tanya Hana dengan suara tercekat di tenggorokan, gadis itu merasakan degup jantungnya berpacu sepuluh kali lebih cepat.


"Dzah Hana mau kemana sepagi ini?" Tanya Zaki dengan lembut. Pemuda tampan itu pun merasakan hal yang sama, jantung Zaki berdebar sangat kencang.


"Saya mau pulang sebentar Tadz, kangen sama orang rumah," balas Hana seraya tersenyum manis, membuat Zaki ikut tersenyum.


"Kok Ustadz Zaki juga buru-buru? Biasanya tadarus Al-Qur'an sampai pagi?" Tanya Hana, yang sedetik kemudian langsung menutup mulutnya.

__ADS_1


"Eh, em,,, maksud saya, apa Ustadz juga mau ada acara?" Hana nampak semakin grogi, karena barusan gadis itu keceplosan yang mengisyaratkan bahwa dirinya diam-diam memperhatikan aktifitas pemuda sopan di hadapannya.


Zaki tersenyum, dan dalam hati pemuda tampan itu membuncah bahagia karena gadis yang sering menyapanya dalam mimpi tersebut ternyata selama ini juga memperhatikan dirinya.


"Saya mau ikut adik-adik jalan santai," balas Zaki masih dengan mengulas senyuman manis.


Pagi ini karena sekolah libur, Zaki bermaksud untuk ikut santri putra yang kesemuanya masih siswa sekolah menengah itu untuk jalan santai di seputaran kawasan kampung halaman mommy Billa itu seperti minggu-minggu yang lalu.


Hana mengangguk seraya tersenyum malu-malu.


"Dzah Hana sudah pesan taksi?" Tanya putra sulung ayah Yusuf itu memastikan, karena Zaki tahu pasti bahwa Hana selalu pulang dengan menggunakan jasa angkutan online tersebut.


"Sudah Tadz, taksinya juga sudah menunggu," balas Hana, "kalau begitu, saya permisi dulu Tadz," lanjut Hana berpamitan.


Kembali Zaki mengangguk, "hati-hati Dzah, semoga selamat sampai tujuan," do'a Zaki dengan tulus, untuk gadis yang entah sejak kapan menyeruak masuk kedalam hatinya.


Zaki menatap kepergian Hana dengan tatapan yang sulit diartikan, bahkan hingga punggung gadis itu menghilang di tikungan pemuda tampan itu masih mematung ditempatnya yang cukup jauh dari penerangan.


Ya, ketika Zaki dan Hana bertegur sapa barusan, mereka berdua berada dalam keremangan cahaya. Cukup jauh jarak mereka berdiri dari lampu neon yang menerangi jalan utama yang menghubungkan antar pondokan, masjid dan pintu gerbang, juga kondisi langit yang masih enggan menampakkan cahaya sang surya karena hari masih terlalu pagi.


Adnan yang juga baru turun dari Masjid sesaat setelah Zaki keluar tadi, merekam semua kejadian tersebut dari awal. Pemuda berkulit kuning suami dari Sarah itu terkekeh seraya mendekati Zaki dan kemudian menepuk pelan punggung pemuda yang berusia satu tahun diatasnya tersebut.


Hal itu membuat ustadz yang banyak dibicarakan santri terutama santri putri di yayasan pondok pesantren tempat Zaki mengajar sekarang, menjadi terkejut dan langsung membalikkan badan.


"Astaghfirullah... Adnan! Aku pikir kuntilanak tadi!" Sungut Zaki dengan kesal, yang membuat tawa Adnan semakin pecah.


"Makanya jangan melamun?" Cibir Adnan, "kalau Abang cinta, kejar Hana dan katakan kalau Bang Zaki suka sama dia." Saran cucu kakek Burhan itu masih dengan tawanya.

__ADS_1


Zaki mencebik, "tak semudah itu anak muda," balas Zaki, seraya hendak melangkah pergi.


"Aku serius Bang, Hana juga suka sama Abang. Kalian itu sebenarnya telah saling jatuh cinta, tetapi terlalu banyak pertimbangan. Kalau Bang Zaki mau, aku bisa antar Abang ke rumah Hana sekarang untuk melamarnya." Ucap Adnan sungguh-sungguh, membuat Zaki mengurungkan niatnya untuk berlalu dari hadapan suami Sarah tersebut.


Zaki terdiam seraya menatap netra hitam Adnan dengan dalam, seolah menelisik kesungguhan kata-kata pemuda tengil yang suka menggodanya itu.


Memang Zaki akui, bahwa dirinya telah jatuh hati pada ustadzah muda yang bernama Hana tersebut. Tetapi putra sulung ayah Yusuf itu belum yakin, apakah gadis cantik dan cerdas itu juga menyukainya.


"Aku berkata jujur Bang, aku dan Hana bersahabat sudah empat tahun lebih dan aku tahu pasti perasaannya pada Bang Zaki." Tegas Adnan kembali, mencoba meyakinkan pemuda yang saat ini memilih menyembunyikan identitasnya sebagai cucu dari pendiri yayasan pendidikan tersebut.


Zaki menghela nafas panjang, "aku butuh waktu Nan," balas Zaki.


"Aku tahu keluarga Hana Bang, orang tuanya sangat demokratis. Abang tak perlu khawatir akan kembali menelan kekecewaan jika Hana di jodohkan, karena orang tua Hana menyerahkan semua pada putri bungsunya tersebut." Terang Adnan yang masih berusaha meyakinkan hati Zaki.


"Abang tidak akan mengalami kegagalan yang sama seperti yang kemarin, dan asal abang tahu bahwa Hana...."


"Hubby,,,!" suara melengking Sarah yang memanggil Adnan dari kejauhan, menghentikan ucapan Adnan. "Bantuin cepet!" Lanjut Sarah dengan tidak sabar.


"Bang, sorry ya. Bidadari ku memanggil," ucap Adnan sambil tersenyum mengejek.


Zaki hanya mencebik.


"Pikirkan kembali apa yang aku katakan tadi Bang," pungkas Adnan dan kemudian segera berlalu meninggalkan Zaki seorang diri.


"Sebaiknya mulai nanti malam, aku sholat istikharoh untuk meminta petunjuk dari Sang Pemilik Hati. Mungkin dengan demikian, aku tak akan ragu lagi untuk melangkah. Semoga saja mendapatkan yang terbaik," bisik Zaki pada dirinya sendiri seraya berharap, dan pemuda tampan itu kemudian segera bergegas kembali ke pondokan untuk berganti pakaian.


🌸🌸🌸🌸🌸 bersambung 🌸🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2