
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Hana atau Laila terus saja meneteskan air mata. Gadis cantik itu terlihat sangat sedih, dan Zaki yang mengendarai kendaraan milik kakek Burhan hanya bisa melihatnya dengan iba.
"Maaf Dzah, memangnya abah Ustadzah sakit apa?" Tanya Zaki sambil melirik Hana sekilas, dan kemudian kembali fokus dengan kemudinya.
Hana menggeleng, "saya tidak tahu Tadz, kakak saya tidak mengatakan apa-apa." Balas Hana dengan suara terbata, "yang bikin saya terkejut, karena kemarin abah baik-baik saja Tadz. Abah sehat dan sempat bersikukuh ingin mengantar saya berangkat ke yayasan," lanjut Hana seraya menyusut air mata yang terus saja menetes.
Zaki menghela nafas pelan dan kemudian menoleh kearah Hana, di saat yang sama ustadzah cantik itu juga menoleh kearah Zaki. "Dzah Hana yang sabar ya, semoga abahnya lekas sehat kembali." Do'a Zaki dengan tulus seraya tersenyum manis.
Hana mengangguk dan membalas senyum Zaki. "Makasih Tadz," ucap Hana lembut, "maaf Tadz, itu di depan jalanan ramai," lanjut Hana kemudian karena ustadz tampan di sampingnya tak juga mengalihkan pandangan dari menatap dirinya.
Zaki geleng-geleng kepala, seraya tertawa tanpa suara, "iya Dzah, saya lupa kalau sedang nyetir." Jawab Zaki, "gara-gara pemandangan di sebelah saya yang sangat indah dan sayang untuk di lewatkan," lanjutnya sambil kembali menatap Hana sekilas, hingga membuat ustadzah muda itu tersipu malu.
Hana menggigit bibir bawahnya sambil mengalihkan pandangan kearah luar jendela kaca, agar tak ketahuan kalau dia sedang tersenyum. Hati gadis itu berbunga-bunga, mendapatkan pujian dari laki-laki yang beberapa waktu terakhir mengisi penuh pikiran ustadzah cantik itu.
Hingga untuk sesaat, Hana dapat melupakan kesedihan di hati begitu tadi mendengar kabar bahwa cinta pertamanya tiba-tiba jatuh sakit. Padahal kemarin sore saat gadis yang terkenal manja di keluarganya itu berpamitan, sang abah dalam keadaan yang segar bugar.
Setelah menempuh perjalanan empat puluh lima menit, sampailah mobil yang dikendarai oleh Zaki di rumah sakit umum daerah kota Semarang.
Dengan tergesa Hana segera turun dari mobil dan tanpa menunggu Zaki yang masih memarkirkan mobilnya, gadis cantik itu berjalan dengan cepat menuju lobi rumah sakit.
Di depan lobi Hana berpapasan dengan kang Baharuddin, santri senior yang setia mengantarkan kemanapun keluarga sang kyai bepergian.
"Ning, ning Laila sama siapa?" Sapa kang Baharuddin seraya mengedarkan pandangan, mencari sosok Adnan yang mungkin saja mengantar Laila.
Ya, kang Baharuddin juga mengetahui bahwa Laila saat ini tengah mengajar di Yayasan Pendidikan milik sahabat kakek Zarkasyi, bersama teman akrab putri kesayangan kyai Abdulllah itu yaitu Adnan dan istrinya.
Karena beberapa kali saat mengantarkan nyai Robi'ah ke kosan Laila, kang Baharuddin sempat bertemu dengan cucu kakek Burhan tersebut. Tetapi kang Baharuddin tidak tahu, bahwa yayasan tersebut milik kakeknya Zaki.
"Sama teman Kang, dia masih memarkir mobil." Balas Laila, seraya menunjuk kearah parkiran. "Abah di lantai berapa Kang?" Tanya Laila kemudian.
"Lantai tiga Ning, abah baru saja dipindahkan ke ruang perawatan. Alhamdulillah kondisi abah sudah mulia membaik," balas kang Baharuddin memberikan penjelasan.
"Mas Adnan kan Ning? Yang mengantar Ning Laila?" Tanya kang Baharuddin memastikan.
__ADS_1
Laila menggeleng, dan kemudian melihat kearah parkiran.
"Ya udah Kang, aku ke ruangan abah dulu," pamit Laila Hana begitu melihat Zaki sedang berjalan kearahnya.
"Iya Ning, monggo," balas kang Baharuddin dengan sopan.
Laila sengaja berjalan perlahan menuju lift, agar Zaki bisa menyusul langkahnya.
"Kang, ngapain di sini? Siapa yang sakit?" Tanya Zaki seraya mengernyitkan dahinya, begitu berpapasan dengan kang Baharuddin yang akan menuju mobil.
Zaki berhenti sebentar, tetapi pandangannya tertuju kearah Hana karena pemuda tampan itu tak mau ketinggalan jejak ustadzah yang telah mencuri hatinya itu.
"Lha kamu sendiri ngapain Zak?' Bukannya menjawab pertanyaan Zaki, kang Baharuddin malah balik bertanya.
"Nganter temen Kang," balas Zaki sambil sesekali melihat kearah Hana, yang terus berjalan menuju lift. "ya udah Kang, Zaki duluan. Nanti Zaki telepon Kang Din," pamit Zaki sambil berlari kecil menyusul Hana, karena gadis cantik itu telah masuk kedalam lift.
Menyisakan kang Baharuddin yang mengernyitkan keningnya dengan dalam, "siapa sih temennya Zaki?" Gumam kang Baharuddin bertanya pada diri sendiri.
Santri senior itu kemudian bergegas menuju mobil, karena dia harus membeli makanan dan minuman untuk keluarga pak kyainya seperti yang diminta gus oleh gus Umar tadi.
"Dzah,,,"
"Tadz,,,"
Sapa mereka berdua bersamaan, dan keduanya kemudian sama-sama tertawa.
Zaki mengangguk seraya menunjuk Hana, memberi isyarat agar gadis itu yang berbicara terlebih dahulu.
Hana tersenyum, "tadi saya lihat Ustadz berbicara sama seseorang, apakah Ustadz Zaki mengenalnya?" Tanya Hana penasaran, karena dia sempat menoleh tadi saat Zaki berbicara dengan santri abahnya.
Belum sempat Zaki menjawab, pintu lift terbuka. Hana dengan secepat kilat melesat, meninggalkan Zaki bahkan gadis itu melupakan pertanyaannya barusan.
Laila Hana hanya ingin secepatnya bertemu dengan sang abah, dan mengetahui keadaan laki-laki paruh baya yang sangat disayanginya itu.
__ADS_1
Di depan ruang perawatan, gus Umar dan sang istri sedang duduk dengan wajah yang nampak khawatir. Sementara di dalam ruang perawatan VIP, dokter dan perawat sedang memeriksa keadaan sang abah dengan didampingi oleh sang umi.
Melihat kakak dan kakak iparnya, Laila langsung menghambur dan memeluk gus Umar sambil kembali menangis. "Abah kenapa Kak? Kenapa bisa tiba-tiba sakit? Bukankah kemarin, abah sehat dan segar bugar?" Cecar Laila di sela isak tangisnya.
Sementara Zaki yang tadi berjalan agak jauh di belakang Hana, dibuat terkejut saat melihat ustadzah muda yang telah membuat jantungnya berdegup kencang kala berdekatan itu memeluk gus Umar.
Zaki mengernyitkan keningnya, berjalan mendekat tetapi pemuda tampan itu memilih untuk menunggu di tempat yang agak tersembunyi. "Apa itu artinya, ustadzah Hana adalah ning Laila?" Gumam Zaki sambil terus mengawasi kakak beradik yang saling berpelukan tesebut.
Dengan lembut, kakak laki-laki Laila itu mencium puncak kepala sang adik. "Udah Dik jangan nangis, InsyaAllah abah akan baik-baik saja. Sekarang abah lagi diperiksa sama dokter, makanya kami nunggu di luar. Ayo duduk dulu," pinta gus Umar, seraya menuntun sang adik.
Laila hanya menurut ketika didudukkan oleh Aida di tengah, diantara sang kakak dan sahabat karibnya.
Aida menggenggam tangan Laila, dan istri gus Umar itu kemudian menyandarkan kepala Laila di bahunya. Gadis cantik itupun menurut saja, dan tangan Laila kemudian memeluk pinggang Aida.
"Maafkan aku ya La," lirih Aida.
"Kenapa mbak Aida minta maaf?" Tanya Laila masih dengan suaranya yang terbata.
"Maafkan kakak juga Dik," ucap gus Umar yang menimpali perkataan sang istri, dan hal itu membuat Laila seketika menegakkan punggung seraya menatap sang kakak dan kakak iparnya bergantian.
"Ada apa? Kenapa jadi kak Umar dan mbak Aida yang minta maaf? Apakah ini ada kaitannya dengan sakitnya abah?" Kembali Laila mencecar kakaknya dengan banyak pertanyaan.
Sementara gus Umar dan sang istri saling pandang, dan seolah sedang berbicara melalui tatapan mata.
πΈπΈπΈπΈπΈ bersambung πΈπΈπΈπΈπΈ
iya, iya,, kalian semua benar
dah ya, jangan curiga lagi pada ku
aku tuh setia tahu ππ
tapi eh tapi.. tunggu dulu
__ADS_1
karena tak semudah itu menjodohkan mereka berdua ferguso!
harus ada syaratnya, kembang gula dan kopi π€