Finding Love

Finding Love
Membuangnya Dari Hatiku


__ADS_3

Pagi harinya, karena merasa sudah sangat sehat Kyai Abdullah meminta untuk pulang. Dokter pun akhirnya mengijinkan dengan syarat agar Kyai pengasuh pondok pesantren itu tidak banyak melakukan aktifitas terlebih dahulu, menjaga pola makan dan juga harus banyak istirahat.


Kang Baharuddin kembali dihubungi oleh gus Umar untuk menjemput sang abah, karena gus Umar harus mengantarkan sang adik untuk berpamitan dan mengambil barang-barangnya ke yayasan terlebih dahulu.


Semenjak hari itu, Laila akhirnya kembali ke rumah dan berkumpul bersama orang-orang yang sangat menyayangi gadis cantik, ceria dan selalu manja pada keluarganya tersebut.


Meskipun Laila merasa tenang dan bahagia berada di tengah-tengah keluarga yang menyayangi dirinya dengan tulus, namun sisi hati Laila yang lain merasa kosong dan hampa.


Sekuat apapun Laila berusaha untuk melupakan ustadz tampan yang dikenalnya di yayasan beberapa bulan terakhir, namun nyatanya bayangan Zaki melekat begitu sempurna dalam ingatan putri bungsu Kyai Abdullah tersebut.


Hari-hari berikutnya, Laila lalui bagai sosok robot yang seperti tak memiliki rasa. Gadis itu pasrah saja dengan kehidupannya dan apa yang akan terjadi kedepannya nanti.


Setiap pagi Laila mengajar di sekolah hingga siang dan pada sore hari ikut membantu sang Umi mengajar di pesantren, kemudian malamnya gadis itu habiskan dengan bercengkrama bersama keluarga.


Beberapa hari Laila berada di rumah dan mencoba untuk beraktivitas secara maksimal agar tak ada waktu untuk memikirkan Zaki, tetapi nyatanya pikiran gadis itu masih dipenuhi oleh bayangan ustadz yang mempesona itu hingga Laila sendiri sampai bingung dibuatnya.


Abah dan Uminya Laila bukan tak mengerti dengan apa yang terjadi pada putri bungsu yang sangat mereka sayangi itu, namun beliau berdua sengaja memberikan ruang kepada Laila untuk berpikir dengan jernih dan berharap suatu saat sang putri mau berterus terang tentang perasaannya.


Begitu pun dengan sang kakak dan juga Aida, sahabat Laila yang sekaligus kakak iparnya itu juga sengaja membiarkan Laila merenung seorang diri. Aida sama sekali tak pernah mencoba untuk mengajak sang adik ipar untuk berbicara dari hati ke hati seperti biasanya.


"Kenapa susah sekali sih ngilangin bayangan ustadz Zaki? Perasaan waktu gus Zain memutuskan hubungan secara sepihak dan sangat mendadak, aku enggak segalau ini deh?" Gerutu Laila pada dirinya sendiri, seusai dirinya menjalankan sholat malam setelah lima hari gadis itu berada di rumah.


Laila mencoba memejamkan mata dan berharap bisa kembali tidur, karena waktu shubuh masih cukup lama. Gadis itu tiba-tiba teringat ketika laki-laki yang merupakan kakak tingkatnya di kampus, yang sudah menjalin kedekatan dengan Laila sekitar dua tahun, datang menemuinya ke kosan tepat dua hari menjelang Laila di wisuda.


Tentu saja kedatangan gus Zain yang tiba-tiba itu membuat putri bungsu kyai Abdullah tersebut sangat terkejut, karena sebelumnya putra kyai dari Jawa Timur itu mengatakan bahwa dia akan pulang dua bulan lagi sekalian untuk menjemput Laila yang akan ikut melanjutkan studi ke Mesir.


"Kak Zain?" Laila terkejut kala sampai di ruang tamu kosannya dan mendapati ternyata tamu yang mencarinya adalah gus Zain, pemuda berkulit sawo matang yang selama ini dekat dengan Laila.


"Assalamu'alaikum Ning," gus Zain memberi salam, seraya tersenyum tipis.


"Wa'alaikumsalam,,," balas Laila dengan senyum yang lebar, "silahkan duduk Kak," Laila mempersilahkan tamu istimewanya itu untuk duduk di sofa.


"Kak Zain kapan datang? Kok ndak kasih kabar dulu?" Cecar Laila penuh selidik.


'Tiga hari yang lalu Ning, maaf mendadak jadi ndak sempat kasih kabar," balas gus Zain, yang Laila rasakan sangat janggal.

__ADS_1


Laila mengernyit, tapi tak mau mengambil kesimpulan.


Sedangkan gus Zain, pemuda itu juga nampak ragu untuk berbicara.


Hingga beberapa saat suasana ruang tamu kosan Laila itu menjadi hening, masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Maaf Kak, apa ada yang mau Kakak sampaikan?" Tanya Laila kemudian memecah keheningan, gadis berkulit putih dan halus itu penasaran dengan sikap pemuda dihadapannya yang tak seperti biasa.


Gus Zain menghela nafas berat, menegakkan punggungnya dan menatap Laila yang juga tengah menatapnya dengan tatapan menyelidik.


'Sebelumnya aku mau minta maaf Ning," lirih gus Zain mengawali apa yang akan dia sampaikan.


Pemuda itu nampak mengambil sesuatu dari tas cangklong yang dia bawa, dan kemudian memberikan sebuah undangan kepada Laila dengan tangan gemetaran. "Maaf Ning," ulangnya lirih, dan kemudian segera menunduk.


Laila menerima undangan tersebut dengan hati berdebar-debar, perasannya menjadi tidak tenang. Tetapi putri Kyai Abdullah itu memberanikan diri untuk membuka undangan tersebut.


Gadis cantik itu membelalakkan netra, kala membaca deretan huruf yang menampilkan nama Delia Zahwa dan Zainul Wafa dalam undangan yang saat ini berada di tangannya.


Untuk sesaat, dunia rasanya berhenti berputar. Tatapan Laila masih terpaku pada undangan yang masih terbuka itu, dan tanpa dapat dia bendung air matanya menetes begitu saja membasahi undangan tersebut.


Suasana di ruang tamu kembali sunyi, gus Zain masih menunduk sambil sesekali melirik gadis dihadapannya yang berderai air mata.


"Maaf Ning," kembali pemuda berkumis tipis itu mengulang permintaan maafnya, dan kemudian ikut berdiri.


"Ning, apa kamu ndak mau mendengar alasanku terlebih dahulu?" Pinta gus Zain atau gus Wafa tersebut, seraya menatap Laila dengan memohon.


Pemuda itu berharap, Laila mau memberi dia kesempatan untuk menjelaskan semua agar gadis cantik dihadapannya itu tidak berburuk sangka terhadap dirinya.


"Ndak perlu Kak, ndak ada gunanya juga," balas Laila dengan tegas, "pintu masuk dan pintu keluarnya masih sama," lanjutnya sambil tersenyum kecut.


Gus Zain mengangguk dan kemudian segera meninggalkan ruang tamu seraya mengucapkan salam, "assalamu'alaikum...."


"Wa'alaikumsalam,,," balas Laila, yang kemudian terduduk kembali di sofa.


Netra bulat gadis itu menatap nanar undangan yang masih dipegangnya, "dunia ini benar-benar sempit, tapi kenapa harus ning Zahwa yang menjadi istri kak Zain? Itu artinya, kami akan sering bertemu nantinya." Gumam Laila dalam hati.

__ADS_1


"Ning, ikhlaskan saja laki-laki seperti itu." Suara sahabatnya yang tiba-tiba muncul mengejutkan Laila.


"Nan? Sejak kapan kamu datang?" Tanya Laila pada suami Sarah yang kos bareng dengan dirinya.


"Beberapa detik setelah gus Zain masuk," balas Adnan.


"Kamu nguping ya?" Tuduh Laila, dan Adnan menggeleng.


"Aku masih merokok, jadi tidak langsung masuk tadi," elak Adnan.


"Hubby,,, aku tungguin dari tadi, kok enggak datang-datang?" Protes Sarah yang baru masuk ke ruang tamu, seraya menghambur memeluk suaminya.


"Lagi nenangin Ning Hana yang lagi galau sayang," balas Adnan sambil memeluk pinggang sang istri.


"Pamer aja terus!" Sungut Laila karena kedua sahabat somplak itu, suka pamer kemesraan dihadapannya.


"Galau kenapa?" Tanya Sarah yang belum tahu apa-apa.


Adnan kemudian menceritakan semua yang dia dengar kepada sang istri.


"Sabar ya Han, pasti akan segera datang yang terbaik untukmu," hibur Sarah, yang memanggil Laila dengan panggilan Hana.


"Makanya seperti kami dong, kalau udah cocok langsung nikah. Jangan lama-lama pendekatan, nanti jatuhnya kita jagain jodoh orang." Olok Adnan seraya terkekeh, yang diikuti oleh Sarah


Sedangkan Laila mencebik, dan kembali menatap undangan yang masih berada di tangannya.


Adnan merebut undangan tersebut, merobeknya dan kemudian membuang di tempat sampah. "Itu tempat terbaik untuk mantan," ucap Adnan, yang membuat Laila tertawa.


"Nah, gitu dong... jangan mewek!" Ledek Adnan, dan mereka bertiga kemudian tertawa bersama.


Kumandang adzan shubuh menyadarkan Laila dari lamunan panjangnya, Laila tersenyum dan kemudian segera beringsut dan duduk di tepi ranjang.


"Kak Zain memang mantan, dan aku sudah berhasil membuangnya dari hatiku. Tetapi ustadz Zaki? Kami belum pernah saling menyatakan perasaan..." Laila sejenak termenung.


"Tapi benarkah apa yang dikatakan Adnan, kalau ustadz Zaki mau menikah? Terlambat kah aku, jika aku jujur pada abah dan umi dengan perasaanku ini?" Laila bertanya pada diri sendiri seraya menimbang-nimbang.

__ADS_1


Laila menghela nafas panjang, "aku harus jujur sama abah dan umi, kalau aku suka sama ustadz Zaki. Enggak masalah, kalau ternyata aku terlambat. Yang penting aku sudah jujur," lirih Laila, meyakinkan hatinya sendiri.


🌸🌸🌸🌸🌸 bersambung 🌸🌸🌸🌸🌸


__ADS_2