Finding Love

Finding Love
Minta Kawin Secepatnya


__ADS_3

Gus Umar menatap adiknya dengan intens, mengusap puncak kepala Laila dengan lembut sambil membujuk adik kesayangannya.


"Enggak bisa Dik, lagian abah pasti malu kalau membatalkan sepihak. Kamu enggak kasihan sama abah?"


"Tapi Kak, sebenarnya...."


"Udah deh La, kamu nurut aja dulu." Aida pun ikut membantu sang suami membujuk Laila, hingga cukup lama suami istri itu membujuk adiknya namun Laila masih saja enggan beranjak.


Waktu hampir menunjukkan pukul dua belas, dan kumandang adzan dhuhur terdengar dari Masjid di komplek pesantren tersebut. Laila masih terdiam ditempatnya, bahkan gadis itu semakin deras mengeluarkan air matanya dan menangis sesenggukan.


"Sayang, kamu bujuk Dik Laila ya. Aku mau jama'ah dulu di Masjid," pinta gus Umar pada sang istri, yang disetujui oleh Aida dengan mengangguk.


Setelah sang suami keluar dari kamar Laila, Aida segera duduk di samping sahabatnya itu. Aida mengusap-usap lengan Laila dengan lembut, "aku tahu apa yang kamu rasakan La, karena aku pernah mengalaminya." Ucap Aida.


Laila menoleh kearah Aida dan kemudian memeluk sahabatnya itu.


"Aku sarankan, yang penting nanti kamu keluar dulu dan menemui tamunya." Aida melerai pelukan Laila dan menatap dalam netra sang adik ipar.


"Setelah itu baru kamu putuskan, mau lanjut atau berhenti sampai disini. Menurut yang aku dengar, mereka juga enggak mau memaksakan kehendak..." sejenak Aida menjeda ucapannya.


"Karena memang sebaiknya antara kamu dan pemuda itu harus ada pembicaraan dahulu dari hati ke hati bukan?"


Laila mengangguk, "baiklah, aku akan ikuti saran mbak," Laila segera beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, dan berwudhu.


Mereka berdua kemudian menjalankan sholat dhuhur di kamar Laila, dan setelahnya Aida akan membantu Laila untuk bersiap dan mengenakan pakaian yang baru saja di beli Aida bersama sang suami.


Sementara di luar, tamu yang dinanti keluarga kyai Abdullah telah tiba. Rombongan keluarga besar itu disambut hangat oleh kyai sepuh, kyai Abdullah dan gus Umar.


Mereka semua kemudian dipersilahkan untuk masuk ke ruang tamu yang sudah ditata dengan rapi, sofa di ruangan tersebut sudah dipindahkan ke teras depan. Mereka duduk dengan lesehan, di atas permadani yang empuk.


Setelah mengobrol cukup lama, nyai Robi'ah masuk kedalam untuk memanggil sang putri. "Ning, sudah siap?" Nyai Robi'ah memasuki kamar putrinya, dan melihat Laila masih mengenakan longdress dengan rambut yang masih tergerai.


"Ya Allah Ning, dari tadi itu kamu ngapain saja? Kok belum siap? Tamunya sudah datang dari tadi Ning?" Protes nyai Robi'ah dan ibu dari dua anak itu kemudian mengambil gaun yang masih di pegang oleh Aida.

__ADS_1


"Sini, umi bantu pakaikan," nyai Robi'ah mendekati putrinya.


"Enggak mau Mi," tolak Laila, "Laila pakai ini saja, kalau dia pemuda yang baik, dia pasti tetap bisa menerima meski Laila tampil apa adanya."


Nyai Robi'ah menggeleng-gelengkan kepalanya, dan menghela nafas panjang.


"Aida juga ndak berhasil membujuk Dik Laila Umi, maaf," lirih Aida tak enak hati.


Nyai Robi'ah mengusap punggung Aida sekilas dan tersenyum kepada menantunya itu, mengisyaratkan bahwa Aida tak perlu merasa bersalah.


"Baiklah Ning, terserah gimana baiknya menurut kamu. Lekas pakai hijab dan kita keluar bersama," pungkas nyai Robi'ah yang akhirnya mengalah.


Dengan berat hati Laila kemudian memakai hijab, gadis itu memilih memakai hijab yang pernah dipakainya sewaktu baru pulang dari rumah dan kembali ke yayasan beberapa waktu yang lalu sebelum dirinya boyong.


Entah mengapa, Laila suka sekali dengan hijab tersebut ketika dia tahu ternyata pemberinya adalah pemuda yang sudah memenuhi hati dan pikirannya akhir-akhir ini.


Laila yang tanpa make up dan hanya mengenakan dress rumahan, berjalan gontai mengikuti langkah sang umi dengan digandeng oleh Aida.


Gadis itu terus menunduk dan tak mau melihat kearah tamunya, Laila langsung duduk di samping sang umi tepat di samping pintu masuk kedalam agar mudah baginya untuk melarikan diri.


Putrinya itu juga tak bisa melakukan pekerjaan rumah tangga, seperti hal nya gadis-gadis lain. Sang abah juga mengatakan bahwa dirinya masih suka tidur bareng sang umi, dan sama sekali belum bisa mandiri.


Gadis cantik itu sama sekali tak berniat untuk melihat rupa tamunya, Laila lebih memilih menekuri permadani berwarna merah dengan motif bunga-bunga yang sangat indah. "Sayangnya, keindahan permadani ini tak seindah kisah ku," gumam Laila dalam hati.


Ketika Laila mendengar suara asing yang berbicara dengan penuh wibawa, yang mengatakan bahwa tak masalah jika istri dari putranya nanti tak bisa melakukan tugas-tugas rumah karena sang putra mencari pendamping hidup dan bukan asisten rumah tangga, Laila sempat tersenyum tapi tetap tak mau mengangkat wajahnya.


Sang kakek pun terdengar menimpali, "Ning Ragil itu memang manja sekali, kalau tidak percaya bisa ditanyakan pada cucunya Burhan. Mereka berdua bersahabat."


"Adnan? Adnan ada disini?" Laila ingin sekali mencari keberadaan sahabatnya itu, namun Laila khawatir akan melihat pemuda yang sama sekali tak diharapkannya hingga gadis itu tetap memilih untuk menunduk.


"Benar Ayah, Bunda. Laila Hana itu sangat manja, tapi putra Ayah dan Bunda sudah sangat mengenalnya kok." Timpal Adnan, seraya menatap kedua orang tua pemuda tersebut.


"Siapa? Siapa yang sangat mengenalku? Apa pemuda yang datang bersama keluarganya ini adalah teman kampusku?" Laila menjadi bertanya-tanya, tapi tetap belum memiliki keberanian untuk melihat siapa pemuda dan keluarganya tersebut.

__ADS_1


Sisi hatinya masih belum siap untuk menerima pemuda lain, karena hati dan pikiran gadis cantik dan manja itu kadung terpatri ke sebuah nama, yaitu ustadz Zaki.


Obrolan demi obrolan masih terus berlanjut dan Laila masih saja menunduk, bahkan putri bungsu kyai Abdullah itu juga bisa menangkap bahwa antara keluarganya dan keluarga pemuda yang saat ini datang terdengar sudah sangat akrab.


Bahkan kakak iparnya, Aida, juga terdengar ikut bercanda dengan keluarga pemuda tersebut. Namun Laila masih saja menatap kebawah kearah permadani empuk yang menghiasi lantai ruang tamu.


Suara yang tak asing di telinga Laila, terdengar menyebut namanya dengan lembut dan terdengar begitu dekat.


"Ustdzah Hana, tidakkah kamu ingin melihat ku?"


Laila langsung mengangkat wajah dan mencari sumber suara, yang tenyata tengah duduk tepat di samping sang umi.


"Ustadz Zaki?" Tanya Laila seraya membulatkan mata tak percaya, jantungnya tiba-tiba berdetak sangat kencang.


Zaki yang sedari tadi menatap kearah Laila dengan hati yang berdebar dan perasaan yang berbunga, mengangguk dan tersenyum manis, "apa kabar Dzah?"


"Ba-- baik Tadz," balas Laila tergagap, hati gadis cantik itu membuncah bahagia mengetahui bahwa pemuda yang datang adalah pemuda yang sangat diharapkannya.


"Cie,,, malu-malu nih ye?" Goda Adnan, yang tersenyum tengil kearah Laila.


Laila cemberut, "Nan, waktu itu kan kamu bilang kalau ustad Zaki mau nikah?" Tanya Laila menuntut jawab.


"Emang iya Bang Zaki mau nikah, sama kamu kan?" Jawab Adnan tanpa rasa bersalah, yang membuat semua orang tersenyum lebar.


Begitu pun dengan Zaki yang tersenyum seraya mengangguk, tetapi berbeda dengan Laila yang langsung menunduk malu.


"Oh, jadi karena informasi itu yang membuat adikku beberapa hari ini kayak orang patah hati?" Goda gus Umar pada sang adik, membuat Laila yang tengah berdebar-debar semakin menundukkan wajahnya tak berani menatap Zaki kembali.


"Terus tadi, kamu mau bilang apa sama abah dan Umi Ning?" Tanya kyai Abdullah yang ikut menggoda sang putri.


"Mau minta kawin secepatnya paling Paman," balas Adnan, yang disambut tawa oleh dua keluarga yang tengah berbahagia itu.


🌸🌸🌸🌸🌸 bersambung 🌸🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


Yang penasaran apa yang dikatakan Zaki pada camer, InsyaAllah besok yah 😊😊


__ADS_2