
Menjelang adzan maghrib, sanak saudara dan para tetangga pamit untuk pulang ke rumah masing-masing. Sementara keluarga besar Zaki masih berada di kediaman kyai Abdullah dan rencana baru akan kembali ke rumah kakek Zarkasyi setelah sholat isya'.
Bakda sholat maghrib, mereka semua menikmati makan malam bersama. Makan malam yang di gelar secara lesehan di halaman depan kediaman kyai Abdullah, yang telah dipasangi tenda untuk acara resepsi esok hari.
Makan malam kali ini nampak sangat meriah, karena bertambahnya satu anggota baru di keluarga Alamsyah. Apalagi keluarga Kakek Burhan juga masih berada di sana dan mereka semua juga akan ikut menginap di kediaman kyai sepuh.
Celoteh anak-anak, canda-ria para remaja serta obrolan hangat para orang tua, terdengar sangat menyenangkan. Mereka semua berbahagia, terutama bagi pasangan pengantin baru.
Laila nampak telaten melayani suami barunya, demikian pun Zaki yang nampak romantis memperlakukan sang istri.
"Umm,,, cobain ini deh, ini enak banget," titah Zaki, seraya hendak menyuapi sang istri dengan tangannya.
Laila pun menurut dan membuka mulutnya dengan malu-malu, Zaki kemudian menyuapkan nasi lengkap dengan lauk kedalam mulut sang istri.
"Cie,,, yang pengantin baru, makan aja suap-suapan," ledek Bayu dengan mulutnya yang penuh makanan.
"Babay, dilarang mem-bully pengantin baru," tegur Kevin.
"Tahu tuh si Babay, kayak enggak pernah jadi pengantin aja," timpal Rahman.
"Udah lupa gue, udah lama sih?" balas Bayu seraya tersenyum nyengir.
"Nikah lagi aja Bay," Adnan pun ikut menimpali.
"Wah, ide bagus tuh mas Adnan. Aku sih mau banget, tapi yayang Devi kasih ijin gak ya?" Bayu melirik sang istri yang pura-pura cuek.
"Halah, gaya lu Bay. Satu aja udah bingung belum bisa buat doi seneng, udah mau nambah aja. Lu pikir gampang apa, punya istri lebih dari satu?" Olok Dion, yang disetujui Fira dengan mengangguk.
"Tuh, dengerin apa kata Ustadz Dion!" Cibir Rahman, yang disambut tawa oleh teman-temannya.
"Sejak kapan bang Dion jadi ustadz? Nyantri dimana Lu, Bang? tanya om Ilham yang ikut terkekeh.
"Dion belajar online dari Kak Umar, Om," balas Dion asal, seraya melirik gus Umar yang tengah makan sambil sesekali menyuapi sang istri.
Gus Umar dan istrinya itu hanya senyum-senyum mendengar candaan mereka, sedangkan para orang tua yang asyik ngobrol sendiri nampak sama sekali tidak terganggu.
Begitu pun dengan Zaki dan sang istri, yang tetap makan dengan sesekali menunjukkan keromantisannya.
"Jadi pengin nikah cepet gue," celetuk Dion, ketika netranya secara tak sengaja melihat Zaki tengah mengusap bibir sang istri yang belepotan dengan ibu jarinya.
"Makanya bang Dion, jaga pandangan mata. Jangan sampai dolan kemana-mana tuh mata," sahut om Ilham seraya tergelak, Fira pun ikut terkikik.
"Mata Dion enggak kemana-mana kok Om, obyeknya aja yang tepat di depan mata." Dion membela diri.
"Bang Zaki, adiknya besok dinikahkan aja sekalian," usul Adnan, yang melihat kedekatan Dion dan Fira.
"Belum boleh dia Mas, belum kelar kuliahnya Dion," balas Rahman, yang mewakili Zaki.
__ADS_1
"Enggak apa-apa kali bro, daripada nambah dosa sering deketan kayak gitu? Benar enggak Kak Umar?" Adnan meminta persetujuan pada gus Umar.
Gus Umar mengangguk, "kalau memang sudah siap, ya langsung saja menikah, tapi kalau belum siap sebaiknya menjaga jarak terlebih dahulu," saran gus Umar.
Dion mengangguk-angguk, begitu pun dengan Fira.
"Dengerin tuh Bro," timpal Rahman.
"Hey, wejangan itu buat lu juga kali!" Cibir Dion, yang disetujui oleh semua.
Rahman tersenyum kecut seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Makan malam yang penuh keakraban dan kehangatan itu pun usai, tepat bersamaan dengan adzan isya yang berkumandang di Masjid.
Seluruh anggota keluarga ikut sholat berjamaah di Masjid, kecuali Laila yang memilih sholat di dalam kamarnya.
Laila yang baru masuk kedalam kamar dengan diiringi Zaki yang hendak mengambil peci, dibuat terkejut melihat kamarnya yang telah berubah.
Kamar milik Laila telah disulap menjadi kamar pengantin yang sangat indah, ranjang pengantin pun bertabur dengan buka mawar yang aromanya sangat memikat.
Kelambu putih dengan renda-renda cantik menghiasi ranjang milik Laila, menambah keromantisan suasana kamar pengantin tersebut.
Rupanya sang umi telah mempersiapkan semuanya, disaat mereka tengah makan malam barusan.
"Umm,,, siapa yang telah mendekor kamar kita?" lirih Zaki bertanya.
"Ya sudah, Abi ke Masjid dulu ya Umm," pamit Zaki seraya mencium kening sang istri, "jangan lupa ya Umm, nanti pakai gaun yang Abi belikan," lanjut Zaki dengan kerlingan nakal.
Laila tersipu malu, wajah putih itu merona merah. Entah kekuatan darimana, gadis itu membalas kegenitan sang suami dengan kecupan sekilas di pipi Zaki
Zaki terpaku ditempatnya, "Umm, apa yang Ummi lakukan barusan? Apa Ummi sengaja mau membuat Abi jamaah di kamar saja? Kita jamaah nanti setelah mandi?" Zaki menatap istrinya dengan intens, hingga membuat Laila gelagapan.
"Eh, enggak Bi, bukan seperti itu. Udah, Abi jamaah dulu sana," usir Laila sambil mendorong tubuh atletis sang suami, tetapi tubuh tinggi tegap itu gak bergeser sama sekali.
Zaki justru menangkap tubuh langsing sang istri dan membawa Laila kedalam dekapan. Zaki mencium puncak kepala sang istri cukup lama, sambil meresapi aroma wangi rambut sang istri yang mulai mengundang hasratnya.
Laila yang berada dalam dekapan sang suami, mencium aroma maskulin sang suami dan meresapinya dengan sepenuh hati. Jantungnya semakin berdegup kencang, aliran darahnya terasa hangat mengalir ke seluruh tubuh dan mulai menuntut lebih.
"Umm,,, Abi jamaah dulu ya? Lama-lama di sini bersama Ummi, Abi takut khilaf dan enggak jadi jamaah," pamit Zaki kembali seraya mengurai pelukan, pemuda tampan itu terkekeh kecil menyadari sikapnya barusan.
Laila pun ikut tertawa, tawa yang terdengar renyah dan membuat Zaki semakin gemas dibuatnya.
*****
Bakda jamaah sholat isya', keluarga besar Zaki beserta keluarga kakek Burhan pamit undur diri. Mereka keluar dari kediaman kyai Abdullah, bersama dengan kyai sepuh dan sang istri menuju kediaman kakek dari gus Umar dan Laila tersebut.
Setelah iring-iringan kendaraan keluarga besar Zaki tak terlihat, Kyai Abdullah menyuruh Zaki dan Laila agar segera beristirahat sebab besok masih ada acara yang pasti akan menguras energi.
__ADS_1
"Nak Zaki, kalian beristirahatlah," titah kyai Abdullah pada sang menantu.
"Nggih Abah," balas Zaki dengan senang hati, karena malam ini adalah saat yang telah dinantikannya sejak tadi.
"Enggak perlu buru-buru Dik Zaki, slowly but sure" bisik gus Umar yang membuat Zaki mengernyitkan dahi, tetapi sedetik kemudian tertawa senang.
"Pasti Kak," balas Zaki dengan antusias.
Putra sulung ayah Yusuf tersebut segera mengajak sang istri untuk masuk ke dalam kamar pengantin, mereka berdua kemudian melaksanakan sholat sunnah dua rakaat. Sholat sunnah di malam pertama mereka dan setelah itu Zaki membaca do'a yang diaminkan oleh sang istri.
Do'a yang artinya, "Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan kepada istriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah, berikanlah rezeki kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah rezeki kepada mereka lantaran aku. Ya Allah, satukanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan dan pisahkan lah kami (berdua) dalam kebaikan.
Zaki mencium ubun-ubun bidadari syurga nya itu dengan penuh kasih dan kemudian membantu Laila untuk melepaskan mukenanya.
Suami Laila itu terpaku melihat kemolekan tubuh sang istri dibalik balutan gaun tidur transparan, yang dia pilihkan untuk istrinya tersebut.
Ya, Laila telah mengenakan gaun yang diminta sang suami ketika Zaki berwudhu tadi. Laila kemudian segera mengenakan mukena sebelum Zaki melihat dan membuat gagal sholat sunnah mereka.
Tak sabar Zaki langsung membopong tubuh sang istri dan membaringkannya di atas ranjang empuk dengan sprei putih yang bertabur bunga mawar, Zaki menatap lekat netra sang istri seolah berbicara dari hati ke hati.
Laila mengangguk dan tersenyum lembut, tangan mulus nan putih itu menuntun sang suami agar menyentuh dirinya. Laila telah rela menyerahkan jiwa dan raganya untuk sang suami, putri bungsu kyai Abdullah itu pun paham bagaimana cara menyenangkan sang suami.
Zaki tersenyum dan kemudian mendekatkan dirinya, menyentuh dengan lembut setiap inci wajah sang istri dan mengagumi keindahan yang kini telah sah menjadi miliknya.
Jantung mereka berdua berdetak lebih cepat, nafas keduanya pun mulai memburu. Zaki semakin mendekatkan wajah dan mulai menyatukannya dengan lembut.
Sejenak Zaki menjauhkan wajah dan menatap sang istri dengan penuh cinta. "Aku mencintaimu Umm, bahkan sejak pertama kali melihatmu." Lirih Zaki dengan lembut, membuat jantung Laila semakin berdegup kencang.
'"Aku juga mencintaimu Abi, terimakasih untuk kejutan yang indah ini," balas Laila dan tanpa ragu, istri Zaki itu menangkup kedua sisi pipi sang suami dan menyatukan bibir mereka berdua, membuat hati Zaki membuncah bahagia.
Sepasang suami-istri yang baru saja melangsungkan pernikahan itu tenggelam dalam kehangatan, mereguk manisnya madu, dan bersama-sama mengarungi indahnya cinta.
Keringat mulai membasahi tubuh kedua insan yang masih menyatu tersebut, suara-suara syahdu terdengar lirih keluar dari mulut mereka menambah hasrat yang kian menggebu. Saling menuntut,saling memberi dan saling menerima kenikmatan duniawi yang tiada tara.
Desau angin dingin di musim kemarau yang berhembus menerpa dedaunan kering dan menimbulkan suara musik alami, menambah keindahan malam mereka berdua.
Zaki melantunkan do'a dengan lirih bersamaan dengan cairan hangat miliknya, yang mengalir deras dan menyemai ladang subur milik Laila. "Allahummaj'alnuthfatanaa dzurriyyatan thayyibah."
Yang artinya: "Ya Allah, jadikanlah nutfah (air mani) kami ini menjadi keturunan yang baik (saleh)."
Laila tersenyum manis di akhir percintaan, semanis cinta mereka berdua yang berakhir sangat indah.
Zaki membalasnya dengan kecupan hangat di kening, pipi, mata, hidung dan bibir tipis sang istri, hingga membuat Laila merasa geli dan keduanya kemudian tertawa bahagia bersama, sambil menarik selimut dan menutupi tubuh polos mereka berdua.
"Have a nice dream, baby,,,"
🌸🌸🌸🌸🌸 bersambung 🌸🌸🌸🌸🌸
__ADS_1