Finding Love

Finding Love
Model Papan Seluncuran


__ADS_3

Hari-hari berikutnya, Zaki jalani dengan beraktivitas seperti biasa. Putra sulung ayah Yusuf itu setiap bakda shubuh masih belajar secara privat kepada gus Umar, dan di malam hari tetap mengikuti kelas Diniyah meski Zaki sudah sangat pandai membaca kitab dan bisa belajar sendiri apa yang diajarkan para ustadz di kelas Diniyah tersebut.


Selain belajar mengaji, Zaki juga terus menggembleng para pengurus pesantren, pengurus kantin sekolah serta sebagian pekerja kyai Abdullah di ladang dan memberikan mereka pengetahuan bagaimana menjalankan sebuah bisnis.


Zaki mengajarkan ilmu marketing, dan juga ilmu pengelolaan keuangan. Hanya satu harapan Zaki, pondok pesantren dan yayasan pendidikan milik kyai Abdullah tersebut akan semakin kuat dari segi perekonomian,, hingga dapat menampung lebih banyak santri dan siswa yang tidak mampu, agar tetap dapat menuntut ilmu setinggi-tingginya.


Karena kesibukan nya tersebut, tanpa Zaki sadari ternyata hari pernikahan Delia Zahwa sudah sangat dekat. Zaki yang juga mendapatkan undangan dari gadis yang dulu di incar nya itu, kini kebingungan hendak mencari kado yang cocok untuk Delia dan bermaksud meminta tolong pada Aida.


Usai ngaji kitab hadits Kutubussittah pagi ini, Zaki mengutarakan niatnya. "Kak Umar, maaf. Apa Zaki boleh ngobrol sebentar sama mbak Aida?" Pinta Zaki dengan sungkan.


Gus Umar tersenyum, "tentu saja boleh Dik Zaki, kenapa minta ijin segala?" Gus Umar segera beranjak, "sebentar ya, kakak panggilkan," lanjut gus Umar seraya berlalu masuk kedalam untuk memanggil sang istri yang sedang memasak di dapur.


Tak berapa lama, gus Umar telah kembali bersama sang istri.


"Silahkan Dik Zaki, katanya mau ngobrol?" Ucap gus Umar, setelah diri nya dan sang istri duduk bersebelahan.


"Ada apa Mas Zaki?" Tanya Aida seraya mengernyit.


"Ini Mbak, emmm,,, mohon maaf sebelumnya." Zaki masih terlihat sungkan.


"Besok kan Zaki dapat undangan juga dari Delia zahwa, Zaki mau minta saran dari Mbak Aida." Zaki menatap Aida dan gus Umar secara bergantian. "Baik nya kasih kado apa ya Mbak?"


"Duh, saya juga enggak ngerti Mas Zaki." Balas Aida yang juga nampak bingung.


"Gini aja Dik Zaki, nanti rencana nya kami juga mau nyari kado buat ning Zahwa karena kebetulan dik Laila juga nitip untuk di cariin kado nya. Bagaimana kalau nanti, kita cari sama-sama saja?" Tawar gus Umar.


Zaki langsung mengangguk menyetujui, "iya kak, jam berapa?" Tanya Zaki antusias.


"Gimana kalau jam sembilan, bakda dhuha?" Gus Umar menatap Zaki, dan kembali putra sulung ayah Yusuf itu mengangguk.


"Ya udah, Dik Zaki sarapan di sini aja sekalian. Kebetulan Dik Aida udah selesai masak tadi," ajak gus Umar pada Zaki, seraya melirik sang istri.


Aida mengangguk, "benar Mas Zaki, mari," Aida segera beranjak untuk menyiapkan sarapan mereka bertiga.

__ADS_1


"Kak Umar nih, Zaki jadi enggak enak sering merepotkan kak Umar dan Mbak Aida," protes Zaki, tapi tetap ikut beranjak.


Gus Umar menggeleng, "santai aja Dik, kita kan keluarga," balas gus Umar seraya berjalan masuk kedalam menuju meja makan, yang diikuti oleh Zaki.


*****


Kini Zaki dan gus Umar beserta sang istri telah sampai di pusat perbelanjaan. Setelah mendapatkan tempat parkir, mereka bertiga segera turun dan kemudian memasuki pusat perbelanjaan terbesar di kota kecil tersebut.


Zaki memilih berjalan di depan, meski pemuda bertubuh tinggi itu tak tahu kemana tempat yang akan di tuju. Sebab, jika Zaki berjalan di belakang sepasang suami-istri itu,,, yang ada, hati pemuda itu akan kembali menjerit melihat kemesraan gus Umar pada istri nya.


"Dik Zaki, kita belok kanan," tegur Umar, ketika Zaki berjalan lurus ke depan.


"Oh, iya kak," Zaki tersenyum kecut, dan berbalik mengikuti langkah gus Umar dan Aida.


"Hufff,,," Zaki membuang nafas kasar, "sabar Zak, sabar," hibur Zaki pada diri nya sendiri.


Mereka akhirnya tiba di lantai tiga pusat perbelanjaan tersebut, "beliin apa ya Mbak?" Zaki kembali bertanya, seraya mengedarkan pandangan melihat aneka pakaian dan aksesoris wanita terpajang di sana.


"Tas, baju, atau hijab ya Mbak?" Zaki menatap Aida, yang sedang memilih-milih tas tangan wanita.


"Memang nya, ning Laila enggak pulang ya Mbak, Kak?" Tanya Zaki, pada dua orang di depan nya itu.


Gus Umar menggeleng, "enggak tahu tuh, kata nya sibuk di tempat kerja nya yang baru dan enggak bisa pulang," balas gus Umar, sesuai apa yang dia dengar dari sang istri.


Aida mengangguk membenarkan.


"Jadi nya mau kasih kado apa, Mas Zaki?" Tanya kembali.


Aida kemudian menunjuk kearah stand hijab, "khusus hijab, disebelah sana Mas Zaki. Mau cari sendiri atau nunggu kami temani?" Tawar Aida.


"Mbak Aida sajalah yang pilihkan," balas Zaki.


Aida kemudian meneruskan memilih tas tangan kado titipan Aida, sedangkan Aida sendiri memilih bahan sarimbit sebagai kado nya.

__ADS_1


Setelah mendapatkan dua kado, Aida dan gus Umar menemani Zaki memilihkan kado untuk Delia Zahwa.


Melihat aneka hijab yang cantik, Zaki kalap dan memilih banyak warna dan model hijab hingga membuat Aida mengernyit, sedangkan gus Umar tersenyum seraya geleng-geleng kepala.


Zaki yang merasa di amati oleh sepasang suami istri itu pun tersenyum, "ini bukan untuk kado semua kok Mbak, Kak." Ucap Zaki yang juga ikut tersenyum.


"Ini ada yang untuk umi, untuk Mbak Aida dan untuk ning Laila," lanjut Zaki, yang membuat Aida semakin mengernyit dalam.


"Kok, malah borong dan semua di belikan sih?" Protes Aida, sementara gus Umar tersenyum lebar.


Gus Umar yang sudah setahun ini dekat dengan Zaki, sangat paham dengan karakter pemuda yang menjadi anak didik nya itu. Zaki yang ringan tangan dan suka menolong, serta sering memberikan ide-ide briliant untuk pengembangan pondok pesantren dan yayasan pendidikan.


Tanpa menunggu persetujuan dari Aida, Zaki memberikan hijab-hijab yang telah dipilih nya kepada salah seorang pegawai stand. Zaki pun yakin, bahwa hijab-hijab pihan nya pasti di sukai oleh umi dan juga istri gus Umar. Karena selama setahun di pesantren, Zaki dapat menilai karakter umi dan menantu nya yang lembut itu.


Sedangkan untuk Laila, Zaki hanya menebak-nebak saja. Zaki memilihkan beberapa hijab modis dengan warna-warna terang, karena di benak cucu sulung keluarga Alamsyah itu,, karakter Laila, merupakan perpaduan karakter Malika dan Fira yang centil, manja tapi juga lembut.


Zaki menebak melalui suara Laila dan gaya gadis itu berbicara pada keluarga nya melalui sambungan telepon, dan juga dari cerita-cerita kang santri senior yang satu kamar dengan Zaki.


Setelah barang bawaan nya di bawa ke kasir, dan setelah Zaki mengambil tiga baju batik lengan panjang dengan corak yang sama, serta tiga lagi dengan corak yang berbeda,,, putra sulung ayah Yusuf itu segera menuju ke kasir untuk membayar tagihan belanjaan nya.


Zaki memisahkan masing-masing belanjaan sesuai dengan penerima nya nanti, total ada empat paper bag di tangan santri kinasih kyai Abdullah tersebut.


"Dik, banyak sekali?" Tanya gus Umar, yang tadi tidak memperhatikan ketika Zaki menuju ke stand batik pria dan membeli banyak baju batik.


"Ini untuk Kak Umar dan Mbak Aida, baju batik nya tolong besok di pakai ya Kak,, kita kembaran, dengan abah juga," pinta Zaki seraya tersenyum, dan gus Umar mengangguk setuju.


Karena rasa penasaran, gus Umar membuka paper bag yang tadi diterima oleh Aida. "Waw, kita besok bakalan jadi pusat perhatian Dik. Pasti kita dikira model papan atas yang memamerkan karya desainer terkenal," canda gus Umar, begitu melihat merk baju batik tulis tersebut.


"Asal bukan model papan seluncuran Kak," balas Zaki seraya terkekeh.


🌸🌸🌸🌸🌸 bersambung 🌸🌸🌸🌸🌸


Eh,,, di episode sebelum nya kan, ada di sebut ustadzah Hana ya?

__ADS_1


Jangan protes yah, dia dah bayar aku minta untuk di munculin πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2