Finding Love

Finding Love
Hah, Sekarang?


__ADS_3

Nak Zaki, meskipun waktu itu Nak Zaki sudah meminta sama abah untuk menikahi putri abah dan Ning Laila juga setuju jika abah yang memilihkan jodoh untuknya, tetapi sebaiknya silahkan Nak Zaki sampaikan sendiri keinginan Nak Zaki," tutur kyai Abdullah, yang memberikan kesempatan kepada santri kinasih itu untuk mengutarakan isi hatinya pada sang putri.


Zaki kembali menatap Laila Hana seraya tersenyum, sedangkan ustadzah Hana atau ning Laila juga tengah menatap kearah ustadz Zaki dengan penuh tanya.


Flashback On...


Zaki yang baru masuk kedalam ruang perawatan kyai Abdullah, langsung mendekati kyai yang sudah dia anggap sebagai orang tuanya sendiri itu. Pemuda itu kemudian memeluk sang kyai dengan erat, "Abah cepat sehat ya," lirih Zaki di telinga sang kyai.


Zaki kemudian melerai pelukan dan mencium punggung tangan kyai Abdullah dengan takdzim, "dokter bilang apa mengenai sakit Abah?" Tanya Zaki penuh perhatian.


"Tekanan darah Abah naik Nak Zaki," balas nyai Robi'ah yang mewakili sang suami.


'Silahkan duduk Nak Zaki," istri kyai Abdullah itu mempersilahkan santri kesayangan suaminya untuk duduk di kursi yang berada tepat di samping ranjang pasien.


"Nak Zaki apa kabar? Betah di sana?" Tanya kyai Abdullah sesaat setelah Zaki duduk.


"Alhamdulillah Abah, Zaki sehat wal-afiat dan Zaki juga sangat kerasan di sana karena ada seorang gadis yang sangat istimewa," balas Zaki seraya tersenyum.


Kyai Abdullah ikut tersenyum, "Alhamdulillah,,," ucap syukur kyai Abdullah mendengar bahwa santri kinasih nya dalam keadaan baik bahkan terlihat sangat bahagia.


"Kalau Nak Zaki sudah yakin dengan perasaan Nak Zaki, segera diutarakan saja niatnya. Temui orang tua gadis itu dan minta restu pada mereka untuk menikahi putrinya," lanjut kyai Abdullah yang tidak menaruh curiga sama sekali dengan senyuman Zaki yang terus mengembang.


"Nggih Abah, ini Zaki juga lagi menemui orang tuanya dan bermaksud untuk meminta restu dari...." sejenak Zaki menjadi ucapannya, menatap kyai Abdullah dan nyai Robi'ah yang duduk di sisi ranjang yang lain, secara bergantian.


"Abah, Umi, maaf jika Zaki telah lancang mencintai putri Abah dan Umi," lanjut Zaki yang membuat pak kyai dan bu nyai itu terkejut.


"Maksud Nak Zaki?" Kyai Abdullah menatap Zaki, mencoba mencari kesungguhan dari ucapan pemuda yang sudah lama merebut perhatiannya itu.


Zaki mengangguk, "Zaki sudah jatuh hati pada ustadzah Hana, semenjak pertama kali melihatnya di yayasan Abah, Umi. Seiring berjalannya waktu, Zaki semakin yakin dengan perasaan ini," Zaki menepuk dadanya sendiri.


Kyai Abdullah terpaku menatap Zaki, begitu pun dengan sang istri. Kedua orang tua Laila Hana itu tidak dapat berkata-kata.


"Sampai saat ini, Zaki belum mengatakan apapun pada ustadzah Hana tentang perasaan Zaki, karena Zaki ingin mendapatkan restu dari kedua orang tua ustadzah Hana terlebih dahulu." Kembali Zaki menatap kedua orang tua yang bijak itu bergantian.


"Kalau saja saat itu Zaki tahu bahwa ustadzah Hana adalah Ning Laila, pasti sudah sejak lama Zaki sowan pada Abah dan Umi untuk meminta restu."


Kyai Abdullah yang posisinya setengah duduk itu mengangguk-angguk, seraya menepuk-nepuk punggung tangan Zaki.


"Zaki memang bukan berasal dari keluarga yang pandai ilmu agama seperti keluarga Abah, tetapi Zaki akan berusaha untuk membimbing istri dan anak-anak kami kelak menjadi orang yang taat beragama."


"Abah, Umi. Apakah Abah dan Umi merestui Zaki untuk menikahi putri kesayangan Abah dan Umi?" Pinta Zaki dengan sungguh-sungguh.


Nyai Robi'ah berurai air mata, sedangkan netra kyai Abdullah nampak berkaca-kaca.

__ADS_1


"Nak, kemari lah," kyai Abdullah merentangkan kedua tangannya dan Zaki pun langsung menghambur memeluk calon mertuanya itu.


Kyai Abdullah mengusap lembut punggung Zaki, "terimakasih sudah mencintai putri Abah dan Umi, tolong sayangi ning Laila seperti kami menyayanginya. Jaga dia, seperti selama ini kami menjaganya," pesan kyai Abdullah, yang disetujui Zaki dengan mengangguk pasti.


Pemuda itu pun tak sanggup berkata-kata lagi, restu dari orang tua Laila Hana membuat hatinya membuncah bahagia.


Setelah cukup lama calon mertua dan calon menantu itu berpelukan, Zaki kemudian pamit hendak pulang ke Jakarta untuk mengabarkan pada orang tua juga saudara-saudaranya.


"InsyaAllah minggu ini, Zaki dan keluarga akan bersilaturrahim kepada Abah dan Umi." Ucap Zaki dengan yakin, "jika Abah dan Umi tidak keberatan, serta Ning Laila nya mau, Zaki bermaksud untuk langsung menikahi Ning Laila," lanjutnya dengan serius.


Kyai Abdullah terkekeh senang, "sudah tidak sabar rupanya kamu anak muda, tapi Abah setuju jika itu sudah menjadi keputusan Nak Zaki."


Nyai Robi'ah mengangguk-angguk.


Setelah menyalami kedua calon mertuanya, Zaki kemudian bergegas meninggalkan ruang perawatan kyai Abdullah.


Zaki juga berpamitan pada gus Umar dan istrinya, serta pamit kepada Laila Hana dengan menatapnya sekilas.


Setibanya di lobi, Zaki menghubungi Adnan.


"Assalamu'alaikum Nan,"


"Wa'alaikumsalam,,," balas Adnan dari seberang sana.


"Nan, tolong nanti kalau ke rumah sakit kamu ajak kang Salim untuk ngambil mobil kakek ya." Pinta Zaki.


"Aku harus pulang ke Jakarta sekarang Nan, aku mau menyiapkan pernikahan." Balas Zaki dengan tersenyum lebar, nampak rona bahagia di wajah tampan itu.


"Menikah? Sama siapa Bang?" Suara Adnan di seberang sana terdengar sangat terkejut.


"Ya sama siapa lagi Nan? Pastinya sama sahabat kamu lah," balas Zaki, "kamu kok ndak bilang dari awal tho Nan, kalau Hana itu adiknya kak Umar?" Protes Zaki.


"Aku udah mau mengatakannya Bang, tapi gagal terus kalau mau ngomong?" Adnan membela diri.


"Ya udah Nan, aku harus buru-buru. Kunci mobil aku titipkan sama Kang Baharuddin ya," Zaki hendak menutup panggilannya, tetapi dia teringat sesuatu


"Oh ya Nan, jangan katakan apapun pada Hana ya, dia belum tahu rencana ku," pesan Zaki.


"Siip Bang, aku bisa kerjain dia," balas Adnan dengan tawanya di seberang sana, yang terdengar sangat senang.


"Jangan sampai Hana nangis, awas kamu nanti." Ancam Zaki.


"Dih, segitunya sama calon istri. Dasar posesif!" Olok Adnan, "udah sana Bang, buruan berangkat.

__ADS_1


Assalamu'alaikum,,," Adnan yang suka bercanda itu mengakhiri panggilan dari Zaki, hingga membuat Zaki mengernyit.


"Siapa yang menghubungi? Siapa yang mengakhiri? Dasar absurd," gerutu Zaki sambil tersenyum, "wa'alaikumsalam,,," lanjutnya seraya menyimpan ponselnya kembali.


Flashback Off...


Laila menoleh kearah sang abah, dan menatap abah nya juga dengan penuh tanya. "Jadi, waktu itu Ustadz Zaki sudah bilang begitu sama Abah?"


Kyai Abdullah mengangguk dan tersenyum penuh kasih pada sang putri, "kenapa Abah enggak cerita sama Laila dari awal?" Protes Laila cemberut.


"Kak Umar dan mbak Aida juga, Umi juga," Laila menatap orang-orang yang sangat disayanginya itu dengan tatapan protes, "kenapa kalian semua malah ngerjain Laila?"


Mereka semua pun terkekeh, menyaksikan reaksi Laila yang terkejut, marah tapi sekaligus bahagia.


"Kalau Laila tahu bahwa yang akan datang Ustadz Zaki dan keluarganya, Laila kan enggak pakai dress kayak gini Mi?" Bisik Laila yang menyesali keputusannya tadi.


"Tidak apa-apa Ning, pakai dress seperti ini juga sudah sopan kok? Bukannya tadi kamu sendiri yang mengatakan, kalau pemuda baik pasti akan bisa menerima kamu dengan apa adanya?" Balas nyai Robi'ah yang mengingatkan perkataan sang putri tadi tanpa memelankan suara, membuat semua orang bisa mendengar dan mereka kembali tertawa.


"Meski tampil apa adanya, calon menantu Bunda tetap cantik kok," hibur Bunda Fatima seraya menatap Laila dan tersenyum hangat.


Laila mengangguk dan tersipu malu, "makasih," balasnya lirih, Laila yang belum pernah bertemu dengan keluarga Zaki bingung harus memanggil bagaimana.


"Benar Bunda, Umi, meski tanpa make-up dan dengan pakaian sederhana, putri Umi tetap cantik," puji Zaki sambil melirik Laila yang kembali menunduk.


"Umi, kenapa bicaranya malah keras tadi?" Bisik Laila protes, seraya mencubit pelan lengan sang umi.


"Aduh, kok nyubit Umi Ning?" Protes sang umi, "wah Bah, beneran minta dinikahkan secepatnya putri kita ini." Goda nyai Robi'ah seraya terkekeh pelan, yang membuat semua orang ikut terkekeh kembali.


Sementara Laila semakin mengerucutkan bibirnya dan semakin menunduk.


Sejenak mereka semua tertawa senang dan nampak larut dalam kebahagiaan. Setelah semuanya kembali tenang Zaki mulai berbicara.


"Gimana Dzah Hana, emm.. Ning Laila?" Suara yang sangat dirindukannya itu membuat Laila kembali mendongak dan menatap Zaki


"Saya memang sudah meminta restu sama Abah dan Umi, tetapi saya belum pernah meminta langsung pada Ning Laila," Zaki menatap Laila dengan dalam, tatapan yang sanggup menghipnotis gadis cantik yang telah mencuri hatinya.


Mendapat tatapan seperti itu, membuat degup jantung Laila berdetak semakin kencang.


"Apakah Ning Laila bersedia menikah dengan saya dan menjadi ibu dari anak-anak saya?"


Laila yang terhipnotis dengan tatapan ustadz tampan yang beberapa hari ini membuat dirinya tak enak makan dan tak nyenyak tidur, mengangguk dengan pasti.


Zaki tersenyum lebar, "maukah Ning Laila menikah dengan saya saat ini juga?" Pinta Zaki sungguh-sungguh, yang membuat gadis cantik dengan pakaian sederhananya itu terhenyak kaget.

__ADS_1


Laila kembali mengangguk dengan cepat, tetapi gadis itu segera tersadar, "hah,,, sekarang?"


🌸🌸🌸🌸🌸 bersambung 🌸🌸🌸🌸🌸


__ADS_2