Finding Love

Finding Love
Zaki Kerasan Berada Disini


__ADS_3

Zaki mulai menjalani hari seperti biasa, di awali bangun di tengah malam untuk tahajjud dan di lanjutkan dengan tadarus Al-Qur'an, kemudian ikut sholat berjamaah di Masjid komplek pesantren.


Tapi bakda sholat shubuh kali ini, Zaki tidak belajar mengaji pada gus Umar seperti biasa nya karena putra sulung kyai Abdullah itu masih berada di Semarang.


Ya, gus Umar dan sang istri menginap di kosan Laila yang cukup luas. Seperti permintaan putri bungsu kyai Abdullah tersebut, yang ingin melepas rindu dengan kakak ipar nya, Aida.


Gus Umar dan sang istri baru akan pulang sore nanti, setelah kuliah nya selesai. Sehingga pagi ini, Zaki bermaksud untuk belajar dengan kyai Abdullah langsung. Begitulah selama ini yang dilalui Zaki, jika gus Umar sedang tidak berada di rumah.


Zaki mengiringi langkah kyai Abdullah, menuju ke kediaman kyai pengasuh pondok pesantren Nurul Ulum tersebut.


"Nak Zaki, silahkan tunggu sebentar," titah kyai Abdullah, seraya menunjuk kursi yang berjajar di teras.


Zaki hanya mengangguk dan menuruti titah kyai nya, pemuda itu duduk di salah satu kursi yang nampak nyaman di duduki.


Tak berapa lama, kyai Abdullah muncul seraya membawa kontak di tangan nya. "Ayo Nak Zaki, ikut Abah." Kyai Abdullah memberikan kontak tersebut kepada Zaki, dan kemudian berjalan menuju garasi mobil tanpa memberi penjelasan lebih.


Zaki kembali mengikuti titah sang kyai, dan ikut berjalan menuju garasi dengan menyimpan tanya dalam hati.


Kyai Abdullah masuk melalui pintu di sisi kiri, dan Zaki masuk melalui pintu pengemudi. Tanpa kata, Zaki langsung menghidupkan mesin mobil milik kyai nya tersebut, memanaskan sebentar dan kemudian segera melajukan dengan perlahan.


"Maaf Abah, kita mau kemana?" Tanya Zaki dengan sopan, ketika mobil yang dikendarai nya akan keluar dari pintu gerbang pesantren.


"Ke ladang Nak, kita akan refreshing di sana," balas kyai Abdullah, dan Zaki mengangguk paham.


Kyai Abdullah mulai mengarahkan, kemana mobil yang dikendarai Zaki harus melaju. Zaki mengemudi dengan sangat hati-hati, karena selain belum menguasai medan, Zaki juga belum bersahabat dengan mobil milik kyai Abdullah tersebut.


Setelah menempuh perjalan kurang lebih tiga puluh menit, sampailah mereka di pinggiran kota, tepat nya di sebuah desa yang masih sejuk dan asri.


Kyai Abdullah menunjukkan kepada Zaki, dimana santri kesayangan nya itu harus memarkirkan mobil nya.


Setelah mobil terparkir dengan sempurna di bawah sebuah pohon yang rindang, kyai kharismatik itu segera turun yang langsung di sambut oleh beberapa orang dengan sangat ramah.

__ADS_1


Zaki pun ikut turun, dan menyalami orang-orang yang menyambut kyai Abdullah tadi.


"Nyuwun sewu Yai, ndak niki calone ning Laila?" Tanya salah seorang dari mereka, seraya menunjuk Zaki dengan ibu jari nya. __Maaf Pak Kyai, apa ini calon suaminya ning Laila?__


Kyai Abdullah tersenyum, "Nak Zaki santri di pondok kang," balas kyai Abdullah apa ada nya.


Zaki pun tersenyum, dan mengangguk ke arah empat orang laki-laki yang berusia sekitar empat puluh tahunan tersebut.


"Kang Min, ayam nya masih produktif tho?" Tanya kyai Abdullah, kepada pekerja nya yang bernama Min.


"Tasih Yai, malah niki angsale ngendok nembe sae-sae ne," balas kang Min, dengan penuh antusias karena perternakan ayam milik kyai Abdullah yang dipercayakan kepada dirinya dan ketiga orang teman yang lain, mampu menghasilkan telur yang sangat baik. __"Masih Yai, malahan sekarang hasil telur nya sangat bagus"__


"Alhamdulillah,,, pakane isih di campur rajangan sayuran tho?" __pakan nya, masih di campur dengan irisan sayur tho?__


Kang Min mengangguk, kyai Abdullah kemudian mengajak Zaki menuju ke sebuah gubug yang ada di tengah ladang yang cukup luas itu yang diikuti oleh para pekerja kyai Abdullah.


Ladang seluas satu hektar itu ditanami berbagai macam sayuran, seperti cabai, bawang merah terong, tomat, kacang panjang, serta sayuran hijau lain nya. Ada juga beberapa jenis buah-buahan yang di tanam di sana, diantara nya pisang, dan pepaya.


Sedangkan kandang ayam yang berisi ribuan ekor ayam, yang terletak tepat di seberang jalan,,, setiap harinya, mampu menghasilkan ribuan telur yang diambil oleh para pedagang di sekitar tempat tersebut.


Di belakang kandang ayam, terdapat beberapa kolam ikan lele yang hampir setiap minggu salah satu kolam nya sudah dapat di panen. Sehingga setiap seminggu sekali, para santri bisa merasakan makan dengan lauk ikan lele. Sedangkan hari-hari biasa, dengan lauk telur, tahu dan tempe.


Dari hasil penjualan telur, ikan lele serta sayuran, digunakan untuk membayar upah para pekerja dan untuk membeli beras guna kebutuhan makan para santri. Apa yang di makan oleh keluarga kyai Abdullah, itu pula yang di makan oleh para pekerja nya juga para santri.


"Kang Lan, tolong aku tumbaske sego pecel sing koyok biasa ne kae," titah kyai Abdullah kepada salah seorang pekerja nya yang paling muda, seraya menyodorkan dua lembaran uang kertas berwarna merah. __Kang Lan, tolong belikan nasi pecel yang seperti biasa nya__


"Tuku sing akeh Kang, awake dewe sarapan bareng,,, ngko sing liyane celukno," lanjut kyai Abdullah, pekerja yang bernama kang Lan itu mengangguk patuh dah kemudian segera berlalu. __Beli yang banyak kang, nanti kita sarapan bareng,,, nanti yang lain di panggil sekalian__


"Nyuwun sewu Yai, kulo tak ndamel unjukan rumiyen," ucap kang Min, sambil menunjuk ke arah kandang ayam. __Maaf Pak Kyai, saya mau bikin minuman dulu__


Kyai Abdullah mengangguk, "teh manis wae yo Kang," pinta kyai Abdullah, kang Min mengangguk dan kemudian segera berlalu menuju arah kandang. __teh manis wae yo Kang__

__ADS_1


Ya, di lokasi kandang ayam tersebut, terdapat satu ruangan yang cukup luas lengkap dengan dapur dan kamar mandi. Di ruangan itu pula, para pekerja ladang ataupun yang mengurus ayam dan lele, biasa nya beristirahat.


Zaki sedari tadi mengamati keadaan sekitar dengan penuh takjub, karena baru pertama kali ini putra ayah Yusuf itu menginjakan kaki nya di ladang. Ladang yang dalam benak nya itu kotor dan penuh lumpur, ternyata berbeda dengan apa yang dilihat nya saat ini. Jalan setapak yang tadi mereka lalui untuk menuju gubug pun, sudah di pasangi paving.


Aneka tanaman yang menghampar dan berwarna hijau segar, sungguh menyejukkan untuk di pandang mata. Ditambah angin yang bertiup sepoi-sepoi di pagi hari, membuat udara semakin segar untuk di hirup.


Sementara sang surya yang terbit di ufuk timur, sinar nya mulai menerpa dan menghangatkan kulit. Hati Zaki pun ikut menghangat berada di lingkungan seperti ini, lingkungan yang sangat sederhana, bersama orang-orang yang sederhana dan ramah,, hingga membuat pemuda itu, melupakan perih di hati nya karena sebuah kekecewaan.


"Nak Zaki, ladang ini lah yang menghidupi para santri." Suara kyai Abdullah, membuyarkan Zaki dari lamunan nya.


"Oh, nggih Abah," Zaki mengangguk-angguk.


"Abah terus mencoba untuk berinovasi, agar ladang dan peternakan bisa menghasilkan dengan maksimal. Sehingga nanti nya, Abah bisa menerima lebih banyak santri yang kurang mampu dan santri yatim." Tutur kyai Abdullah dengan memandang jauh ke depan, ke arah kandang ayam nya dengan penuh harapan.


Zaki terdiam sejenak, "maaf Abah, bagaimana kalau di pinggir jalan sana di bangun toserba? Nanti sayuran, telor serta kebutuhan bahan bahan pokok dan juga pupuk bisa di jual di sana dengan harga grosir? Karena Zaki lihat, akses jalan ini termasuk ramai. Kalau Zaki tidak salah, seperti nya jalan itu merupakan jalan utama dari beberapa desa di sebelah sana," Zaki berbicara sambil tangan nya bergerak menjelaskan apa yang dia maksud.


"Dengan adanya toserba, Abah juga membuka lapangan pekerjaan baru untuk penduduk di sekitar sini." Lanjut Zaki, yang membuat kyai Abdullah mengangguk-angguk.


"Nak Zaki benar," tutur kyai kharismatik tersebut seraya tersenyum lebar, dua orang pekerja yang menemani mereka duduk di gubug di tengah ladang itu pun mengangguk-angguk menyetujui ide brilliant Zaki.


Sejenak semua nya terdiam, dan sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Kok rasa nya, Zaki kerasan berada di sini ya Bah," ucap Zaki, yang membuat Kyai Abdullah tersenyum penuh arti.


🌸🌸🌸🌸🌸 bersambung 🌸🌸🌸🌸🌸


InsyaAllah double up, biar bang Zaki bisa segera ketemu dengan jodoh nya yang mbak Ning mbak Ning itu ya bestie... πŸ˜„πŸ˜„


Sambil nunggu bang Zaki up, yuk mampir di novel kak. Zafa, Judul : HASRAT SUAMI KEDUAKU


__ADS_1


__ADS_2