
Sementara di kediaman kyai Abdullah, mereka baru pulang dari menghadiri wisuda putri bungsu nya tepat ketika hari menjelang maghrib.
Usai sholat isya berjamaah, keluarga kyai pengasuh pondok pesantren Nurul Ulum itu kemudian makan malam bersama. Gus Umar dan sang istri pun ikut makan di kediaman orang tua nya, karena Laila tadi sore juga ikut pulang ke rumah.
Makan malam kali ini terasa sangat istimewa, karena ada putri bungsu yang selalu bikin ramai suasana. Gadis manja yang humoris, yang baru dua kali ini pulang selama setahun terakhir karena kesibukan nya menyelesaikan studi S1.
Mereka makan sambil bercengkrama dengan hangat, dan membicarakan langkah apa yang akan di ambil Laia setelah beasiswa ke luar negeri yang dia ajukan kata nya di tolak.
"Laila sudah mengajukan lamaran ke sekolah nya temen, dan Alhamdulillah diterima. Mulai senin besok, Laila sudah harus masuk," terang Laila, menjawab keinginan tahuan keluarga tentang rencana Laila selanjutnya.
"Kenapa enggak di sekolah kita saja sih dik?" Gus Umar mengernyit kan kening.
"Laila mau nyari pengalaman dulu kak, nanti kalau sudah dapat pengalaman dari luar baru Laila pulang dan ikut membesarkan yayasan kita. Laila kan bisa sekalian study banding di sana, karena sekolahan di sana tuh keren kak," balas Laila yang kekeuh ingin mencari pengalaman terlebih dahulu di tempat lain.
"Ya sudah lah Gus, biarkan saja Ning Laila mencari pengalaman dahulu seluas-luasnya." Kyai Abdullah menengahi, yang disetujui oleh nyai Robi'ah dengan menganggukkan kepala.
Begitulah kyai Abdullah, selalu bersikap demokratis terhadap keinginan putra-putri nya selagi itu bisa membawa manfaat untuk semua nya.
Sedang asyik mereka bercengkrama, dering ponsel gus Umar berbunyi dengan nyaring. Putra sulung kyai Abdullah itu langsung mengambil ponsel nya dari dalam saku, terlihat nama Zaki di layar ponsel.
Gus Umar segera menggeser tombol hijau, dan menerima panggilan dari Zaki.
"Assalamu'alaikum kak Umar,,," ucap salam Zaki dari seberang, "kak Umar lagi bareng sama abah? Zaki mau bicara sebentar sama abah," pinta Zaki tanpa memberi kesempatan pada gus Umar untuk menjawab salam nya.
"Wa'alaikumsalam dik,,, iya, aku lagi sama Abah. Tunggu sebentar," balas gus Umar kemudian, lantas memberikan ponsel nya pada sang abah.
"Ada yang mau bicara sama abah," ucap gus Umar.
Kyai Abdullah menerima ponsel dari putra sulung nya seraya mengernyit dan begitu melihat foto profil si penelepon, barulah kyai kharismatik itu tersenyum. "Assalamu'alaikum Nak, ada apa?" Suara kyai Abdullah terdengar sangat berwibawa.
"Wa'alaikumsalam Abah,,, mohon maaf Bah, Zaki ijin tadi siang Zaki dapat telepon dari Bunda dan diminta untuk ke tempat kakek Ilyas." Terang Zaki.
__ADS_1
"Iya Nak, tadi kang Musthofa sudah menyampaikan sama abah. Salam untuk keluarga ya," balas kyai Abdullah.
"Nggih Abah, InsyaAllah nanti Zaki sampaikan. Nggih sampun Abah, assalamu'alaikum," pamit Zaki seraya memberi salam.
"Wa'alaikumsalam Warohmatullahi Wabarokatuh,,," balas kyai Abdullah, dan kemudian mengembalikan ponsel pada gus Umar.
Laila yang sedari tadi menyimak obrolan sang abah dengan seseorang di seberang sana, menjadi penasaran. "Telepon dari siapa Bah?"
"Cucu sahabat nya kakek, yang mondok di sini itu Ning. Dia pamit, tadi siang menemui keluarga nya," balas kyai Abdullah tanpa menyebut nama Zaki.
"Oohh,,," balas Laila datar.
Ya, mereka tidak pernah membicarakan tentang Zaki ataupun sekedar menyebut nama nya di hadapan Laila dan gadis itu pun terkesan cuek serta terlihat tidak mau tahu tentang hal tersebut. Karena menurut Laila, hal itu bukan lah urusan nya dan putri bungsu kyai Abdullah itu memang tipikal gadis yang tidak suka membicarakan tentang orang lain.
Yang Laila tahu, bahwa santri baru cucu dari sahabat kakek nya itu adalah calon suami ning Zahwa. Selebihnya, adik kandung gus Umar itu tak ingin tahu lebih tentang santri baru yang banyak dibicarakan oleh santri putri tersebut.
"Kak, nanti Mbak Aida biar tidur di sini sama Laila ya?" Pinta Laila seperti biasa nya.
"Kan Laila enggak bisa cerita-cerita Kak, karena ada Kak Umar. Please,, boleh ya?" Kekeuh Laila memohon.
"Ya sudah tho Gus, biarkan saja. Toh besok sore, Ning Laila sudah pergi lagi," nyai Robi'ah ikut membujuk sang putra.
Sedangkan Aida hanya menatap suami nya seraya tersenyum.
"Ya udah, tapi tidur nya jangan di sini. Tidur di tempat kakak saja, di kamar tamu," balas gus Umar yang mengijinkan tapi dengan syarat.
"Enggak mau ah,,, kalau tidur di rumah Kakak, kalau tengah malam Kak Umar suka mengendap-endap dan nyulik Mbak Aida," protes Laila, hingga membuat kyai Abdullah dan sang istri terkekeh.
Begitu pun dengan gus Umar, tapi tidak dengan Aida yang memanyunkan bibir nya seraya melirik tajam ke arah Laila karena sudah membuat diri nya malu di depan abah dan umi.
"Mana ada Dik, suami nyulik istri sendiri?" Balas gus Umar masih dengan tawa nya.
__ADS_1
"Bukan Kakak yang nyulik Dik, tapi Dik Aida sendiri yang mendatangi Kakak," lanjut gus Umar seraya melirik sang istri, yang sontak membuat pemuda kharismatik itu mendapatkan cubitan di perut nya.
"Aw,, kok nyubit Dik, udah enggak sabar ya?" Ledek gus Umar semakin menjadi, yang membuat Aida semakin mengerucutkan bibir tipis nya.
"Itu karena Kak Umar yang terus-terusan kirim pesan dan menanyakan, apa Laila sudah tidur?" Balas Aida membuka kartu sang suami, hingga membuat orang tua mereka kembali tertawa.
"Sudah, sudah,, sana kalau kalian mau istirahat. Ning Laila pasti capek kan?" Titah nyai Robi'ah, "jangan malam-malam tidur nya," pesan nya sebelum putra putri nya beranjak.
"Nggih Mi," balas gus Umar dan Aida kompak, hanya Laila yang masih betah duduk di sana.
"Ayo Dik, kata nya mau tidur sama Dik Aida," ajak gus Umar, seraya menatap sang adik yang masih duduk dengan nyaman.
"Laila kayak nya berubah pikiran deh Kak, jadi pengin tidur sama Umi," balas Laila, seraya menatap sang abah sambil memainkan alis nya.
"Oh, tidak bisa. Nyai Ratu harus tidur dengan baginda raja putri ku," balas kyai Abdullah, menjawab keisengan sang putri yang membuat Aida senyum-senyum mendengar perkataan ayah mertua nya itu.
"Sweet banget ya Kak, Abah," bisik nya.
"Aku lebih sweet bidadari ku," balas gus Umar, seraya melingkarkan tangan nya di pinggang sang istri.
"Yah, pada pamer keromantisan dan kemesraan. Yang jomblo, sabar,,," ucap Laila seraya beranjak, dan kemudian merebut Aida dari pelukan sang kakak.
"Ayo Mbak," ajak Laila, "assalamu'alaikum baginda raja, nyai ratu," pamit Laila seraya ngeloyor pergi meninggalkan ruang makan, yang diikuti oleh gus Umar. Menyisakan kyai Abdullah dan sang istri yang meledakkan tawa nya, menyaksikan tingkah si putri bungsu.
Setibanya di kediaman sang kakak, Laila langsung mengajak kakak ipar nya itu untuk masuk ke kamar tamu. "Kak Umar jangan ganggu kami! Laila mau curhat sama Mbak Aida dan ini urusan perempuan! Jadi, kalau Kak Umar ikut masuk, itu artinya,,, kejantanan Kakak dipertanyakan." Perkataan Laila membuat kedua kakak nya mengernyit, sedangkan Laila tersenyum nyengir.
"Mbak Aida baru boleh keluar dari kamar, setelah lewat jam dua belas malam," lanjut Laila, dan kemudian segera menutup pintu kamar tersebut serta mengunci nya dari dalam.
Gus Umar terpaku di depan kamar seraya tersenyum, dan kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ada-ada saja kamu Dik," gumam gus Umar.
🌸🌸🌸🌸🌸 bersambung 🌸🌸🌸🌸🌸
__ADS_1
Kira2, Laila curhat apa ya gaess?