
Hari ini, Zaki berpamitan pada teman-teman satu kamarnya. Santri senior, sekaligus para pengurus di pondok pesantren milik kyai Abdullah tersebut.
"Kang, terimakasih banyak ya sudah membimbing Zaki selama setahun ini. Zaki tidak akan pernah melupakan kebaikan kakang semua, InsyaAllah Zaki akan sering berkunjung kesini untuk melepas rindu sama kalian," ucap Zaki, yang sudah bersiap dengan koper di tangannya.
Kang Bukhori yang terkenal ember dan suka bercanda itu pun, ketika di pamiti oleh Zaki tetap menitikkan air mata. Begitu juga dengan kang Musthofa yang pendiam dan selalu jaim, apalagi kang Baharuddin yang akhir-akhir ini lebih dekat dengan Zaki.
Ketiga senior itu tak kuasa menahan kesedihan, karena akan ditinggalkan oleh pemuda yang selama ini juga sudah banyak memberikan berbagai macam pengetahuan tentang ilmu bisnis demi kemajuan pondok pesantren.
Bagi mereka bertiga, Zaki bukan hanya sekedar junior ataupun santri spesial kesayangan kyai Abdullah. Tetapi Zaki juga sudah mereka anggap seperti adik sendiri, sekaligus partner yang bisa diajak berdiskusi untuk mengembangkan pondok pesantren yang pengelolaannya diamanahkan oleh kyai Abdullah kepada mereka bertiga.
Zaki memeluk mereka satu persatu, "ojo nangis tho kang, isin karo Maemunah." Ucap. Zaki terkekeh, sambil melepaskan pelukannya pada kang Bukhori. __Jangan nangis kang, malu sama Maimunah__
Mau tak mau, kang Bukhori pun ikut tertawa yang diikuti oleh dua temannya. Sejenak mereka melupakan kesedihan karena akan ditinggal pergi oleh Zaki, yang akan meneruskan mencari pengalaman di tempat lain.
Setelah pelukan mengharu-biru itu, Zaki segera berjalan menuju kediaman kyai Abdullah yang diantarkan oleh kang Baharuddin.
"Assalamu'alaikum,," ucap salam Zaki, sambil memasuki kediaman kyai Abdullah seperti biasanya.
Ya, Zaki sudah terbiasa keluar-masuk kediaman kyai pondok pesantren itu layaknya keluarga sendiri, seperti permintaan kyai Abdullah dan sang istri.
"Wa'alaikumsalam,," balas kyai Abdullah dan gus Umar, yang ternyata sudah menunggu kedatangan Zaki.
"Silahkan duduk dulu Nak Zaki, umi lagi di dapur," titah kyai Abdullah, seraya mempersilahkan Zaki untuk duduk di ruang keluarga.
"Ayo Kang Din, duduk sini dulu," kyai Abdullah juga mempersilahkan santri senior tersebut.
Zaki dan kang Baharuddin kemudian ikut duduk di ruang keluarga, sambil menunggu nyai Robi'ah untuk berpamitan.
"Maaf sebelumnya Bah, ayah sama bunda belum bisa sowan sama Abah untuk pamitan. InsyaAllah nanti kalau sudah ada waktu, mereka akan silahturahim kesini." Ucap Zaki sesaat setelah duduk.
__ADS_1
"Iya Nak Zaki, tak mengapa. Abah mengerti kesibukan orang tua Nak Zaki, lagipula jaraknya juga jauh." Balas kyai Abdullah penuh pengertian.
"Pesan abah sama Nak Zaki, dimana pun Nak Zaki berada,, anggap bahwa Nak Zaki sedang belajar. Karena sesungguhnya hidup itu adalah belajar. Belajar memahami sesama, belajar membaca alam dan lingkungan sekitar kita, serta terus belajar agar bisa senantiasa membawa manfaat bagi banyak orang." Kyai Abdullah menatap pemuda yang duduk tepat dihadapannya, dengan tatapan penuh kasih.
Zaki mengangguk, begitu pun dengan gus Umar dan juga kang Baharuddin.
"Nak Zaki, sudah mau berangkat sekarang?" Tanya nyai Robi'ah yang baru saja dari arah dapur, yang diikuti oleh Aida sambil membawa dua paper bag berisi kue kering dan cake untuk Zaki.
"Iya Mi," balas Zaki, seraya mengangguk.
Nyai Robi'ah dan Aida kemudian ikut duduk di sofa, mendengarkan kyai Abdullah yang masih memberikan wejangan-wejangan kepada santri kinasihnya tersebut.
Terlihat jelas, kyai kharismatik itu nampak berat melepaskan Zaki. Pemuda cerdas dan penuh semangat dalam menuntut ilmu, serta selalu bersikap rendah hati meskipun dirinya berasal dari keluarga yang kaya raya.
"Nak Zaki, biar Nak Zaki diantarkan Kang Din saja ya?" Pinta kyai Abdullah, seraya menatap Zaki. Sikap kyai Abdullah seperti seorang ayah yang enggan melepaskan kepergian sang putra, serta khawatir dan ingin memastikannya sampai di tempat tujuan dengan selamat.
"Maaf Bah, Zaki sudah pesan taksi online. Lagipula tempatnya jauh, nanti kasihan sama Kang Din kalau harus bolak-balik dan pulangnya juga sendirian." Balas Zaki yang tak ingin merepotkan siapa pun, seperti biasanya.
Zaki segera mendekati kyai Abdullah, mencium punggung tangan kyai kharismatik itu dengan penuh ketakdziman. Kyai Abdullah kemudian memeluk santri kinasih tersebut, serta membisikkan sesuatu. "Semoga kemudahan serta kebahagiaan menyertai langkah Nak Zaki."
"Aamiin," balas Zaki lirih. Kesedihan tiba-tiba menyeruak di hati pemuda tampan itu, Zaki mengeratkan pelukannya dan kyai Abdullah menepuk lembut punggung Zaki.
Setelah beberapa saat, keduanya melerai pelukan dan kemudian saling tersenyum. Hanya mereka berdua lah yang dapat mengartikan arti senyuman tersebut.
Zaki kemudian menyalami nyai Robi'ah dan mencium punggung tangan istri kyai Abdullah yang sudah dianggapnya sebagai orang tua sendiri itu dengan takdzim, nyai Robi'ah membalas dengan menepuk-nepuk lengan Zaki. "Sehat-sehat ya Nak Zaki, bahagia dunia akhirat," doa tulus nyai Robi'ah.
"Aamiin,," balas Zaki seraya tersenyum.
Pemuda tampan itu juga berpamitan dengan Aida, yang berdiri di samping ibu mertuanya. "Mbak, Zaki pamit. Terimakasih atas semua kebaikan Mbak Aida dan Kak Umar." Ucap Zaki seraya menangkup kedua tangan di depan dada, sambil melirik gus Umar.
__ADS_1
Aida hanya mampu mengangguk, Aida juga merasa berat melepaskan pemuda yang setiap hari selalu berkunjung ke kediamannya untuk belajar ilmu agama pada gus Umar itu.
Terakhir, Zaki pamit sama gus Umar. Putra sulung kyai Abdullah itu menyambut pelukan Zaki dengan erat, "sukses selalu untukmu adikku," lirih gus Umar.
"Makasih Kak, Zaki akan mengingat semua nasehat Kak Umar," balas Zaki, seraya melepaskan pelukannya.
Setelah berpamitan dengan keluarga kyai yang telah menerima Zaki dan membimbingnya selama setahun ini, putra sulung ayah Yusuf itu pun segera keluar yang diikuti oleh semuanya karena taksi yang Zaki pesan telah menunggu.
"Mas Zaki, ini sekedar oleh-oleh untuk Mas Zaki dan untuk Kakek Burhan," ucap Aida, seraya memberikan dua paper bag yang sedari tadi dibawanya itu.
Zaki mengernyit, tapi tetap menerima paper bag dari tangan Aida.
"Itu tadi kami berdua yang membuatnya Nak Zaki, biar Nak Zaki selalu mengingat kami," tutur nyai Robi'ah seraya tersenyum, Zaki pun ikut tersenyum.
"Ah, Umi ada-ada saja. Tanpa makanan ini pun, Zaki pasti akan selalu mengingat Umi, Abah dan keluarga. Masakan Umi dan Mbak Aida yang selalu enak, nasehat-nasehat Abah yang menyejukkan hati Zaki, serta bimbingan dari Kak Umar terhadap Zaki yang luar biasa sabar," balas Zaki dengan jujur.
Kembali gus Umar memeluk Zaki, sebelum pemuda itu benar-benar melangkah meninggalkan teras kediaman kyai Abdullah.
"Assalamu'alaikum,,," pamit Zaki seraya tersenyum tipis, pemuda itu sekuat hati menyembunyikan air matanya yang siap mengucur.
"Wa'alaikumsalam,,," jawab semuanya serempak.
Zaki bergegas menuju taksi online yang telah menunggunya sedari tadi, dan segera masuk kedalam mobil berjenis SUV tersebut.
Taksi online yang membawa Zaki bergerak perlahan meninggalkan halaman kediaman kyai Abdullah, dengan diiringi lambaian tangan keluarga kyai pengasuh pondok pesantren Nurul Ulum beserta kang Baharuddin.
Sedangkan di dalam mobil, air mata pemuda itu akhirnya tumpah juga. Entah mengapa, rasanya berat bagi Zaki meninggalkan lingkungan pesantren yang telah membuat dirinya merasa menjadi orang yang berguna bagi sesama itu.
Perasaan berat seperti ini, berbeda dengan ketika dirinya berpamitan dengan keluarga besarnya saat pertama kali hendak berangkat ke pesantren. Zaki merasakan, seperti ada yang tertinggal di sana.
__ADS_1
Zaki manarik nafas dalam-dalam dan kemudian menghembuskan dengan perlahan-lahan, "suatu saat nanti, aku pasti akan kembali." Lirih Zaki seraya memejamkan mata, mengenang awal kedatangannya ke pesantren milik kyai Abdullah tersebut.
🌸🌸🌸🌸🌸 bersambung 🌸🌸🌸🌸🌸