
Gus Umar menangkup kedua lengan sang adik, dan menatap Laila dengan lembut. Pemuda kharismatik itu kemudian menatap istrinya sekilas, "biar aku yang menyampaikannya pada Dik Laila," ucap gus Umar, dan Aida mengangguk setuju.
"Tadi pagi, kami sama Umi sedang berbincang dan membicarakan tentang kamu Dik. Saat itu abah sedang ada tamu utusan dari salah seorang kyai, yang ingin mengkhitbah kamu." Sejenak gus Umar menghentikan ucapannya, dan Laila nampak tidak terkejut mendengar berita demikian karena hal itu sudah sering terjadi.
Berbeda dengan Zaki yang langsung merasa cemas dan ketar-ketir, "apakah abah menerima pinangan dari tamu tersebut?" Bisik Zaki bertanya, yang entah dia tujukan kepada siapa. Pemuda itu masih fokus memperhatikan kearah gus Umar dan Hana atau Laila.
"Kami sama sekali enggak tahu, kalau ternyata abah sempat masuk untuk memanggil umi karena tamunya mau pamit. Dan saat itulah, abah mendengar apa yang kami bicarakan." Gus Umar menatap adiknya dengan perasaan bersalah.
"Sebenarnya abah hanya mendengar, bahwa saat itu kamu berhasil mendapatkan beasiswa keluar negeri tetapi kemudian beasiswa itu sengaja kamu batalkan. Karena abah penasaran dengan alasan kamu kenapa membatalkan beasiswa yang sudah kamu inginkan sejak lama itu, abah jadi memaksa kami untuk bercerita," terang Aida, yang menimpali perkataan sang suami.
"Jadi, itu artinya abah jatuh sakit karena beliau tahu kalau suami ning Zahwa itu gus Zain, Zainul Wafa?" Laila menatap sang kakak dan Aida seraya menutup mulutnya.
"Huuuu,,," tangis Laila kembali pecah, "abah pasti sakit karena mikirin aku kak, abah pasti mengira kalau aku patah hati dan bersedih? Huwa,,, padahal, aku baik-baik saja Kak. Hiks,,, harusnya aku jujur saja sama abah." Laila terus saja berbicara sambil menangis, gadis itu menyesali kenapa tidak dari awal berterus terang dengan sang abah yang sangat menyayanginya.
"Jadi, gus Wafa itu gus Zain? Teman dekatnya Ning Laila? Pantas saja, Ning Laila tidak hadir di pernikahan Delia," gumam Zaki, yang masih memperhatikan putra putri kyai Abdulllah dari tempatnya berdiri.
"Sudah, sudah... setelah melihatmu nanti, abah pasti langsung sembuh," hibur gus Umar pada sang adik.
"Laila mau telepon Adnan, mau pamit. Laila mau ngajar di tempat abah aja, dan Laila akan nurut jika abah ingin menjodohkan Laila dengan siapapun," ucap Laila kemudian, masih sambil sesenggukan.
Mendengar ucapan ning Laila atau ustadzah Hana barusan, membuat Zaki terpaku di tempatnya.
"Kok malah bengong neng kene ki lahpo Zak?" Suara kang Baharuddin yang menepuk pundaknya, membuat Zaki tersadar. __Kok malah bengong di sini ngapain Zak?__
"Eh, enggak kok Kang." Kilah Zaki, "Zaki mau menemui abah dulu kang," lanjutnya ketika melihat dokter dan perawat keluar dari ruangan tempat kyai Abdullah di rawat yang diiringi oleh nyai Robi'ah.
Zaki bergegas menghampiri keluarga kyai Abdullah, "assalamu'alaikum,,," ucap salam Zaki, dan pemuda itu kemudian memeluk gus Umar sekilas.
Zaki sempat melirik Laila Hana yang sedang berpelukan dengan sang umi tadi, saat dirinya berjalan mendekati keluarga kyai Abdullah tersebut.
"Kak, apa kabar?" Lirih Zaki bertanya, seraya melerai pelukan.
"Alhamdulillah baik Dik, hanya saja abah yang kurang baik," balas gus Umar sambil menepuk pundak Zaki.
"Mohon ijin Kak, Zaki mau ketemu sama abah," pinta Zaki, dan gus Umar mengangguk.
__ADS_1
"Silahkan Dik, masuklah sama Umi," balas gus Umar seraya menatap sang umi.
Ibu dari gus Umar dan Laila yang masih berdiri di ambang pintu itu mengangguk seraya tersenyum kepada Zaki, "nak Zaki, ayo," ajak nyai Robi'ah.
Putra sulung ayah Yusuf tersebut mendekati istri kyai Abdullah, dan kemudian mencium punggung tangan wanita bermata teduh itu.
Zaki juga melirik gadis cantik yang berdiri sambil bergelayut manja pada lengan sang umi, pemuda tampan itu tersenyum kepada Laila Hana yang saat ini sedang bertanya-tanya dalam hati.
"Ning, kamu di sini dulu sama kakak mu yo. Biar Nak Zaki ketemu sama abah dulu," pinta nyai Robi'ah pada putri bungsunya, yang membuat Laila mengerucutkan bibir.
Nyai Robi'ah kemudian segera masuk kembali ke dalam ruangan sang suami yang diikuti oleh Zaki.
Dengan menghentakkan kaki karena sebal belum diijinkan sang umi untuk bertemu sang abah, Laila kembali duduk di tempatnya semula.
"Kak, kok kalian semua bisa kenal sama ustadz Zaki? Sejak kapan?" Cecar Laila, yang sedari tadi sudah menyimpan tanya dalam hati. Gadis itu menatap tajam sang kakak, seolah menghakimi karena merasa ada yang disembunyikan oleh keluarganya itu.
Gus Umar tersenyum, "ya kenal lah Dik, kenal banget malah." Balas gus Umar yang masih belum ingin menjelaskan.
"Iya, aku tahu kalian saling kenal dan pasti kenal banget. Kalau enggak kenal baik, kalian enggak mungkin sampai pelukan. Terus tadi, ustadz Zaki juga manggil kak Umar kakak kan?" Laila masih menatap tajam pada sang kakak.
"Mau tahu banget yah? Atau jangan-jangan adikku yang cantik ini, udah jatuh cinta pada pandangan pertama?" Bukannya menjawab, gus Umar malah menggoda sang adik.
"Kakak! Orang nanya baik-baik malah digodain?" Protes Laila sambil cemberut, sedangkan Aida tersenyum.
Laila menoleh kearah sang kakak ipar, "ini juga, malah senyum-senyum?" Aida yang sedari tadi hanya tersenyum, juga tak luput dari protes sahabat sekaligus adik iparnya itu.
"Jelaskan padaku mbak, siapa dia?" Pinta Laila.
"Mas Zaki itu cucunya kakek Ilyas La, yang mondok di pesantren kita," terang Aida.
"Kok enggak ada yang cerita padaku selama ini, kalau cucunya kakek Ilyas itu bernama Zaki?" Kembali putri bungsu kyai Abdullah itu protes.
"Lha kamu nya enggak pernah tanya kan, siapa namanya?" Balas Aida seraya tersenyum menggoda, "namanya bagus ya La, kayak orangnya yang tampan." Lanjut Aida seraya berbisik.
"Kak Umar, mbak Aida muji cowok lain tuh!" Adu Laila pada sang kakak.
__ADS_1
Gus Umar menyipitkan mata, seraya menatap sang istri.
Aida terkekeh pelan, "mas Zaki memang lebih tampan sih La daripada Kak Umar ...." Aida sengaja menjeda ucapannya sejenak, dan tersenyum menggoda kearah sang suami.
"Tapi lebih tampannya cuma dikit sih, dikiiiit banget. Banyakan Kak Umar yang tampan tiada tara," lanjut Aida, dengan tawanya yang pecah. Karena sempat mendapati wajah sang suami yang diliputi rasa cemburu.
Sedangkan gus Umar tersenyum lebar seraya geleng-geleng kepala, "istriku yang cantiknya selangit, udah pinter merayu sekarang," ucap gus Umar, sambil menatap sang istri dengan penuh cinta.
Aida membalas tatapan sang suami, dengan senyuman termanisnya.
"Dih, narsis kalian berdua!" Olok Laila.
Kembali Aida terkekeh, melihat adik iparnya yang sewot. "Lagian ya La, aduan kamu tadi tuh kurang tepat. Harusnya gini,,, kak Umar, ada yang muji-muji gebetanku nih?"
"Eh, siapa bilang ustadz Zaki gebetan Laila?" Elak putri bungsu kyai Abdullah tersebut, seraya menggigit bibir bawahnya untuk menyembunyikan senyuman.
Mereka bertiga masih saling bercanda, dan membicarakan banyak hal tentang Zaki.
Sementara kang Baharuddin yang tadi berjalan di belakang Zaki dan kemudian memilih untuk duduk di bangku yang agak jauh dari putra-putri sang kyai itu, tersenyum mendengarkan candaan mereka.
"Benar kan Zak dugaan ku dulu, kalian berdua bakal saling kesengsem kalau bertemu." Gumam kang Baharuddin dalam hati.
Setelah cukup lama berada di dalam ruang perawatan kyai Abdullah, Zaki keluar dengan wajah yang ceria.
Pemuda bertubuh tinggi tegap dan berkulit putih itu mendekati gus Umar, "Kak, Zaki pamit dulu, semoga abah lekas sehat kembali. Maaf tidak bisa menemani menjaga abah di sini, karena Zaki harus balik ke Jakarta." Putra sulung ayah Yusuf itu kembali memeluk gus Umar.
"Hati-hati ya Dik, salam buat keluarga di sana," balas gus Umar seraya menepuk-nepuk punggung Zaki.
Sesaat kemudian, keduanya saling melepaskan pelukan dan sama-sama tersenyum.
"Mbak Aida, Zaki pamit." Zaki menangkup kedua tangannya di depan dada dan tersenyum hangat pada istri gus Umar tersebut, Aida membalasnya dengan anggukan kepala.
Zaki menoleh kearah Laila, "mari Dzah," hanya kata singkat itu yang keluar dari mulut Zaki dan tanpa ekspresi, pemuda gagah itu kemudian segera berlalu meninggalkan Laila yang kebingungan sendiri.
"Kenapa ustadz Zaki menjadi dingin gini ya sama aku?"
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸🌸 bersambung 🌸🌸🌸🌸🌸