Finding Love

Finding Love
Pelangi di Keluarga Kami


__ADS_3

Laila baru saja selesai dirias dan saat ini gadis cantik berhidung mancung itu tengah mengenakan kebaya putih untuk akad nikah dengan dibantu oleh nyai Robi'ah, kebaya pengantin yang dipilihkan khusus oleh Zaki di butik sang ibunda tercinta.


Sewaktu di Jakarta, Zaki yang telah mengantongi ukuran pakaian serta warna kesukaan Laila dari Aida, selain memilihkan kebaya dengan bahan dan model terbaik untuk acara akad nikah dan resepsi besok, putra sulung ayah Yusuf itu juga membelikan sepatu dan tas tangan, set gamis dan hijab serta peralatan make up lengkap, dengan brand yang biasa dipakai oleh Laila sebagai seserahan.


Zaki juga membelikan seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan mewah, yang akan dijadikan sebagai mas kawin untuk putri bungsu kyai Abdullah tersebut.


Saat ini, Laila tengah mematut dirinya di depan cermin. Gadis cantik itu tersenyum kepada sang umi yang berdiri di sampingnya yang tengah menitikkan air mata haru, melihat kecantikan sang putri yang tak pernah memakai make up secara berlebihan sebelumnya.


"Kamu cantik sekali Sayang, sangat cantik," puji nyai Robi'ah dengan tulus, seraya mengusap dengan lembut lengan sang putri.


"Benar Bu Nyai, Ning Laila sangat cantik dan manglingi," timpal perias pengantin yang sedang menempelkan aksesoris di hijab Laila.


"Makasih Mbak, ini kan karena kepiawaian Mbak yang udah merias wajah Laila," balas Laila dengan merendah.


"Makasih juga Umi ku sayang," balas Laila seraya memeluk lengan sang umi, "kecantikan Laila kan nurun dari Umi," lanjut Laila yang juga memuji sang umi.


Terdengar pintu di buka dari luar, nampak Aida masuk kedalam kamar Laila dengan sedikit tergesa.


"Sudah selesai Mi?" Aida bertanya pada sang umi, tetapi pandangan mata istri gus Umur itu terpaku melihat sahabatnya.


Nyai Robi'ah mengangguk, "sedikit lagi, tinggal merapikan hijab," balas nyai Robi'ah.


"MasyaAllah La, kamu cantik sekali," puji Aida dengan tulus, "mas Zaki pasti pangling lihat kamu nanti," lanjutnya seraya menatap calon pengantin wanita tanpa berkedip.


"Kamu waktu itu juga cantik banget Mbak, kakakku juga sampai enggak berkedip matanya ngelihatin Mbak Aida terus," puji Laila mengingat malam itu, ketika sang kakak menikahi sahabatnya.


"Oh nggih Mi, rombongan keluarga mas Zaki sebentar lagi sampai dan acara akan segera dimulai. Umi diminta sama abah untuk bergabung di halaman depan," ucap Aida yang kemudian teringat dengan tujuannya datang ke kamar Laila.


"Nanti biar Aida yang menemani Laila keluar, Umi," lanjutnya, ketika melihat sang umi nampak ragu.


Laila mengangguk, "nggih Mi, ndak apa-apa."


Nyai Robi'ah pun segera meninggalkan kamar Laila untuk bergabung bersama sang suami, menyambut kedatangan besan.


Sementara di halaman depan, iring-iringan mobil calon pengantin laki-laki dan keluarganya telah memasuki gerbang pesantren.


Para santri senior dan beberapa orang tetangga yang bertugas, nampak mengarahkan mobil keluarga besar Zaki yang jumlahnya belasan itu untuk parkir di tempat yang telah disediakan.


Nampak Adnan beserta keluarga kakek Burhan, juga ikut dalam rombongan keluarga Zaki. Mereka tadi langsung menuju kediaman kakek Zarkasyi begitu mengetahui bahwa keluarga besar calon mempelai laki-laki beristirahat di sana.

__ADS_1


Sementara kyai sepuh dan nyai Siti yang saat ini sudah berada di kediaman kyai Abdullah, ikut menyambut keluarga besan bersama kyai Abdullah dan sang istri, serta gus Umar.


Keluarga besar Zaki langsung diajak menuju masjid, karena sebentar lagi waktu menunjukkan pukul empat sore yang artinya bahwa acara akad nikah akan segera dimulai.


Di serambi masjid tersebut, nampak beberapa keluarga dekat dan para tetangga telah hadir. Kyai Abdullah memang hanya mengundang saudara dekat dan para tetangga saja pada acara akad nikah putri bungsunya.


Sesaat setelah semua keluarga Zaki duduk di tempat yang telah tersedia, nampak pak penghulu datang bersama kang Musthofa yang bertugas menjemput pegawai dari Kantor Urusan Agama tersebut.


Acara hendak segera dimulai, tinggal menunggu Laila yang sedang berjalan perlahan digandeng oleh istri gus Umar yang sore ini juga terlihat sangat cantik dengan balutan kaftan dan hijab modern yang dikenakan oleh Aida.


Aida menuntun Laila menuju sisi yang lain dan kemudian duduk di sana bersama nyai Robi'ah dan bunda Fatima.


Dari tempatnya duduk, Laila hanya bisa mendengarkan suara sang kakak yang mulai membuka acara sore ini. Karena antara tempat gadis itu duduk dengan tempat calon mempelai laki-laki, ada sekat dinding berbahan triplek yang tingginya sebatas dagu orang dewasa yang menghalangi pandangan Laila.


Setelah gus Umar membuka acara dan dilanjutkan dengan lantunan ayat suci Al-Quran, acara berikutnya adalah penerimaan dan sambutan. Dari keluarga laki-laki diwakili oleh kakek Ilyas, sedangkan dari keluarga mempelai wanita diwakili oleh kyai Zarkasyi.


Acara kemudian dilanjutkan dengan khutbah nikah yang disampaikan oleh kakek Burhan, dalam khutbahnya sahabat kakek Ilyas dan kakek Zarkasyi itu menyampaikan pesan bahwa hendaknya kita senantiasa menghidupkan rumah dengan Al-Qurโ€™an.


"Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, 'Janganlah menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan lari dari suatu rumah yang didalamnya dibacakan Al-Baqarah' (HR. Muslim)."


"Dengan selalu dibacakannya Al-Qurโ€™an di dalam rumah, akan menjadikan rumah tersebut nyaman untuk ditempati, penuh keberkahan, dan dijauhi dari setan yang hendak menetap di dalamnya."


"Kita juga hendaknya menjadikan rumah tangga sebagai ajang kompetisi dalam kebaikan, pasangan suami dan istri selalu merasa iri jika pasangannya mampu beribadah dengan baik dan dia ingin melampaui atau minimal menyamainya."


"Yang terakhir, hendaknya memperlakukan pasangan dengan penuh rasa syukur dan kemuliaan. Karena dia adalah anugerah sekaligus amanah yang Allah berikan dalam hidup, maka muliakan lah dan hormati pasangan kita."


"Bagi suami jangan pernah memperlakukan istri dengan buruk atau seperti pembantu, karena istri kelak akan melahirkan dan menjadi madrasah terbaik bagi anak-anak. Kelak Allah akan meminta pertanggungjawaban suami apakah mampu mendidik istrinya dengan baik atau tidak."


"Bagi istri juga harus taat dan berbakti kepada suami, jangan kufur padanya, karena Allah memerintahkan para istri untuk menaati suaminya yang telah mengambil alih tanggungjawab dirinya dari sang ayah."


Tiba saatnya ijab qabul yang akan dilakukan sendiri oleh kyai Abdullah, beliau yang akan menikahkan putri bungsunya dengan santri kinasih yang sudah lama berhasil membuat kyai kharismatik itu kagum pada sosok Zaki.


Kyai Abdullah menjabat erat tangan pemuda tampan yang saat ini mengenakan stelan jas putih, lengkap dengan peci hitam yang bertengger di kepalanya. Aura Zaki memancar begitu mempesona, terlihat tenang dan selalu mengulas senyum.


Ayah dari Laila itu segera mengucapkan akad, yang kemudian dibalas Zaki dengan kalimat qabul dengan sangat lancar dan tegas.


"Saya terima, nikahnya dan kawinnya Laila Hana Rahmaniyya binti Abdullah Zarkasyi dengan mas kawinnya yang tersebut, tunai."


"Sah,,," para saksi dan hadirin serempak mengucapkan kata yang sama, yang menandai bahwa kini dua anak manusia yang saling jatuh cinta itu telah menjadi pasangan yang halal baik dimata hukum maupun menurut agama.

__ADS_1


Zaki tersenyum lebar, perasaan lega menguasai hati putra sulung ayah Yusuf tersebut. Sedangkan di balik sekat, Laila menitikkan air mata haru dalam pelukan sang umi.


"Baarakallahu laka wa baaraka 'alaika wa jama'a bainakumaa fii khair." Terdengar kyai Abdullah membaca do'a untuk kebaikan putri dan anak menantunya.


Doa yang artinya, "semoga Allah memberkahi engkau dalam segala hal yang baik dan mempersatukan kamu berdua dalam kebaikan."


Laila kemudian dituntun oleh sang umi untuk bertemu dengan suaminya, Zaki.


Putra sulung ayah Yusuf itu sama sekali tak berkedip, menatap kearah sang istri yang saat ini tengah menunduk malu.


"Salim dulu sama suami kamu Ning," titah sang Umi.


Putri bungsu kyai Abdullah itu kemudian mencium punggung tangan sang suami dengan takdzim, sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan dirinya atas diri Zaki sebagai suami dan sebagai kepala keluarga.


Zaki membalasnya dengan mencium kening wanita cantik bagai bidadari yang saat ini telah sah menjadi istrinya, ciuman yang dalam dan hangat sebagai wujud cinta dan kasih sayang Zaki kepada Laila Hana.


Acara masih berlanjut, mereka berdua kemudian menandatangani dokumen pernikahan, dilanjutkan serah terima mahar. Namun pikiran Zaki tak lagi fokus pada acara, tatapan pemuda tampan itu terus tertuju kearah sang istri.


Zaki bahkan mencium tangan Laila, setelah menyematkan cincin kawin ke jari manis istrinya hingga membuat Laila tersipu malu.


"Cukup cium tangan ya mas Zaki, kalau mau mencium yang lain nanti saja," tegur pak penghulu seraya terkekeh kecil, yang disambut tawa oleh seluruh hadirin.


Acara selanjutnya adalah sungkeman, yang diwarnai dengan keharuan karena kyai Abdullah memeluk erat putri dan menantunya di saat yang bersamaan seraya berpesan kepada Zaki.


"Tolong jaga dan sayangi putri abah, Nak Zaki. Dia permata kami, Ning Laila pelangi di keluarga kami." Ucapan sang abah, membuat Laila menangis terisak dalam pelukan abah nya.


Zaki hanya bisa mengangguk dan tak bisa berkata apa-apa, putra sulung ayah Yusuf itu bahkan ikut menitikkan air mata.


Untuk sesaat, keharuan menyelimuti tempat sakral tersebut.


"Kamu cantik sekali Umm,,," bisik Zaki di telinga Laila, setelah keduanya kembali duduk.


"Kalau mau merayu nanti aja Bang, di kamar. Biar bisa sekalian praktek," celetuk om Ilham yang duduk tepat di belakang Zaki.


"Memangnya Bang Zaki mau praktek apa, Ayah?" Tanya Iqbal dengan polos, yang membuat semua orang tertawa termasuk Zaki.


"Bang Zaki mau praktek bikin adonan kue, Nak."


"Iqbal boleh ikut ya, Yah. Sama kak Maida dan kak Mela, bang Annas juga?" pinta Iqbal dengan serius.

__ADS_1


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ bersambung ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


MP nya di skip yah, karena bocil mau pada ikutan praktek bikin adonan kue ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„


__ADS_2