
"Ya iya sekarang, Ning cantik? Mau kapan lagi?" balas om Ilham dengan senyuman khasnya yang tengil, "Ning cantik tahu enggak, Bang Zaki tuh langsung bikin heboh tahu waktu balik ke Jakarta. Semua di telepon di suruh ngumpul malam itu juga," lanjut om Ilham yang menguak kisah Zaki sekembalinya ke Jakarta beberapa hari yang lalu.
Zaki tersenyum seraya geleng-geleng kepala, mengingat kelakuannya sendiri kala itu.
"Iya, bener banget Om. Bahkan, kami juga di paksa untuk langsung terbang ke Jakarta. Ayah sampai bela-belain meninggalkan rekan bisnisnya di hotel, demi Abang," timpal bunda Fatima, seraya tersenyum lebar menatap sang calon menantu.
Laila tersenyum dan kemudian menatap Zaki untuk meminta penjelasan, pemuda tampan itu pun mengangguk seraya tersenyum bahagia.
Flashback On...
Setelah mendapatkan tiket penerbangannya, Zaki langsung menghubungi Kevin. "Dik, tolong sejam lagi jemput abang di bandara," pinta Zaki begitu panggilannya tersambung.
"Abang pulang? Kan ayah sama bunda, belum sempat pamitan sama abah yai?" tanya Kevin yang penasaran, karena tiba-tiba abang sepupunya itu minta di jemput.
"Nanti abang ceritain kalau udah sampai," balas Zaki dan kemudian segera mengakhiri panggilannya, karena pesawat yang akan membawa Zaki pulang ke Jakarta sebentar lagi lepas landas.
Pesawat yang ditumpangi oleh putra sulung ayah Yusuf itu mengudara selama kurang lebih satu jam dan melintasi jarak sepanjang 422 kilometer, tepat pukul tiga sore Zaki tiba bandara Soekarno-Hatta dengan selamat.
Zaki bergegas keluar tanpa menunggu apa pun, karena dirinya tidak membawa barang. Pemuda tampan itu hanya membawa tas kecil, yang dia cangklong di pundak kanan.
Setibanya di luar, Kevin sudah menunggu bersama Fira dan Dion.
"Langsung ke tempat kakek Ilyas saja Dik," pinta Zaki setelah memeluk mereka bertiga bergantian.
Sepanjang perjalanan menuju hunian keluarga Antonio, Zaki menghubungi bundanya agar segera terbang ke Jakarta sore itu juga.
"Ada apa sih Bang? Kenapa buru-buru?" Tanya bunda Fatima dari seberang telepon, setelah Zaki menyelesaikan perkataannya yang meminta sang ibunda untuk datang ke Jakarta.
"Nanti Zaki jelaskan di sini saja Bun, pokoknya ayah, Bunda, opa dan oma, semua harus ikut ngumpul nanti malam di rumah kakek Ilyas. Bisa kan Bun, please?" paksa Zaki, seraya memohon.
"Baiklah Bang, tapi Abang sendiri yang harus telepon ayah karena saat ini ayah sedang ada rapat," pungkas bunda Fatima.
Setelah menutup panggilannya dengan sang ibunda tercinta, Zaki kemudian menghubungi sang ayah dan menyampaikan keinginannya dengan sedikit memaksa.
Fira yang mendengar pembicaraan sang abang, sampai geleng-geleng kepala dibuatnya. "Ada apa sih Bang?" tanya Fira yang juga penasaran.
"Ntar aja, kalau sudah di rumah kakek. Abang masih harus telepon daddy dan mommy," balas Zaki yang membuat Kevin yang sedang pegang kemudi mengernyit dalam.
Zaki kemudian menghubungi daddy Rehan dan juga mommy Billa, putra sulung ayah Yusuf yang sedang kasmaran itu pun meminta hal yang sama pada adik bundanya itu agar nanti malam merapat ke kediaman kakek Ilyas.
__ADS_1
"Beneran nih, Abang enggak mau cerita sekarang?" tanya Kevin, setelah Zaki menutup panggilannya dengan mommy Billa.
Zaki menggeleng sambil tersenyum dikulum, "nanti saja Dik, biar Abang enggak mengulang cerita yang sama," balas Zaki.
Mereka bertiga pun mengangguk mengerti dan bersabar menunggu malam tiba.
*****
Tepat bakda isya', dua keluarga besar kembali berkumpul di ruang keluarga kediaman Antonio karena permintaan cucu sulung keluarga Alamsyah.
Para orang tua duduk di sofa yang membentuk setengah lingkaran, sedangkan para anak muda sebagian memilih duduk lesehan di atas kasur bisa empuk yang telah di siapkan oleh oma Susan dan nenek Lin.
Sementara anak-anak dibawa oleh bibi pengasuh masing-masing untuk bermain di lantai atas, agar tidak mengganggu pembicaraan yang sepertinya akan serius.
"Ada apa Bang, kenapa Bang Zaki memaksa kami semua untuk berkumpul? Apakah Abang sudah menemukan seorang gadis pengganti putri pak kyai itu?" tebak daddy Rehan, seraya menatap Zaki dengan intens.
Zaki tersenyum dan kemudian mengangguk, "benar Dad, Zaki sudah menemukan cinta sejati Zaki." Pemuda tampan itu tersenyum lebar.
"Benarkah? Siapa Bang? Apa dia santri di pesantren kakek Ilyas?" cecar sang bunda.
Zaki menggeleng, " bukan Bun, dia ngajar di sekolah dan di pesantren kakek," balas Zaki, dengan senyumnya yang semakin lebar.
"Yo mesti ayu tho Ham, cowok sekelas Bang Zaki mosok golek cewek gak ayu? Gak asyik ah," timpal om Devan yang juga ikut belajar bahasa Jawa itu seraya terkekeh. __Ya pasti cantik lah Ham, masak cowok sekelas Bang Zaki cari cewek enggak cantik?__
"Jangan asal berwajah cantik Bang, hatinya juga harus baik seperti mommy Billa," Daddy Rehan ikut menimpali, seraya mengerling kearah sang istri.
"Gombal!" Cibir om Alex.
Daddy Rehan hanya mengedikkan bahunya.
"Hemm, ayah setuju itu Bang. Calon istri Abang itu itu harus baik budi pekertinya, karena dia akan menjadi ibu dari anak-anak Abang kelak dan seorang ibu adalah madrasah pertama bagi putra-putrinya, yang harus bisa mendidik mereka dengan baik," nasehat ayah Yusuf dengan panjang lebar.
Semuanya mengangguk setuju, termasuk kakek Ilyas.
"Sejatinya mencari pasangan hidup itu jangan karena rupa, tapi lihatlah hatinya. Sikap dan perilakunya, tutur kata dan ucapannya, itu semua adalah cerminan dari hati." Tutur kakek Ilyas yang mengingatkan Zaki dan semua cucu-cucunya.
"Ada satu pepatah Jawa yang mengungkapkan bahwa, ajining dhiri gumantung ana ing lathi, ajining sarira gumantung ana ing busana. Pepatah itu artinya, harga diri manusia itu tergantung dari cara berbicara serta santunnya kata dan perbuatan, sedangkan nilai raga manusia tergantung dari cara berpakaiannya." Kakek Ilyas menatap cucu-cucunya dengan tatapan teduh.
"Kakek berharap, kelak kalian semua bisa menjadi orang-orang yang bermartabat dan menebar manfaat untuk sesama," pungkas kakek Ilyas yang dimainkan oleh seluruh anggota keluarga besar itu.
__ADS_1
"Lantas, siapakah gadis itu Bang?" Tanya mommy Nabila.
Zaki tersenyum, "kakek pasti akan sangat senang jika mengetahui siapa orang tua gadis itu," balas Zaki seraya menatap kakek Ilyas.
Kakek Ilyas mengerutkan dahinya yang sudah berkeriput, "siapa Nak, apa cucu salah satu tetangga kakek di sana?" Kakek Ilyas menatap Zaki dengan rasa penasaran.
Zaki menggeleng, "gadis itu Ning Laila Kek, adiknya kak Umar, putri bungsu abah Abdullah, cucu dari sahabat Kakek," balas Zaki antusias dengan menyebutkan lengkap tentang gadis yang telah berhasil membuat hatinya berdebar-debar tak karuan.
"Alhamdulillah,,," ucap syukur semuanya, bunda Fatima bahkan sampai menitikkan air mata bahagia.
"Zaki sudah bilang sama abah, kalau minggu ini akan melamar ning Laila dan sekaligus menikahinya," ucap Zaki dengan mantab.
"Wah, Bang Zaki keren!" celetuk Malik, "Malik juga mau gitu ah," lanjutnya seraya melirik sang daddy.
"Bang Malik fokus dulu sama pendidikan Abang" balas mommy Billa, menasehati sang putra.
Malik mengangguk mengerti.
"Abah Abdullah juga ngikut saja, jika resepsinya kita yang merencanakan," lanjut Zaki.
"Ya sudah, tunggu apa lagi. Kita harus gerak cepat, bagi-bagi tugas saja biar efektif," usul opa Alvian, yang disetujui oleh semuanya.
"Aku, Rey dan Ilham bersama istri kami yang akan mengurus persiapan di sana. Mbak Billa dan Bunda Nisa kan yang lebih mengerti adat sana daripada yang lain," usul om Alex.
"Aku sama Bang Vian yang akan menyiapkan semua keperluan yang akan dibawa ke sana, sisanya biar Bang Zaki sendiri yang urus bersama sepupu-sepupunya," pungkas om Devan, yang disetujui oleh semua keluarga.
Rapat dadakan itu pun berakhir, yang membuat Zaki bisa tidur dengan nyenyak.
Flashback Off...
"Aku udah mempersiapkan semuanya Ning, mau kan menikah dengan ku sekarang juga?" ulang Zaki yang kembali meminta pada Laila.
Laila mengangguk sambil tersenyum, netra gadis cantik itu berkaca-kaca. Ada rasa haru menyeruak dihatinya, menerima kejutan yang sangat spesial dari orang-orang terkasih.
🌸🌸🌸🌸🌸 bersambung 🌸🌸🌸🌸🌸
Yey,, otw kawin 💃💃
eh, nikah 🤭
__ADS_1